Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Bingung


__ADS_3

Pagi hari.


Batara, Robin dan Ardella berangkat kemakam. Menuju makan Batara mulai meneteskan air matanya, disembunyikan wajah sedihnya dari Ardella.


"Ibu kami datang." Ucap Batara setelah berada dimakan ibunya.


Ardella dengan rasa rindu dan sedih yang telah berdiri didepan makam ibunya "Ardella datang Bu." Meletakkan bunga diatas tanah makam.


Robin hanya ikut meletakkan bunga di makam, dia pun tak tahu harus berkata apa.


"Kak, makam ayah mana." Tanya Ardella.


Batara yang sempat lupa tentang ingatan Ardella "Makam ayah tak disini dek, nanti kalau ada waktu kakak akan menunjukkannya." Batara yang kaku menjelaskan.


"Baiklah kak."


"Ibu kami pulang." Ucap Batara kembali.


"Jaga kami Ma." Ardella yang mulai meneteskan air matanya.


"Ayok dek, kita balik." Batara yang menenangkan Ardella.


Setelah dari makam Ardella mengajak Batara dan Robin pergi ke pasar untuk membelikan oleh-oleh.


Dari makam mereka menuju ke pasar.


"Jeruk, jeruk, jeruk, 5.000 sekg." Ucap para pedagang.


"Mangga manis, dijamin segar." Ucap para pedagang lainnya.


Melewati pasar Ardella mulai menikmati, dia melirik-lirik barang yang disukanya, karena sibuk sendiri tanpa sadar Ardella jauh dari Batara dan Robin. Saat dilihatnya kebelakang Ardella tak melihat mereka dibelakangnya, dia mulai panik dan mulai mencari arah jalan yang tadi dilewati.


Leli yang sekarang bekerja sebagai penjual mangga melihat Ardella yang lewat dihadapannya, Ardella yang terlihat ling-lung membuat Leli ingin memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.


"Ardella." Teriak Leli keras.


Dengan reflek Ardella menoleh kebelakang, mencari arah suara. Leli yang merasa yakin bahwa itu Ardella mendekatinya.


"Ardella, maaf kan aku." Ucap Leli histeris memegang tangan Ardella.


"Kamu siapa." Ardella yang ketakutan.


"Tolong beritahu ayah untuk membawa kami kembali kerumah." Leli yang terus bicara histeris.


"Maksud kamu apa, aku tak kenal denganmu, mungkin kamu salah orang." Berusaha menarik tangannya dari genggaman Leli.


"Aku yang salah, tolong maafkan aku." Leli mulai bersujud.


"Apa yang kamu lakukan." Ardella mulai merasa takut.


Orang-orang dipasar mulai melihat kerah Leli dan Ardella, suara ribut antara mereka menimbulkan perhatian banyak orang.


"Huhuhu tolong beritahu ayah untuk memaafkan kami." Leli yang menangis keras tanpa henti.

__ADS_1


Ardella yang merasa risih "Maaf, aku tidak mengenalmu." Berusaha melepaskan tangannya.


Setelah berusaha melepaskan tangannya, Ardella mulai melangkah menjauh dari Leli.


"Aku janji aku akan lakukan apa yang kamu mau, kamu bisa memukulku jika kamu mau, tapi tolong aku, ibuku sedang sakit, tolong beritahu ayah untuk memafkan kami." Leli yang mengejar Ardella dan menahannya untuk pergi.


Batara dan Robin yang sadar terpisah dengan Ardella mulai mencari.


"Lepaskan." Suara Ardella.


"Kak sepertinya itu Ardella." Robin yang melihat Ardella.


"Kamu benar, ayo kita kesana." Mereka berjalan mendekat pada Ardella.


"Kakak." Ucap Ardella mendorong Leli dan berlari ke pada Batara.


Batara memeluk Ardella yang sedang ketakutan "Apa yang terjadi Dek." Tanya Batara.


"Wanita itu bicara hal aneh padaku, aku tak mengerti apa yang dikatakannya." Suara Ardella terdengar ketakutan.


Batara melihat kearah Leli, dengan wajah dingin dia menatap Leli, tatapannya memperingati Leli. "Awas saja kalau kamu berani mengganggu adikku." Seperti itulah ucapan yang terlihat diwajah Batara.


Leli gemetar, dia tidak berani lagi mengejar Ardella, dia hanya mematung dan membisu, kakinya juga tak beranjak kemanapun.


Robin melihat kearah Leli, ekspresi Robin sama halnya dengan Batara "Udah, jangan dipikirkan." Kata Robin ikut menenangkan Ardella.


"Sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya." Kata Batara merangkul dan membawa Ardella menjauh dari Leli.


"Wanita itu sedikit terlihat tak waras." Ucap Robin meyakinkan bahwa berbahaya tetap berada disini.


Kelihatannya dia sedih banget. Ardella membatin.


***


Jakarta.


"Akhirnya sampai juga." Ucap Robin membawakan barang-barang yang ada ditangan Ardella.


"Baru beberapa hari pergi, aku merindukan suasana rumah." Beranjak cepat melangkah masuk kedalam rumah.


Senyum Batara lebar melihat tingkah Ardella dan Robin yang seperti anak-anak.


"Tante." Ucap Aldo berlari memeluk Ardella.


"Ibumu dimana." Tanya Batara pada Aldo.


"Mas udah pulang." Kecup Lisa manis.


"Ehem." Robin dan Ardella mengoda Batara dan Lisa.


"Sikembar mana Kak." Tanya Ardella pada Lisa.


"Di kamar." Lisa yang masih sibuk melepaskan kerinduannya pada Batara suaminya.

__ADS_1


Ardella beranjak meninggalkan sepasang suami istri yang tengah bermesraan, Robin juga beranjak mengikuti Ardella dari belakang.


Dikamar Edward dan Erwin.


"Muach,,,." Ardella yang mencium kedua keponakannya.


"Sini sama paman." Ucap Robin menggendong Erwin.


Ardella dan Robin asik bermain dengan sikembar, seketika itu Robin tak sengeja melihat kalung yang ada dileher Ardella.


"Kalung itu." Ucap Robin tanpa sadar.


Ardella yang mendengar ucapa Robin. "Ini kudapat dari kamarku, karena bagus aku pakai aja." Ucap Ardella dengan santai.


"Tulisan dikalung itu." Tanya Robin kembali, tapi pertanyaannya terputus.


Ardella yang melihat Robin tidak tahu maksud ucapan Robin melanjutkan bermain dengan keponakannya.


Dibalik pintu Batara dan Lisa berdiri melihat Ardella dan Robin. "Mereka cocok ya mas." Senyum Lisa.


"Robin juga anaknya polos, baik, aku juga setuju kalau mereka berdua bersama." Ikut memperhatikan.


Robin yang merasa haus hendak meninggalkan Ardella bermain bersama sikembar, ketika keluar dia dikejutkan dengan ekspresi Batara dan Lisa yang sedang cengar-cengir.


"Kak Batara sama Lisa ngapain berdiri sambil cengar-cengir, mengejutkanku aja." Robin yang memeriksa detak jantungnya.


"Ehem, Jujur sama kakak, apa kamu suka Ardella." Tanya Batara serius.


"Iya, dari dulu aku suka Ardella, kami sudah berteman sejak lama." Jawab Robin polos.


"Bukan suka sebagai teman, tapi suka sebagai laki-laki dan wanita." Ucap Lisa menjelaskan rasa suka Robin.


Robin terdiam, dia tidak pernah memikirkannya selama ini, dihatinya memang selalu ada Ardella, dari dulu dia selalu menghibur Ardella ketika sedih, tidak suka Ardella bersama laki-laki lain, ingin menjaga Ardella dan melindunginya, tapi itu semua dirasanya hanya suka karena Ardella sahabatnya.


"Sudah lah kalau kamu gk bisa menjawab." Batara membuyarkan pikiran Robin.


"Jangan sampai nyesal Ardella direbut laki-laki lain." Ucap Lisa sedikit menyendir Robin.


"Kalau kamu suka Ardella, aku tidak melarangnya, jadi sekarang kamu tanya isi hatimu." Ucap Batara.


"Ayo mas kita pergi." Batara dan Lisa meninggalkan Robin.


Robin memandang kearah Ardella, melihat senyuman Ardella. Deg,,,ada sesuatu dihatinya. Semakin didekatkannya pandangannya, Robin tidak sadar telah berjalan dan menyentuh pipi Ardella.


"Ada apa Rob." Ardella yang bingung melihat Robin menyentuh pipinya dengan tatapan kosong.


"Ah tidak apa, ada nyamuk dipipimu." Sadar kembali dan berdiri berjalan keluar.


Dibelakang pintu Robin masih berdiri mempertanyakan hatinya.


"Ini mungkin karena ucapan kak Batara dan Lisa, makanya jantungku gk karuan." Menolak kenyataan sekuat tenaga.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2