Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Kembalinya Aku Untukmu


__ADS_3

Flashback.


Saat berada dijerman, Aoran yang hampir melupakan segala urusan di indonesia mendapat kabar dari Parto.


Pagi hari ditempat gym. Aoran yang sedang membugarkan otot-ototnya, keringat yang kini bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Getaran dari ponselnya membuat Aoran menghentikan aktifitasnya.


Mengelap keringat dibagian leher, Aoran melihat nama Parto tertera dilayar ponselnya. "Hallo." Saut Aoran dari sebrang telpon.


"Bos, ini aku Parto."


"Iya, aku tahu. Apa ada masalah dengan perusahaan." Tanya Aoran. Perusahaan Aoran kini ditangani oleh Parto. Dari jarak jauh Aoran akan memantau sebulan sekali dalam perkembangan perusahaan.


"Bukan itu masalahnya Bos. Aku ingin membritahu bahwa sebenarnya istri Batara tidak pernah melahirkan anak kembar." Langsung pada intinya, Parto langsung mengabari hasil penyelidikannya.


Aoran berpikir sejenak, kalau ia dari awal istrinya Batara tidak melahirkan anak kembar, lalu siapa anak yang satunya. "Kenapa harus aku percaya padamu, berikan aku buktinya" Ucap Aoran terdengar acuh.


"Waktu itu kebetulan aku masih mencari tempat Ardella melakukan aborsi Bos. Dan yang aku temukan adalah informasi tentang istri Batara yang melahirkan. Sudah pasti dikonfirmasi bahwa istri Batara tidak pernah melahirkan anak kembar." Penjelasan panjang lebar.


Setelah kepergian Aoran dari indonesia. Parto tidak menyerah untuk mencari informasi masa lalu Ardella. Dan hasil penyelidikan Parto malah tertuju pada istri Batara. Awalnya menurutnya tidak terlalu penting, tetapi sesuatu yang janggal bahwa ternyata istri Batara tidak pernah melahirkan anak kembar. Karena itu Parto mengambil kesimpulan bahwa salah satunya kemungkinan anak Aoran dengan Ardella.


Aoran yang telah mendengar semua cerita Parto. Memutuskan kembali ke indonesia.


Jika memang kita tidak ditakdirkan bersama, maka aku sendiri yang menciptakan takdir untuk kisah cinta kita berdua. Kali inipun aku tidak ingin menepati janjiku.


Membayangkan Edward dan Erwin membuat Aoran yakin bahwa mereka tidak kembar, karena wajah mereka sangat tidak mirip. Lalu kenapa Batara dan istrinya menjadikan mereka kembar. Pertanyaan Aoran dalam pikirannya.


Keputusan Aoran semakin bulat untuk mengetahui kejadian sebenarnya.


Aoran tidak butuh izin siapa pun untuk dia pergi. Dia kembali kerumahnya membereskan barangnya yang penting dibawa keindonesia. Evan yang sedang berkunjung, tampak berbincang dengan mama Aoran.


Aoran lewat tanpa menyapa. "Tante aku keatas dulu ya." Izin Evan meninggalkan mama Aoran diruang tamu.


Langkah Evan tidak membuat Aoran menoleh, tangannya sibuk merapikan barang kedalam tas ranselnya. "Lo mau kemana." Tanya Evan duduk diatas kasur sambil melihat Aoran.


"Balik keindonesia." Sibuk mengkemas barang-barang.


"Bukannya lu bilang gk bakal balik keindonesia lagi. Masa sekarang mau pergi begitu aja." Evan merasa resah melihat tingkah Aoran.


"Ardella." Ucap Aoran terdiam sejenak. "Aku tidak ingin cintaku berakhir seperti ini." Lanjutnya berbicara.


Sepertinya Aoran tahu sesuatu. Bisa gawat kalau Aoran sampai tahu. Sebaiknya aku harus ikut juga ke indonesia. Jika masih memungkinkan aku akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Batin Evan.


"Fritsch, gue ikut." Ucap Evan yakin.


"Serius lo, bukannya lo punya pasien yang harus diobati." Menatap Evan.


"Gk lama kok, paling tiga hari aja. Lagian gue kangen Anasya." Alasan Evan tanpa membawa nama Ardella.


"Terserah lu aja." Tidak memperpanjang pembicaraan.


Aoran dan Evan memgambil tiket penerbangannya.


***


Sore harinya.


Aoran dan Evan tiba di indonesia.

__ADS_1


Mereka menaiki taxsi menuju kediaman Aoran diindonesia.


Aoran kembali menanjakkan kakinya  dihalaman depan rumah, kemudiaan diikuti Evan dari belakang. Keduanya berjalan masuk, setelah lebih mendekat, Aoran melihat mobil terparkir sedang menyala.


Melihat Budi didalam mobil. "Lo mau kemana Bud." Tanya Evan tiba-tiba lewat jendela mobil.


"Evan." Panggil Budi dengan nada terkejut.


"Kamu mau kemana." Tanya Aoran balik, melihat kearah Budi.


"Aoran. Kok kamu juga disini." Heran dengan kedatangan Aoran dan Evan bersamaan.


"Ada yang harus gue urus. Sekarang jawab, lo mau kemana jam segini." Tanya Aoran melirik jam tangannya. Jam 18.30 sudah terlalu malam buat seorang Budi berkeliaran.


"Mau ngantar teman Anasya pulang." Sautnya. Ternyata Budi masih menunggu Ardella yang mengambil barangnya.


"Cantik gk teman Anasya, bisa gue gebet." Cengir Evan memainkan alis matanya.


Aoran malah langsung masuk kedalam rumah ketika Budi mengatakan bahwa teman Anasya datang.


"Eh tungguin Fritsch. Kebiasaan banget sih ninggalin gue." Mengikuti Aoran dari belakang.


Budi yang didalam mobil masih tetap menunggu Ardella untuk turun.


Langkah Aoran begitu cepat, dia langsung menuju lift. Naik keatas lantai dua Aoran melihat kamar Anasya terbuka. Kecepatan kakinya  membuat Aoran tiba didalam kamar Anasya.


Perasaan kecewa ketika yang dilihat Aoran bukan Ardella melainkan Nina. Tapi setelah sadar Aoran melihat Anasya dalam kondisi tidak sehat.


"Anasya, apa kamu terluka." Mendekat kearah Anasya.


"Kak Aoran." Terkejut sekali melihat kakaknya. "Kok, kak Aoran bisa disini." Tanyanya kembali.


Evan yang juga telah tiba, terkejut melihat Anasya yang terluka. "Adik kecilku." Panggil Evan. "Ini kenapa kamu bisa terluka begini." Memeriksa kondisi tubuh Anasya. Sebagai dokter, Evan memeriksa denyut nadi Anasya, menyentuh bagian tubuh Anasya yang terluka.


"Aku baik-baik saja. Kenapa kalian berdua bisa disini." Cetus Anasya. Bukannya senang, Anasya malah kesal melihat Aoran dan Evan.


Nina yang dari tadi duduk di sofa terabaikan.


"Apa dia temanmu." Tanya Evan setelah memastikan bahwa Anasya memang tidak terluka parah.


"Iya kak."


Evan dan Nina saling berkenalan. Dengan ramah Evan menyapa Nina.


Prankkk.


Suara pecahan kaca terdengar sampai ke kamar Anasya.


"Suara apaan tu." Sehentak Evan berbicara keras.


"Biar aku periksa." Ucap Aoran.


Aoran beranjak. Dia melihat kamarnya terbuka. "Apa seseorang dikamarku." Gumam Aoran mendekat.


Saat itulah Aoran melihat Ardella didalam kamarnya.


Back Now.

__ADS_1


Aoran dan Ardella yang saling berhadapan, tatapan keduanya bertemu. Mata Ardella bengkak, tangannya juga masih bergetar, dibawah kakinya pecahaan kaca berserakan, keadaan Ardella yang dilihat oleh Aoran.


Ardella tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya mengeluarkan air mata.


"Ardella." Aoran berjalan mendekat.


"Jangan mendekat." Ardella malah mundur, tidak berani menatap Aoran, dia menundukkan kepala.


"Apa kamu butuh penjelasan." Tanyanya. Aoran pun sudah bersiap untuk menjelaskan kenapa kedatangannya dulu begitu lama.


Aku tidak ingin mendengar darinya, Aku ingi mendengar dari Robin langsung. Batin Ardella.


Ardella berjalan melewati Aoran begitu saja, dia berlari turun, dengan tergesa-gesa, matanya masih memerah, suara terputus-putus. "Kak, bisakah antar aku secepatnya kembali rumah." Ucap Ardella pada Budi ketika telah berada didalam mobil.


"Oke." Saut Budi. Melihat Ardella Budi masih segan untuk bertanya apa yang membuat Ardella terlihat sedih. Mereka belum terlalu dekat untuk menanyakan privasi sesama.


Aoran didalam kamarnya mendapati lukisannya terjatuh pecah, dia membereskan serpihan kaca, sesekali Aoran melihat lukisan itu.


"Seandainya waktu bisa berputar, sekali saja aku ingin kembali ke pertemuan pertama kita" Gumamnya menyentuh wajah senyum Ardella didalam lukisan.


Sedangkan Evan yang dari tadi sudah melihat bersembunyi dibalik pintu.


***


Ardella memegang erat liontin yang ada ditangannya.


Hari sudah gelap. Ardella melihat kearah jendela. "Apa yang harus kutanyakan lebih dulu, harus kah aku bertanya siapa Aoran sebenarnya, atau mengapa Aku dan Aoran berada dilukisan itu." Gumam Ardella gelisah.


"Kita sudah sampai." Ucap Budi.


Ardella turun dari mobil, tidak mengucapkan sepatah kata pada Budi. Dia bergegas menemui Robin.


Penampilan Ardella kacau, suara dari bibirnya bergetar. "Robin aku ingin bicara." Ucap Ardella. Robin yang sedang menonton bingung dengan ekspresi Ardella.


Ardella membawa Robin berbicara didalam kamarnya sendiri. "Katakan dengan jujur, apa sebelumnya kamu mengenal Aoran." Langsung pada Intinya.


"Aku tidak mengenal Aoran sama sekali." Saut Robin kaku.


"Sampai kapan kamu harus berbohong padaku Rob." Ucap Ardella bernadakan serak.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu ketahui." Tanya Robin tiba-tiba merubah ekspresinya dengan datar.


"Aoran pernah mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya, dan kami punya anak." Tanya Ardella bingung dengan ucapannya sendiri.


Robin mulai merasa kesal, perasaannya tidak menerima ucapan Ardella tentang Aoran. Selama ini dia telah berada disampingku, tetapi mengapa Aoran bre*ngsek itu masih ada dipikiranmu.


"Ar, lihat aku. Sekarang akulah kekasihmu. Kamu dan Aoran tidak punya hubungan lagi." Robin mencekam lengan Ardella. Mengguncang tubuh Ardella, menyatakan bahwa Aoran bukan siapa-siapa baginya.


Untuk pertama kalinya Ardella melihat Robin marah. Bentuk ekspresi yang biasanya tersenyum berubah menjadi menyeramkan, hawa kemarahan sangat terpanjar dimata Robin.


Robin menarik Ardella, kemudian menekan Ardella hingga jatuh ke kasur. "Kenapa Aoran bisa melakukannya sedangkan aku tidak bisa." Ucapan itu terdengar sedih.


"Kamu sudah tahu." Ardella menatap Robin. Selama ini Ardella masih belum sanggup menceritakan bahwa dia dan Aoran telah berhubungan.


Robin yang berada diatas tubuh Ardella. Saat ini ingin mencium bibir Ardella, secara refleks Ardella menolak dan membalikkan arah pandangannya.


Robin menyentuh wajah Ardella, berusaha mencium Ardella. Tetapi tetap saja Ardella menolak. Tingkah Robin menjadi kasar, dia mencium bagian leher Ardella dengan agresif. Sesaat Robin tidak lagi seperti yang dikenal oleh Ardella.

__ADS_1


💔💔💔


Bersambung


__ADS_2