
Bagi Aoran mencintai seseorang tidaklah mudah, rasa cinta dalam hatinya tidak pernah tumbuh pada seorang wanita. Sekalipun dia tidak pernah bergetar ataupun merindukan seseorang. Tapi tidak untuk kali ini hanya butuh 3 detik untuk membuatnya tertarik pada seorang gadis.
Keesokan hari.
Aoran mulai siap-siap berangkat, semangat pagi terpancar diwajahnya. Sambil bersyiul kesana kemari, dia merapikan pakaian. Mengenakan pakaian training dia bersiap untuk berangkat.
Evan yang dari tadi memperhatikan Fritsch. "Lu serius ne Fritsch." Tanya Evan melihat Aoran.
"Iya. Untuk sementara lu senang-senang sendiri." Saut Aoran tersenyum lebar.
"Ok. Tapi gue bakal tetap ingetin lu Fritsch." Kata Evan.
Aoran pergi meninggalkan Evan yang masih menggurutu atas tingkahnya. Memulai perjalanannya Aoran kembali memikirkan apa yang akan terjadi, jika memang dia betul-betul jatuh cinta. Meski seribu kali dia memikirkannya jawaban yang dia dapatkan hanya sebuah pertanyaan.
***
Dikediaman Ardella.
Keadaan Ardella dengan ayahnya masih tetap tidak akur. Ardella yang baru bangun begegas kedapur kecil, dia mulai sibuk menyiapkan bekalnya.
"Bu, sarapanku mana." Tanya ayah Ardella pada Sherlin.
"Tunggu sebentar Pak, aku akan segera menyiapkannya. " Ucap ibu tiri Ardella yang baru bangun.
"Sudah jam segini kamu belum buat sarapan. " Ucapnya melihat kearah jam dinding rumah. "Sudahlah Aku makan diluar saja, aku harus segera berangkat." Ucapnya ketus mengerutkan dahinya.
Sherlin yang tidak terbiasa bangun pagi. "Maaf Pak, ibu telat bangun, besok janji ibu akan buatkan makanan kesukaanmu." Merayu dengan suara lembut.
Ardella yang dari arah dapur mendengar pertengkaran kecil antara ayahnya dan ibu tirinya. Dia beranjak dari dapur kecilnya, dilihatnya ayahnya wajah memerah akibat menahan kemarahan.
Dengan memberanikan diri Ardella berusaha berbicara. "Ayah, mau kubuatkan sarapan." Ucap Ardella lembut pada ayahnya yang terlihat kesal.
Ayahnya menyeritkan dahinya, rasa kesalnya terhadahap ibu tirinya masih terlihat diwajahnya. Melihat Ardella menambah kekesalan ayahnya, dia berjalan lurus tanpa berkata melewati Ardella.
"Ayah." Panggil Ardella.
Ayahnya masih tetap tidak mau bicara, walau menoleh melihat Ardella, dia kembali memalingkan wajahnya. Ardella merasa begitu sedih melihat keadaannya bersama ayahnya. Dengan segenap hati Ardella tidak pernah membenci ayahnya, hanya saja dengan pertengkaran inilah dia bisa menjalani hidupnya sesuai keinginannya, tanpa harus selalu diperlakukan buruk oleh ibu tirinya.
"Sudah waktunya aku berangkat. " Gumam Ardella melirik jam tangannya.
***
Diperkebunan.
Di kebun Ardella dan Ririn mulai bersiap-siap untuk bekerja.
"Ella. Wajahmu terlihat murung." Tanya Ririn melihat Ardella yang dari tadi diam.
"Tidak kok, mungkin itu perasaan kamu saja. Sebaiknya kita segera bekerja. " Ucap Ardella berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Ok."
Tap,,, tap,,,tap.
Suara langkah terdengar mendekati mereka, suara menarik perhatiaan Ardella dan Ririn. Ketika menoleh Ardella dan Ririn melihat Pak Kahrim bersama seorang pria, pria itu tak lain adalah Aoran. Dengan wajah tersenyum Aoran berjalan mendekat pada Ardella dan Ririn.
Ardella melihat dengan tatapan tajam, memastikan bahwa laki-laki tinggi yang dihadapannya bukanlah Aoran.
"Dia,,nak Aoran, mulai hari ini nak Aoran juga akan bekerja disini. " Ucap pak Kahrim memperkenalkan Aoran.
"Kak Aoran. " Ucap Ririn begitu senang melihat Aoran.
Sedangkan Ardella tidak ada respon sedikit pun.
Dia mau bekerja disini, apa dia bisa bekerja, melihat dari penampilannya terlihat seperti anak orang kaya. Ardella membatin.
"Kalau begitu aku pergi, kalian bantu nak Aoran." Kata pak Kahrim mulai beranjak pergi.
Setelah pak Kahrim pergi, Ririn mendekati Aoran. "Kenapa kak Aoran bisa kerja disini. "
"Ouhh, itu karena menurutku menyenangkan. "Saut Aoran berkata santai memberi sedikit senyuman.
Menyenangkan apa dia pikir kita sedang bertamasya. Ardella membatin kembali.
Ardella mulai bergegas dan mengambil semua peralatan yang dibutuhkan. Dia tidak ingin mendengarkan obrolan Aoran dan Ririn. Mulai mengambil galah dan keranjang, Ardella sedikit kesusahan membawa barangnya.
Walau berbincang dengan Ririn, pandangan Aoran tidak pernah lepas darinya, melihat Ardella mengacuhkannya, Aoran sedikit tidak senang, apa dayanya dia berkata bahwa dia tidak senang.
Aoran dengan segera menuju kearah Ardella, tangannya meraih semua peralatan yang ada ditangan Ardella.
"Biar aku bawakan. " Mengangkat barang kemudiaan berjalan lurus.
"Eh,,, kamu kemana, arah kita kesana, yang disitu udah siap diambil kemarin." Teriak Ardella Menunjukkan arah.
Upss,,, Langkah Aoran terhenti dan segera berbalik arah mengikuti Ardella dan Ririn dari belakang.
Aoran yang belum mengerti cara kerjanya berusaha keras. "Kenapa sih gk mau jatuh." Suara pelan terseret, Aoran menari-narik galahnyan yang tersangkut.
Suara kesal Aoran didengar oleh Ririn dan Ardella.
"Ella. Sana bantu kak Aoran, kasihan dia. " Ucap Ririn melihat kerah Ardella.
"Kamu aja deh Rin." Saut Ardella sibuk mengumpulkan cengkeh.
Ririn mulai menuju kearah Aoran. "Sini biar aku ajarin." Ucap Ririn meraih galahnya Aoran.
Aoran dibantu oleh Ririn, sedangkan Ardella cuek dan hanya fokus bekerja.
Penjelasan Ririn dimengerti oleh Aoran. Selang beberapa jam Aoran sudah mulai terbiasa, karena tubuh Aoran tinggi dan tenaganya lebih kuat membuatnya tidak kesusahan mengambil cengkeh. Jika dihitung jumlah pohon cengkeh yang lebih banyak selesai dikerjakan oleh Aoran.
__ADS_1
Aoran dengan perlahan mendekati Ardella. "Ehem." Ucapnya.
Ardella melirik Aoran, kemudian kembali fokus bekerja.
Dia cuek banget, ekspresinya kalau bekerja sedikit menyeramkan. Aoran membatin.
Tak,,,,(sesuatu terjatuh).
Perasaan Aoran ada sesuatu yang jatuh kebahunya, ketika dilihat bahunya dia berteriak keras.
"Auhhh,,, auhh tolong aku,,,tolong aku" Aoran melompat-lompat dan tangannya bergerak mengibaskan sesuatu yang dibahunya.
Ardella yang berada disampingnya terkejut, tangannya melempar galah ketanah, kemudian beranjak mendekati Aoran.
"Ada apa. " Ucap Ardella melihat Aoran meronta-ronta.
"Itu, itu. Seekor binatang kecil jatuh kebahuku. Tolong aku." Ucap Aoran bergerak-gerak.
"Ok. Tenanglah jangan bergerak. " Ucap Ardella menyuruh Aoran untuk berhenti bergerak.
"Baiklah. " Saut Aoran berdiam seperti patung.
Ketika Ardella melihat ke bahunya ada seekor ulat bulu kecil, Ardella menepisnya. "Hahaha,,, haha, itu hanya seekor ulat bulu kecil, segitu takutnya kah kamu hingga berteriak minta tolong" Dengan suara keras Ardella tertawa geli.
Ririn melihat Aoran ketakutan sedikit merasa lucu, tapi dia tidak seperti Ardella yang tertawa keras. "Ella,,, udah jangan diketawain lihat muka kak Aoran di begitu terlihat pucat dan malu. " Berbisik ketelinga Ardella.
"Ok,,,ok. " Berbisik kembali dan membentuk tanda ok dijarinya.
Aoran masih terdiam karena merasa malu. Harga dirinya sebagai lelaki seperti ternodai.
Dasar ulat bulu jelek. Aoran membatin.
"Biar aku saja yang lanjutkan." Ardella mengambil galah yang ada ditangan Aoran.
Aoran menarik kembali galahnya, dengan wajah menahan rasa malu Aoran kembali bekerja. Ardella masih dalam keadaan tersenyum tipis, sesekali melihat wajah Aoran yang masih memerah.
Tidak terasa pekerjaan mereka lebih cepat selesai dari biasanya. Mereka membawa cengkeh kegudang Pak Kahrim. Pak kahrim kemudiaan memberikan gaji mereka.
"Pak,,, ini kok uangnya lebih dari biasanya?. " Tanya mereka.
"Sesekali aku kasih lebih, karena kalian sudah bekerja keras." Senyumnya.
"Terus teman kami yang disana kok gk dikasih?." Ucap Ririn menunjuk Aoran.
Sebelumnya Aoran dan Pak Kahrim sudah berbicara, bahwa upahnya diberikan kepada Ardella dan Ririn.
"Tadi udah bapak kasih. " Ucap pak Kahrim.
Aoran yang terlihat menggaruk-garuk bahunya dihampiri oleh Ardella dan Ririn.
__ADS_1
πππ
Bersambung