Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Anasya


__ADS_3

Tak,,, tak,,, tak.


Suara sibuk mengetik. Aoran Fritsch yang super sibuk bekerja dengan serius didalam ruangannya.


"Cepat panggilkan Bos kalian, bilang Anasya datang." Membentak para karyawan dengan ekspresi jutek.


Lihat aja kalau kak Aoran tidak datang menyambutku. Aku akan terus buat keributan disini, beraninya tak mebjemputku dibandara. Suara batin Anasya berkata.


"Nona bisa kami tahu tujuan nona kesini." Karyawan bertanya dengan sopan tapi belum tahu indentitasnya.


"Nona jangan buat keributan disini, kalau sampai bos Aoran mendengar nona bisa kena marah oleh Bos Aoran." Karyawan lain mperingatkan Anasya.


"Aku tidak takut suruh dia keluar." Penuh percaya diri.


Para karyawan yang tidak dapat mengatasi keributan Anasya, menghubungi sekretaris Aoran dan mengabari bahwa seorang wanita bernama Anasya membuat keributan mencari Bos Aoran.


Tok,, tok,,, tok


"Mm, masuklah." Ucap Aoran.


"Ada apa." Tanyanya kembali masih sibuk mengetik.


"Bos, ada seorang wanita bernama Anasya mencari bos, dia membuat keributan dengan para karyawan." Ucap sekretarisnya.


Mendengar nama Anasya tangan Aoran langsung berhenti mengetik.Β  Bergegas pergi menemui Anasya.


Tap,,, tap,,, tap.


Langkah Aoran mulai mendekat ke arah Anasya. Suara langkah Aoran yang semakin dekat didengar oleh Anasya.


"Kak Aoran." Anasya yang telah menoleh dan melihat kedatanga Aoran, dia berlari dan memeluk Aoran.


"Bukankah sudah kukatakan tunggu aku dirumah." Ucap Aoran dalam keadaan berdiri tegap dan membiarkan Anasya memeluknya.


"Tidak mau, kak Aoran tega banget tidak datang menjemputku dibandara, malah hanya menyuruh supir untuk menjemputku." Menggurutu dengan ekspresi cemberut.


"Aku sangat sibuk, sebaiknya kamu kembali kerumah. Setelah pekerjaanku selesai aku akan menemuimu dirumah." Ucapnya melepaskan pelukan Anasya.


"Kak, aku lapar." Mengacuhkan perkataan Aoran dan memegang perutnya.


Aoran menghela nafas melihat tingkah Adiknya.


"Pesankan beberapa makanan untuknya." Kata Aoran pada sekretarisnya.


"Tidak mau, aku mau ditemani kak Aoran, kalau tidak ditemani aku tidak akan makan sebutir nasi." Mengerutkan dahinya dan mengambek tak melihat wajah Aoran.


Aoran yang mengenal sifat keras kepala Anasya menurut dan menemaninya untuk makan.


Note :

__ADS_1


Anasya gadis manja dan sedikit nakal adalah adik kandung Aoran, setelah lulus SMA dia berencana melanjutkan kuliah diindonesia, sekalian untuk menemani kakaknya Aoran diindonesia.


***


Direstoran


Aoran memesan makanan untuknya dan adiknya.


"Kapan rencana balik ke jerman." Ucap Aoran sambil menunggu pesanan datang.


"Aku tidak akan kembali ke jerman Kak, aku disini mau lanjut kuliah, lagian Papi dan Mami sudah setuju dengan keputusanku kuliah disini." Kata Anasya senyum.


"Kakak sangat sibuk jadi selama disini jangan mengacau." Menatap Anasya.


Kak Aoran banyak berubah, biasanya dia selalu bercanda jika berbicara denganku, tapi hari ini dia hanya mengucapkan kata seadanya. Kata hati Anasya berkata.


"Baiklah kak." Setelah sejenak berdiam.


"Tuan. Nona, ini pesananya." Ucap pelayan restoran membawakan makanan pesanan Aoran dan Anasya.


"Wahh,,, sepertinya enak aku sudah lama tak makanan indonesia, terakhir kali saat aku masih kecil saat mengunjungi nenek." Tangannya sibuk memotong steak diatas mejanya.


"Cepatlah makan, setelah itu kuantar pulang." Tak merespon Anasya.


Setelah selesai makan. Aoran mengantarkan adiknya pulang.


"Jam berapa kakak pulang." Tanya Anasya saat hendak keluar dari mobil.


"Baiklah kak." Nada kecewa.


Anasya yang turun dari mobil. Dia sedang berdiri didepan gerbang melihat mobil kakaknya melaju jauh.


"Sebenarnya apa yang terjadi selama dua tahun ini, kenapa kak Aoran banyak berubah." Kata hatinya berkata.


Aoran yang sedang menyetir menuju ke kantornya.


"Hari ini kita meeting." Ucapnya setelah turun dari mobil dan disambut oleh sekretarisnya Parto.


"Baik bos." Ucap Parto mengikuti Aoran dari belakang, sambil memegang agenda perjalanan Aoran.


"Bagaimana kabar pembangunan rumah sakit di pulau." Tanya Aoran saat berada di lift.


"Sebentar lagi akan selasai Bos. Apa bos ingin kesana mengeceknya sendiri." Menjelaskan pada Aoran dan menekan tombol lift kelantai tujuan.


"Tidak, kamu urus saja, setelah selesai aku akan kesana." Saut Aoran.


"Baik bos. "


Langkah Aoran cepat menuju keruangannya, sedangkan Parto mengabari pada karyawan 10 menit lagi akan diadakan rapat.

__ADS_1


"Meeting. Oh tidak aku belum menyelesaikan dokumen kemarin. "


"Bagaimana ini aku belum merapikan dokumen yang sebelumnya. "


"Aku juga belum siap untuk presentasinya."


"Bukannya meeting 3 hari lagi."


"Bisa-bisa kita dipecat."


Komentar para karyawan.


Parto yang mendengar sebenarnya ikut merasa kasihan, tapi apa boleh buat, dia juga hanya seorang bawahan. Hanya Parto yang sanggup berada disamping Aoran, sudah banyak orang yang mengundurkan diri tak tahan dengan sikap Aoran.


10 menit kemudiaan.


Para karyawan telah menunggu diruang meeting, berdoa mudahan-mudahan ada keajaiban Aoran tidak akan marah-marah.


Tap,,,.


Aoran memasuki ruang meeting, dilihatnya mereka yang berada diruang meeting terlihat pucat dan ketakutan. Aoran duduk dan menyuruh mereka melaporkan perkembangan perusahaan. Dia juga meminta dokumen yang telah di perbaiki.


"Maaf Pak, dokumennya belum saya perbaiki."


"Maaf Pak, saya belum selesai membuat laporan bulan kemarin, hanya tinggal beberapa lagi, karena kupikir meeting diadakan 3 hari lagi"


Ucap para karyawan. Sebagiaan karyawan hanya terdiam.


Aoran mulai mengerutkan dahinya, tatapannya mulai menusuk, tangannya mengosok dahinya dengan pelan, pikirnya sedang bermain dikepalanya mendengarkan ucapan karyawannya.


"Jika aku mengatakan "Maaf" pada kalian dan tidak membayar gaji kalian, apa kalian akan terima." Aoran yang memberikan aura menyeramkan.


Semua orang didalam meeting terdiam tidak berani mengatakan sepatah katapun.


"Besok aku ingin semua selesai, tidak ada alasan lagi, jika ada yang tugasnya belum selesai, serahkan saja surat penguduran diri kalian pada Parto." Berdiri dan berbicara dengan suara kemarahan meninggalkan ruang meeting.


Sekembalinya diruang meeting Aoran mulai bekerja kembali, dokumen-dokumen diatas meja dibacanya, ada sebagian dokumen yang butuh tanda tangan untuk kata sebuah persetujuan darinya, dilanjutkan dengan mengetik dan mengecek perkembangan perusahaan, tidak terasa Aoran sudah berada dikantor hingga larut malam.


"Sudah larut malam, apa anak itu menunggu." Gumamnya melihat jam tangannya dan mengingat Anasya yang berada dirumah.


Laptopnya kemudiaan ditutupnya, Aoran mengambil jasnya yang tergantung dan bergegas kembali kerumah.


Sesampainya di rumah Aoran menaiki anak tangga menuju kamar adiknya, dibukanya pintu dengan pelan, Aoran mendapati lampu kamar tidur padam dan melihat Anasya tertidur pulas.


Aoran kembali kekamarnya. Diletakkannya jasnya dan tasnya disofa, perlahan dia menarik dasinya dan membuka kancing atas kemejanya. Aoran mulai berbaring di sofa, tangannya meraih kalung yang ada dilehernya, kalung liontin bertuliskan nama Ardella yang selama ini dikalungkannya.


"Ardella aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Ucapnya pelan sambil mencium kalung.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2