
Raut wajah Robin berubah menjadi kemarahan ketika melihat Aoran, beda halnya dengan Aoran melihat Robin, dia sedikit terlihat senang.
"Ayo, kita bicara diluar." Ucap Robin mengajak Aoran keluar.
Aoran mengikuti Robin beranjak keluar. Sesampainya diluar Robin langsung melayangkan tinjunya.
Brukk,,, Aoran terjatuh kelantai.
"Dasar cowok baj**ngan." Ucap Robin meraih kembali tubuh Aoran.
Aoran yang melihat kemarahan Robin tidak melawan, pikirnya wajar kalau Robin marah karena telah meninggalkan Ardella.
Dengan tatapan kemarahan. "Jangan dekati Ardella." Ucap Robin memegang kerah baju Aoran.
Mendengar ucapan Robin, Aoran merasa tidak senang dan menepis tangan Robin darinnya.
Raut wajah Aoran yang berubah menjadi kesal. "Apa hakmu menyuruhku untuk menjauh dari Ardella." Ucap Aoran dengan nada dingin.
Robin dengan spontan. "Aku pacarnya, aku berhak melindungi Ardella dari laki-laki sepertimu." Ucap Robin memperingatkan Aoran.
"Pacar. jangan mengada-ngada" Ucap Aoran kebinguan. "Aku dan Ardella sepasang kekasih, bahkan kami telah punya anak bersama." Ucap Aoran menjelaskan lebih dalam hubungannya dengan Ardella.
Seketika itu ingatan Robin kembali pada Ririn yang mengatakan bahwa Aoran sempat mencari Ardella.
"Anak." Ucap Robin dengan nada sinis. "Anak itu tidak pernah lahir." Ucap Robin kembali.
Aoran yang mendengar ucapan Robin menjadi marah. "Apa maksudmu." Ucap Aoran menarik kerah baju Robin.
Dalam keadaan ancaman dan kemarahan Aoran. "Apa kamu pikir Ardella akan melahirkan anak itu setelah kamu meninggalkannya." Ucap Robin tertawa tipis.
Maaf Ardella, kali ini aku ingin sedikit egois. Aku terlalu mencintaimu, aku tidak ingin kamu bersama laki-laki lain. Robin membatin.
"Bicara yang jelas bre**sek." Ucap Aoran dengan suara kasar.
"Ardella melakukan aborsi."Ucap Robin singkat.
Plakkk,,, suara tinju Aoran melayang kewajah Robin.
"Katakan itu bohong." Ucap Aoran menarik kembali kerah Robin.
"Aku tidak bohong, Ardella bahkan telah melupakannmu." Ucap Robin pasrah dipukuli dengan Aoran.
Aoran yang melepaskan Robin, dia merasa bingung untuk saat ini, dia yang tidak percaya dengan kata-kata Robin. "Aku tidak percaya denganmu, aku akan bertanya pada Ardella sendiri." Ucap Aoran beranjak meninggalkan Robin dan menemui Ardella.
Ardella yang ada didalam kamar telah siuman, pertengkaran Robin dan Aoran sempat terdengar oleh Ardella.
__ADS_1
"Huh." Suara nafas Ardella yang berusaha duduk. "Bukankah itu suara Robin." Gumam Ardella.
Robin yang berusaha menghentikan Aoran. Didepan pintu Aoran berdiri, sejenak dia berpikir.
Tangan Robin menahan Aoran untuk membuka pintu. "Minggir." Ucap Aoran keras mendororong Robin.
Cklekkkk,,, pintu terbuka, Aoran masuk dan melihat Ardella telah siuman dengan posisi duduk. Langkah kaki Aoran beranjak cepat, tatapan mata Aoran setajam pisau. Ardella yang melihat Aoran berjalan kearahnya merasa ada sesuatu yang tak bisa diucapkannya.
Meraih tubuh Ardella didalam gengaman tangannya. "Ardella, dimana anak kita." Tanya Aoran tanpa basa-basi.
Ardella kaget dan bingung. "Anak apa maksudmu." Ucap Ardella dengan nada gemetar.
Aoran mendengar perkataan Ardella menjadi lebih marah. "Jangan bercanda denganku." Ucap Aoran dengan suara serak menahan kemarahan.
"Aku tidak tahu maksudmu." Ucap Ardella berusaha melepaskan gengaman Aoran dibahunya yang semakin lama terasa sakit.
Robin datang dan berusaha melepaskan gengaman Aoran. "Lepaskan." Ucap Robin keras.
Gengaman Aoran semakin kuat, tanpa sadar Aoran meneteskan air mata. "Lihat aku Ardella." Ucap Aoran menatap Aedella.
Melihat Aoran yang menangis membuatnya semakin takut. "Maaf, aku baru pertama kali melihatmu hari ini." Ucap Ardella pelan.
"Aoran Fritsch. Kekasihmu." Aoran yang masih berusaha bicara lembut.
Aoran yang telah berada dipuncak kemarahan meraih baju Ardella, berusaha membuka kancing bagian bawah baju Ardella.
"Lepaskan aku." Ardella memberontak dan menahan tangan Aoran.
"Lepaskan." Ucap Robin kembali menarik Aoran.
"Akan kupastikan sendiri, jika kamu memang melakukan aborsi pasti ada bekasnya ditubuhmu." Ucap Aoran ingin melihat bagian perut Ardella.
Suara ribut dan pertengkaran mereka terdengar oleh Anasya dan Nina yang baru datang. Anasya dan Nina bergegas masuk, dilihatnya keadaan kacau. Aoran yang berusaha membuka baju Ardella, Robin yang menarik tubuh Aoran, dan Ardella yang berusaha melepaskan tangan Aoran darinya.
"Kakak." Ucap Anasya bergegas kearah mereka. "Apa yang kakak lakukan." Tanya Anasya ikut menahan tangan Aoran.
"Hiks,,, Hiks,,, hiks. " Tangis Ardella pelan.
Mendengar tangisan Ardella Aoran terdiam, dia mulai menghentikan perilakunya, rasanya kesal melihat mata Ardella yang terpanjar kejujuran.
"Hiks." Ardella yang merapikan bajunya yang hampir terangkat keatas.
Aoran pergi dan tidak bicara sepatah katapun, Anasya yang melihat merasa bingung antara mengejar kakaknya atau menenagkan Ardella yang sedang menangis. Robin menenagkan Ardella yang sedang menangis, tangan Robin membaringkan tubuh Ardella dan menyelimuti bagian kaki Ardella.
"Istirahatlah." Ucap Robin memberi senyum.
__ADS_1
Setelah menenangkan Ardella Robin meminta Anasya ikut dengannya.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar." Ucap Robin pada Anasya.
Pergi keluar, Anasya dan Robin berbicara, sedangkan Nina menamani Ardella yang sedang terbaring.
Deg,,, tes,,,. Air mata Ardella mengalir kepipinya dan jantungnya terasa perih, Ardella membalikkan tubuhnya membelakangi Nina.
Apa ini, kenapa hatiku terasa sakit. Ardella membatin.
Mengingat kembali wajah Aoran yang juga tampak sedih membuat Ardella terisak menangis.
Nina yang mendengar suarat tangisan Ardella. "Ardella kenapa menangis." Ucap Nina melihat wajah Ardella.
Ardella yang menghadap ke langit-langit. "Aku gak tahu Nin, rasanya hatiku sakit." Ucap Ardella terisak menangis.
Mungkin Ardella bisa melupakan Aoran tapi hatinya tidak sedikitpun melupakan Aoran.
Setibanya dirumah Aoran menuju kamarnya. Dikamar yang gelap tak ada cahaya terpanjar karena ditutupi oleh tirai, Aoran mulai mengamuk melemparkan barang-barang yang dia lihat dan sentuh.
"Aaaaa." Teriak Aoran keras.
Aoran beranjak menuju kaca, melihat dirinya sendiri, berdiri dikaca wajahnya tidak terlihat karena ditutupi oleh gelapnya kamar.
Prankk,,,suara pukulan Aoran ke arah kaca dan suara pecahan kaca bertebaran.
Tes,,,tes,,, tes. Darah Aoran mengalir dari tangannya.
Aoran yang masih didepan kaca, tangannya yang masih berada diretakan kaca. "Ha,,,ha,, ha." Tawa Aoran patah-patah yang tidak ada artinya.
"Sepertinya aku salah menilaimu Ardella." Ucap Aoran dengan suara seraknya. "Akan kubuat kamu merasakan apa yang kurasakan. Ah satu lagi siapun yang terlibat dalam pembunuhan anakku akan kuhanjurkan mereka berkeping-keping." Tatapan dan suara dingan Aoran penuh dengan dendam.
Melapiaskan kemarahannya masih belum cukup, Aoran pergi keruangan penyimpanan minuman. Tangannya meraih dua botol anggur. Duduk dilantai sambil minum anggur yang langsung dari botol.
"Teganya kamu Ardella." Ucap Aoran setengah mabuk.
"Setiap hari aku menunggumu, membayangkan bertemu dengan anak kita, membayangkan aku menjadi seorang ayah dan hidup bahagia bersamamu." Diteguknya kembali anggur ditangannya.
"Kamu mengahancurkan mimpiku." Sekali lagi ditaguknya anggur.
"Ardella. Aku menbencimu, aku sungguh membencimu. " Teriak Aoran memecahkan botol anggurnya.
πππ
Bersambung
__ADS_1