
Dikarenakan masa liburan setiap tahun pulau danau toba menjadi wisata yang menarik, pengunjungnya kurang lebih satu juta orang. Penduduk setempat memanfaatkan masa liburan menjadi penghasilan sampingan. contohnya ada yang bekerja sebagai Pemandu wisata. Membuka restoran dan sebagian penduduk menyediakan tempat penginapan.
Aoran Fritsch laki-laki tampan keturunan indo-jerman, dengan tinggi badan 189, badan sixpeck, berkulit putih. Wajah tampan sempurna, kekayaan melimpah, semua dimiliki olehnya.
Aoran yang saat ini salah satu pengunjung yang sedang berlibur di pulau danau toba. Selama tiga bulan kedepan Aoran memiliki kebebasan untuk dirinya. Aoran yang melihat danau toba merasa hatinya sejuk. Pikirannya yang sedang kacau terasa hilang.
Ketika menanjakkan kakinya pertama kali di pulau danau toba, dia mulai melist melalui hpnya tempat-tempat wisata yang ingin dikunjungi bersama dengan temannya.
Sibuk dengan ponselnya, Aoran berjalan meninggalkan temannya dibelakang.
"Fritsh tungguin gue." Ucap Evan.
"Lambat benget sih." Ucap Aoran memutar langkahnya kebelakang.
Aoran Fritsch yang kerap dipanggil Fritsch oleh Evan teman Aoran, mereka berdua berasal dari jakarta. Kali ini mereka memilih berlibur ditempat yang memiliki banyak wisata alam. sehingga tempat yang mereka rasa cocok ya di pulau ini.
"Huek,, huek." Suara muntah Evan. "Fritsh gue mau muntah ne akibat mabuk kapal." Ucap Evan sekali lagi.
Melihat Evan yang sedang muntah-muntah membuat Aoran tertawa. "Lemah banget kayak anak kecil. Segitu aja udah muntah." Ucapnya meledek Evan.
Evan tidak sanggup membalas balik candaan Aoran. "Terserah lu mau bilang apa." Ucap Evan pasrah mendengar Aoran mengeceknya.
Sambil memegang pundak Evan dan memijat lehernya. Aoran berusaha menghentikan muntahnya Evan. "Sini gue pijitin." Ucap Aoran.
"Sebelah sini Fritsch, rasanya mual banget." Saut Evan menyuruh Aoran memijat seluruh leher hingga ke pundaknya.
Aoran merogoh tasnya untuk mengambil air minum. " Minum dulu. Biar gk mual lagi." Aoran memberikan minuman pada Evan. "Makanya olah raga biar tubuh lu kuat." Ucap Aoran kembali memijit pundak Evan.
"Apa hubungannya coba olah raga sama mabuk kapal." Ucap Evan masih dalam keadan muntah. "Kayaknya udah mendingan. Ayo kita mulai perjalananya." Evan kembali bersemangat.
"Oke. "
Aoran dan Evan mulai berjalan-jalan melihat-lihat terlebih dahulu, saat berada dikapal mereka sudah melihat batu gantung, selanjutnya mereka menuju tomok dan kemudiaan singgah ke sigale-gale, disana mereka menyaksikkan pertunjukkan boneka yang menari-nari seperti hidup.
Aoran dan Evan melihat pertunjukan itu merasa takjub.
__ADS_1
"Wow keren banget pertunjukannya. Kayaknya harus diabadikan nih." Kata Evan mengambil kamera dari tasnya.
"Sini kameranya, sekalian gue fotoin." Kata Aoran meraih kamera Evan.
"Udah belum." Evan dengan penuh gaya berfoto.
"Udah." Melihat hasil foto yang diambilnya.
Evan mendekat kearah Aoran. " Mana coba gue lihat hasilnya." Ucap Evan mengambil kembali kameranya. "Jelek banget Fritsch, muka gue nampak kaku, ambilnya yang benar dong Fritsch. " Evan yang tidak puas dengan hasil gambarnya.
"Bukan salah gue, kayaknya yang salah muka lu." Aoran menahan tawanya.
Kesal dengan Aoran, Evan melanjutkan mengambil foto yang menurutnya unik, sedangkan Aoran yang berdiri disamping Evan dengan menyilangkan tangan menjadi pusat perhatiaan. Ketampanannya membuat para wanita meliriknya, bahkan ada beberapa wanita mengambil fotonya diam-diam dan ada juga teterangan meminta foto bersama, tetapi Aoran merasa kurang nyaman dan menolak dengan sopan.
Aoran mulai lapar, dia mendekat pada Evan yang masih asik mengambil foto. "Van, yok cari makan dulu." Sambil menepuk punggung Evan.
Mengacuhkan Aoran. "Ok. Bentar masih seru nih." Dalam keadaan memotret.
Aoran berjalan melihat-lihat sekitar, mencari sebuah restoran untuk makan, ketika melihat sebuah restoran Aoran menarik Evan ikut dengannya.
"Habisnya lu lama banget sih." Aoran melepaskan tangannya.
Aoran dan Evan makan disebuah restoran khusus khas batak dengan banyak sajian makananan yang disediakan seperti ikan bakar, tuk-tuk dan rendang.
"Makanan enak juga, sensasinya beda." Ucap Evan membersihkan tangannya dengan tisu.
"Iya. Rasa laparku udah hilang." Aoran sesak menahan kekenyangan.
Setelah selesai makan mereka beristirahat sebentar, tiba-tiba salah satu karyawan wanita restoran memintanya foto bersama.
"Permisi, bisakah saya minta foto bersama." Ucapnya mendekat pada Aoran dan menyodorkan hpnya.
Aoran dengan tatapannya tidak suka, dirinya hanya diam dan memperhatikan wanita itu berdiri tersipu malu. Gaya wanita seperti itu sudah sering dilihat Aoran, mereka hanya tertarik dengan ketampananya.
Evan yang tau bahwa Aoran kurang nyaman langsung mengambil kamera dan mengajak wanita itu foto bersamanya.
__ADS_1
"Foto bersama saya saja." Evan meraih kamera dan berselfie bersama. "Sebaiknya jangan mengajaknya berfoto, dia itu sedikit pemarah." Berbisik setelah foto bersama.
Mendengar perkataan Evan membuat karyawan itu langsung pergi dengan wajah kecewa.
Evan melihat Aoran duduk dengan santai. "Fritsch sebaiknya besok lu pake masker aja pas jalan-jalan, kasihan gue lihat cewek-cewek yang minta foto sama lu." Ucap Evan kembali duduk.
"Ah, ngapain juga harus gue yang pake masker. Kan ada lu yang ngatasinya setiap kali ada cewek yang minta foto." Senyum Aoran pada Evan yang terlihat kesal.
Bukan sekali-dua kali Aoran mengalami kejadian itu, bahkan dia punya pengalaman yang menurutnya menyebalkan, waktu itu pernah sekali seorang wanita tiba-tiba memeluknya dan menyebutnya sebagai suaminya, semenjak itu Aoran tidak pernah lagi mau berfoto dengan orang asing.
Aoran dan Evan kembali melanjutkan perjalananya. Ada satu yang menurut mereka unik yaitu barang-barang antik peniggalan daerah toba.
Aoran memperhatikan barang antik dengan sedikit melamun. "Padahal gue sering keluar negeri jalan-jalan, bahkan tempatnya lebih bagus. Tapi ntah kenapa pas datang kesini hatiku berdebar kayak ada sesuatu yang gk bisa gue jelasin." Kata Aoran.
"Mungkin aja jodoh lu disini." Ucap Evan sembarangan.
***
Menjelang sore.
Aoran dan evan mencari hotel terdekat untuk menginap, karna banyaknya pengunjung tahun ini semua hotel di danau toba penuh.
"Gimana ne penginapan didaerah sini udah penuh semua." Keluh Evan kebingungan.
"Kita cari tempat lain. Mana tahu masih ada penginapan yang kosong. "
Evan mencari informasi lewat hpnya tempat penginapan yang masih kosong, posisi mereka sedang berdiri di simpang jalan. Lama mencari akhirnya Evan menemukan penginapan kosong didaerah samosir.
"Fritsh, kita ke samosir aja yok." Memanggil Aoran sambil menunjukkan hpnya. "Disana kayaknya masih ada penginapan kosong, sekalian aja besok kita lanjutkan perjalanan di samosir." Ucap Evan kembali.
"Oke. Kita berangkat ke samosir." Saut Aoran.
Mereka memulai perjalanan ke samosir. Menyebrangi danau, mereka menyewa kapal. Kapal mulai berlayar, hembusan Angin membuat Aoran dan Evan terdiam.
πππ
__ADS_1
Bersambung