
Pagi hari.
Dikediaman Ririn. Seperti biasanya Ardella menunggu sahabatnya untuk berangkat kerja bersama. Masih dalam keaadan menunggu Ardella duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya karena berjalan dari rumah.
"Sudah siap Rin." Tanya Ardella ketika melihat Ririn keluar.
"Udah. Kita berangkat sekarang." Saut Ririn.
Ardella dan Ririn menuju ke perkebunan cengkeh.
Sepanjang jalan Ririn melihat Ardella. "Sampai kapan ya kita berdua begini." Ucap Ririn dengan sedih.
Ardella yang melihat Ririn mengerti apa yang dikatakan sahabatnya. " Sabar aja Rin." Ardella yang tidak tahu harus mengucapkan apa pada sahabatnya.
"Memangnya kamu gk pernah berpikir untuk menikah aja. Daripada hidup seperti ini rasanya aku ingin ada seseorang disampingku. Punya suami yang menghidupiku, punya anak yang imut. Merawat suami dan anakku, sesekali kami pergi berlibur. " Ucap Ririn berharap kehidupannya berubah.
"Menikah tidak semudah yang dipikirkan. Bagaimana kalau aku bertemu laki-laki jahat, yang ada hidup lebih menderita."
"Iya juga sih. Tapi sejujurnya kadang aku merasa lelah, rasanya udah gak sanggup. Setiap hari kita kekebun hanya mencari uang yang tidak seberapa. Kapan kehidupan kita berubah." Ucap Ririn.
"Tidak tahu Rin. Semangat aja." Senyum Ardella.
Tiba diperkebunan Ardella dan Ririn mulai mengambil perlengkapannya dan bekerja. Ketika dilihat pohon cengkeh ada bermacam-macam ada yang rendah ada juga yang tinggi.
Ririn melihat pohon cengkeh sangat tinggi, rasanya tidak memungkin bagi mereka untuk mengambilnya. "Aduhh,,, kayaknya yang diatas gk bisa diambil deh" Melihat keatas.
"Gimana kalau kita panjat aja pohon cengkehnya Rin." Mengamati tinggi pohon cengkeh.
"Jangan,,, ! nanti kita jatuh." Menahan Ardella.
"Tapi sayang cengkehnya gk diambil, nanti bisa busuk." Menatap Ririn.
Karena tubuh Ririn yang agak berisi susah untuk naik ke pohon cengkeh. Akhirnya Ardella memutuskan untuk memancat. Perlahan mulai memanjat pohon cengkeh, Ardella melepaskan alas kakinya dan memancat selangkah demi selangkah.
"Rin, ambilin galahnya. " Sambil menoleh kebawah dan memegang pohon cengkeh
Ririn memberikan galahnya kepada Ardella. Melihat Ardella memanjat membuat Ririn khawatir.
"Ella,,, hati-hati, kalau udah selesai cepat turun, takutnya kamu jatuh." Teriak Ririn.
"Bentar Rin, sedikit lagi. "
Bruk,,,bruk.
Suara dahan cengkeh dan galah terjatuh, Ririn begitu terkejut dan panik menyuruh Ardella turun.
"Suara apan tu, sepertinya ada orang yang jatuh deh" Evan yan terkejut mendengar dari tempat yang berbeda.
__ADS_1
Ternyata oh ternyata Aoran dan Evan kebetulan lewat dari perkebunan cengkeh. Mereka sebenarnya ingin menuju ke perkebunan teh. Tapi karena mendengar suara seperti ada yang terjatuh mereka berhenti dan mendengarkan arah suara.
Aoran yang mendengar suara, berpikir mungkin ada membutuhkan bantuan. "Gue cari kesana dulu, terus lu cari kearah sana mana tahu ada yang butuh bantuan. " Ucap Aoran mengarahkan Evan.
Aoran berjalan, mengamati suara dengan tajam, semakin jauh dia berjalan dia mendengar suara ribut Ardella dan Ririn semakin jelas.
Aoran tercengang ketika melihat Ardella diatas pohon. Ardella yang sedang ketakutan membuat Aoran tertawa tipis.
"Huft. Imutnya." Aoran menahan tawanya, agar tidak didengar oleh Ardella.
Lucu banget sih. Setiap kali bertemu dengannya pasti ada saja hal yang menarik. Aoran membatin.
Kepanikan Ardella semakin besar ketika melihat kebawah. "Ririn. " Ucap Ardella dari atas melihat kebawah.
"Kenapa." Saut Ririn keras.
Wajah Ardella berubah pucat seketika, tangannya hampir tidak bertenaga. "Aku tiba-tiba takut. Habisnya kalau lihat kebawah kayaknya tinggi gitu. " Menoleh-noleh kebawah sambil mencoba menurunkan salah satu kakinya
"Jangan takut." Teriak Ririn dari bawah.
Ardella yang berusaha turun menarik kembali kakinya, dia memegang erat pohon cengkeh. "Ririn, tiba-tiba aku takut jatuh." Memejamkan mata.
Aoran yang dari tadi memperhatikan tingkah Ardella sudah cukup puas. Dia mulai mendekat dengan langkah cepat.
Srekk,,, srekkk. Aoran yang melihat Ardella berada dipohon dengan mata terpejam. Dengan wajah tersenyum tipis Aoran mengulurkan tangannya kearah Ardella.
Sebenarnya pohon tidak terlalu tinggi hanya karena kaki Ardella pendek, jadi tidak bisa mencapai tanah.
Disisi lain Ririn bengong melihat Aoran. Suara Aoran mengalihkan perhatiaan Ririn.
Apa cowok ini seorang pangeran, guantenggg bangettt. Pikir Ririn memandang Aoran.
"Mau kubantu turun?. " Ucap Aoran sekali lagi, tangannya masih mengulurkan kepada Ardella.
Mendengar suara Laki-laki Ardella membuka mata. Dilihatnya Aoran dibawah pohon. Ardella merasa tidak asing dengan wajah Aoran.
Dia kan paman yang tempo kemarin, kok bisa ada disini, wahh aku baru sadar kalau dia tinggi banget. Ardella membatin.
Ardella menganguk. "Iya." Ucap Ardella pelan.
Ardella mulai bergerak turun lebih sedikit lagi, agar dia bisa meraih tangan Aoran. Perlahan dia ingin meraih tangan Aoran, tiba-tiba Aoran menarik tangannya dan memasukkan kesakunya.
"Ada syaratnya, kalau mau aku bantu penuhi dulu syaratnya." Tersenyum tipis.
Mengerutkan dahi, Ardella merasa dipermainkan. "Syarat,,,,! apa syaratnya.?" Tanya Ardella terpaksa karena keadaannya darurat.
"Setelah kamu turun, kamu harus kasih tau siapa namamu. " Ucap Aoran.
__ADS_1
Apa segitunya dia terobsesi dengan namaku, dari kemarin dia cuman tanya siapa namaku. Ardella membatin.
Setelah menikmati aura ketampanan Aoran. Ririn tersadar karena percakapan mereka.
"Apalah arti sebuah nama Ella. Cuman kasih tau nama doang kok. " Ucap Ririn keras.
Ardella setuju dengan perkataan Aoran. "Baiklah." Ucap Ardella.
Dengan tersenyum Aoran mengulurkan tangannya kembali ke arah Ardella, kemudiaan meraih tubuh Ardella dan menggendongnya turun dari pohon. Setelah turun Ardella memakai sandalnya. Sedangkan Aoran menunggu Ardella memperkenalkan diri dengan menunjukkan ekspresi senyum-senyum.
Karena sudah berjanji Ardella harus menepatinya. "Namaku, Ardella Dyandi Putri. " Tidak ada kata selanjutnya.
"Nama yang bagus sesuai denganmu. Hari ini pertemuan kita yang ketiga sepertinya ini takdir kita." Senyumnya lebar sekan puas.
Ucapan Aoran membuat Ririn penasaran. "Kamu udah tiga kali ketemu dengan cowok tampan ini El, kok kamu gk cerita samaku. " Sambil menyenggol dan berbisik pada Ardella.
"Aku lupa. Aku bahkan tidak tahu namanya. " Bisik Ardella ketelinga Ririn.
Mendengar perkataan Ardella, Ririn juga tidak mau ketinggalan.
Dia memperkenalkan diri pada Aoran. "Hallo kakak tampan. Namaku Ririn sahabatnya Ardella." Ucap Ririn malu-malu.
Sebaliknya Aoran juga memperkenalkan diri. "Saya Aoran Fritsch. Calon pacar Ardella." Sedikit tawa kecil dari bibir Aoran atas candaanya.
"Sia,,, " Ardella tidak sempat berbicara.
Aoran menghentikan Ardella mengomel dengan mengalihkan pembicaraan. "Kalian sedang apa. " Tanya Aoran.
Ririn menjelaskan dengan secara rinci kepada Aoran.
Dia bekerja sebagai upahan di kebun orang, apa dia hidup dengan kemiskinan. Aoran membatin.
Ardella melihat ekspresi Aoran dan mengasumsikan ekspresi Aoran seperti merendahkan. Ardella yang berpikir Aoran mengecek dirinya menjadi sedikit kesal.
"Terima kasih atas bantuannya, kami harus kembali bekerja kalau tidak upah kami tidak akan diberi. " Dengan suara menegaskan Ardella melontarkan perkataannya.
Aoran bahkan tidak tahu harus berkata apa, dia hanya melihat kearah wajah Ardella. Kali ini dia tidak ingin menahan Ardella untuk pergi dari hadapannya.
Disisi lain, Evan yang masih sibuk mencari arah suara. Evan tidak menemukan arah suara itu, tetapi melihat Aoran tanpa ekspresi.
"Fritsch, arah suarnya udah gk jelas lagi." Kata Evan.
"Sudahlah. Kita kembali kepenginapan. " Saut Aoran.
Sepanjang jalan Aoran masih memikirkan perkataan Ardella. Wajah Aoran nampak datar dan dingin. Evan melihat Aoran lagi badmood takut bertanya. Jalan terbaik bagi Evan adalah diam.
πππ
__ADS_1
Bersambung