
Setelah pertengkaran dengan Batara. Aoran langsung pergi dan meninggalkan Parto di penjara. Aoran menyetir dengan kecepatan tinggi, dengan amarah yang masih ada dibenaknya, dia seakan tidak memikirkan keselamatannya.
Setibanya dirumah, Aoran melampiaskan kemarahannya, melempar jasnya ke atas sofa diruang tengah, teriaknya keras di keheningan rumah. Matanya berkaca-kaca, tangannya masih tetap mengepal, jiwanya masih ingin memukul Batara. Baginya tidak cukup hanya berteriak. dia butuh sesuatu yang dapat menenangkan pikirannya.
Aoran melangkah dari ruang tengah ke ruangan pribadinya. Ruangan dimana hanya Aoran yang bisa masuk, didalam ruangan pribadinya tersimpan banyak jenis minuman keras, dia mengambil sebotol minuman. Aoran membuka penutup botolnya.
Glekk.
Dengan sekali teguk, wine yang dibotol habis. Kembali mengingat kata Batara, bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang ayah.
Prank.
Botol dilempar. "Aaaa." Teriaknya keras, pandangannya mengadah keatas langit-langit, sembari menangis Aoran bersujud, membenturkan kepalanya dengan tengannya sendiri.
Semua bukannya tanpa alasan. Aoran sendiri membenci sosok ayahnya. Dia sangat tidak suka dengan ayah kandungnya sendiri. Saat bersama ayah kandugnya dijerman, Aoran sering berkata bahwa ayahnya tidak pantas menjadi seorang ayah. Aoran sangat, sangat dan sangat membenci ayahnya. Setiap hari ayahnya hanya peduli dengan bisnis, jarang sekali dia bisa menghabiskan waktunya bersama Aoran.
Dan pernah sekali Aoran mengalami rasa sulit dan sakit, ayahnya bukan menghibur dirinya, malahan mengatakan Aoran lemah. Baginya ayahnya sangat otoriter, semuanya harus berjalan atas kehendak ayahnya. Kerja keras ayahnya dianggap sebagai keegoisan. Apa gunanya bekerja siang dan malam, menjadi pembisnis nomor satu didunia, jika tidak bisa memberikan kasih sayang pada anak-anaknya sendiri.
Saat menjadi dewasa Aoran tidak ingin meniru ayahnya. Karena itu, dia pernah berjanji pada dirinya, bahwa dia tidak akan seperti ayahnya, tidak akan menjadi seorang ayah yang buruk. Dia pernah kehilangan seseorang yang disayangi, dan dilindunginya. tapi hari ini terulang kembali. Bahkan lebih buruk, dia bahkan belum sempat mencurahkan kasih sayangnya.
Sebelum pertemuannya dengan Ardella. Kehidupan Aoran tidak seberuntung yang diperkirakan, dia juga pernah mengalami kesedihan. Sampai akhirnya harus memutuskan sesuatu yang tidak diinginkannya dalam hidupnya.
Setelah dalam keadaan mabuk, Aoran mengambil ponselnya. Aoran membuat panggilan internasional, beratasnamakan ayahnya sendiri.
Tuttt.
Setelah tersambung dengan ayahnya. "Hei tua bangka." Ucap Aoran pada ayahnya sendiri. Suara seraknya akibat mabuk menjadikan ucapannya tidak terlalu jelas. "Puas telah menghancurkan hidupku. Kau bahkan sangat buruk ketika menjadi ayahku. Tapi kenapa? kenapa?ย aku lebih buruk darimu." Berbicara lewat sebrang telpon, Aoran marah dengan suara keras.
Kembali lagi pada keadaan Batara yang saat ini didalam penjara.
Batara mengalami memar ditubuh dan wajahnya, saat ini Robin mengobati luka Batara. Sejenak Batara berpikir, dia juga kembali mengingat perkelahiaannya dengan Aoran. Ada senyum diwajah Batara. Ntah apa yang dimaksud dengan senyumannya, tapi Robin tidak mengerti.
"Auhh." Ucap Batara ketika Robin mengobati lukanya.
"Maaf kak."
"Laki-laki itu, tidak terlalu buruk." Senyum getir Batara, sambil menahan sakit dibagian bibirnya.
Robin tidak berkomentar atau bertanya.
***
Keesokan hari.
Brakkk.
Seseorang tidak dikenal datang dan merusak bagian pintu rumah Ardella. Tidak menunggu lama, orang-orang itu merusak sebagian perabotan. Suara keras yang ditimbulkan membuat mereka terbangun.
__ADS_1
"Ibu, suara apa itu. " Tanya Aldo ketakutan.
"Ibu akan keluar melihat, jaga Edward dan Erwin disini, jangan keluar sebelum ibu datang. " Saut Lisa lembut.
"Baiklah ibu." Aldo cemas, melihat ibunya yang kini mulai beranjak keluar.
Lisa langsung bergegas, dia keluar dari kamar. Dilihatnya sekitar 8 orang pria sudah berada didalam rumahnya. Penampilan ke 8 pria itu acak-acakkan, sebagian ada yang mengenakan tato ditangannya, sekitar dua orang diantaranya botak. Sebagian gondrong dan ada kumis dibagian dagu. Muka-muka mereka sangat garang.
Sebagai wanita Lisa merasa takut, tapi dia berusaha untuk menghentikan aktifitas mereka. "Siapa kalian, apa yang kalian lakukan dirumahku." Tanya Lisa dengan sedikit lantang.
Tampaknya ke 8 laki-laki itu mengamati Lisa berbicara. Mereka mendekati Lisa, ada beberapa senjata ditangan ke 8 laki-laki itu, terlihat seperti palu terbuat dari besi, panjang palu itu sekitar setengah meter. "Apa kau pemilik rumah ini. " Saut mereka memegang erat palunya.
Kaki Lisa gemetar, langkahnya mundur ketika mereka mendekatinya.
Ardella mendengar suara ribut dari kamarnya, dia beranjak turun dari anak tangga. Memperhatikan kesekelilingnya, Ardella mulai mendekati kakak iparnya yang sedang berbicara dengan para pria yang tidak dikenalnya.
Siapa lagi mereka, pikirnya sambil berjalan mendekat. "Kakak ipar, siapa mereka." Tanya Ardella. Rumah terlihat berantakan, barang-barang diruang tengah berserakan, pintu rumah bahkan tergantung setengah, seakan ingin terjatuh.
"Kalian secepatnya pergi dari rumah ini, sekarang rumah ini sudah disita." Salah satu pria itu berkata.
"Atas dasar apa rumah kakakku disita." Tanya Ardella. Matanya menatap pria itu tanpa gentar, dia bahkan berjalan lebih mendekat ke arah laki-laki itu.
"Dek." Kata Lisa menahan Ardella. Lisa menggelengkan kepalanya berusaha berbicara isyarat pada Ardella agar tidak terlalu meladeni mereka.
Seorang pria botak, dengan tato ditangan, salah satu ke 8 laki-laki itu menunjukkan kepemilikan baru dari rumah. Rumah dan mobil disita sebagai ganti rugi proyek. Itu masih sebagian, masih banyak yang harus dilunasi.
Rumah yang susah payah dibangun oleh Batara, rumah yang penuh dengan kenangan, sebentar lagi akan menjadi miliki orang lain, Lisa tersungkur di lantai, biasanya dia yang paling tegar. Tapi sekarang dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanya.
Tenaga Ardella tidak cukup kuat untuk mendorong mereka keluar dari rumah. Ardella ditahan oleh laki-laki berkepala botak, dia menghempaskan pergelangan tangan Ardella.
Brukk.
Laki-laki botak itu tidak sengaja mendorong Ardella kearah pintu, kepala terbentur ke dinding pintu.
"Dek kamu tidak apa." Ucap Lisa langsung berlari kearah Ardella. tubuh Ardella ambruk, Lisa berusaha memapah Ardella berdiri kembali.
"Auh. Tidak apa kak." Hanya sedikit terluka dibagian dahi Ardella dan rasa pusing karena terbentur.
Pria yang mendorong Ardella tampak takut, wajahnya memucat ketika melihat Ardella terluka.
"Yahh. Kita sudah diperingatkan untuk tidak melukai mereka."
"Kalau sampai Bos tahu, bisa dipotong tanganmu."
"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini."
Kedelapan pria itu berbisik-bisik diantara mereka.
__ADS_1
"Ingat!, dalam seminggu kalian harus sudah pergi dari sini." Ucap mereka keras. Mereka mundur dan pergi melewati Ardella dan Lisa.
Mereka pergi, dengan mengendarai sekitar 4 kereta.
Aldo, Edward dan Erwin keluar dari kamar, mereka berlari memeluk ibunya dan Ardella. Dengan pelukan mereka dan kehadiran mereka, sangat menyejukkan hati Lisa dan Ardella.
Memapah Ardella ke sofa, Lisa mencari salep untuk luka Ardella. Saat mengobati Ardella, Lisa memperhatikan raut muka Ardella tampak gusar, dia seperti tidak tenang. "Kak, aku pergi sebentar, aku akan segera kembali." Ucap Ardella menghentikan tangan Lisa. Dia bergegas naik keatas kamarnya, Ardella turun dengan membawa jaket dan tas kecilnya. Bergegas pergi tanpa menoleh, Ardella tidak memberitahu kemana dia akan pergi.
"Taxi." Teriak Ardella memanggil.
"Kemana non." Tanya supir taxi.
"Tolong pak, antarkan saya ke perusahaan Alxworld." Saut Ardella sambil memakai sabuk pengamannya.
"Baik, Non."
Taxi melaju, Ardella sampai diperusahaan Alxworld.
Segera mengeluarkan uang selembaran. "Makasih pak." Senyum Ardella membayar argo taxinya.
"Sama-sama non." Ucap supir taxi.
Ardella menatap perusahaan. Ah, gedungnya menjulang tinggi. Ardella sadar bahwa perusahaan Aoran memang besar, selama bekerja disini, dia tidak pernah menyadarinya. Tapi sekarang Ardella sudah tidak bekerja lagi disini. Terakhir pertengkarannya dengan Aoran, dia mengundurkan diri. Karena didalam kontrak tidak tertera kapan Ardella harus membayar biaya pelanggaran kontrak, Ardella bebas untuk pergi, dengan syarat bahwa Ardella akan melunasi hutangnya.
Berada dibagian resepsionis, Ardella tidak diizinkan masuk. Tanpa kartuย kerja, tidak ada yang diizinkan masuk kedalam kantor.
"Permisi." Ucap Ardella sopan.
"Ada yang bisa saya bantu." Tanya resepsionis itu.
"Saya ingin bertemu dengan Bos Aoran, bisakah kalian beritahukan kalau Ardella ingin bertemu dengannya" Ardella datang tidak ingin ribut dengan Aoran.
"Maaf, nona. Anda harus membuat janji dulu dengan Bos sebelum bertemu." Saut resepsionis lembut.
Sepertinya bersikap lembut Aoran tidak akan datang menemuinya. Mungkin dengan membuat keributan Aoran akan menemuinya. Meski resikonya adalah amukkan Aoran.
Prankk.
Ardella memukul bagian meja resepsionis dengan keras. "Cepat panggil dia keluar." Teriak sekeras mungkin, suara Ardella menimbulkan perhatiaan banyak orang.
Keributan Ardella sampai ketelinga Parto. Dia mendatangi Aoran dengan cepat. "Bos, Ardella sekarang ada diluar membuat keributan." Ucap Parto pelan, memberitahu bahwa Ardella mencarinya.
Mengacuhkan Parto, Aoran fokus dengan kerjaannya. "Usir dia." Ucapnya dengan serius tanpa ragu.
Seperti perkataan Aoran. Parto menghubungi bagian keamanan untuk mengusir Ardella. Ada dua orang satpam mendekati Ardella, mereka menarik Ardella keluar, sedikit meronta Ardella berusaha untuk lari ke dalam lift. Sayangnya Ardella tertangkap oleh satpam. .
Mereka menyeret Ardella keluar. "Pergi dari sini dan Jangan datang membuat keributan lagi." Ucapan satpam memperingati Ardella, ketika berada diluar.
__ADS_1
๐๐๐
Bersambung