Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Makan Bersama


__ADS_3

2 minggu kemudian.


Ardella yang tengah disibukkan dengan tugas kuliah hampir lupa dengan kejadian pertemuannya dengan Aoran.


Jadwal Nina dan Anasya yang tak sama dengan jadwalnya membuat Ardella harus sendirian tanpa kedua temannya itu. Kelas pagi telah selasai, Ardella yang tidak masuk kelas sore rencana mau langsung balik kerumah. Berjalan menelusuri lorong-lorong ruangan dengan membawa buku ditangannya.


Perut Ardella yang mulai keroncongan. "Mending makan siang dirumah aja." Ucap Ardella saat ingin makan di kantin kampus.


Saat menanjakkan kakinya ditaman kampus, Ardella melihat sosok yang seperti dikenalnya sedang berdiri.


Bukannya itu kakaknya Anasya, ngapain dia disini, jangan-jangan mau bertingkah aneh lagi. Ah aku jalan terus atau belok nih. Ardella membatin.


Masih melihat Aoran yang tampak sibuk dengan ponsel genggamnya, Ardella berbalik arah.


Aoran yang melihat tingkah Ardella. "Heii." Hentak Aoran keras.


Deg,,, Ardella yang terkejut berhenti mematung.


Aduh bagaimana nih. larikah. Ardella kembali membatin.


Setelah berpikir keras, Ardella membalikkan badan dan memberi senyum tipis.


Aoran yang mulai mendekat menuju Ardella. "Ada yang ingin ku bicarakan denganmu." Ucap Aoran santai.


"Baiklah, katakan saja." Ucap Ardella sedikit canggung.


"Tidak disini, kita ketempat yang lebih tenang." Ucap Aoran.


"Perasaan disini tenang kok." Jawab Ardella reflek.


Aoran yang melihat Ardella dengan wajah datarnya. "Traktir aku makan sebagai tanda terima kasih telah membantumu menyelesaikan maslah postinganmu di forum kampus." Ucap Aoran mantap.


Dia minta ditraktir, kirain mau minta maaf. Ardella membatin.


"Minta maaf dulu, karena kejadiaan tempo hari mentalku sedikit terkejut." Ucap Ardella tak mau kalah.


"Ok, maaf. Puas." Ucap Aoran.


"Apakah seperti itu cara minta maaf." Ucap Ardella kesal. " Asal kamu tahu saat kamu bilang kita punya anak, aku sangat terkejut bahkan aku hampir tidak bisa tidur memikirkannya." Ardella spontan mengatakan isi pikirannya.


"Jadi dengan cara apa aku harus minta maaf." Tanya Aoran mulai berbicara lembut.


"Sudahlah. Karena telah membantuku aku akan traktir makan siang, tempatnya aku sendiri yang pilih." Ucap Ardella tak memperpanjang lagi.


"Ok, setuju." Ucap Aoran.


Aoran dan Ardella mulai beranjak melangkah, tiba di mobil Aoran membukakan pintu mobil untuk Ardella.


Melihat Aoran yang membukakan pintu untuknya. "Tujuan kita tidak jauh, sebaiknya kita jalan kaki aja." Ucap Ardella.


"Bukannya kita akan pergi makan siang." Tanya Aoran


"Iya betul. Tempatnya ada disebrang sana, hanya butuh 5 menit berjalan." Ucap Ardella menunjuk arah.


Aoran menutup kembali pintu mobilnya dan mengikuti Ardella berjalan.

__ADS_1


Tempat maksud Ardella adalah warung kecil, Ardella yang langsung duduk dimeja belakang, sedangkan Aoran berjalan dengan melirik tempat yang begitu kecil dan kumuh.


Aoran yang telah duduk. "Bener ne kita makan disini." Tanya Aoran masih tak percaya.


"Iya."


Ardella langsung memesan makanan tanpa bertanya pada Aoran. "Bu nasi uduknya dua, pake daging paha ayam, terus cabenya cabe hijau ya Bu." Ucap Ardella memesan makanan.


"Ok, minumannya mau apa Neng." Tanya Ibu warung.


"Apa ya." Ardella yang masih berpikir. "Air putih aja deh Bu." Ucap Ardella kembali.


Aoran yang biasanya makan direstoran ber AC, bersih dengan interior yang mewah, serta memiliki daftar menu tanpa harus berteriak saat memesan.


Dengan wajah masam. "Apa nanti kita gk sakit perut makan disini." Ucap Aoran.


"Jangan khwatir makanan disini bersih kok." Senyum Ardella.


"Tidakkah ada tempat yang lebih bagus daripada tempat ini." Tanya Aoran sambil mengambil tisu dan mengelap mejanya dengan hati-hati.


"Ada. Tapi uangku tidak cukup traktir kamu makanan direstoran mahal." Ucap Ardella.


Pesanan Ardella datang dengan dua piring nasi uduk dan dua gelas air putih.


"Makasih Bu." Ucap Ardella pada ibu warung.


"Silahkan dimakan." Ucap Ardella pada Aoran.


Ardella yang memang sudah lapar langsung mengyantap makanan yang didepannya, beda halnya dengan Aoran hanya menatap Ardella dan tak menyentuh makanan sedikitpun.


Suasana hati Aoran yang tidak bagus, duduk dengan melipat kedua tangannya, mata dinginnya yang dari tadi tertuju pada Ardella, dirinya hanya terdiam.


Ardella yang tidak peduli dengan suasana hati Aoran. "Kalau tidak mau, biar aku aja yang makan, menyiayiakan makanan membuat kita kehilangan rezeki. " Ucap Ardella mengambil makanan Aoran.


Plek,,, Aoran memukul tangan kecil Ardella dengan pelan.


"Auu." Ucap Ardella.


Aoran yang merasa dejavu mendengar ucapan Ardella. "Siapa bilang aku tidak makan." Ucap Aoran menyantap sesuap nasi uduk.


Selesai makan Ardella membayar makanannya.


"Bu berapa." Tanya Ardella.


Ibu tukang warung yang melihat kearah meja Ardella dan memeriksa jenis makanan pesannya. "30 rb Neng." Ucapnya.


Ardella mengambil uang recehan di dompetnya, menghitung dan memberikannya pada ibu itu.


Selesai makan Aoran dan Ardella berjalan kembali kekampus.


"Bukankah ada yang kamu ingin katakan." Tanya Ardella setelah tiba didepan mobil Aoran.


"Masalah tempo hari, aku ingin minta maaf." Ucap Aoran dengan lembut.


Eh dia mau minta maaf toh. Ardella membatin.

__ADS_1


"Permintaan maafnya diterima. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah membantuku." Ucap Ardella tersenyum lebar.


Aoran yang mulai luluh dengan senyuman Ardella yang manis dan polos. "Ayo, kuantar pulang." Ucap Aoran.


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada urusan dikampus." Ardella menolak tawaran Aoran.


Ardella berbalik dan siap melangkah pergi, tiba-tiba lengan Ardella ditarik oleh Aoran.


Menarik tubuh Ardella lebih dekat dengan dirinya, kemudian sedikit menundukkan kepalanya. "Muach." Aoran mencium bibir Ardella dengan secepat kilat.


"Hadiahku." Ucap Aoran puas dan langsung beranjak masuk kedalam mobil.


Ardella tidak tahu maksud perkataan Aoran, dia terdiam dan kaku atas ciuman Aoran dan masih mencerna perkataan Aoran. Setelah Aoran melaju kan mobilnya Ardella tersadar kembali.


"Dasar cowok mesum." Ardella menggurutu sendiri. "Aku dan Robin saja belum pernah ciuman, dia merebut ciuman pertamaku." Ucap Ardella kembali menggurutu dan mengelap bibirnya.


Aoran didalam mobil melihat Ardella yang masih berdiri lewat kaca spionnya. "Tidak adil aku menghukummu sekarang, Kamu harus mengingat  kesalahanmu, dengan begitu aku akan merasa senang melihatmu menderita seperti yang kurasakan." Ucap Aoran sinis.


Sepulangnya dari kampus, Ardella masih dalam keaadan menggerutu masuk kedalam kamarnya.


Huh,,, Helaan nafas Ardella yang terlihat capek. Masih mengingat ciuman Aoran, Ardella menyentuh bibirnya. "Kenapa rasanya ada sesuatu." Ucap Ardella.


"Aduh. Ardella apa yang kamu pikirkan. Berhenti berpikirpikir Aneh-aneh." Ucap Ardella dan langsung berdiri.


Malam hari.


Ardella yang tengah sibuk belajar.


Tok,,,suara ketukan pintu.


Ardella malas membukakan pintu kerena sibuk mengetik. "Masuk." Ucap Ardella dari dalam kamar.


Robin melihat Ardella dimeja belajarnya sedang mengetik. "Kamu sedang sibuk." Tanya Robin.


Sadar dengan suara Robin. "Sedikit, emang Robin perlu apa." Tanya Ardella.


"Ada yang ingin kutanyakan, tapi memang tidak terlalu penting sih." Ucap Robin


"Mau tanya apa." Ardella melihat kearah Robin.


Robin duduk dan mengarahkan pandangannya pada Ardella. "Apa kamu masih pernah bertemu dengan kakak Anasya." Tanya Robin.


Gimana nih, kasih tau gak ya sama Robin kalau tadi pagi aku sempat bertemu dengannya. Sebaiknya tidak usah kuceritakan, daripada Robin khwatir lagi. Ardella membatin.


"Tidak, selain dirumah sakit, aku tidak pernah bertemu lagi." Ucap Ardella ragu-ragu mengalihkan tatapannya dari Robin.


"Baiklah, aku hanya ingin bertanya itu saja, kembalilah belajar, aku akan keluar." Ucap Robin.


"Sepertinya Aoran masih menemui Ardella." Gumam Robin diluar pintu.


Robin yang sudah mengenal Ardella sejak lama tahu bahwa ucapan Ardella bohong. Ketika Ardella berbohong dia cendrung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


💔💔💔


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2