Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Untuk Sesaat


__ADS_3

Mengapa semua orang baik-baik saja, tapi kenapa harus kamu di sekian banyak orang.


Batara melihat kondisi Ardella ketakutan, setiap malam Ardella bermimpi buruk. Terkadang Ardella hanya bisa tidur bersembunyi didalam kolong tempat tidur.


"Aku punya cara pengobatan untuk Ardella, tapi itupun kalau kamu setuju." Ucap Andre.


"Pengobatan apa itu? Apakah bisa menyembuhkan Ardella." Saut Batara.


"Mmm."


Pengobatan ini semacam hipnotis dibagian otak memori. Dengan pengobatan ini biasanya pasien akan diberikan sugesti-sugesti baru. Menciptakan sugesti baru di memori pasien memberikan ingatan nyata dipikirannya.


Andre menjelaskan pengobatan yang dia maksud. Batara memikirkan, dan memutuskan mengikuti saran Andre.


Mereka memulai dari awal lagi, pengobatan Ardella mungkin berbeda dari sebelumnya. Diruangan serba putih, dilengkapi dengan peralatan medis, disinilah Ardella setiap hari menjalani pengobatannya.


Setiap hari kondisi Ardella berubah-ubah, tergantung dengan apa yang membuatnya ketakutan, ada kalanya Ardella terlihat normal. Dan saat itulah Ardella bisa memberikan Asi pada anaknya, tapi tetap saja tidak akan bertahan lama. Saat stressnya kembali siapapun tidak dikenali Ardella.


Andre membawa Ardella ketempat hipnoterapi jika mental Ardella terlihat sehat. Ditempat terapi itu, Ardella kembali menceritakan masa lalunya. Ingatan Ardella yang memang sangat menyedihkan, mulai dari awal dia merasakan perlakuan buruk dari ibu tirinya, waktu itu Ardella baru berumur delapan tahun.


Darisitulah Ardella mulai menceritakan kisah hidupnya selama didesa. Dalam keadaan setengah sadar, Ardella selalu terbawa suasana, sudah berapa banyak air mata yang tertumpah tiada arti.


Batara sendiri tidak sanggup mendengar setiap detail cerita Ardella, mulai dari kecil hingga dewasa, Batara sungguh menyesal karena tidak menyaksikan pertumbuhan Ardella.


"Ndre, bisakah kita membuat Ardella tidak mengingat wanita jahat itu." Tanya Batara. Kebenciannya terhadap ibu tirinya memang sudah ada sejak awal. Sebelumpun menikah dengan ayahnya, Sherlin telah menjadi perusak rumah tangga antara ayah dan ibunya.


"Membentuk sebuah memori itu harus sejalan, sedikit salah, nyawa Ardella dipertaruhkan." Kata Andre menjelaskan konsekuensinya.


"Kita coba ya Ndre. Bantu adikku." Batara memelas meminta pertolongan.


"Besok kita akan coba. Berdoalah supaya Ardella bisa sembuh." Memberikan semangat untuk Batara yang sedang sedih.


Mulai dari Ardella berumur lima tahun. Andre memberikan sugesti bahwa Ardella kehilangan ayahnya setelah setahun kepergiaan ibunya. Dengan begitu, ingatan Ardella tentang ibu tirinya dan Leli memudar.


Dilanjutkan pertumbuhan Ardella. Dengan bantuan Batara, mereka menciptakan ingatan baru untuk Ardella. Mensugesti bahwa Ardella menjalani masa remajanya bersama Batara di jakarta. Terperinci kehidupan Ardella dibentuk dengan sempurna.


Aoran ikut terhapus dalam ingatan Ardella. Begitu juga dengan Robin dan Ririn sahabat Ardella. Semua kenangan dipulau seperti mimpi. Mimipi yang sangat panjang.


Perlahan sugesti-sugesti yang diberikan Andre tertanam dimemori Ardella.


***


Enam bulan kemudiaan.


Ardella mulai membaik, tetapi masih tetap menjalani perawatan, selain Batara, Ardella tidak pernah bertemu dengan siapapun.


"Kak Andre." Panggil Ardella mengetuk ruang kerja Andre. "Ada orang diruangan kak Andre." Gumam Ardella ketika mendengar suara orang lain.


Ardella berbalik, pergi menjauh dari pintu. "Ardella." Panggil Andre kembali melambaikan tangannya.


Ardella tersenyum ketika melihat Andre. "Kak Andre ada tamu." Tengoknya kedalam ruangan.

__ADS_1


"Iya, mau kukenalkan." Sautnya.


"Ah, memang boleh."


"Kenapa tidak."


Andre mempersilahkan Ardella masuk. Lelaki dengan pakaian jas putih, memakai kaca mata, dilengkapi pulpen yang berderet di kantung jas putihnya, tertulis nama dijas putih itu, Aldriko Evan.


"Haii." Sedikit canggung, Ardella melambaikan tangan.


Aldriko Evan, temannya Aoran. Pertemuan yang tidak sengaja memberikan kejutan pada Evan. "Ardella pasien spesial yang harus disembuhkan oleh senior Andre." Gumam Evan pelan. Tidak mempercayai apa yang dilihatnya, Evan melamun. Sampai Ardella merasa diacuhkan.


Ardella melirik Andre. "Kak, sepertinya teman kak Andre tidak suka dengan Ardella." Bisiknya pelan.


"Van, kenalin dia Ardella." Tepuknya dibagian punggung sambil tersenyum cengir.


"Maaf aku melamun. Kamu sangat cantik karena itu aku gagal fokus." Lelucon kecil untuk mencairkan suasana canggung. "Oh ya, kenalin aku Aldriko Evan, junior dokter Andre." Mengulurkan tangan.


"Ardella Dyandy Putri. Salam kenal kak Evan." Ardella memberikan senyuman lebar.


Evan sering mendengarkan seniornya menceritakan tentang penyakit Ardella, tidak pernah terpikirkan Evan bahwa pasien yang dimaksud seniornya adalah Ardella. Kerena Evan tertarik dengan ilmu kedokteran bagian psikolog, dia ingin bergabung dengan Andre.


"Kak, kapan aku bisa pulang." Tanya Ardella pada Andre. Tujuan kedatangannya memang ingin memastikan kapan Ardella diizinkan pulang.


"Setelah kamu betul-betul pulih." Saut Andre lembut, mengelus kepala Ardella.


"Baiklah." Kata Ardella lemas.


Seperti biasa Ardella masuk keruang hipnoterapi. "Kak, apa harus lagi Ardella disini." Cemberut, Ardella tidak suka.


"Sabar ya dek. Ini semua agar kamu cepat sembuh. Setelah kamu betul-betul sembuh baru kita bisa pulang." Bujuk Batara untuk melanjutkan pengobatan Ardella.


Setiap kali disugesti hasilnya sama. Semua ingatan baru yang mereka ciptakan betul-betul telah menyatu dengan jiwa Ardella. Semuanya berjalan sesuai dengan perkiraan Andre.


Evan yang melihat kondisi Ardella dilema. Apa yang harus selanjutnya dia lakukan, apakah harus dia memberitahu Aoran tentang kondisi Ardella.


Seperti Evan yang dulu memberikan surat undangan pernikahan Aoran tanpa sepengetahuan Aoran, kali inipun dia menyembunyikan fakta kebenaran Ardella.


Pagi hari.


Setiap orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaan, kasih sayang Batara memberikan kesempatan untuk Ardella berbahagia. Walau hanya sehari, Batara ingin memberikan Ardella hidup yang bahagia.


"Besok Ardella sudah bisa pulang." Ucap Andre memberi kabar baik.


"Sungguh Ndre." Peluk Batara. "Makasih Ndre telah menjaga Ardella selama setahun." Meneteskan air mata haru.


"Iya sama-sama. Aku berharap Ardella menjalani hidup barunya." Rasa haru Andre menjadikan mereka saling berpelukan.


Evan muncul dari belakang. "Ini dokumen kesehatan Ardella." Menyerahkan dokumen riwayat kesehatan Ardella selama setahun.


"Aku dengar dari Andre, bahwa kamu junior yang telah membantu untuk menyembuhkan Ardella." Ucap Batara melihat Evan.

__ADS_1


"Aku hanya membantu sedikit, selebihnya itu semua berkat senior Andre sendiri." Saut Evan ramah.


"Terima kasih dokter." Menjabat tangan Evan.


"Sama-sama, aku senang bisa membuat Ardella sembuh." Saut Evan.


Selama setahun menjalani pengobatan, Ardella dinyatakan mengalami kecelakaan. Dan terluka dibagian otak yang menyebabkan amnesia separuh.


Back to now.


Aoran telah mendengar cerita Robin, tetapi satu hal yang masih membuat Aoran terganggu. "Setalah aku pergi, apa yang terjadi dengan Ardella didesa." Tanya Aoran.


"Setalah kamu pergi, Ardella diusir dari desa karena hamil diluar nikah. Didesa kami hamil diluar nikah tindakan yang sangat tercela, karena itu warga tidak mau menerima Ardella tinggal didesa lagi" Jawab Robin.


Kenapa cerita ini tidak pernah terdengar ditelingaku, hal sepenting ini tidak aku ketahui setelah sekian lama. Aoran tampak kebingungan.


"Bukankah Ardella pergi karena dijemput oleh kakaknya." Kata Aoran.


"Kebetulan malam dimana Ardella diusir, kak Batara pulang." Ucap Robin.


Aoran mengingat jelas bahwa dia telah mengirim Evan untuk mencari tahu kabar Ardella didesa. Bahkan mata-mata yang selama ini dikirimnya tidak pernah melaporkan kejadian Ardella diusir.


"Kejadian yang kamu lihat dikampus adalah kondisi Ardella dimalam dia diusir. Tapi yang membuatku bingung, Ardella tidak pernah menyinggung namamu." Robin ingin tahu apa yang terjadi diantara Ardella dan Aoran.


"Aku kembali ke desa, tapi kabar Ardella diusir sama sekali tidak kuketahui. Ririn sendiri tidak menceritakannya padaku." Kata Aoran.


"Evan meminta Ririn untuk tidak menceritakannya padamu."


"Evan." Gumam Aoran.


Aoran mengingat dengan jelas bahwa dia mengirim Evan untuk memberi kabar bahwa Aoran akan menjemputnya. Tidak mungkin Evan tidak tahu Ardella pergi karena diusir. Kabar Ardella baik-baik saja, bahkan kakaknya telah menjemput Ardella dan membawanya dari pulau. Kabar itu didengar Aoran langsung dari Evan.


Dihari dia dan Evan kembali kejakarta, Evan pergi untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Saat itu Aoran merasa ada yang aneh dengan Evan setelah kembali.


Aoran berdiri, tatapan matanya menjadi dingin. "Rob, aku pergi dulu, ada yang harus kupastikan."


Aoran dalam keadaan amarah pergi meninggalkan Robin. Mobilnya melaju dengan cepat, saat ini hanya Evan yang bisa menjelaskan apa yang membuatnya terganggu.


Ckittt.


Mobil berhenti. Dengan cepat Aoran mencari Evan. Dikamar Anasya, Evan sedang menyuapi Anasya makan.


Membanting pintu dengan kuat. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ardella saat aku mengirimmu kepulau." Manarik baju Evan dengan kedua tangannya. Tatapan tajam mematikan, dengan nada membara, Aoran melihat Evan.


"Kak Aoran, ada apa ini." Anasya bingung dengan pertanyaan Aoran.


"Jawab gue Van." Teriak Aoran menarik erat baju Evan.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2