
Jika diperhatikan lebih dekat, ke empat laki-laki itu berbentuk tubuh besar, berotot dan perawakannya sangat tegas, ekspresi serius terpanjar di wajah keempat laki-laki itu. Mereka mengenakan baju berjeket hitam, didalam kaos mereka bertuliskan sesuatu. Sebuah mobil dengan sirine diatas mobil terpakir didepan rumah. Mereka terlihat seperti polisi, bukan terlihat, tapi memang benar seorang polisi.
Batara dan Robin dibawa dengan borgol, Ardella yang masih bingung dengan situasi, pertanyaan-pertanyaan yang Ardella lontarkan, tidak ada jawaban.
Keempat laki-laki itu membawa Batara dan Robin kearah mobil yang terparkir. Mobil itu berbunyi. Mobil melaju membawa Batara dan Robin kekantor polisi.
Ardella sebelumnya tidak tahu apa yang terjadi, dia tidak ada dikejadian saat kedatangan polisi. "Kakak ipar, kenapa kak Batara dan Robin dibawa oleh polisi." Tanya Ardella melihat kakak iparnya menangis.
"Tidak tahu dek, sebaiknya kita menyusul kekantor polisi." Ucapnya segera mengambil tasnya.
Ardella dan Lisa mengikuti mobil polisi dari belakang, mereka merasa seperti akan ada hal buruk yang menimpa keluarga mereka.
Batara dan Robin juga merasa bingung dengan tuduhan yang tidak jelas, mereka masih menunggu kepastian tentang masalah sebenarnya.
***
Kantor polisi.
Robin dan Batara dibawa keruang introgasi, ruang mereka dipisahkan, satu ruangan untuk satu orang.
Batara dibawa ke ruang introgasi, ruangan kecil dengan dinding gelap, udara didalam ruang introgasi sangat sumpek. Siapa sangka Batara akan berada diruangan tidak bernyawa.
Tap, tap, tap.
Seseorang seperti beranjak mendekati pintu.
Ceklek.
Petugas polisi masuk membuka pintu, dia beranjak mendekat kearah Batara. Tangan kananya membawa alat tulis dan selembaran kertas, gunanya mencatat hasil introgasi, Ah polisi itu juga membawa beberapa dokumen. Dia menarik kursi yang ada didepan Batara, perlahan tangannya mulai membuka lembaran yang dari tadi dibawanya, kemudiaan sesekali polisi itu melihat kearah Batara.
Batara ikut menatap petugas polisi. Diantara mereka mulai memasuki permasalahan sebenarnya, polisi mulai melakukan introgasi pada Batara.
Polisi menjelaskan bahwasanya Batara mendapatkan gugatan dari pemiliki proyek pembangunan yang sedang dia kerjakan. Gugatan atas penggelapan dana pembangunan mall, tertera juga bukti yang lengkap atas tindakan Batara menggelapkan dana pembangunan.
Bukti dimana uang 10 miliyar masuk ke rekening pribadi Batara. Dan bukti bahwa segala alat dan bahan yang dipakai dalam pembangunan mall berbahan dibawah standar. Dengan bukti tersebut Batara mendapat gugatan dari CEO pemiliki bagunan.
Batara merasa tuduhan itu tidak benar, dirinya bukanlah orang yang serakah dengan uang. Apalagi membangun sebuah mall dengan bahan dibawah standar adalah hal yang berbahaya.
"Saya tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu, dan untuk bahannya saya selalu memakai yang terbaik." Sanggah Batara dengan tegas.
"Semua buktinya ada, jika kamu mengakuinya sekarang, maka proses penyelidikannya akan cepat selesai." Ucap petugas polisi.
__ADS_1
Tetap Batara tidak mengakuinya,
Karena memang dari awal dia tidak pernah melakukan penggelapan dana. Dia berpikir mungkin saja terjadi kesalah pahaman, karena selama ini tidak pernah ada kendala ataupun keluhan dari pemilik bangunan.
"Saya ingin tahu gugatan itu berasal dari siapa." Tanyanya dengan mengerutkan dahinya, setelah dipikirkan kembali selama ini dia tidak pernah langsung berbicara dengan pemiliki gedung.
Polisi menyerahkan perintah penangkapan atas dirinya dengan tuduhan menggelapkan dana pembangunan mall.
Diatas selembar kertas bertuliskan.
Penggugat. Aoran Fritsch, CEO dari perusahaan Alxworld.
Digugat. Batara Saulian.
Dengan tuduhan penggelapan dana sebesar 10 miliyar.
Batara sungguh terkejut, dia melihat dokumen berisikan bukti. Semua tersusun rapi, angka-angka bermain, dan huruf bersatu menyatakan dia melakukan penggelapan dana.
Membaca dokumen tersebut, Batara kembali melihat sebuah nama yaitu Aoran Fritsch. Nama yang selama ini sudah diketahuinya.
"Aoran Fritsch. Apa kah dia orang yang sama." Gumamnya masih melihat kertas ditangannya.
Ardella dan Lisa telah berada dikantor polisi, terlihat sebuah mading berisikan coret-coret. Dibeberapa meja petugas polisi sibuk menangani kasus yang lainnya, Ardella memperhatikan kantor polisi, baginya pertama kali dia berada dikantor polisi.
Mereka berusaha mencari tahu kebenaran atas penangkapan Robin dan Batara. Singkat cerita mereka menjelaskan hal yang sama seperti saat Batara diintrogasi.
Ketika itu mereka bertanya siapa penggugat atas kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh Batara dan Robin. Melihat nama Aoran Fritsch. Bukan hanya Batara yang terkejut, tapi Ardella, Robin dan Lisa, terkejut ditempat yang berbeda.
"Pak polisi mungkin ada yang salah. Kakak saya tidak mungkin melakukan hal yang melanggar hukum, dia juga bukan orang yang serakah tentang uang." Kata Ardella dengan nada memohon untuk diselidiki lebih lanjut.
Lisa juga ikut membantu Ardella berbicara, namun apa pun yang mereka katakan, tetap tidak mengubah keadaan.
Apa ini hanya kebutulan, tapi kenapa Aoran bisa terlibat dalam hal ini, dan lagi mall itu adalah miliknya. Selama dikantor aku tidak pernah mendengar bahwa perusahaan akan membangun cabang berupa mall. Kata Ardella dalam hati.
Lisa tampak tidak bisa berkata apapun, semuanya datang secara tiba-tiba, raut wajahnya berubah. Dia diam melamunkan sesuatu yang belum terjadi.
"Kakak ipar, sebaiknya kita bertemu dengan kak Batara dan Robin." Ucap Ardella.
Kata Ardella membuyarkan pikirannya, yah, yang terpenting saat ini adalah bersikap tenang, dengan wajah tegar dia menyembunyikan kesedihannya.
Batara dan Robin kini berada di sel jeruji, mengenakan pakaian narapidana. Batara dan Robin telah berada disel yang sama.
__ADS_1
"Sebenarnya apa ini, kenapa Aoran Fritsch laki-laki brengsek itu bisa menjadi CEO dari proyekku. " Ucap Batara masih bingung, dia memikirkan hal kemungkinan yang terjadi.
Dia bahkan belum pernah bertemu dengan Aoran, tapi Aoran sudah menyerangnya, dan pastinya rencana ini sudah lama direncanakan.
Berbeda dengan Robin. Saat bertemu dengan Aoran, dia sudah merasa aneh, karena Aoran tidak pernah muncul lagi.
"Kak, sebenarnya ada yang ingin kukatakan." Ucap Robin ragu-ragu, wajahnya sedikit gugup, khwatir Batara akan marah padanya.
Melihat gerak-gerik Robin, Batara ingin tahu apa yang akan dikatakan Robin. "Baiklah katakan." Ucapnya datar, siap mendengarkan penjelasan Robin.
"Sebetulnya Ardella dan Aoran sudah bertemu." Suara Robin bergetar. "Aoran adalah kakaknya Anasya.
Batara sangat terkejut, dia tidak pernah tahu pertemuan Ardella dengan Aoran. "Kapan." Tanyanya.
"Kalau tidak salah sekitar tiga bulan yang lalu, Ardella dan Aoran bertemu dikampus. Waktu itu aku sedang mengantarkan makan siang pada Ardella, tapi aku mendapat kabar bahwa Ardella pingsan dan dirawat dirumah sakit" Saut Robin.
"Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku." Tanyanya sedikit marah. "Robin, hal seperti ini kamu sembunyikan. " Ucapnya kembali.
"Maaf kak, waktu itu aku takut kak Batara khwatir." Saut Robin dengan raut menyesal.
"Berarti Aoran tahu Ardella lupa ingatan. " Tanya Batara.
"Iya."
Batara berpikir, jika memang masalahnya hanya Ardella melupakan Aoran, tidak mungkin Aoran merencanakan hal seperti ini. Bagaimanapun dia akan berusaha mengejar Ardella atau setidaknya memohon maaf pada Ardella. Tapi kenapa situasinya seakan Aoran sedang marah dan menunjukkan sesuatu kepada Ardella, apa yang sebenarnya memicu Aoran.
"Jujur padaku, apa ada hal lain yang kalian bicarakan dengan Aoran, dan bagaimana kamu menjelaskan ingatan Ardella pada Aoran. " Dengan tatapan tajam dan suara tegas dia bertanya pada Robin.
"Aoran tahu Ardella hamil." Ucapnya mulai dengan nada rendah. " Aoran bertanya dimana anaknya. Karena takut Ardella terluka, aku mengatakan pada Aoran bahwa Ardella melakukan aborsi." Robin merasa Batara akan marah besar terhadapnya.
"Kamu melakukan kesalahan besar dengan mengatakan Ardella melakukan aborsi." Raut wajah Batara mulai merah akibat kesal dengan tindakan Robin yang kurang bijak.
"Kemarahan Aoran dan api yang membara dihatinya karena kehilangan seorang anak, pastilah dia akan melakukan untuk membalas perbuatan Ardella. Kamu sendiri membuat Ardell dalam bahaya." Ucap Batara.
"Maaf kak."
"Sudahlah semua sudah terjadi, yang penting saat ini Ardella tidak boleh tahu." Saut Batara.
πππ
Bersambung
__ADS_1