Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Menyusup


__ADS_3

Malam hari di rumah Ardella.


Tidak cukup bertemu dengan Ardella disiang hari, Aoran memutuskan untuk pergi kerumah Ardella dimalam hari. Satibanya didepan rumah Ardella, Aoran memperhatikan rumah Ardella cukup terlihat besar.


Aoran kembali mengingat perkataan Ririn bahwa Ardella punya ibu tiri yang kejam.


Ternyata benar yang ada disinetron-sinetron tv, rata-rata memang ibu tiri jahat. Aoran membatin.


Aoran mulai masuk lebih mendekat kehalaman rumah Ardella. Ketika menginjakkan kaki didepan pintu, Aoran mulai berpikir kembali.


Gimana kalau bapaknya yang buka pintu, bisa-bisa gue kena marah. Aoran kembali membatin.


Aoran melihat sekeliling rumah Ardella dan mencoba mencari cara agar dia tidak ketahuan. Rencana Aoran mencari kamar Ardella secara diam-diam. Perlahan dia mendekati salah satu kamar yang dia lihat. Menarif nafas sedalam-dalamnya Aoran mulai mengetuk jendela kamar yang dilihatnya.


Tok,,, hanya satu ketukan Aoran berikan untuk memastikan siapa orang yang ada dikamar. Aoran diam dan tidak mengeluarkan suara, telingnya dipasang setajam mungkin untuk mendengar suara yang ada didalam kamar.


"Siapa itu. " Suara ayah Ardella dengan keras.


Karena terkejut Aoran tiba-tiba jongkok. Jantungnya hampir copot mendengar suara besar dan keras dari dalam kamar, wajah terlihat pucat, Aoran tidak berkutik selama jongkok.


Aoran berusaha mencari cara untuk mengalihkan perhatiaan Ayah Ardella. "Meonggggg. " Suara Aoran menyurupai kucing.


Pikiran Aoran sangat pendek, sehingga dia hanya memikirkan cara kekanak-kanakan. Tapi untungnya ayah Ardella tidak curiga sama sekali, hal itu karena memang biasanya ada kucing dirumahnya berkeliaran dimalam hari.


Aoran mulai menghembuskan nafas pelan-pelan, dengan rasa lega dia kemudian berjalan merangkak jauh dari kamar ayah Ardella. Dilihatnya lagi ada kamar.


"Mudah-mudahan itu kamar Ardella. " Gumam Aoran masih dalam keadaan jongkok.


Selanjutnya Aoran menuju ke kemar satu lagi, dengan berjalan tetap merangkak Aoran berusaha agar tidak mengeluarkan suara. Pelan-pelan Aoran berdiri, sebelum mengetuk, dia mengintip terdahulu kamar. Kamar terlihat gelap, Aoran tidak bisa melihat siapa yang ada didalam kamar. Dia kembali mengetuk pintu jendela.


Tok,,, Aoran mendengarkan respon dari kamar, tapi tidak ada respon, kemudiaan Aoran mengetuk dua sampe tiga kali tetap tidak ada suara.


Tok,, tok,, tok,,,tok,,,tok mengetuk pintu berkali-kali.


Didalam kamar Ardella sudah terbaring tidur, tetapi karena mendengar suara ketukan, membuat dia terbangun. Ardella menyalakan lampu seketika itu dilihatnya seseorang sedang berdiri didepan pintu jendelanya. Ardella berjalan mendekati jendela dan memastikannya terlebih dahulu.


krekkkk,,, suara jendela terbuka.

__ADS_1


"Aduh,,, " Aoran yang kejedot pintu jendela.


Ardella terkejut melihat wajah Aoran, ditambah lagi gerak-geriknya mencurigakan seperti maling. "Aoran." Ucapnya terkejut ketika melihat Aoran berdiri didepan jendela kamarnya.


Wajah Ardella dimalam hari lebih tampak cantik, Aoran juga merasa lega bahwa Ardella yang ada didalam kamar. "Iya ini aku. " Mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.


Sekalipun Ardella sedang bertengkar dengan ayahnya, tetap saja kalau ayahnya tahu pasti akan dimarahi. Ardella takut diketahui oleh ayahnya bahwa ada laki-laki dimalam hari menemuinya


Karena itu Ardella berbicara dengan berbisik-bisik pada Aoran. "Ngapain kamu disini." Tanyanya pelan. " Terus darimana kamu tahu aku tinggal disini. " Ucap Ardella kembali mengingat bahwa Ardella tidak pernah membawanya kerumahnya.


"Sebelumya aku udah pernah tanya alamat kamu sama Ririn." Kata Aoran mengikuti Ardella berbisik-bisik.


"Jadi ngapain kamu malam-malam kesini." Tanya Ardella.


"Aku mau mengatakan sesuatu." Ucap Aoran lebih mendekatkan dirinya kearah Ardella.


"Apa harus sekarang, apa tidak sempat besok." Sautnya masih dalam keadaan berbisik.


"Tidak. Harus sekarang, karena besok aku mau ajak kamu jalan-jalan." Suara bisikan Aoran.


"Kita kan tadi pagi udah jalan-jalan." Ucap Ardella.


"Itu beda, aku maunya besok cuman kita berdua aja, jangan ajak Ririn dan Robin. " Katanya.


"Kenapa. " Ucap Ardella ingin tahu alasan Aoran.


Aoran tidak bisa mengatakan alasan sejujurnya kenapa dia tidak ingin mengajak Ririn dan Robin. "Mereka terlalu ribut. " Hanya alasan belaka.


"Tapi aku gk bisa janji besok bisa pergi jalan-jalan." Ucap Ardella tidak yakin bisa pergi.


Jawaban Ardella membuat Aoran sedikit kecewa, dia tidak ingin pulang tanpa membuahkan hasil. "Kalau kamu gk mau, aku akan tetap disini. " Aoran melipat kedua tangannya dan tak mau beranjak pergi.


Sudah cukup lama mereka berbincang, diluar terdengar ada suara langkah kaki, Ardella takut bahwa ayahnya terbangun. "Aoran jangan main-main, kamu harus cepat pergi, kalau ayah tahu dia akan marah besar. " Ardella perlahan mendorong Aoran dari jendela kamarnya.


"Kalau gitu janji samaku kalau besok kita jalan-jalan. " Mengangkat kelingkingnya, Aoran tersenyum lebar.


"Tapi aku...... " Belum selesai berbicara.

__ADS_1


"Gk ada tapi-tapian, kalau kamu gk mau aku teriak ne." Aoran mengancam Ardella.


Ardella dalam keadaan berpikir antara menerima ajakan Aoran atau tidak. Dia masih bingung dan berdiam diri, sedangkan Aoran sudah tidak sabar mendengar keputusan Ardella.


"Aaa." Teriak Aoran.


Teriakan Aoran langsung dihentikan oleh tangan kanan Ardella. "Ok,,, aku janji, tapi jangan teriak lagi. " Sambil menutup mulut Aoran.


Aoran tersenyum puas melihat Ardella menyerah. "Besok jam 7.30 di pelabuhan. " Melepaskan tangan Ardella, bisik Aoran lebih dekat kewajah Ardella.


Ardella dan Aoran bertatapan sangat dekat, melihat wajah Ardella dari dekat, bibir merona, pupil mata yang indah, serta rambut Ardella yang terurai sangat jelas di mata Aoran.


Ardella kamu manis banget, aku ingin sekali menciummu. Aoran membatin.


"Sana cepat pulang, sebelum ayah tahu. " Mendorong Aoran dengan perlahan. Ucap Ardella.


Ucapan Ardella membuyarkan pikiran Aoran, dia kembali tersadar dan sedikit mundur. Ardella mulai menutup pintu jendelanya, tiba-tiba Aoran menahan pintu jendela dan berusaha membukanya kembali.


"Ada apa lagi. " Tanya Ardella dengan suara kesal.


Masih ingin melihat wajah Ardella lebih lama lagi. "Kamu terlihat manis memakai baju tidur. Jangan lupa mimpikan aku. " Ucap Aoran melepaskan tangannya dari jendela.


Ardella mengeleng kepala dan menutup jendelanya, sedangkan Aoran masih berdiri. Dilihatnya lampu kamar Ardella telah padam. Aoran beranjak pergi meninggalkan rumah Ardella dan menuju ke arah penginapan.


Ardella yang masih didalam kamar belum bisa tertidur karena mendengar ucapan Aoran. Dia merasa gelisah dan tidak tenang, dia mengadah menatap kelangit-langit. Dia kembali berdiri dan beranjak melangkah membuka pintu Jendelanya sekali lagi. Saat melihat Aoran tidak ada, dia sedikit kecewa.


"Ardella apa yang kamu lakukan." Gumamnya sambil menggeleng kepalanya berusaha menghilangkan Aoran dalam pikirannya.


Sementara Aoran yang telah tiba di kamarnya, mulai menulis tempat-tempat yang akan mereka tuju besok. Menyalakan lampu Aoran mencari tempat yang menarik.


Evan merasa terganggu oleh tingkah Aoran beberapa hari ini. "Fritsch, matiin lampunya gue gk bisa tidur." Ucap Evan kesal.


"Bentar lagi, gue masih ada kerjaan." Sautnya tidak merasa bersalah pada Evan karena telah mengganggunya tidur.


Dengan tersenyum lebar, Aoran sudah mendapatkan tempat yang ingin dikunjunginya bersama Ardella. Cukup untuk hari ini, Aoran kembali mematikan lampu, berharap besok sesuai dengan rencananya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2