Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Membuat Ikatan


__ADS_3

Melewati hari-hari bersama Ardella, tidak terasa sebulan berlalu, sampai sekarang kondisi Ardella tidak menunjukkan perubahan.


Batara bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi Ardella dirumah sakit saat hari libur. Seperti biasanya mereka mendapati Aoran dan Ardella bersama. Didalam ruangan itu Aoran dan Ardella sedang duduk di sofa, banyak jenis sajian makanan berada di atas meja, semua makanan diperuntukkan untuk Ardella yang sedang hamil karena itu Aoran dengan sangat hati-hati memilih menu makanan sehat.


Aoran yang sedang menyuapi Ardella makan tidak menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, sedangkan Ardella yang melihat kakaknya datang kegirangan sampai berjingkrak dan menyerukan nama kakaknya berkali-kali.


Reaksi dan tepuk tangan Ardella meriah serta senyum lebar masih berlanjut diekspresi Ardella sampai-sampai nasi yang belum terkunyah sepenuhnya terjatuh dari mulut Ardella.


"Ardella ayo kunyah dulu nasinya." Kata Aoran membersihkan baju Ardella. Kembali Aoran menyuapi Ardella.


Kesal melihat kecuekan Aoran seakan Batara tidak dibutuhkan lagi untuk Ardella. "Adik kakak sedang makan ya, sini biar disuapin sama kakak aja." Batara mendekat mengambil sendok dan piring yang berisikan makanan untuk Ardella secara paksa dari tangan Aoran kemudiaan mendorong Aoran agar sedikit menjauh dari Ardella.


Aoran menatap dengan jengkel, kedua sisi matanya tampak gelap karena menahan kekesalan saat harus menjauhi Ardellla, tetapi Aoran sendiri tidak bisa berkehendak ataupun berbuat sesukanya, posisinya masih dibawah Batara.


Aoran meraih tisu yang Ada dipojokan meja, tanganya dengan lembut membersihkan sisi bibir Ardella yang berhamburan nasi.


Melanjutkan sarapan pagi, Batara mengambil alih pekerjaan Aoran untuk menyuapi Ardella. Lisa yang sudah menyiapkan sarapan untuk Ardella dari rumah dikeluarkan dari tas tentengannya. Sup ayam, susu dan juga jus segar dikeluarkan bersamaan.


"Ibu, apa tante Ardella belum sembuh." Tanya Erwin pada ibunya yang sedang menuangkan jus kedalam gelas.


Lisa sejenak terdiam, bingung menjelaskan pada Erwin. Wajar bagi ketiga bocah yang saat ini ikut menyaksikan tantenya sakit untuk berharap cepat sembuh. Kasih sayang Ardella yang selalu tercurah dengan hangat pada ketiga anaknya membuat mereka bersedih ketika tantenya tidak mengingat mereka sama sekali.


"Tante Ardella pasti sembuh." Saut Batara pada Erwin anaknya.


"Kapan tante sembuh? Aku dan Erwin sudah lama tidak mendengar tante menceritakan dongeng dan bermain bersama, aku rindu tante yang dulu." Edward dengan nada pelan dan menunjukkan kesedihan. Posisinya berdiri dan sedari tadi mengamati tantenya yang bahkan tidak melihat kearahnya. Biasanya tantenya akan selalu tersenyum dan memberi kecupan kecil ketika mereka bersama setidaknya elusan lembut dibagian kepala.


Aoran yang dalam posisi berdiri melihat kearah Edward. Anak kecil yang ada didepannya ini adalah anak sendiri namun Aoran sendiri belum bisa menghibur Edward. Sampai sekarang Aoran sangat sulit untuk mendekati Edward, berapa kalipun dia menunjukkan kasih sayangnya dalam bentuk perhatian tetap saja Edward hanya akan membalas dengan sikap acuh bahkan tanpa segan mengatakan bahwa dia terganggu oleh tingkah Aoran.


"Paman bisa menggantikan tante Ardella, apa yang Edward ingin lakukan paman akan menemani atau butuh sesuatu bisa paman berikan untuk Edward." Aoran dalam posisi berjongkok menatap dengan harapan sekali saja Edward akan menerima perhatiannya.


"Aku ingin tante Ardella, bukannya kamu." Penolakan yang selalu diberikan oleh Edward untuk Aoran.


Lagi, lagi Aoran menerima sikap perlakuan yang dingin dari Edward, mungkin saja saat didalam kandungan batin Edward sudah membenci dirinya yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkan dirinya saat masih berada dirahim Ardella. Itulah yang dipikirkan Aoran.


"Apa Edward tidak suka dengan paman, dimananya Edward tidak suka ? katakan, maka Paman akan berubah agar Edward suka. " Balas Aoran tenang.


"Dulu kamu sering kali membuat tanteku menangis." Saut Edward menatap lekat Aoran.


Edward walau masih kecil tapi dia sangat peka. Ketika ayahnya dulu tidak pulang dia tahu bahwa ayahnya berada dipenjara, dan Ardella tantenya yang selalu pulang malam, Edward juga tahu bahwa tantenya bekerja hingga larut malam bahkan sering kali Edward menunggu tantenya pulang, wajah letih dan kusam diwajah ibunya dan tantenya menjadi pengingat di memorinya.


Edward sendiri tahu kejadian yang menimpa ayahnya karena tanpa sengaja mendengar percakapan ibunya dan tentenya mengeluhkan permasalahan ayahnya yang ada dipenjara, nama Aoran tersirat di perbincangan yang panjang lebar itu. Alasan yang kuat buat Edward tidak suka dengan Aoran.


"Kamu betul nak, aku sering membuat tante kamu menangis, makanya dari itu mulai dari sekarang aku tidak akan membuat tante kamu menangis, berikan aku satu kesempatan." Usapnya pipi Edward sembari tersenyum.

__ADS_1


***


Kediaman Batara.


Ketika orang rumah sudah pergi kerumah sakit tinggallah Robin dengan Anasya yang masih berada dirumah. Katanya Robin akan menyusul, begitu juga dan Anasya saat diajak oleh Lisa dia akan menyusul.


Robin yang juga ingin menyusul kerumah sakit telah bersiap-siap, jaket jeans yang tidak lupa selalu dikenakannya ketika dia keluar dari rumah, aroma parfum melekat pada tubuhnya, dengan bersiul Robin turun dari anak tangga.


Dipenghujung anak tangga Robin berpapasan dengan Anasya. Melihat Anasya Robin menghentikan siulannya, mulutnya bungkam serta sikap kaku dari raut wajahnya sangat jelas.


Penampilan Anasya juga telah rapi sudah siap untuk berangkat, sama halnya ketika melihat Robin wajah menyeringai terpanjar dari sudut bibirnya.


Saling menatap tapi tidak menyapa situasi Anasya dengan Robin sangat mencekam.


Robin akhirnya berjalan mendahului Anasya, diikuti dengan Anasya berjalan dari belakang Robin.


Kereta scoopy yang sudah terparkir adalah andalan Robin untuk berpergian kemanapun dia ingin pergi. Robin mengeluarkan kunci keretanya dan mulai menghidupkan mesin. Berada diatas kereta dia memakai helmnya, mengatur arah kaca spionya Robin tanpa sengaja melihat kearah Anasya yang masih berdiri dihalaman rumah.


Anasya yang sedang menunggu supir pribadinya untuk menjemputnya berdiri sambil melirik jam tangan sesekali kakinya terhentak karena merasa jenuh menunggu hanya beberapa menit.


Anasya mungkin tidak menyadari bahwa bukan hanya beberapa menit lagi dia harus menunggu, tapi kemungkinan akan sedikit lebih lama lagi supir pribadinya datang karena jarak tempuh antara rumahnya dan rumah Ardella cukup lumayan jauh.


"Kamu mau kemana." Robin yang sudah siap berangkat tidak tega meninggalkan Anasya sendirian.


"Rumah sakit." Saut Anasya tanpa perlu basa-basi.


Tanpa komentar Anasya langsung duduk dibagian belakang Robin.


Sedikit terkejut karena Anasya tidak menolak, Robin melihat Anasya kembali dari arah kaca spionnya. "Pakai helmnya." Robin menyerahkan helm satunya untuk Anasya.


Anasya mengambil tanpa berkata. Saat memakaikan helm dikepalanya Anasya sedikit kesusahan, dia tidak pernah mengenakan helm sebelumnya, selama ini dia selalu diantar dan dijemput oleh supir pribadinya.


"Kalau aku bilang kamu nona kaya manja sepertinya kamu tidak terima, tapi pakai helm aja nggak tahu caranya." Robin mengoceh sambil membantu Anasya memakaikan helm.


"Dimana salahku kalau aku terlahir dikeluarga kaya. Kamu kenapa selalu meremehkanku sih." Anasya protes, sehentak kakinya menendang Robin.


"Auh. Kamu kasar banget sih jadi cewek." Robin mengusap kakinya


"Mulut kamu lebih kasar." Teriak Anasya keras. "Apaan lembut, baik, perhatiaan. Nyatanya nyebelin baget." Ocehnya bergumam. Anasya pernah mendengar  Ardella menceritakan tentang Robin yang baik dan perhatiaan, sekarang sifat yang diceritakan Ardella bertolak belakang dari apa yang dilihat oleh Anasya selama ini.


***


Aoran diposisi yang masih belum memiliki ikatan khusus dengan Ardella memutuskan untuk memperjelas hubungannya dengan Ardella, dia ingin membuat ikatan dengan Ardella. Suami istri, ikatan yang diinginkan oleh Aoran.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan. Edward, Erwin dan Aldo bermain buku gambar bersama Ardella. Ketiganya mengajak Ardella untuk bermain bersama. Sedangkan mereka yang dewasa duduk disofa.


"Aku memutuskan untuk menikah dengan Ardella." Ucap Aoran memulai topik pembicaraan.


Nada suara yang terucap dari mulut Aoran sangat serius, sangking seriusnya sorotan matanya tajam tanpa berkedip, katanya tidak terucap ragu ketika mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan Ardella.


Batara ikut menanggapi dengan keseriusan. Mungkin Aoran bisa menerima Ardella tapi diluar sana siapa yang tahu apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang ketika seorang lelaki sempurna tanpa kekurangan apapun menikah dengan wanita cacat mental.


"Aoran Fritsch seorang pembisnis ternama menikah dengan wanita idiot. Itulah yang akan dikatakan orang terhadapmu. Dan paling parahnya pernikahanmu akan terkabar diseluruh media. Apa kamu yakin bisa menerimanya?" Batara memperjelas bahwa Ardella tidak memungkinkan untuk saat ini berdampingan dengan Aoran.


"Siapun berani mencemoh Ardellaku akan kubuat dia menyesal lahir didunia ini karena telah berani menyebut nama Ardella. " Inilah Aoran sebenarnya kejam tak berperasaan yang selalu dirasakan oleh Batara ketika kemarahan disorot mata itu mulai gelap. Getaran suara Aoran bahkan mampu membuat bulu kuduk merinding saat mendengar ancaman kejam dari mulutnya.


"Aku tahu kamu punya kekuasaan, tapi aku takut Ardella tidak bisa berbaur di dalam keluargamu ataupun bersanding dengan lelaki yang berkuasa sepertimu." Kata Batara.


"Aku hanya butuh persetujuanmu, tentang orang lain aku tidak peduli. Sebagai kakak Ardella, aku ingin mendapatkan restu darimu, selepas itu semua hal yang mengganggu atau menentang aku bisa mengurus semuanya tanpa harus merepotkanmu. Dan jika kamu masih cemas dengan apa yang akan terjadi pada Ardella, aku bisa menjanjikan bahwa aku akan membuat Ardella bahagia." Aoran ingin mendapat izin dari Batara. Dengan restu Batara dia yakin bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencananya.


Begitu panjang lebar percakapan antara Batara dan Aoran.


Tibalah Anasya dan Robin dirumah sakit. Saat inipun mereka berdua telah berada diruangan. Ketinggalan informasi, Robin bertanya apa yang sedang mereka bicarakan hingga kedatangannya bersama Anasya tidak dihiraukan.


Secara singkat Batara menjelaskan maksud Aoran menikahi Ardella.


"Aku tidak setuju. Jika kamu ingin bersama Ardella setidaknya tunggu sampai dia sembuh. Setelah itu Ardella yang akan putuskan menerima kamu atau tidak." Tentang Robin.


Semua orang menjadi hening, Anasya yang juga masih dalam keadaan berdiri di samping Robin melihat bahwa Robin serius dengan ucapannya.


"Bagaimana kalau Ardella tidak sembuh. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu ketika Ardella mengandung Edward aku tidak berada disisinya." Saut Aoran. Jika dilihat perut Ardella sekarang sudah mulai terlihat, karena itu Aoran ingin segera menjadi suami dan ayah untuk anak-anaknya.


Sejujurnya maksud Robin bukan menentang hubungan Ardella dan Aoran lagi, dia takut saat Ardella sembuh hal apa lagi yang akan terjadi, bahkan alasan Ardella membenci Aoran lima tahun lalu belum diketahui oleh Robin sepenuhnya. 


Keputusan Aoran yang menikah dengan Ardella dibawah kesadaran Ardella akankah berujung baik-baik saja. Melihat Ardella dengan polos tertawa, Robin dibingungkan apa yang harus dilakukannya.


"Baiklah, aku akan setuju kalau kamu menikah dengan Ardella. Kalau Ardella setuju." Ucap Robin.


"Maksud kamu bagaimana Rob." Tanya Batara dengan jelas.


"Meski Ardella sakit, aku yakin dia pasti bisa membuat keputusan, jadi aku ingin Aoran meminta persetujuan Ardella sendiri." Jelasnya sedetail mungkin.


"Ok, aku setuju." Aoran penuh percaya diri.


Aoran mulai beranjak dari posisinya, langkahnya mendekati Ardella yang sedang bermain. Duduk disamping Ardella, dia menghentikan Ardella untuk menggambar lagi, dia membuat Ardella menatap dirinya dengan jelas.


"Ardella maukah kamu menikah denganku."

__ADS_1


💔💔💔


Bersambung


__ADS_2