
Bimo dan Riko berada didalam kamar.
"Lu keluar dulu, biar gue duluan." Ucap Riko mengusir Bimo.
"Gk bisa gitu bg, gue duluan lah, kan gue yang rencanain." Ucap Bimo.
Rencana membuat Ardella tertidur adalah perbuatan Bimo, saat berbincang-bincang ditempat pesta, mereka berdua sepakat memberi Ardella obat tidur, setelah itu ingin melakukan hal tidak senonoh pada Ardella.
"Siap gue baru lu." Riko yang tidak mau mengalah.
"Gk bisa, punya gue dah ngenceng ne, gk bisa tahan lagi." Ucap Bimo.
"Iss, punya gue juga." Ucap Riko.
"Gimana kalau kita main dua bg." Ucap Riko dengan senyum mes*m menjilat bibirnya.
Riko berpikir.Β "Setuju, lu bagian atas, gue bagian bawah." Ucap Riko.
Saat mereka berdua yang sedang asik berdebat siapa duluan, tiba-tiba badai datang.
Brukk,,,pintu kamar motel melayang.
Riko dan Bimo terkejut, mata mereka tercengang melihat para laki-laki gagah dan menyeramkan. Mereka adalah pengawal Anasya, para pengawal menutupi Anasya yang masih dibelakang.
Anasya yang melangkah kedepan dan melihat kearah Riko dan Bimo. "Main dua." Ucap Anasya yang sempat mendengar percakapan mereka.
"Ikutan dong." Senyum Anasya mematikan.
"An, gue gk ikutan." Bimo mulai ketakutan melihat Anasya. "Ini rencananya." Menunjuk Riko.
"Ba**sat lo, yang kasih obat tidur ke jusnya kan lo." Ucap Riko dengan marah.
Mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain.
Anasya yang sudah tidak tahan mendengar ocehan Bimo dan Riko. "Hajar mereka." Ucap Anasya memerintahkan pengawalnya.
"Siap Non." Seru para pengawalnya.
Alangkah malangnya nasib mereka berdua. Dengan semangat para pengawal mengangkat tubuh mereka, bahkan mereka berebutan memukuli tubuh Riko dan Bimo.
"Gue salah, ampuni gue An." Bimo yang merangkak kearah Anasya. "Gue belum sentuh Ardella sama sekali." Ucap Bimo bersujud sambil menangis.
Tubuh mereka babak belur, bonyok sana bonyok sini.
Plakkk,,, kaki Ardella menginjak bagian vital bawah Bimo.
"Oh. NOoooo." Seru para pengwal dengan suara panjang.
"Aaaaa." Teriak Bimo memegang bagian bawahnya.
Anasya mendekat ke arah Riko. "Sekarang gilirin lo, cowok bre**sek." Ucapnya memasang mata tajam dan dengan senyuman sinis.
__ADS_1
Riko mulai gemetar ketika melihat Anasya berjalan kehadapannya, ingin berlari tapi daya tak sanggup melawan otot-otot pengawal Anasya "Jangan, jangan mendekat." Ucap Riko berjalan mundur.
Syuuu,,, kaki Anasya mendarat ke bagian vital Riko.
"Oh. NOooo." Seru para pengwal kembali.
"Aaaaaa." Teriak Riko keras.
Puas memberi pelajaran untuk mereka, Anasya memerintahkan untuk melucuti pakaian mereka sampai telanjang dan menyuruh para pengawalnya mengingkatnya dijalanan agar dipertontonkan.
Ardella yang masih tertidur diatas ranjang.
"Nin, bantu aku bawa Ardella masuk ke mobil." Ucap Anasya.
Nina dan Anasya memapah Ardella masuk kedalam mobil, sedangkan para pengawalnya sibuk dengan Riko dan Bimo.
"Tulis sesuatu disini." Ucap salah satu pengawalnya menunjuk ke punggung mereka berdua.
Mereka yang semangat. "Ide bagus." Ucap pengawal yang lain.
Anasya membawa Ardella pulang kerumahnya.
Tiba di rumahnya, Anasya langsung membawa Ardella kedalam kamarnya. "Taruh disini aja." Ucap Anasya pada Nina.
"Huh." Suara lega dari Nina. "Untung kamu cepat datang An." Ucap Nina kembali.
Hal yang sama dipikirkan oleh Nina "Iya, kalau sampai terlambat, aku gk bakal bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ardella." Ucap Anasya ikut lega.
"Udah malam, kamu nginep disini aja Nin." Ucap Anasya kembali pada Nina.
Setelah itu Anasya turun dari kamarnya.
Melihat para pengawal yang sedang berkumpul. "Terima kasih paman-paman." Ucap Anasya senyum pada pengawalnya.
"Ini tugas kami Non, menjaga keselamatan non Anasya adalah tanggung jawab kami bersama." Jawab para pengawal kembali.
Anasya yang tersenyum melihat kearah mereka "Ehhh, kok jadi 10 orang." Anasya menghitung kembali jumlah pengawalnya.
Mereka saling melirik satu sama lain. " dua orang ini gk kami kenal Non." Ucap para pengawal.
Dua pengewal rahasia Aoran menjelaskan keberadaannya, ternyata saat Anasya pergi dari rumah mereka juga mengikuti Anasya dan ikut berpartisipasi menghukum Riko dan Bimo, mereka aja yang gk sadar dengan kehadiran dua pengawal ini.
Anasya yang mendengar penjelasan mereka. "Kak Aoran memang yang terbaik." Ucap Anasya keras.
"Hahahaha." Suara tawa mereka.
Keesokan pagi.
Ardella mulai bangun, pandangannya melihat ke langit-langit, matanya melihat kesekeliling kamar. "Ini dimana." Ucap Ardella sendiri.
Ardella beranjak dari tempat tidur, saat keluar dari kamar dia berada di lantai 2, melihat rumah yang begitu besar membuat Ardella kagum.
__ADS_1
"Ardella udah bangun." Ucap Nina melihat Ardella turun dari tangga.
"Nina. Ini rumah kamu." Tanya Ardella.
"Iya gk lah." Tawa Nina kecil.
Anasya yang melihat Ardella dan Nina diruang tengah. "Sarapan udah siap, ayo kita sarapan." Ucap Anasya.
"Kok, Anasya bisa disini." Tanya Ardella heran.
"Kamu sedang berada dirumahku Ar." Ucap Anasya menarik mereka berdua ke meja makan.
Ardella bertanya apa yang terjadi semalam, diingatnya saat minum jus pemberian Bimo, dia merasa mengantuk, setelah itu tak ada lagi ingatannya selain itu.
Ardella dan Nina mulai menceritakan kejadiannya.
"Gitu Ar." Ucap Anasya.
"Tenang Ar, kamu gk kenapa-napa kok." Ucap Anasya kembali.
"Iya, kami datang tepat waktu kok." Ucap Nina meyakinkan Ardella yang tampak terkejut.
Ardella yang sempat syok menjadi lega mendengar penjelasan Anasya dan Nina. "Makasih teman-teman." Ucap Ardella haru mendengarkan cerita Anasya dan Nina.
"Ahhh, berarti semalam aku gk pulang, kak Batara pasti nyariin aku." Ucap Ardella tersadar.
"Aku udah kasih kabar sama kak Batara kalau kamu nginep disini." Ucap Anasya.
"Huh. Untunglah, sekali lagi makasih An." Ucap Ardella lega kembali.
Mereka mulai sarapan bersama, ketika melihat rumah Anasya yang besar. Ardella bertanya tentang keluarga Anasya.
"Rumah kok terasa sepi." Tanya Ardella.
"Biasanya juga seperti ini, saat kakakku lembur aku selalu sarapan sendiri, untungnya ada beberapa asisten rumah tangga, jadinya tidak terlalu sepi." Ucap Anasya sedikit sedih.
"Kasihan, kalau rumahku rame banget malahan, adik-adikku sering bertengkar memperebutkan makanan." Ucap Nina balik.
Ardella yang melihat kesekeliling rumah. "Jadi kakakmu sekarang gk dirumah An." Tanya Ardella.
"Iya, tadi malam dia lembur dikantor." Ucap Anasya.
Aoran yang kebetulan sedang tak berada dirumah, karena lembur dikantor kemarin malam Aoran tidak pulang ke rumah.
Mereka kemudiaan bergegas beres-beresin piring. Anasya yang meminjamkan bajunya pada Ardella dan Nina. Saat selesai merapikan diri mereka bertiga hendak pergi kekampus.
Nina yang memeriksa pesan dari ponselnya. "Ahhh, ini apa." Ucap Nina terbata-bata melihat ponselnya.
"Apa sih Nin." Anasya yang mendekat melihat kearah ponsel Nina.
"Ini." Ucap Anasya terkejut.
__ADS_1
πππ
Bersambung.