Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Masa Lalu Batara Part 1


__ADS_3

Batara yang mengangkat tubuh adiknya kemudiaan mengendongnya, dia melangkah membawa Ardella pulang kerumah.


Tiba dirumah. Batara langsung masuk menuju kamar Ardella.


Diletakkannya Ardella dikamarnya dan kemudian mencarikan obat untuk lukanya,  Ardella yang tengah tidak sadarkan diri karena syok atas kejadiaan yang menimpanya.


Batara mulai membersihkan luka Ardella dan mengoleskan salep kebagian tubuh Ardella yang terluka, ketika melihat Adiknya. Batara menangis merasa bersalah.


"Maaf kan kakak Ardella." Mengecup kening adiknya.


Disamping pintu ayahnya yang sedang berdiri melihat kearah Batara. Melihat ayahnya, Batara berdiri menuju ke arah ayahnya.


"Mari bicara diluar." Ucap Batara.


Di ruang tengah ibu tirinya dan Leli juga sedang berdiri. Ibu tirinya sedikit takut melihat batara karena sesuatu hal dimasa lalu.


Ayahnya kemudiaan duduk dan menyuruh Batara ikut duduk bersamanya. Tapi Batara menolak dan tetap berdiri.


"Dulu kamu dan wanita ini juga membunuh ibuku, sekarang kalian juga ingin melakukanya pada adikku." Ucap batara menunjuk ibu tirinya dengan amarah.


"Cukup,  aku tidak ingin kamu membahas masa lalu" Kata ayahnya membentak.


"Tidak,,,!!!. kalian harus ingat apa yang telah kalian perbuat padaku, ibuku dan sekarang Ardella." Ucap Batara.


***


Flashback.


Ingatan Batara 15 tahun yang lalu.


Waktu itu batara yang masih berumur 15 tahun sedangkan Ardella berumur 5 tahun.


Ibu Batara dan Ardella bekerja sebagai penjahit dan ayahnya masih tetap sebagai pedagang. Keluarga mereka tampak bahagia namun semenjak ibu Batara sakit. Sedikit demi sedikit terjadi perubahan terhadap sikap ayahnya.


Uhuk,,, huk,,,huk suara batuk ibu Batara.


"Ibu baik-baik saja." Ucap Batara sambil membawakan teh hangat untuk ibunya.


"Ibu baik-baik saja. Apa ayahmu belum pulang." Tanya ibunya.


"Belum bu, mungkin nanti sore baru pulang."


"Ardella mana,  dari tadi ibu gk lihat."


"Sedang tidur bu dikamar."


Ketika itu penyakit ibu batara semakin parah dan harus dibawah kerumah sakit besar.


***


Malam hari ketika makan malam sekeluarga.


"Ayah sepertinya ibu harus dibawa kerumah sakit yang lebih besar." Ucap Batara sambil menyuapi adiknya Ardella.


"Ayah sibuk dan tidak sempat membawa ibumu kerumah sakit." Ucap ayahnya.


"Biar Batara aja yang bawa ibu kerumah sakit."


"Tidak usah nak, kamu masih harus sekolah gk baik tidak masuk sekolah." Ucap ibunya.

__ADS_1


"Tidak apa bu,  hanya butuh tiga hari kekota dan pergi kerumah sakit, kita bisa menginap dirumah paman saat tiba di kota."


"Ayah setuju pergilah temani ibumu, biar Ardella ayah yang jaga dirumah." Ayahnya yang mendukung keputusan Batara.


Karena keadaan ibu mereka sedang sakit, Ketika malam tiba Ardella ditemani kakakknya dan menceritakan sebuah dongeng sampai Ardella tertidur.


***


Matahari mulai terbit.


Batara izin dari sekolahnya dan bersiap mengantarkan ibunya berobat,  ketika Batara dan ibunya pergi Ardella menangis minta ikut.


"Huhuhu,,, ikut." Ucap Ardella Meminta digendong oleh kakaknya.


"Ardella adik kakak yang baik, jangan nangis, kakak dan ibu tidak akan lama, kamu tinggal dirumah temani ayah, nanti kakak belikan boneka." Mengendong adiknya serta mencium pipi Ardella.


"Umm,,,Boneka belbie ya." Ucap Ardella kecil.


"iya, adik kakak yang pintar, jangan nakal selama kakak dan ibu pergi." Ucap Batara tersenyum.


Batara yang ingin ibunya sembuh dari penyakitnya berusaha membawa ibunya berobat. Batara dan ibunya sampai dikota dan menginap dirumah pamanya yang tinggal dikota seperti yang telah direncanakan.


***


Keesokan hari.


Batara pergi bersama ibunya kerumah sakit,  sambil memapah ibunya.


Tiba dirumah sakit, Batara pergi  mendaftarkan ibunya berobat. Seketika itu ibunya masuk sendirian untuk melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan menunjukka keadaan ibunya kurang baik, walau bisa diobati tapi tetap aja tidak akan mudah sembuh.


"Nak hari ini kita langsung pulang aja." Kata ibunya pada Batara.


"Kenapa bu,  kita kan masih ada satu hari lagi,  besok kita  lakukan pemeriksaan lagi." Ucap batara pada ibunya.


"Baiklah ibu." Ucap Batara.


Disisi lain yang tak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa selama ini ayahnya berselingkuh dengan seorang janda bernama Sherlin.


"Sayang kapan kamu nikahi aku, aku rela kok jadi istri keduamu." Ucap Sherlin.


"Untuk saat ini aku belum bisa menikahimu, tunggu istriku sakit parah hingga aku punya alasan menikahimu." Ucap ayah Batara mencium Sherlin.


Ardella yang masih kecil tidur didalam kamarnya.


Ayahnya melakukan tidak senonoh bersama Sherlin ditengah malam,  bercumbu mesra itulah yang dilakukan ayahnya bersama Sherlin.


Malam ini juga Batara dan ibunya kembali kerumah,  kembalinya mereka tanpa sepengetahuan ayahnya.


Cekrikk.


Batara membukakan kunci rumah tanpa mengetuk,  dipikirnya ayahnya dan Ardella pasti sudah tidur. Pelan-pelan mereka masuk kedalam rumah, ketika berada diruang tengah, Batara dan ibunya mendengar suara aneh dari arah kamar.


Mendengar itu Batara dan ibunya menuju ke arah kamar.


Krekk,,,membukakan pintu kamar.


Batara dan ibunya terkejut melihat ayahnya dan wanita lain tanpa busana didalam kamar.


Batara yang merasa jijik atas perbuatan ayahnya dan wanita itu marah. Penuh kemarahan Batara menarik rambut Sherlin dengan sekuat tenaga keluar dari kamar hingga menuju halaman rumah.

__ADS_1


"Sakit." Seru Sherlin menahan tangan Batara. Rambut Sherlin hampir habis rontok karena ditarik oleh Batara.


"Wanita menjijikkan, pergi kamu." Ucap Batara melemparkan Sherlin keluar dari rumah.


Ayah Batara tercengang melihat mereka telah kembali, tak disangkanya perselingkuhan telah diketahui. Dia mengambil pakainya yang berserakan dilantai dan memakainya kembali.


Didalam rumah ibunya dan ayahnya terjadi pertengkaran hebat.


"Kenapa kamu tega berselingkuh dariku pak." Ucap ibu Batara.


"Itu salahmu sendiri karena sekarang kamu sakit-sakitan, kamu jarang melayaniku, aku butuh wanita untuk melayaniku." Ucap ayah Batara berteriak pada ibunya.


"Cukup hentikan bicaramu itu." Batara yang kembali emosi memukul ayahnya.


Pertengkaran antara Batara dan ayahnya membuat ibunya khwatir anaknya yang akan terluka.


"Sudah hentikan jangan berkelahi lagi." Terjatuh dan merasa sesak.


Batara yang melihat kondisi ibunya berehenti berkelahi dengan ayahnya kemudian membawa ibunya kedalam kamarnya sendiri, sedangkan ayahnya ditinggalkan sendiri.


"Ibu ayo kekamar Batara." Mengangkat ibunya.


Berada didalam kamar, ibunya ingin sendirian.


"Pergilah kekamar Ardella biarkan ibu sendiri dulu." Ucap ibunya yang tegar.


"Tidak,  malam ini aku akan disini menjaga ibu." Ucap Batara khwatir melihat ibunya.


"Ibu tidak apa-apa,  kasihan Ardella sendiri dikamarnya."


Seperti yang diucapkan ibunya, Batara pergi kekamar Ardella.


Sepanjang malam ibunya Batara menangis, walau Batara sempat menenangkan ibunya tetap saja ibunya merasa sakit hati atas penghianatan suaminya yang selama ini dia cintai.


***


Pagi-pagi sekali batara mengecek keadaan ibunya. Saat masuk kedalam kamar ibunya. Batara masih mendapati ibunya dalam keaadan tidur.


"Ibu ayo sarapan." Ucap Batara memanggil dari pintu.


Ibunya tidak menyahut.


"Ibu." Batara pelan-pelan menuju ke arah ibunya. "Ibu bangun, ayo kita sarapan." Ucap Batara lembut.


Batara merasa aneh saat ibunya tidak menjawabnya, Batara mulai mengecek suhu tubuh ibunya dan nadinya, dia terkejut melihat ibu tidak bernafas, suhu tubuhnya juga terasa sangat dingin, tubuhnya juga terlihat kaku.


"Hu,,,hu,,,hu." Ucapnya menangis, menggoyang-goyangkan tubuh ibunya. "Ibu bangun kumohon bangunlah." Teriak Batara menangis, dia sadar bahwa ibunya telah tiada.


Suara teriakan Batara terdengar hingga ketelinga para tetangga, ayah Batara yang baru bangun menuju ke arah teriakan,  melihat istrinya tak bernyawa, ayah Batara ikut menangis.


"Maafkan aku sayang,,,maafkan aku sayang,,, ini salahku." Masih ada penyesalan dari wajahnya.


"Ini salahmu pasti dari semalam ibuku terus memikirkannya dan menangis." Menyalahkan ayahnya.


Tak ada perlawanan dari ayahnya rasa sedih dan duka membuat ayahnya tak berbicara sepatah katapun seakan menerima tuduhan Batara terhadap dirinya.


Kepergiaan ibunya Batara dan Ardella meninggalkan kesedihan yang mendalam pada Batara, sedangkan untuk Ardella yang masih kecil belum mengerti kata meninggal dan situasi yang terjadi.


Ibu Batara dan Ardella dimakamkan dengan acara adat dan istiadat. Pemakaman ibunya selesai dilakukan.

__ADS_1


💔💔💔


Bersambung.


__ADS_2