Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Jangan Menyentuhku


__ADS_3

"Aoran." Ucap Aoran menyebutkan namanya sendiri. Mendengar Ardella memanggil namanya dengan langsung, Aoran sangat tidak suka.


Ardella yang tengah terlentang disofa dibawah tubuh Aoran yang bidang meronta-ronta, dia berusaha untuk terlepas dari genggaman Aoran.


Ardella meronta hingga memukul dada bidang Aoran, tetap saja pukulan Ardella tidak membuat Aoran melepaskan dirinya. Semakin Ardella melawan semakin membuat Aoran bertambah agresif. Secepat kilat Aoran mengarahkan mulutnya kebibir Ardella.


Dikejutkan dengan serangan Aoran, mata Ardella terbelak lebar, mulutnya terbukam oleh lidah Aoran. "Mum." Masih dalam keadaan berontak, Ardella mendorong Aoran.


Aoran sama sekali tidak peduli dengan perlawanan Ardella, ciuman dibibir Aoran terasa kasar dimulut Ardella.


"Auh." Seru Aoran menyentuh bibirnya. Ardella menggigit Aoran. Dengan tatapan acuh, Aoran kembali menyerang Ardella.


Tidak hanya sampai disitu, satu persatu Aoran membuka kancing baju Ardella.


"Aoran! kau gila. Aku akan melaporkanmu atas tuduhan pelecehan s*ksual." Teriaknya menahan tangan Aoran.


"Sayang, aku sudah tidak bisa menahan lagi." Ucap Aoran tersenyum simpul memandang Ardella.


"Aku bukan sayangmu, menjauh dariku." Saut Ardella sambil menghentikan aktifitas Aoran.


Sudah tidak sempat lagi bagi Aoran untuk berdebat, saat ini dia masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Pada akhirnya semua kancing baju Ardella telah terlepas, dengan segera Aoran menarik baju Ardella, kemudiaan melemparkan baju Ardella kelantai, hanya tinggal bra yang menutupi bagian kulit Ardella.


Aargggg.


Ardella mengerang. "Aoran bren*sek." Teriak Ardella lebih keras.


Bra Ardella menjadi penghalang baginya. Tangannya menyelip ke bagian punggung, melepaskan kancing bra, kemudian melemparkan kesembarangan tempat. Bagian atas telah terlihat semua, dengan tatapan terbelak lebar Ardella melawan Aoran semampu yang dia bisa, kekuatannya tidak sanggup untuk mendorong Aoran.


Brukk.


Aoran menekan Ardella dengan tubuhnya, melepaskan dasinya, tangan Ardella diikat dengan dasi, tangan kirinya mengangkat kedua tangan Ardella keatas. Pertahanan Ardella semakin lemah, sekarang dia terkunci penuh oleh tubuh kekar yang ada diatasnya.


Cup, cup, cup.


Aoran mengecup bagian leher Ardella hingga lebih turun lagi kebawah, aktifitasnya tidak hanya sampai disitu.


Aargkk.


Desahan Ardella memenuhi ruangan. Sekujur tubuh Ardella menjadi kaku, urat-uratnya menegang menahan rangsangan dari Aoran.

__ADS_1


"Aoran lepaskan aku." Suara Ardella terdengar memelas.


"Sudah cukup lama aku menahannya, hari ini aku tidak akan menahannya lagi." Aoran menatap wajah Ardella, kembali lagi Aoran mencium bibir Ardella, ciumannya sedikit berbeda daripada yang tadi, sekarang lebih lembut.


Nafas Ardella dan Aoran terdengar terngah-ngah, saat ciuman berlangsung Ardella tidak bisa mengatur nafasnya, Ardella hampir tidak bernafas menahan ciuman Aoran.


"Sayang, tidak perlu menahan nafas, nikmati dengan rileks." Ucapnya memberi senyum kecil, Aoran sadar bahwa Ardella sangat tidak berpengalaman dalam berciuman.


"Sungguh tidak tahu malu." Sekitar sejam lebih Aoran menahannya. "Lepaskan aku, dan aku tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Ardella dengan pelan. Berusaha membujuk Aoran agar melepaskannya.


Aoran dengan ekspresi genit, senyum lebar dari sudut bibirnya.Β  "Bagaimana mungkin aku melepaskannya begitu saja, kita belum melakukan hal yang semestinya." Lirih Aoran menghembuskan nafasnya.


Aoran kembali meraih bibir Ardella dengan mulutnya, puas melihat dan menyentuh-nyentuh, Aoran beranjak menelusuri bagian lekukan tubuh Ardella. Hingga menuju perut Ardella, dia berdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu.


Disini dulu pernah ada anak kita, diperut ini setidaknya dia pernah bernafas, walaupun hanya untuk sesaat. Batin Aoran.


Tangan satunya mengelus perut Ardella dengan lembut, kali ini bukan wajah mesum atau nafsu yang ditunjukkan oleh Aoran.


Ardella sadar bahwa dia harus melindungi diri agar Aoran tidak melakukan hal lebih jauh. Dia merapatkan kedua kakinya, tidak memberi celah.


Gerakan Ardella membuyarkan perhatian Aoran, melihat tingkah Ardella yang gemetar, wajah memucat. Aoran malah membuka lebar kedua kaki Ardella, membuat jarak agar cukup baginya untuk masuk dan menyelipkan diri di bagian kedua ************ Ardella.


Arggkkkk.


Sudah tidak kuat lagi menahan, Ardella mendesah dengan keras. Sentuhan Aoran betul-betul membuat tubuhnya gemetar.


Membuka tali pinggangnya, Aoran bermaksud ingin melanjutkan lebih jauh lagi. "Ini bukan kali pertamanya untuk kita berdua." Bisik Aoran ketelinga Ardella dengan lembut.


"Aoran! berhentilah, aku tidak tahu maksudmu" Ucap Ardella berontak.


Aoran tidak melanjutkan penjelasannya, Sekejap Aoran melambatkan sentuhannya.


Tidak ada bekas sayatan ataupun jahitan. Batin Aoran.


Rupanya Aoran masih ingin memeriksa bekas ditubuh Ardella ketika melakukan aborsi. Aoran tidak bisa lagi fokus dengan tujuannya, dia kembali merenung tanpa berbicara.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau melakukannya dengan lelaki bere*gsek ini." Ucap Ardella dari dalam hatinya.


Sudah tidak bisa lagi melawan, Ardella menangis dengan keras, tangisannya sangat keras hingga membuat Aoran berhenti dengan aktifitasnya.

__ADS_1


Wajah pucat, menyeritkan dahi, menggigit bibir serta sekujur tubuh gematar, itulah yang dilihat Aoran pada diri Ardella yang terbaring dibawahnya.


Akhirnya Aoran melepaskan diri dari tubuh Ardella. "Sudah jangan menangis lagi." Ucapnya lembut menatap Ardella. Sekali lagi dia mencium bibir kecil berwarna merah merona itu, kemudian mengecup kening Ardella. Lagi-lagi perubahan sikap Aoran berubah, sangat membingungkan bagi Ardella untuk mengerti apa yang sebenarnya diinginkan oleh laki-laki yang ada dihadapannya.


Ikatan Ardella dilepaskan, dipergelangan tangan Ardella terdapat bekas merah akibat ikatan kuat dari dasi Aoran .


Secepatnya Ardella kembali keposisi duduk. Kedua tangannya menutup kedua dadanya. Marah, kesal, benci, merasa dipermalukan itulah yang saat ini dirasakan oleh Ardella.


Plakkk.


Tamparan keras dari tangan Ardella kepipi Aoran.


Aoran mengusap pipinya, rasa perih terasa di bagian pipi kanannya, dia diam tidak berkata sepatah katapun, dia hanya mengamati tindakan selanjutnya. Dia tersadar bahwa dirinya bersalah, karena itulah Aoran tidak melakukan apapun.


Dengan cepat Ardella mengambil bra dan kemejanya, dia memakai branya, dilanjutkan dengan kemeja putihnya, tangannya gemetar saat mengancingi bajunya, pikirannya masih syok atas tindakan Aoran.


"Kemarilah." Aoran menarik Ardella lebih dekat dengannya. Membantu Ardella mengancingi bajunya.


"Aku bisa sendiri." Tepis Ardella.


Mereka berdua saling menarik kemeja yang melekat di tubuh Ardella. Dengat kuat dan erat Aoran tidak mau melepaskan genggamannya dari kemeja.


Tidak mau bertengkar lagi, Ardella membiarkan Aoran melakukannya.


Perlahan Aoran membantu Ardella mengancingi kemeja, sesekali dia melihat ekspresi Ardella yang berpaling melihat kearah lain. "Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Aoran menutupi tubuh Ardella dengan jasnya.


Tawaran itu tidak lagi membuat hatinya luluh, yang pasti Ardella sangat membenci Aoran. "Aku bisa pulang sendiri." Saut Ardella dengan tatapan marah.


Aoran mengangkat tubuh Ardella ke pundaknya, dia berjalan dengan menggendong Ardella. "Turunkan aku, apa sebenarnya salahku padamu hingga kamu selalu menggangguku." Teriak Ardella menepuk-nepuk punggung Aoran.


Keluar dari ruangan VIP, mereka berdua menjadi pusat perhatiaan. Aoran hanya berjalan dengan santai tanpa mempedulikan apapun.


Musik pesta bar membuat suara Ardella tidak kedengaran, tangannya yang memukuli punggung Aoran dan kakinya bergerak-gerak meronta-ronta terlihat sangat jelas oleh mereka yang ada di bar. Diantara banyaknya pengunjung bar, tidak ada yang berani menghentikan, mereka semua menonton dengan gaya berdiam diri.


Berada di parkiran, Aoran menuju mobilnya, membuka pintu mobil dia meleparkan Ardella kekursi mobil, kemudian beranjak masuk kedalam mobil lewat pintu sebelahnya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2