Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Membuatmu Berada Didekatku


__ADS_3

Selesai makan Ardella mencuci tangannya. Masih mengeringkan tangannya, Ardella Kembali memikirkan perkataan Rama.


Setelah dipikirkan sifatnya memang sedikit aneh, tatapanya juga sering berubah, kadang hangat, kadang dingin dan kadang terlihat mesum. Ardella membatin.


"Huh, sudahlah, kenapa harus aku pikirin, tugasku disini hanya bekerja." Gumam Ardella kembali.


Aoran yang telah kembali dari makan siang tidak mendapati Ardella didalam ruang kerjanya.


"Kemana dia." Ucap Aoran melihat kesekeliling.


"Mana saya tahu Bos, kita kan makan bareng. " Saut Parto.


Aoran menatap Parto dengan kesal dan mengerutkan dahinya.


"Akan saya cari Bos." Parto bergegas keluar saat melihat ekspresi Aoran.


Aoran merasa tidak sabar hanya dengan menunggu, dia keluar berjalan mencari keberadaan Ardella. Dilihatnya Ardella yang sedang berjalan dengan santai.


"Huh, sekarang seperti dia terlihat seperti bosnya, dan aku sekretarisnya." Ucap Aoran berbicara sendiri.


Ardella yang juga melihat Aoran berdiri. "Bos, sudah kembali." Tanya Ardella.


"Bukannya kamu harusnya tahu peraturan dasar sebagai sekretaris." Aoran menunjukkan kekesalannya.


Ardella yang berpikir dia tidak melakukan kesalahan yang pantas membuatnya dimarahi.


"Seorang sekretaris itu harusnya selalu siap menunggu Bosnya, bukan Bos yang menunggu sekretarisnya." Ucap Aoran kembali.


"Maaf Bos. Saya baru selesai makan." Ucap Ardella melihat Aoran yang melotot padanya.


"Mulai besok tanpa seizinku, kamu tidak boleh keluar dari ruanganku" Ucap Aoran.


Aoran meninggalkan Ardella dan beranjak kembali keruang kerja. Ardella dengan wajah cemberut karena diomeli oleh Aoran ikut bersama Aoran masuk ke ruang kerja.


Kembali seperti semula, Ardella tidak diberikan kerjaan.


Melirik Ardella yang sibuk memainkan pulpennya, mencoret-coret diatas kertas kosong sambil menggerutu sendiri. "Buatkan aku kopi." Ucap Aoran dengan datar.


Suara Aoran terasa menyebalkan bagi Ardella. "Baik Bos."


Tap,,, Ardella melangkah dan menuruti perintah Aoran. Menyeduhkan kopi instan untuk Aoran.


"Ini kopinya Bos." Ardella menyodorkan kopi pada Aoran.


Aoran yang melihat kopi buatan Ardella. "Ganti. Aku tidak minum kopi instan." Ucap Aoran tanpa ekspresi.


Ardella menarik nafas dengan dalam. "Baik Bos." Ucap Ardella.


Kembali membuatkan kopi.


"Bos kopinya."


"Ganti. Terlalu pahit." Ucap Aoran.


" Ganti. Terlalu manis."

__ADS_1


"Ganti. Rasanya aneh, masukkan sedikit susu kedalam kopi."


Ucapan Aoran setiap kali Ardella membawakan kopi padanya. Menguci kesabaran Ardella membuat Aoran tersenyum tipis ketika melihat wajah Ardella yang dari tadi cemberut, karena menahan kemarahan atas perlakuannya.


Ardella menahan rasa kesalnya dan kembali menyeduh kopi untuk Aoran. Bagi Ardella ini kopi terakhir, kalau masih disuruh diganti, maka Ardella berencana menyiram kopi kewajah Aoran.


"Bos kopinya, ini kopi yang ke 7." Ucap Ardella menegaskan.


Ardella masih berdiri menunggu komentar dari Aoran.


Sruppp,,, Aoran meminum kopi.


"Kenapa masih berdiri."


"Apa kopinya telah sesuai dengan selera Bos. " Tanya Ardella.


"Meski kopinya tidak terlalu enak, tapi masih bisa kuminum." Ucap Aoran.


"Kalau merasa tidak enak, kenapa bukan kamu sendiri yang membuat." Gumam Ardella masih berdiri didepan meja Aoran.


"Apa masih ada yang ingin kamu katakan, kalau tidak kembali bekerja." Ucap Aoran.


"Bekerja. Dari tadi aku tidak bekerja, hanya menyuruhku membaca buku yang tidak berguna."Gumam Ardella kesal beranjak pergi.


Sepulangnya jam kerja, Ardella langsung membereskan barang-barangnya dan langsung pulang tanpa berpamitan.


Aoran yang melihat Ardella pergi dengan terburu-buru. "Tunggu." Ucap Aoran.


Ardella berbicara ketus. " Ada apa." Tanya Ardella. Jam kantor telah usai, Ardella merasa berhak menunjukkan kekesalannya. "


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Ucap Ardella menolak.


Kali ini Aoran tidak mau kalah. "Masuk." Aoran yang membukakan pintu dan mendorong Ardella masuk kemobil, diikuti duduk disamping Ardella.


"Kamu."


Ckittt,,, Aoran menginjak gas mobil.


"Au." Suara Ardella terjedot kedepan.


"Pakai sabuk pengamannya." Ucap Aoran.


"Turunkan saja aku." Ucap Ardella berteriak tidak mendengarkan ucapan Aoran.


Mobil Aoran berhenti, Ardella berpikir Aoran menurunkannya, dia mulai ingin membuka pintu mobil.


Aoran meraih tubuh Ardella. "Diamlah jangan bergerak." Ucap Aoran mendekat pada Ardella.


Ardella yang merasa posisinya dengan Aoran terlihat aneh. "Apa yang kamu lakukan, jangan mendekat." Ucap Ardella gugup.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan." Ucap Aoran memasang sabuk pengaman.


Ardella merasa malu dengan pikirannya sendiri.


Aoran yang melihat wajah Ardella tersipu malu. "Kamu berharap aku melakukan sesuatu."Aoran yang kembali menyetir.

__ADS_1


"Tidak sama sekali, pokoknya mulai sekarang jangan dekat-dekat denganku." Suara Ardella meninggi.


Aoran yang fokus menyetir, menyalakan musik. Berada dimobil berduaan dengan alunan musik bersama Aoran membuat Ardella merasa gugup. Dari tadi dia hanya melihat kerah depan.


Sesekali melirik, Ardella melihat Aoran sangat tampan, wajah Aoran yang tidak ada kurangnya, membuat Ardella tanpa sadar terus memperhatikannya.


"Kita sudah samapai." Suara Aoran bahkan terlihat cool ditelinga Ardella.


Ardella tersadar kembali, pikirannya mulai menyangkal ketampanan Aoran.


Apa yang sedang kamu pikirkan Ardella. Robin terlihat lebih tampan daripada cowok aneh ini. Ardella membatin.


Sampai didepan rumah, Ardella merasa aneh Aoran tahu tempat tinggalnya. "Kok kamu bisa tahu aku tinggal disini. Padahal aku tidak memberitahu alamatku." Tanya Ardella.


Aoran yang selama ini telah mengawasi Ardella. "Dari CV mu." Ucap Aoran memberi alasan.


"Bagaimanapun, terima kasih telah mengantarku pulang, walau aku tidak ingin diantar pulang." Ucap Ardella kembali.


Ardella turun dari mobil. Aoran yang masih berada didalam mobil melihat Ardella masuk kedalam rumah.


Aoran melihat rumah Ardella, rumah yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan rumahnya. "Selain kamu. Aku ingin secara langsung melihat wajah busuk yang telah merengut kehidupan anakku." Ucap Aoran dengan suara serak.


"Tunggulah sebentar lagi Ardella, setelah ini aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik." Ucap Aoran.


Dalam hati Aoran untuk Ardella ada cinta dan kebencian. Antara cinta dan benci Aoran masih tidak tahu mana yang lebih besar. Ardella yang melupakannya tanpa alasan masih diselidiki oleh Aoran.


"Siapa dek." Ucap Lisa melihat sebuah mobil yang masih terparkir didepan rumah.


Ardella tidak ingin membuat kakak iparnya khwatir, dengan tidak memberitahukan tentang Aoran adalah jalan yang terbaik.


"Anasya kak." Jawab Ardella.


"Kenapa tidak disuruh masuk dulu dek." Ucap Lisa.


"Sudah kak, katanya dia ada urusan mendadak. Ucap Ardella.


"O, ya kak. Kak Batara dan Robin belum pulang." Tanya Ardella saat masuk kedalam rumah.


"Belum dek, kakakmu sepertinya sangat sibuk." Ucap Lisa.


"Biasanya jam segini kakak sudah pulang." Ucap Ardella melihat jam tangannya. "Aku main aja dulu sama keponakanku." Ucap Ardella kembali.


Ardella melihat ketiga keponakannya sedang asik bermain.


"Kalian sedang apa." Senyum Ardella lebar.


"Tante." Ucap Edward yang telah pandai bicara.


"Apa sayangku, Edward sudah pintar panggil-panggil tante." Gemes melihat Edward.


"Huekk." Erwin yang menangis cemburu melihat Edward digendong oleh Ardella.


"Erwin juga mau digendong sama tante." Ucap Ardella menurunkan Edward dan menggendong Erwin.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2