Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Berdebar


__ADS_3

"Kuantar pulang." Ucap Aoran melihat wajah Ardella memerah akibat menahan cuaca dingin.


Hawa dingin menyelimuti percakapan mereka , seketika melihat wajah Ardella yang merah, hati Aoran bergerak ingin menghangatkan tubuh Ardella dengan jaket yang dikenakannya, dia melepaskan jaketnya, kemudian memakaikannya secara perlahan kepada Ardella.


"Cuacanya sangat dingin, nanti bisa-bisa kamu kena flu." Ucap Aoran sembari memaikaikan jaketnya kepada Ardella.


Deg,,,.


Jantung Ardella berdegup kencang, semakin Aoran berbicara dengannya semakin hatinya tak karuan, selama ini Ardella hanya gadis rumahan tidak pernah dekat dengan cowok, selain bersama Robin dia tidak pernah bersama laki-laki berduan. Tapi hari ini dia menghabiskan waktu bersama dengan Aoran.


Aroma jaket yang wangi membuat Ardella merasakan aroma tubuh Aoran ada dijaket. Perjalanan kini semakin sepi ntah apa yang terjadi membuat mereka berdua hanya terdiam. Sesekali Aoran melirik wajah Ardella, semakin dilihat lebih lama, Aoran merasa ingin segera memilik Ardella, tapi dia tidak ingin memaksakan Ardella.


Sedangkan Ardella masih mempertanyakan sesuatu yang terjadi dengannya. Dia berjalan sambil menggigit kuku ibu jarinya, masih berusaha mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya.


Aoran merasa Ardella sedikit aneh. "Heii,,, kamu baik-baik saja, dari tadi hanya diam. " Tanya Aoran sembari menyentuh pipi Ardella.


Perasaan terkejut dan aneh itu semakin terasa nyata bagi Ardella. Ketika Aoran mendekatinya dia merasa gugup, sangking gugupnya, dia sulit mengucapkan kata.


"Aku baik-baik saja." Suaranya sedikit bergetar sambil melepaskan tangan Aoran dari pipinya.


Apa ada yang salah, padahal hari ini dia terlihat gembira. Suara hati Aoran.


Rasa canggung diantara mereka mulai terjadi, sedari tadi Ardella diam dan tidak bersuara, dia hanya melangkah tanpa sekalipun melihat kearah Aoran. Beda dengan Aoran yang selalu melirik Ardella, dia memberi sebuah kode bahwa dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi melihat Ardella yang hanya diam membuatnya tidak berani.


Langkah mereka sampai kehalaman rumah Ardella.


Mencoba menyadarkan Ardella yang dari tadi melamun dan hanya berjalan lurus. "Ardella. " Panggilnya lembut. "Kita sudah sampai." Ucap Aoran tersenyum.


Ardella melihat wajah Aoran begitu lama, ntah apa yang dipikirkan Ardella tapi saat melihat wajah Aoran ada satu yang ingin Ardella pastikan yaitu hatinya.


Jantungku berdetak cepat hanya karena melihat Aoran, apa aku sakit ?. Ardella membatin.


"Ahh, maaf, aku melamun. " Ucapnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hingga membuatmu melamun." Tanyanya.


"Tidak ada kak. Jaketnya." Ucap Ardella berusaha melepaskan jaket Aoran.


"Pakai saja, tidak usah dikembalikan sekarang." Ucapnya menahan tangan Ardella.


"Baiklah. Terima kasih juga untuk hari ini. " Ucapnya lembut melempar senyum.


"Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih, karena kamu bersedia menemaniku. " Sautnya membalas senyuman Ardella. "Sebaiknya sekarang kamu masuk dan beristirahat." Ucapnya kembali.


"Ok. Selamat malam kak Aoran. Semoga mimpi indah. " Ucap Ardella melambaikan tangan kecilnya.

__ADS_1


Aoran berdiri dan memperhatikan Ardella masuk kedalam rumah. "Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu Ardella. " Gumam Aoran pelan dan beranjak pergi.


Di malam hari membuat Ardella tidak bisa tidur, sesekali bayangan Aoran terlintas dipikirannya, diikuti dengan degupan jantungnya semakin cepat. Diambil hpnya gengamnya kemudian Ardella searching yang dialaminya, informasi yang dia dapat hanya satu bahwa itu tanda-tanda cinta.


Cinta, aku suka Aoran, apa mungkin. Pikirannya rasanya mengacau.


Dilemparnya hp gengamnya ke bantal, kemudiaan membaringkan tubuhnya menatap langit-langit dinding.


Mungkin besok pagi aku baik-baik saja. Ardella kembali membatin.


Berdiri beranjak mematikan lampu, Ardella memikirkan kemungkinan kenapa hatinya berdebar, jawaban yang didapatnya yaitu karena selama ini Aoran sudah menghiburnya sehingga membuat hatinya sedikit senang. Segala pikirannya dan pertanyaan muncul dikepalanya secara bersamaan dan pada akhirnya sepanjang malam Ardella tidak tidur.


***


Pagi hari.


Matahari mulai terbit, sinar matahari masuk dicelah-celah jendela, Ardella bahkan belum terbangun, dirinya masih tertidur pulas.


Akhirnya Ardella bangun kesiangan, Untuk pertama kalinya Ardella bangun kesiangan. Dia mulai melakukan aktifitasnya, dia beranjak dari kamar menuju kedapur, saat sedang memasak Ardella masih memikirkan kejadian dimalam hari bersama Aoran. Ardella merasa pikirannya kacau, karena itu dia mematikan api dan pergi meninggalkan masakannya.


Mencari solusi pada Ririn adalah satu-satunya yang dipikiran Ardella. Saat diperjalanan kebetulan bertemu dengan Ririn. "Rin, sepertinya aku sakit." Memegang tangan Ririn.


Ririn terkejut, sayur yang daritadi di pegangnya jatuh ketanah. "Sakit apa." Ririn dengan panik bertanya.


"Gk tahu Rin, dari semalam jantungku berdebar-debar terus aku gk bisa tidur, dan paling anehnya hari ini aku bangun kesiangan. " Menjelaskan keadaannya pada Ririn.


"Cowok??? . Kemarin aku hanya jalan dengan Kak Aoran. " Ucap Ardella dengan polos.


Oooo jadi itu kak Aoran yang membuat Ardella seperti ini. Ririn membatin.


"Aha!!! sekarang aku tahu kamu sakit apa. " Ucapnya dengan suara meninggi.


"Sakit apa." Tanya Ardella.


"Cinta. " Ririn tertawa terbahak-bahak melihat Ardella yang masih polos. "Kamu sedang jatuh cinta." Ucap Ririn menegaskan.


"Mana mungkin." Saut Ardella tidak percaya.


"Saat bersama kak Aoran jantung mu pasti derdetak-detak kencang, semakin dekat dengannya maka semakin cepat detakannya, saat malam tiba, kamu gk bisa tidur, bayangannya selalu muncul. " Sambil mengerakkan tangan seperti sedang berpuisi.


"Betul,,,betul,,,betul." Ucap Ardella dengan cepat menjawab perkataan Ririn.


"Sudah jelas kamu sedang jatuh cinta" Ucap Ririn yakin.


"Bagaimana cara hatiku berhenti berdegup saat memikirkan Aoran, aku bahkan sampai tidak bisa tidur." Kata Ardella panik.

__ADS_1


Ya ampun, kok bisa aku punya teman sepolos ini, giliran pelajaran matematika dan fisika dengan cepat Ardella mengerti, tapi giliran perasaan, susah banget conect. Ririn membatin.


Memikirkan cara agar Ardella bisa menyatakan perasaanya. "Yang bisa sembuhin sakit kamu itu cuman kak Aoran, jadi kamu harus jujur sama dia, biar sakitnya gak parah." Kata Ririn sambil cengir-cengir.


Bagi Ardella rasanya itu masuk akal, tidak kah dia tahu menyatakan itu berarti dia akan menyatakan cinta pada Aoran. "Kapan harus kukatakan." Tanya Ardella dengan serius.


"Gimana kalau pas festival Pesta Danau Toba, tiga hari lagi akan diadakan festival, katakan pas hari itu saja." Ucap Ririn.


"Kenapa gak sekarang aja Rin, biar lebih cepat." Saut Ardella.


"Jangan,,,!!! itu terlalu cepat, nanti kak Aoran terkejut." Ririn melarang.


Maaf ya La, biar suasanya sedikit ada bau romancenya, karena ini yang pertama bagimu maka aku akan membantu, kak Aoran juga sebenarnya suka sama kamu, tapi kamu gk sadar, oleh karena itu aku akan membantu kalian berdua. Suara hati Ririn.


"Baiklah Rin. Apa kak Aoran tahu kalau tiga hari lagi diadakan festival?." Tanya Ardella.


"Iya juga ya, kalau gitu kita ketempat kak Aoran saja." Ucapnya menarik tangan Ardella.


Ardella melihat sayur Ririn terjatuh ditanah. "Rin sayurnya gk dibawa?." Ucapnya menunjuk sayur.


"Tinggalin aja, lagian dah jatuh ketanah." Saut Ririn tidak peduli dengan sayurnya.


Ririn dan Ardella menuju penginapan Tuk-tuk view inn untuk memberikan kabar tentang festival ke Aoran.


Seorang respsionis memakai setelan hitam berdiri tepat dihadapan mereka. "Kak boleh saya tanya nomor kamar atas nama Aoran Fritsch." Tanya Ririn sopan.


Mendengar nama Aoran, Evan yang kebetulan lewat menghampiri mereka.


"Permisi,,,tadi kalian sebut nama Aoran Fritsch kebetulan saya temannya." Ucap Evan tersenyum. "Oh, kenalkan namaku Evan." Mengulurkan tangannya.


"Nama saya Ririn." Respon Ririn cepat.


"Nama saya Ardella." Membungkukkan badan.


Ternyata cewek yang selama ini diceritain Aoran dia. Wahh Kata Aoran gk salah, cewek ini memang manis banget, tapi tetap aja gak akan bisa bersama Aoran. Suara hati Evan.


"Aoran lagi keluar tadi sebentar, apa ada yang bisa kubantu. " Tanya Evan.


"Bisa minta tolong kasih tahu kak Aoran kalau tiga hari lagi ada festival disini, kami mau mengajaknya nonton bareng." Ucap Ririn.


"Baiklah, akan kusampaikan pesannya." Saut Evan.


"Terima kasih kak. kakak juga boleh ikut dengan kak Aoran kalau mau." Ucap Ririn sambil melempar senyum.


"Ok." Membalas dengan senyum.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2