Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Haruskah Kita Sudahi


__ADS_3

Didalam mobil, Aoran dan Ardella sama-sama diam, mereka tidak berkata sepatah kata. Dengan wajah cemberut dan kesal, itulah yang terpanjar di paras Ardella. Dan untuk Aoran dengan wajah lebam bekas lemparan koin dan tamparan Ardella sangat terpanjar diparasnya.


Sejenak keheningan diantara mereka memberikan ruang untuk berpikir. Keduanya melamunkan sesuatu hal. Ardella tengah bergelut dengan pikiran masalah yang menimpa keluarganya, sedangkan Aoran masih mencari alasan Ardella mengalami lupa ingatan.


Hingga tiba di penghujung jalan menuju rumah Ardella, keduanya masih dalam keadaan diam.


Sampai didepan rumah. Ardella turun dengan sehentak menutup mobil dengan keras, iyah, apa yang bisa dilakukan Aoran dengan tindakan Ardella. Melihat punggung, serta tubuh kurus Ardella saat berjalan menjauh darinya, membuatnya tidak kuasa hati melihatnya.


"Dia kehilangan banyak berat badan." Gumamnya. "Aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi ini tidak akan adil hanya karena kamu tidak ingat atau tidak tahu apapun. Aku hanya butuh penjelasan darimu."


Sebuah Penjelasan yang di butuhkan oleh Aoran sampai sekarang tidak didapatkannya. Seberapa keras Aoran ingin melupakannya, sekeras itu juga dia ingin tahu kejadian sebenarnya.


Lima tahun sudah berlalu, apa kita tidak akan bisa seperti dulu, memulai hubungan baru. Tidak sepertinya, tidak mungkin lagi kita seperti dulu, bagaikan serpihan kaca di padang pasir bertebaran tidak akan bisa disatukan kembali menjadi sebuah cermin, seperti itulah saat ini hubungan kita, dan mungkin kita tidak akan pernah bersama lagi. Kata yang cocok dengan hubungan diantara Aoran dan Ardella.


***


Keesokan harinya.


Dengan kesibukan pekerjaan, Aoranย  berada diruangan kerjanya, dia menyibukkan diri dengan urusan perusahaan. Saat ini Aoran sedang mengamati grafik perkembangan perusahaan.


Tok, tok, tok.


Parto mengetuk pintu, meski tidak ada jawaban dari Aoran, dia tetap beranjak masuk. Aoran jika fokus bekerja kadang tidak sadar suara ketukan pintu, karena itulah sudah biasa Aoran tidak menyahut Parto ketika mengetuk pintu, tetapi sangat diwajibkan siapun harus mengetuk pintu saat ingin masuk kedalam ruangannya.


"Bos... " Belum selesai bicara Parto terbelak melihat paras Aoran yang berantakan.


Sebelah pipi kanan Aoran terlihat bekas tamparan, kemudiaan disisi lainnya ada bekas memar. Tidak ada tanda kemarahan dari ekspresi Aoran. Kemungkinan hanya satu orang yang mampu membuat Aoran seperti itu, dia tidak lain adalah Ardella.


Belum sempat bertanya, Parto sudah menemukan penyebabnya, dia pun menunjukkan tawa kecil.


"Diamlah, aku tahu maksud tawamu itu." Ucap Aoran menatap Parto.


Kikikik.


Tertawa terkekeh, Parto asik meledek keadaan Aoran.


Jarang sekali kejadian seperti itu menimpa bosnya yang super dingin, dan hari ini Parto sangat terhibur dengan ekspresi yang ditunjukkan Aoran.


"Apa yang terjadi semalam bos." Tanyanya masih tertawa.


"Aku tidak ingin membicarakannya, lebih baik kamu bekerja sekarang. " Memelototi tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Ayolah Bos. Aku sangat penasaran bagaimana Ardella membuat memar diwajah tampan bos." Bujuknya cengir.


Apa yang harus diceritakan, tidak mungkin baginya menceritakan adegannya dengan Ardella. "Pergilah." Ucap Aoran ingin mlemparkan papan namanya yang terletak diatas meja.


"Aku salah." Mengangkat Kedua tangannya sebagai perlindungan diri. "Begitu saja marah." Cengir Parto lebih lebar.


Aoran bukannya ingin melempar, itu hanya semata untuk mendiamkan ocehan dari Parto. Begitu juga dengan Parto tiada segan untuknya meledek Aoran.


Kedua orang ini bisa bercanda kerena terpaut umur yang tidak beda jauh. Begitulah mereka kadang tidak seperti bos dan bawahan, sewaktu-waktu mereka bisa menjadi seorang teman.


Parto sudah menemani Aoran sekitar lima tahun menjadi sekretarisnya, awalnya dia begitu takut, bahkan menatap Aoran dengan mata langsung dia tidak berani, tapi setelah bersama lebih dari setahun, dia tahu Aoran tidak seburuk dengan ucapan orang-orang.


***


Tiga hari setelah kejadian Ardella dan Aoran di bar.


Selama tiga hari Aoran tidak pernah lagi mengunjungi bar, begitu juga dengan Ardella tidak pernah lagi melihat kedatangan Aoran. Ruangan VIP milik Aoran masih dalam keadaan berantakan, koin-koin berserakan dilantai.


"Ardella, tugasmu bersihkan ruangan itu." Ucap bos Ardella menunjukkan kearah ruangan milik Aoran.


"Baik bos." Ucap Ardella mengerti.


"Kenapa hanya Ardella yang bisa masuk kesana."


"Aku juga, sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Apa kamu tidak lihat bagaimana kemarin pria itu menggendong Ardella."


Perbincangan sesama karyawan bar ketika melihat Ardella menuju ruangan.


Semua betul adanya, perkataan para karyawan memang tidak salah. Ruangan itu hanya bisa dimasuki oleh Aoran dan Ardella. Itu sebabnya bos pemilik bar hanya bisa menyuruh Ardella untuk membersihkan ruangan milik Aoran.


Berada didalam ruangan dengan membawa kemoceng, sapu, serta pengepel. Ardella melihat ruangan masih sama saat dia terakhir kali masuk.


Koin yang berserakan mulai dijemput satu- persatu, dengan posisi jongkok Ardella memungut semua koin itu dan memasukkan ke plastik kantungan yang tidak jauh dari sudut meja. Ketika tangannya memegang satu koin, ingatan Ardella tentang kejadiaan malam itu terlintas.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada diotak bren*sek itu." Masih tidak terima perlakuan Aoran yang semena-mena. Melihat kearah dirinya, Ardella merasa malu sendiri ketika mengingat tubuhnya terlihat tanpa busana oleh Aoran.


Bagi wanita pastinya memalukan bahwa seseorang melihat bagian sensitifnya oleh pria yang tidak diinginkan, itulah yang dirasakan oleh Ardella.


***


Kunjungan Lisa di penjara.

__ADS_1


Seperti biasa dengan membawa bekal makanan Lisa mengunjungi suaminya. Kerinduan sudah lama dipendam oleh seorang istri yang lama tidak bertemu.


"Mas." Ucap Lisa tersenyum ketika telah saling berhadapan dengan suaminya.


Sekarang Lisa tidak bisa langsung datang kesel Batara. Ruang tunggu untuk seorang tamu dengan narapidana ada diruangan kecil, ditempat itu sedikit celah kaca sebagai arah suara ketika sedang berbicara.


Duduk saling berhadapan sudah ada kaca pemisah antara Lisa dan Batara, lewat kaca tersebut mereka bisa saling menatap tanpa bersentuhan. "Ardella sudah jarang datang kesini, apa dia baik-baik saja." Tanyanya dengan penuh pertanyaan.


"Ardella baik-baik saja mas. Mungkin karena sibuk bekerja dia tidak sempat datang kesini." Jawaban dari Lisa.


"Kerja? Kerja apa." Tanyanya kembali.


"..." Saat ingin merespon, Lisa menjadi bungkam sendiri. Sejujurnya dia pun tidak tahu apa pekerjaan Ardella sekarang. Karena keadaan kacau Lisa lupa bertanya, dan Ardella tidak pernah memberitahukan mengenai pekerjannya.


Mereka saling memandang, Lisa merasa tidak enak hati kerena kurang memperhatikan Ardella, sedangkan diposisi Batara merasa khawatir dengan keadaan Ardella, tetapi dia sama sekali tidak menyalahkan istrinya.


"Hari ini menu apa yang kamu bawa." Mengalihkan pembicaraan, Batara tidak melanjutkan perbincangan mengenai kerjaan Ardella.


"Oh. Aku masak kesukaan mas. Ikan bakar sama rendang." Senyumnya dengan memperlihatkan masakan yang dibuat untuk Batara.


Dengan senyum manis Batara membalas ucapan istrinya.


"Anak-anak gimana? Apa mereka tidak mencariku." Tanyanya dengan sedih.


"Mereka baik-baik saja mas. Edward dan Erwin berpikir bahwa kamu sedang bekerja ditempat lain. Tapi Aldo, aku tidak bisa berbohong dengannya, dia sekarang sudah besar dan mengerti situasi kita." Saut Lisa menjelaskan keadaan anak-anaknya.


Batara terdiam, wajah kusam, kerutan dipelipis matanya menandakan dirinya amat sedih.


"Edward dan Erwin sekarang sudah sekolah, mereka sangat aktif daripada yang dulu, kadang mereka tidak ingin sekolah. Aku dan Ardella setiap pagi harus membujuk mereka kesekolah." Dengan suara ceria, Lisa ingin menunjukkan bahwa mereka baik-baik saja.


Hiburan dari Lisa tidak cukup untuk menghilangkan perasaan sedih Batara. "Aku sangat merindukan mereka." Senyumnya berusaha terlihat Baik-baik saja.


"Aku bisa membawa Aldo untuk menginjungimu mas, setidaknya kamu sedikit bisa melepaskan rindu dengan kehadiran Aldo." Ucapnya.


"Tidak. Aku tidak ingin Aldo melihat ayahnya dipenjara dengan pakaian narapidana." Larangnya.


"Baiklah mas." Saut Lisa mengerti isi hati Batara sebagai seorang ayah.


Hati seorang ayah selalu ingin menunjukkan sisi yang baik pada anaknya, tidak ada seorang ayah yang ingin menunjukkan dirinya buruk, itulah yang saat ini dilakukan oleh Batara sebagai seorang ayah yang baik dimata anak-anaknya.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2