Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Robin yang merasa gelisah dan resah ditempat kerja karena memikirkan Ardella yang tidak pulang semalam dan berada ditempat Anasya membuat Robin tak bisa tidur, karena itu Robin berencana membawakan makan siang untuk Ardella dan ikut makan siang dikampus.


Robin dengan semangat bekerja. "Kak, hari ini aku ingin makan siang lebih dulu." Ucap Robin pada Batara.


Batara yang melihat wajah Robin serius. "Tumben, emangnya kamu mau kemana." Tanya Batara.


"Ke kampus kak, ketemu Ardella sekalian mengantar makan siang." Ucap Robin senyum.


Atas izin Batara Robin pulang terlebih dahulu, sebelum kekampus Robin menyiapkan bekal makan siang untuk dibawanya kekampus.


Kembali ke Ardella yang masih diruangan. Setelah menunggu rektor dan dekan. Tiba-tiba keputusan berubah, Ardellla tidak jadi dikeluarkan dari kampus. Rektor, dekan dan para dosen meminta maaf pada Ardella.


Ardella merasa lega karena tidak jadi dikeluarkan. Dia juga berpikir apa alasannya dia tidak jadi dikeluarkan. Keluar dari ruangan Anasya dan Nina masih terlihat menunggunya.


"Apa kata rektor." Tanya Anasya pada Ardella.


Ardella menceritakan perubahan keputusan rektor yang tidak jadi mengeluarkannya dari kampus.


"Syukurkah." Ucap Nina dan Anasya menghela nafas lega.


Ardella yang belum tahu kalau postingan berganti. "Lalu bagaimana dengan postingan itu." Tanya Ardella pada Nina dan Anasya.


Anasya mengambil ponselnya, kemudiaan memperlihatkan postingan yang telah berubah, dia juga menceritakan bahwa kakaknya membantunya menyelesaikan masalah ini.


Tringgg,,,. Tiba-tiba ponsel Anasya berbunyi, sebuah panggilan masuk dari Aoran.


Anasya yang mengangkat ponselnya.Β Β  "Hallo kak." Ucap Anasya sambil berjalan bersama Ardella dan Nina.


"Dimana." Tanya Aoran lewat seberang telpon.


"Menuju keluar gedung jurusan Kak." Jawab Anasya." Kak Aoran dimana sekarang." Tanya Anasya kembali.


"Kakak masih di gerbang kampus, rencana mau balik kekantor." Ucap Aoran berdiri didepan mobilnya.


Ardella berbisik pada Anasya. "Anasya, aku ingin bertemu dengan kakakmu dan mengucapkan terima kasih padanya karena telah membantuku." Bisik Ardella pelan.


"Oke." Jawab Anasya pelan pada Ardella yang masih tersambung dengan Aoran.


"Kak, tunggu sebentar jangan pergi dulu, temanku ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih pada kak Aoran." Ucap Anasya.


"Tidak perlu, kakak sibuk." Ucap Aoran menolak.


"Ayolah kak, sebentar aja, 10 menit juga boleh." Ucap Anasya membujuk.


Aoran yang sangat sibuk dengan pekerjaanya. "Baiklah, aku tunggu 10 menit, lewat 10 menit aku pergi." Ucap Aoran melirik jam tangannya.


"Ok Kak." Ucap Anasya.

__ADS_1


Anasya, Ardella dan Nina bergegas menuju gerbang kampus.


Anasya yang takut kakaknya pergi. "Cepat." Ucap Anasya berjalan cepat.


Ardella dan Nina mengikuti Anasya dari belakang. Langkah mereka semakin dekat dengan Aoran.


Aoran yang berdiri menunggu kedatangan Anasya dengan temannya. Aoran melihat Anasya dari kejahuan begitu juga Ardella yang semakin dekat dengan pandangannya.


"Ardella." Ucap Aoran bergumam sendiri. "Apakah aku sedang berhalusinasi." Ucap Aoran membatin.


Ardella yang semakin mendekat tersenyum tampak menyapa Aoran. "Itu kakakmu." Ucap Ardella menunjuk ke arah Aoran. "Wahhh, kakakmu tampan sekali." Ucap Ardella tawa tipis.


"Iya, tampan banget." Ucap Nina mengikuti perkataan Ardella.


Bertatap muka dengan Ardella, Aoran terdiam. Memandang Ardella yang berada dihadapannya, seakan masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Anasya yang dari tadi berbicara tidak didengar oleh Aoran, pandangannya tertuju pada wajah Ardella.


Ardella yang merasa canggung, menyapa Aoran terlebih dahulu. "Hallo kak, namaku Ardella" Ucap Ardella tersenyum.


Mendengar suara Ardella, Aoran merasa akrab, hatinya terasa sesak. Kerinduannya dengan Ardella membuatnya meneteskan air mata. "Ardella." Ucap Aoran memeluk Ardella dengan erat. "Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Aoran serak yang masih memeluk Ardella dengan erat.


Anasya dan Nina bengong melihat tingkah Aoran.


Ardella yang juga merasa bingung, mendorong tubuh Aoran dengan pelan. "Maaf, sepertinya ini pertama kali kita bertemu." Ucap Ardella yang merasa tak enak.


Aoran yang melihat Ardella, dengan mata berkaca-kaca, Aoran mendekatkan wajahnya ke hadapan Ardella. "Ini Aku Aoran Fritsch, kekasihmu." Ucap Aoran lebih mendekat kan wajahnya.


Nyuttt,,, nyuttt,,,Nyuttt.


Mendengar nama Aoran, melihat wajahnya, dan suaranya yang tampak familiar membuat kepala Ardella terasa sakit, pandangan Ardella mulai kabur.


Brukkk,,, Ardella pingsan dan terjatuh ke pelukan Aoran.


"Ardella." Ucap Aoran panik.


"Ardella." Ucap Anasya dan Nina yang berusaha menyadarkan Ardella.


Ardella yang pingsan dilarikan kerumah sakit terdekat. Ardella ditangani oleh dokter. Aoran menunggu diluar, sedangkan Anasya dan Nina mendaftarkan Ardella kebagian admistrasi.


Suara ponsel dari tas Ardella daritadi terus berbunyi diangkat oleh suster yang sedang merawat Ardella didalam ruangan pasien.


Robin yang berbicara bertanya dengan siapa dia bicara dan Ardella dimana. Suster menjelaskan bahwa Ardella berada dirumah sakit.


Mengetahui Ardella sedang dirumah sakit dia bergegas pergi.


Aoran yang masih menunggu diluar merasa khwatir dengan keadaan Ardella.


Apa maksud Ardella baru pertama kali bertemu denganku. Aoran membantin mengingat kejadiannya.

__ADS_1


Duduk dikursi tunggu Aoran melipat kedua tangannya, sesekali mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Lama banget." Ucap Aoran berdiri sambil mondar-mandir.


Dokter yang keluar dari ruangan pasien menjelaskan bahwa Ardella baik-baik saja.


Aoran masuk kedalam, dilihatnya Ardella yang terbaring. Dengan pelan dia menyelimuti Ardella, tangannya mulai menyentuh pipi Ardella.


Aku tidak bermimpi. Ini betul kamu Ardellaku. Ucap Aoran membatin.


Aoran yang masih memegang erat tangan Ardella, sesekali dia mencium tangan Ardella dan meneteska air matanya. "Ardella sadarlah, banyak hal yang ingin kukatakan padamu." Ucap Aoran mengusap air matanya. "Aku juga ingin bertemu dengan anak kita." Ucap Aoran kembali mengelus wajah Ardella.


Robin yang telah tiba dirumah sakit.


Dengan cepat Robin menuju bagian informasi rumah sakit dan bertanya apakah ada pasien atas nama Ardella Dyandi Putri. Setelah diperiksa, mereka menyebutkan nomor kamar Ardella.


Anasya dan Nina berjalan menuju kamar Ardella dirawat.


Robin yang berlari tanpa sengaja menabrak Anasya.


"Maaf." Ucap Robin.


Ketika saling melihat. "Robin." Ucap Anasya.


"Anasya." Ucap Robin kembali.


"Bagaimana kamu tahu Ardella dirawat dirumah sakit." Tanya Anasya.


Robin yang tak sempat menceritakan. "Bagaimana keadaan Ardella." Ucap Robin dengan nada khwatir.


"Dia hanya pingsan, Ardella pasti baik-baik saja." Jawab Anasya.


Mereka bertiga bersamaan menuju kekamar Ardella dirawat. Tepat berada didepan pintu, Anasya menyuruh Robin terlebih dahulu masuk, sedangkan dia dan Nina ingin membeli makanan untuk Ardella.


Ceklek,,,Robin membuka pintu.


Tap,, mulai mendekat Robin melihat seseorang berada disamping Ardella. Perlahan Robin mendekat dan berusaha melihat wajah Aoran.


Setelah Robin berada dibelakang Aoran. "Maaf." Ucap Robin menyentuh bahu Aoran.


Aoran yang merasakan sentuhan di bahunya menghadap kerah suara Robin.


Deg,,, Robin terkejut melihat Aoran. "Aoran." Ucap Robin gemetar.


Sama halnya denga Aoran yang terkejut melihat Robin. "Robin." Ucap Aoran.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2