Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Rencana Awal


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari mulai terlihat terang, Anasya yang telah berada dikamar Aoran untuk mengecek keadaan Aoran. Melihat ruangan kamar yang tampak suram, Anasya beranjak mendekat kejendela, membukakan tirai kamar Aoran, cahaya pagi masuk kedalam kamar Aoran menerangi seisi kamar membuat suasana kamar terlihat hidup. Anasya yang melihat kakaknya masih tertidur lelap tidak tega membangunkannya, dia beranjak keluar dan ikut menyiapkan sarapan pagi.


Aoran terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa sakit, ingatan Aoran kembali mengingat kejadiaan kemarin, saat menyentuh kepalanya yang terasa sakit, dia melihat tangannya telah diolesi salep dan diperban dengan rapi. Aoran beranjak dari tempat tidurnya, membersihkan diri dan berpakaian rapi. Langkah Aoran mulai turun dari tangga menuju ke meja makan, dilihatnya Anasya sudah menunggunya.


Berjalan dengan santai. "Pagi Dek." Ucap Aoran seakan tidak terjadi apa-apa.


Anasya melihat kearah Aoran. "Pagi Kak." Ucap Anasya.


Melihat kakaknya yang tampak santai. Anasya mengingat perbincangannya dengan Robin ketika dirumah sakit.


Flasback.


Ketika Anasya dan Robin berbincang di rumah sakit.


"Rob, sebenarnya apa yang terjadi saat aku pergi." Ucap Anasya bertanya.


Robin yang tidak tahu harus menjelaskan apa pada Anasya. "Aku juga tidak tahu, tapi kuharap kamu tidak bertanya apapun pada Ardella tentang masalah ini, kerena Ardella juga tidak tahu mengapa kakakmu bertingkah aneh padanya." Ucap Robin.


"Tapi Rob,, " Anasya yang belum sempat melanjutkan perkataanya.


"Jika ada yang ingin kamu tanyakan, maka bertanyalah pada kakakmu." Ucap Robin memotong pembicaraan Anasya.


Anasya terdiam membisu, sejak pembicaraannya dengan Robin, Anasya tidak bertanya ataupun mengucapkan sesuatu selama dirumah sakit. Robin yang menemani Ardella menyuruh Nina dan Anasya pulang terlebih dahulu.


Sekembalinya dari rumah sakit Anasya mencari keberadaan Aoran, menuju kamar Aoran, Anasya kaget melihat keadaan kamar berantakan dan tetesan darah di depan cermin. Dipanggilnya asisten rumah tangga untuk membereskan kamar Aoran.


Kembali mencari Aoran, Anasya memeriksa ruangan kerja, balkon lantai atas hingga ketaman, tapi masih belum menemukan Aoran. Setelah berpikir dia mengingat satu ruangan yang belum dia periksa yaitu ruangan penyimpanan minuman. Dengan langkah cepat Anasya pergi menuju keruangan penyimpanan minuman.


Setelah berada diruangan penyimpanan. "Kak Aoran." Ucap Anasya panik melihat Aoran yang tergelatak di lantai dengan tangan yang terluka.


Anasya memanggil beberapa pengawal rumah untuk mengangkat tubuh Aoran keatas lantai 2 dan menuju kamar Aoran.


Dengan luka yang masih segar ditangan Aoran, Anasya mengobati luka Aoran, mengoleskan salep dan membalutnya dengan kain perban. Aoran yang masih tertidur membuat Anasya belum sempat bertanya. Hingga malam Aoran tidak keluar dari kamarnya.


Kembali dengan Anasya dan Aoran yang berada di meja makan.

__ADS_1


"Kak masalah kemarin, Anasya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi antara kakak dengan Ardella." Ucap Anasya.


"Masalah kemarin bukan apa-apa." Ucap Aoran dengan ekspresi datar. "Kakak hanya salah mengenali orang." Ucap Aoran kembali.


"Sunggu kak." Ucap Anasya.


"Iya. Jika bertemu dengannya kakak sendiri yang akan minta maaf kerena telah membuatnya takut." Ucap Aoran memberi senyum.


Anasya yang mendengar penjelasan Aoran merasa tenang. Setelah mendengar penjelasan Aoran Anasya mengirimkan pesan.


"Ardella. Maaf atas perilaku kakakku yang kemarin tidak sopan. Aku sudah bertanya dengan kakakku katanya dia hanya salah mengenali orang . Karena itu dia sendiri yang akan minta maaf padamu. Please jangan marah." Pesan Anasya.


Ardella yang berada dirumah melihat dan membaca pesan Anasya. "Mau balas apa ya." Ucap Ardella bingung mau balas apa.


Ardella yang masih bingung mau membalas pesan Anasya. Diletakkannya ponselnya ke atas meja, Ardella pergi keluar kamar tanpa membalas pesan Anasya.


"Dek gak kuliah." Tanya Batara yang melihat Ardella masih mengenakan pakaian tidur.


"Hari ini aku tidak ada jadwal masuk kak."Ucap Ardella.


"Sebenarnya hari ini hari apa, tadi pagi juga Robin minta izin tidak masuk kerja, Ardella juga gk masuk kuliah apa mereka mau kencan?." Gumam Batara setelah Ardella pergi dari hadapannya.


Robin yang berada diruang tengah bermain dengan Edward dan Erwin.


Ardella yang mendekati Robin. "Robin kok masih disini, kak Batara mau berangkat tu." Ucap Ardella sambil duduk dan meraih tubuh Erwin kepangkuannya.


"Tadi udah minta izin sama kak Batara kalau aku gak masuk kerja." Ucap Robin tersenyum.


"Oooo." Ucap Ardella.


Robin dan Ardella yang berada dirumah memutuskan mengajak Edward dan Erwin ke taman bermain.


Ditaman bermain.


Mereka yang berjalan sambil mengandeng tangan Erwin dan Edward, berjalan berbaris kesamping membuat Ardella dan Robin seperti sepasang suami istri.


Mereka bermain dengan asik. "Erwin sini sama tante." Ucap Ardella mengarahkan tangannya pada Erwin.

__ADS_1


"Edward sini sama paman." Ucap Robin.


Robin dan Ardella membuat Erwin dan Edward berlomba untuk berlari kepelukan mereka.


"Muach, Edward menang." Ucap Robin mencium gemas melihat tingkah lucu Edward yang berlari memeluknya.


"Erwin juga menang." Ucap Ardella tersenyum menggendong keponakannya.


Melihat es krim keliling, Robin membelikkan untuk Ardella dan sikembar.


"Eskrimnya datang." Ucap Robin tersenyum manis pada sikembar.


"Makasih paman." Suara Ardella menirukan suara Erwin dan Edward.


Di kantor Alxworld.


Aoran yang menyuruh sekretarisnya Parto untuk menyelidiki kehidupan Ardella selama berada dijakarta. Mendengar perintah dari Aoran, Parto bergegas melaksanakan perintah Aoran.


Sejam ke mudian Parto datang dengan membawa beberapa dokumen serta informasi mengenai Ardella.Β  Anggota keluarga Ardella tertera didokumen yang dibawanya. Semua aktifitas Ardella selama dijakarta juga diberitahu oleh Parto. Tapi satu hal yang tidak diketahui Parto, tempat Ardella melakukan aborsi.


"Bos, informasi rumah sakit tempat Ardella aborsi tidak aku temukan." Ucap Parto.


"Hanya mencari rumah sakit tempat Ardella aborsi kamu tidak mampu." Ucap Aoran kesal melihat Parto.


"Aku sudah mencari diseluruh rumah sakit di jakarta, tapi tetap tidak menemukannya bos." Ucap Parto.


"Sial." Ucap Aoran dengan suara keras. "Sebaiknya kamu cari lebih teliti, jika perlu suruh detektif yang paling handal untuk menyelidikinya." Ucap Aoran kembali.


Aoran yang melihat data Batara sebagai wali Ardella. "Batara." Ucap Aoran melihat secara detil data Batara. "Sepertinya orang yang pertama yang harus kuhanjurkan adalah Batara." Ucap Aoran menatap foto Batara.


Alasan Aoran menargetkan Batara sebagai target pertama yaitu untuk membuat Ardella kehilangan orang yang dia sayangi, Aoran yang tahu bahwa Ardella sangat menyayangi kakaknya Batara.


"Untuk proyek pembangunan mall bulan depan, aku ingin Batara yang mengerjakannya dan bertanggung jawab atas proyek itu." Ucap Aoran setelah melihat pekerjaan Batara.


"Baik Bos." Ucap Parto.


Aoran dengan perlahan ingin menunjukkan pada Ardella akibat dari kesalahannya. Menargetkan orang yang disayanginya adalah langkah pertama Aoran untuk menyakiti Ardella.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2