
Didalam kamar, Ardella menghempaskan diri kekasurnya. Kedua matanya dipejamkan, masih syok atas apa yang menimpa dirinya. Tangisnya tidak ada henti.
Tok, tok, tok.
Lisa mengetuk dan memanggilnya dari luar kamar.
"Ardella, ayo kita sarapan dulu dek." Ucapnya. Biasanya Ardella yang tidak pernah pulang pagi membuatnya cemas.
Ardella menyeka air matanya, perlahan dia bangkit dan mendekat kearah pintu. Membuka sedikit celah pintu. "Aku belum lapar kak." Sautnya pelan.
Lewat celah pintu, Lisa menyadari kantung mata Ardella memerah, bahkan air mata Ardella belum sepenuhnya terhapus. Melirik dan memperhatikan Ardella terlihat jelas bahwa Ardella baru saja menangis.
Ardella yang tidak ingin menunjukkan diri, dia menyembunyikan bagian tubuhnya dibelakang pintu, berusaha supaya tidak terlihat oleh kakak iparnya.
"Apa kamu ada masalah dek, tidak biasanya kamu pulang pagi." Tanyanya dengan lembut.
"Tidak ada kak, aku hanya kelelahan." Jawabnya tersenyum tipis. "Aku ingin mandi, nanti aku turun." Ucapnya kembali.
"Baiklah."
Ardella beranjak dari pintu menuju kaca, melihat dirinya dikaca, dia kembali menangis sambil berjongkok, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Meminta pertanggung jawaban Aoran tidak mungkin baginya.
Ardella sendiri tidak tahu apakah lebih baik bersama Aoran melakukannya atau dengan pacar Yanti, keduanya tidak ada pilihan. Kejadiaan yang menimpanya mungkin tidak bisa dihindari.
***
Empat hari berikutnya.
Ardella tidak pergi lagi kebar, dia hanya dirumah membantu kakak iparnya. Dia takut jika kebar lagi dia akan bertemu dengan Aoran, karena itu selama empat hari dia menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah sembari menenangkan pikirannya.
Diruang tengah, Lisa dan Ardella tampak sibuk merapikan pakaian. Lisa menyetrika sedangkan Ardella membereskan pakaian dengan rapi.
Tok, tok, tok.
Seseorang datang dan mengetuk pintu.
"Dengan nona Lisa Pertiwi." Tanya seorang lelaki dengan pakaian seragam.
"Iya, betul saya sendiri." Sautnya.
"Ada surat untuk nona." Menyerahkan surat dan meminta tanda tangan sah terima, lelaki itu pergi.
Lisa membolak-balik surat, sambil berjalan dia membuka amplop surat.
"Ini." Ucapnya terkejut.
Melihat ekspresi kakak iparnya, Ardella mengambil surat yang ada ditangan Lisa.
Surat yang dibaca Lisa dan Ardella adalah surat panggilan dari pengadilan. Tiga hari lagi hukuman Batara dan Robin akan ditetapkan. Sampai sekarang tidak ada bukti bahwa Batara dan Robin tidak bersalah.
Kemungkinan hukuman atas penggelapan dana akan dijatuhi penjara selama 10 tahun minimal dan 20 tahun maksimal.
"Sebaiknya kita kekantor polisi sekarang." Lisa langsung bergegas untuk bersiap-siap.
Begitu juga dengan Ardella. Saat berada dikamar, sesuatu terlintas dipikiran Ardella.
__ADS_1
Aku tidak bisa membiarkan kak Batara dan Robin dipenjara. Batin Ardella.
Mengambil tas tentengannya, Ardella memesan taxsi lewat ponselnya. Diluar rumah lisa telah menghidupkan mobil,ย masih menunggu Ardella untuk keluar.
"Kak Lis aku menyusul nanti, ada yang harus kulakukan. " Ucapnya lewat kaca mobil.
"Tapi dek..."
"Aku tidak lama kok." Saut Ardella. Taxsi yang dipesan Ardella telah datang, dia berlari menuju taxsi dan meninggalkan Lisa.
"Pak ke alamat ini." Ucap Ardella pada supir taxsi.
"Baik Non."
Ardella menuju ke perusahaan Aoran.
Tiba disana Ardella langsung masuk dan menuju lift. Kedatangan Ardella seakan sudah diketahui oleh Aoran sendiri. Aoran seakan menununggu dengan santai diruangannya.
Brakkk.
Ardella masuk dan membanting pintu dengan keras. Melemparkan tas tentengannya kearah Aoran.
"Kamu benar-benar mengerikan." Dengan suara terseret Ardella meretakkan giginya.
Dalam posisi duduk Aoran hanya melihat dan tersenyum.
Aoran berdiri, berjalan menuju kearah Ardella. "Perbaiki kebiasaanmu, disini kamu tidak bisa seenaknya, hanya karena aku diam bukan berarti kamu orang penting bagiku." Aoran meremas erat kedua belahan pipi Ardella.
Bukan hanya sekali Aoran merasakan lemparan dari Ardella, setiap kali marah Ardella selalu melemparnya dengan barang yang ada disekitarnya.
Ardella menepis tangan Aoran. Dia berjalan melewati Aoran menuju jendela diruangan itu.
"Menurutmu jika aku terjun dari arah sini, apa yang akan terjadi denganmu." Ucap Ardella dengan nada datar dan tanpa ekspresi.
"Ardella jangan main-main." Suara Aoran mulai terdengar panik.
Ardella mulai lebih mendekat kerah jendela. "Ini akan menjadi berita yang sangat menarik, seorang wanita jatuh dari ruangan tuan Aoran Fritsch pengusaha ternama." Tersenyum.
Aoran berjalan mendekati Ardella. Bukan ini yang kuinginkan. Tidak bisakah kamu bertanya apa yang terjadi padaku, kenapa kamu selalu mengacuhkanku. Apa aku sangat tidak berarti sehingga kamu dengan mudahnya melupakanku. Pikir Aoran melihat Ardella.
"Jangan mendekat, kalau tidak aku akan terjun sekarang." Sedikit lebih dekat kearah jendela. Ardella menaikkan kakinya sebelah.
"Apa yang kamu inginkan." Aoran terhenti dengan langkahnya.
"lepaskan kakakku dan Robin." Ucapnya.
Aoran sudah tahu pasti apa yang diinginkan oleh Aoran.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat. "Sautnya menerima permintaan Ardella.
Apa lagi yang diinginkan lelaki iblis ini. Pikirnya mengutuk Aoran dalam hati.
"Katakan."
"Malam ini puaskan aku." Ucap Aoran.
__ADS_1
Apa lagi yang harus aku lindungi, aku dan dia sudah pernah melakukannya, jika hanya itu aku akan menganggap ini semua mimpi buruk. Biarkan aku hanjur sendiri aku tidak mau masa depan keponakanku, kakak ipar, kak Batara dan Robin ikut hanjur bersamaku.
"Ok. Tapi aku juga punya syarat." Ucap Ardella.
"Syarat?. "
"Aku ingin kamu menjauh dari keluargaku, jangan pernah muncul dihadapanku." Ucap Ardella.
"Ardella apa kamu yakin?ย Bagaimana jika aku tidak mau."
"Jika kamu tidak mau, aku akan memilih untuk jatuh dari sini." Ardella mulai mengangkat sebelah kakinya.
Aoran mengusap-usap keningnya. Pusing memikirkan tindakan Ardella. "Baiklah, sekarang menjauh dari sana." Ucap Aoran dengan lembut mengulurkan tangannya.
"Aku belum percaya denganmu, sekarang cabut tuntutanmu." Ucap Ardella masih ragu dengan Aoran.
Mengeluarkan ponselnya, Aoran memerintahkan Parto untuk mencabut tuntutannya.
"Sekarang kamu percaya." Tanyanya.
Ardella mulai berjalan menjauh dari arah jendela, tatapan mereka bertemu. Tetapi tidak ada suara diantara mereka.
***
Kantor polisi.
Parto dan ahli hukum Aoran datang kekantor polisi dan mencabut tuntutannya. Lisa, Batara dan Robin yang sempat khawatir tiba-tiba heran ketika pihak polisi membebaskan mereka.
"Kak, kenapa Aoran tiba-tiba mencabut tuntutannya." Ucap Robin heran atas kebebasannya.
"Ardella mana Lis." Batara yakin pasti ini semua ada hubungannya dengan Ardella.
"Katanya dia ada urusan mas, sebentar lagi mungkin dia akan datang." Jawab Lisa.
Batara dan Robin dibebaskan dari sel. Mereka tidak lagi memkai baju narapidana. Ketika bebas dari penjara, mereka sempat bertanya alasan kebebasan mereka secara detail. Hanya satu kalimat dari petugas polisi yaitu Aoran mencabut tuntutannya.
Haruskah senang atas kebebasan ini. Bagi mereka semua ini sangat membingungkan bagi Batara, Lisa dan Robin. Mereka bertiga berjalan meninggalkan kantor polisi.
Berada diluar mereka bertemu dengan Parto.
"Tuan Batara." Sapa Parto ramah.
"Kamu siapa." Tanya Batara.
"Saya sekretaris bos Aoran." Jawabnya.
Mendengar kata sekretaris Aoran, wajah mereka berubah menjadi tidak senang.
"Saya ingin bertanya sesuatu hal.ย Masalah bos Aoran dan Ardella..."
"Jangan bertanya aku tidak akan menjawab." Batara langsung memotong ucapan Parto.
Batara, Lisa dan Robin langsung pergi meninggalkan Parto.
Parto yang masih berdiri melihat dari kejahuan. "Aku yakin pasti ada sesuatu." Gumamnya ketika Parto melihat postur tubuh mereka dari belakang.
__ADS_1
๐๐๐
Bersambung