Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Aku Tidak Mau Diam Atas Sikapmu


__ADS_3

Di tengah perjalanan menuju pulang. Aoran menyetir dengan cepat. Sepanjang jalan Aoran hanya memikirkan Ardella yang dibencinya.


Ckitt.


Tiba dirumah Aoran langsung melangkah masuk kedalam rumah.


"Kak Aoran." Panggil Anasya dari bawah tangga. Kebetulan Anasya yang belum tidur melihat Aoran melangkah dengan terburu-buru naik keatas lantai dua.


Mendengar panggilan Anasya Aoran berbalik. "Kenapa belum tidur jam segini." Aoran melirik jam tangannya.


"Aku terbangun karena haus kak." Anasya mendekat kearah Aoran. "Kak Aoran bau alkohol." Mencium bau alkohol, Anasya menutup hidungnya.


"Kembali lah tidur, kakak ingin istirahat juga." Ucap Aoran tanpa melanjutkan pembicaraan lagi.


"Iya kak." Saut Anasya dengan lembut.


Aoran masih dalam suasana hati marah, dia melemparkan dirinya keatas tempat tidur. Dengan posisi tengkurap Aoran terbaring diatas kasur. "Ardella aku lelah, aku ingin berhenti. " Gumamnya.


Sangat melelahkan untuk membenci orang yang kita pernah cintai, seandainya bisa memilih Aoran lebih baik tidak ingin dipertemukan kembali, dia ingin memilih mengenang Ardella yang dulu, Ardella yang dia cintai saat dipulau.


Disisi lain Ardella yang juga saat ini telah berada dikamarnya.


Prilaku Aoran menjadikan Ardella bingung. Melelahkan bagi Ardella untuk menghadapi tempramental Aoran yang buruk dan sikap berubah-ubah. "Lupakan. Sadarlah Ardella." Mengingat Aoran didalam benaknya membuat Ardella tidak bisa memejamkan matanya.


Dia kembali bangkit, menyalakan lampu kamarnya, Ardella mencari buku diarynya. "Kenapa aku sama sekali tidak mengingat masa-masa sekolahku dulu." Ardella memperhatikan buku diarynya.


Mempunyai kebiasaan menuliskan isi hatinya di buku diary, Ardella berusaha mencari catatan kesehariannya yang lama. Kemungkinan besar ada sesuatu yang bisa dia temukan tentang ingatannya. Buku diary yang dianggapnya ada tidak ditemukan.


"Aku sangat ingin mengingat apa yang telah kulupakan." Ardella menyerah mencari buku diary. Dia kembali berbaring diatas kasurnya.


Malam yang panjang Ardella masih belum bisa tidur. Malas memikirkan apa yang terjadi di bar Ardella kembali bangkit, berjalan menuju kekamar Robin.


Masuk kedalam kamar Robin. Ardella mengingat tawa Robin, perhatian Robin sangat dirindukan oleh Ardella.


"Aku merindukanmu." Ucapnya didalam kamar Robin.


***


Hari berikutnya.


Perusahaan Alxworld.


Aoran sangat sibuk bekerja, banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan hari ini. Sepuluh jarinya dari tadi menari-nari diatas keyboard laptopnya. Mengenakan kaca mata kerjanya Aoran fokus kelayar laptopnya tanpa berkedip.


Kedatangan Parto tidak disadari oleh Aoran. Ada sesuatu hal penting yang harus dilaporkan oleh Parto, dengan tenang dia mulai angkat suara. "Bos, makan malam dengan seluruh pemegang saham sekitar jam 18.30 wib." Laporan jadwal harian Aoran dari Parto.


"Ok. " Tanpa melirik Parto.


"Perkembangan proyek untuk bulan lalu akan dibahas setelah selesai makan malam bos." Ucap Parto mengingatkan.


"Siapkan dokumen yang dibutuhkan." Saut Aoran berhenti mengetik, dia mengambil dokumen diatas mejanya. Membuka lembaran dokumen Aoran serius membaca isi dokumen.


"Siap Bos." Parto menjalankan tugasnya.


Seperti yang tertera di jadwal, saat ini Aoran yang ditemani oleh Parto berangkat menuju restoran yang telah ditentukan sebagai tempat pertemuan.


***


Restoran.


Aoran yang saat ini menghadiri makan malam dengan para pemegang saham perusahaan. Tujuan pertemuan ini untuk mempererat hubungan seorang CEO dengan pemegang saham, setidaknya dalam setahun sekali diadakan makan malam bersama.

__ADS_1


Semua orang tampak berkumpul, kedatangan Aoran menjadi pusat perhatian. Tak dapat dipungkiri bahwa Aoran selalu menjadi bintang ditengah para pembisnis. Kemampuan Aoran dalam menjalankan bisnis menjadi perbincangan yang hangat dan tidak ada hentinya didunia para pembisnis.


Dengan ramah dan sopan mereka memberi rasa hormat yang tinggi terhadap Aoran.


"Selamat datang tuan Fritsch." Ucap mereka mempersilahkan Aoran untuk duduk.


Satu persatu yang hadir memesan hidangan makan malam. Selang beberapa menit hidangan makanan sudah tersedia diatas meja.


Memulai makan malam, suasana pertemuannya sangat bising ditelinga Aoran. Mereka semua menunjukkan kemampuan masing-masing untuk menarik perhatiaan Aoran.


Setiap pemegang saham juga memiliki perusahaan sendiri, ada yang perusahaan menengah, rendah dan tinggi. Dengan ini mereka berusaha menjilat Aoran dengan perkataan manis dimulut mereka.


Perbincangan mengenai proyek perusahaan dimulai, Aoran berbicara dengan serius. Topik hanya mengarah pada masalah perkembangan proyek dan keuntungan yang didapatkan, selain pembahasan itu Aoran tidak merespon ucapan apapun.


Sekitar pukul 9.45 wib malam.


Aoran melihat jam di ponselnya. Tidak lama kemudiaan Aoran mengakhiri pertemuan.


Aoran yang saat ini ingin pergi ke bar lagi. "Sepertinya aku harus kembali lebih dulu." Ucapnya berdiri sambil merapikan jasnya.


"Baik tuan Fritsch." Ucap mereka tidak berani menahan Aoran lebih lama.


Diluar restoran Aoran diikuti oleh Parto dari belakang. Ketika Parto membukakan pintu untuk Aoran. Sepatah kata terlontar dari mulut Aoran.


"Sebaiknya kamu pulang, biarkan aku sendiri yang menyetir." Aoran meminta kunci mobilnya kepada Parto.


"Baik Bos." Ucap Parto.


Brumm.


Aoran bergegas menuju bar. Sibuk melirik jam tangannya Aoran takut Ardella telah pulang.


***


15 menit lagi saatnya Ardella pulang.


"Ar, apa hari ini cowok itu tidak datang." Tanya pelayan teman Ardella bekerja di bar.


"Mana saya tahu." Saut Ardella tersenyum saja.


Untunglah hari ini Aoran resek itu tidak datang. Kalau saja dia datang aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Ardella membatin.


Baru saja memikirkan Aoran. Ardella sudah melihat kedatangan Aoran dari jarak jauh. Tidak sulit untuk menemukan sosok Aoran ditengah keramaian bar. Tubuh Aoran yang tinggi, wajah tampannya selalu menjadi pusat perhatiaan.


Mendekati Ardella, perintah Aoran langsung terlontar dengan cepat. "Bawakan aku sebotol anggur." Ucap Aoran kemudian langsung menuju keruang VIP miliknya.


Ardella belum sempat berbicara bahwa jam kerjanya hampir selesai tapi Aoran sudah pergi, dalam keadaan terpaksa Ardella membawakan Aoran sebotol wine.


"Ar, cepat bawakan." Teman sesama pelayan menyenggol Ardella dengan pelan.


"Ok."


Ardella mengambil sebotol anggur di dalam rak, menuju lagi keruang VIP Aoran, Ardella merasa bosan dengan perlakuan Aoran. Berapa kali lagi dia harus bersikap manis. Batin Ardella sambil berjalan.


Seperti biasa Aoran selalu duduk disofa deret panjang yang ada didalam ruangan. Kaki terlipat, tangannya terentang di sandaran sofa, serta tatapannya mengadah keatas langit-langit. Posisi Aoran menunggu kedatangan Ardella.


"Tuan minumannya." Ardella berbicara lembut saat dia meletakkan botol wine.


Aoran masih tidak berbicara, dia sejenak menutup matanya untuk sesaat.


"Maaf tuan sepertinya malam ini saya tidak bisa menuangkan minuman untukmu." Ucap Ardella dengan pelan. Masih tidak ada respon dari Aoran. "Kalau begitu saya pamit untuk pergi. " Ardella menahan nafas agar tidak marah.

__ADS_1


"Tunggu." Seru Aoran kembali keposisi normal.


Kebiasaan buruk Aoran membayar tip pada Ardella. Lagi-lagi Aoran melemparkan uang kearah Ardella. Mengangkat alis menjulang keatas, Aoran seperti merendahkah Ardella yang tengah jongkok memunguti uang dilantai.


"Sudah kuduga akan terjadi lagi." Ucap Ardella memungut uang Aoran yang berserakan dilantai.


"Terima kasih tuan." Ucap Ardella menggenggam erat uang yang ada ditangannya.


Aoran tidak bersuara.


Ardella keluar dengan cepat, dia berjalan dengan cepat menuju ke loker penyimpanan barang untuk karyawan.


Dengan segera dia mengambil tasnya, Ardella mengeluarkan kantung plastik berwarna hitam yang terisi penuh dengan uang koin. Sebelumnya Ardella telah mengumpulkan berapa banyak Aoran telah memberikannya uang, karena itu Ardella menukarkan uang kertas kebentuk uang koin.


Kali ini Ardella tidak ingin diam saja menerima sikap Aoran. Ntah apa maksud dari uang koin yang sedang dipegangnya, tapi yang pasti bukan sesuatu yang baik.


Ceklek.


Ardella kembali masuk kedalam ruangan.


Aoran yang masih berada diruangan melihat Ardella memegang kantung plastik, senyum tipis dari Ardella terlihat aneh dimata Aoran.


"Sebagai tanda terima kasihku kerena selama ini membayarku, maka aku akan melakukan hal sama untuk tuan, hadiahku memang tidak sebanding, tapi aku tulus memberinya." Ardella memegang segenggam uang koin.


Trenggg. treng, treng.


Ardella melemparkan koin kewajah Aoran.


Trengg, trong, trong.


Ardella melemparkan lebih dari sekali.


"Ah, sakit." Saut Aoran merasa sakit karena dilempari dengan koin. "Ardella apa yang kamu lakukan." Melindungi diri dengan lengannya menutupi wajahnya.


"Bukankah menyenangkan melemparkan uang kewajah orang." Dengan lemparan kuat Ardella tidak berhenti.


Akibat dari lemparan uang koin, wajah Aoran memar di bagian kening, hampir setengah muka Aoran menjadi memar. "Hentikan sebelum aku marah." Aoran berdiri berusaha menghindari lemparan Ardella.


"Pergilah keneraka bersama uangmu. " Ucap Ardella mengambil koin didalam kantungan.


Berjalan terhuyung-huyung, Aoran memegang tanganย  kanan Ardella, menghentikan aktifitas tangan Ardella agar tidak melempar uang koin ke arahnya.


"Lepaskan." Menghempaskan tangan Aoran. Ketika ingin mengambil koin didalam kantungan, Ardella tidak mendapatinya lagi, koinnya habis, semua koin telah habis berserakan di lantai.


Plekkk.


Ardella melemparkan plastik kantungan kewajah Aoran. Dia pun bergegas melarikan diri dengan cepat berlari kearah pintu.


"Kamu mau kemana." Aoran menghambat jalan Ardella.


"Aoran minggir." Ucapnya berjalan mundur ketika Aoran berjalan maju mendekati.


Aoran mengangakat tubuh Ardella kepundaknya. "Aoran turunkan aku." Dengan meronta-ronta Ardella berteriak keras.


Bammm.


Aoran melemparkan tubuh Ardella di atas sofa, setelah itu Aoran menindih Ardella.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2