Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Menjadi Teman


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti biasa setiap pagi Aoran tidak lupa jogging, meski sibuk dia selalu menyempatkan diri menjaga kebugaran tubuhnya. Selesai mandi Aoran yang masih melihat Evan tertidur, dia beranjak ke balkon melihat kearah danau.


Aoran berdiri, mengingat hari-harinya selama dijerman. Hari dimana dia ingin melarikan diri, hari dimana dia kehilangan seseorang yang dia sayangi. Hati Aoran merasa sesak, keheningan dan hembusan angin membuatnya meneteskan air mata. Rasa kesepian dihatinya membuatnya tidak punya tujuan, kekosongan dan kehampaan hatinya telah lama tertanam dalam hatinya.


Saat dia bertemu dengan Ardella dan menghabiskan waktu dengannya membuat hati Aoran mulai terisi dari kehampaan. Perasaanya saat melihat Ardella, gadis lemah pekerja keras dan semangat menjalani hidupnya membuat Aoran merasakan Ardella memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya. Hatinya bergetar untuk Ardella. Di mata Ardella terpanjarkan kejujuran, dengan wajah seindah rembulan serta sifatnya yang tidak mudah ditebak membuat Aoran harus berusaha keras mengerti isi hati Ardella.


Aoran kembali mengingat bahwa hari ini, dia masih harus mengikuti Ardella ke perkebunan. Dia beranjak masuk, ketika mengambil baju gantinya, dia melihat ada snack diatas meja. Mengingat tubuh Ardella sedikit kurus, tanpa berpikir panjang Aoran mencari tas kantungan, dengan cepat dia memasukkan snack kedalam.


"Sisain satu biar Evan gk curiga." Pikir Aoran ragu mengambil semua snack Evan. "Ah, lebih baik ambil semua." Keputusan Aoran setelah berpikir.


Evan baru bangun melihat Aoran sudah ingin melangkah keluar dari kamar.


"Fritsch, hari ini juga masih kerja kekebun. " Tanyanya.


"Iya." Saut Aoran.


Evan beranjak dari tempat tidurnya, perasaannya sedikit ada yang hilang ketika melihat meja kosong.


Evan mengingat snacknya yang baru dibelinya. "Fritsch, lu liat gk snack gue." Tanyanya mencari-cari disekitar meja, hingga kekolong meja.


"Gk, mungkin sudah habis lu makan." Saut Aoran.


"Gue yakin kemarin snacknya masih diatas meja." Ucapnya melihat kerah Aoran.


Aoran yang masih berdiri didekat pintu Berusaha menyembunyikan kantungan tasnya dibelakangnya.


Melihat Aoran memegang tas kantungan. " Apa yang lu sembunyiin dibelakang." Penasaran dengan dibelakang Aoran, dia mendekat dengan mengeritkan matanya. "Jangan-jangan itu snack gue." Evan melihat snacknya.


Perlahan salah satu tangan Aoran membuka pintu. "Mmm, lari." Seru Aoran lari keluar.


Masih kurang dengan snacknya Evan, Aoran masih membeli beberapa makanan di restoran dekat penginapan


Menunggu Ardella di persimpangan jalan, Aoran tampak senang. Ardella dan Ririn yang terlihat dari kejahuan.


"Kak Aoran." Seru Ririn masih dalam jarak jauh.


"Pagi." Senyum lebar dari wajah Aoran.


"Pagi." Saut Ardella dan Ririn.


"Kalian sudah sarapan?. Aku membawa beberapa makanan." Kata Aoran menunjukkan.


"Wahhh, kebetulan sekali, Ardella katanya belum sarapan tadi pagi." Saut Ririn.


"Kita sarapan aja dulu, baru berangkat." Kata Aoran mencari tempat duduk untuk sarapan. "Bagaimana kalau kita duduk disana." Tanyanya ketika melihat pohon rindang.


"Ok." Saut Ririn dan Arddlla bersamaan.


Begitulah setiap hari Aoran memperlakukan Ardella. Setiap hari menempel didekat Ardella.


"Kamu suka apa. Warna kesukanmu apa. Hal apa yang kamu benci. Kenapa kamu selalu mengacuhkanku. Apa aku terlihat jelek. Tolonglah lihat aku sebentar. Tidakkah aku tampan. Kamu sangat cantik. Aku suka dekat denganmu." Pernyataan dan pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh Aoran.


"Ardella,,,Ardella,,,Ardella." Ucapnya setiap hari Aoran Mengikuti Ardella.


***


Ditepi danau.


"Ardella." Panggil Aoran dari kejahuan.


"Apa kamu tidak lelah, setiap hari mengikutiku." Tanya Ardella merasa aneh melihat tingkah Aoran.

__ADS_1


"Melihat wajahmu rasa lelahnya hilang." Saut Aoran menggoda dengan meletakkan tangan Ardella dihatinya.


Ardella bahkan tidak tahu harus menanggapi ucapan Aoran. Berada ditepian, Aoran dan Ardella berdiri melihat kearah danau.


Aoran merasakan Ardella sedang sedih, mata Ardella terlihat berkaca-kaca, ingin rasanya Aoran mengetahui apa yang dipikirkan Ardella.


"Ardella, bisakah aku menjadi temanmu." Tanya Aoran.


"Teman.? " Sautnya melihat kearah Aoran.


"Iya, teman. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku, tapi aku tulus ingin lebih dekat denganmu, walaupun hanya sebagai teman, aku merasa senang." Ucap Aoran.


"Kupikir kamu akan segera pergi, karena itu selama ini aku menjaga jarak denganmu. Sejujurnya aku takut kamu akan pergi setelah aku nyaman didekatmu, selain Ririn dan Robin aku tidak punya teman." Saut Ardella dengan suara bergetar.


"Sekarang sudah zaman modern, kalaupun aku pergi, kita masih bisa berbicara lewat ponsel, bahkan bertatap wajah pun bisa." Ucap Aoran tersenyum.


"Kamu betul. Aku tidak pernah berpikir seperti itu." Seketika ingatan Ardella kembali pada Batara yang telah lama tidak daang.


"Huhuhu." Ardella secara tiba -tiba menangis.


"Ardella, Kenapa kamu menangis, jika tidak ingin menjadi temanku juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa. " Saut Aoran bingung melihat Ardella menangis.


"Bukan begitu. Bagaimana kalau kamu melupakanku ketika kamu pergi darisini. Aku tidak mau menunggu atau kehilangan lagi." Ardella merasa takut Aoran akan menjadi seseorang yang berarti baginya.


Aoran merasa terharu sekaligus lucu dengan ucapan Ardella. "Aku janji selamanya akan mengingatmu, jika perlu kita bisa mengucapkan janji di hadapan luasnya danau, kalau aku Aoran Fritsch selamanya akan mengingat Ardella Dyandi Putri." Mengangkat tangan kananya.


Ardella dengan wajah tersenyum. "Aku ingin membuat janji kelingking, bahwa ketika kamu pergi, kamu harus memberi kabar." Saut Ardella mengaitkan tangannya pada Aoran.


"Ok. Janji kelingking" Ucap Aoran tersenyum lebar.


Semenjak hari itu Ardella dan Aoran menjadi teman.


***


Aoran dan Ardella hampir bersama sepanjang hari. Meski hubungan mereka sekarang lebih dekat sebagai teman, tetap saja Ardella masih suka mengomel pada Aoran yang selalu menempel ketika bertemu dengannya.


"Ardella cantik, hari ini kita kerja di kebun mana." Mencubit pipi Ardella.


"Sakit tahu, sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu, cukup panggil Ardella. " Memegang pipinya.


Ardella yang masih terkadang memangilnya dengan sebutan Aoran. "Terus kamu gimana, masih panggil aku dengan sebutan Aoran, kenapa gk ditambah kata Kak." Ucapnya pada Ardella.


"Gak mau." Saut Ardella tanpa berpikir panjang.


"Padahal aku lebih tua darimu. " Memasang wajah sedih.


"Aku masih belum terbiasa manggil orang lain dengan sebutan Kakak, selama ini hanya Kak Batara yang ku sebut dengan kakak." Penjelasan Ardella merasa tak enak hati.


"Ya udah gk apa, aku akan berusaha membuat kamu memanggilku sebutan Kakak . " Senyum ceria Aoran tidak mau memaksa Ardella.


"Thanks. " Ardella tersenyum.


"Apa aku boleh tau sebenarnya Batara itu siapa?." Tanyanya penasaran. "Aku dengar dari Ririn kamu selalu menunggunya dipelabuhan. Memangnya dia kemana." Ucap Aoran dengan santai.


Ekspresi Ardella terlihat sedih ketika menyangkut masalah Batara. Di matanya terlihat kesedihan. Aoran merasa sedikit bersalah karena membahas Batara.


Kelihatan Ardella sangat sedih, apa pertanyaanku salah. Suara hati Aoran.


"Udahlah kamu lupakan aja ucapanku tadi. " Dengan cepat Aoran ingin mengalihkan pembicaraan.


Ardella juga mulai mengalihkan pembicaraan.


"Kamu berasal darimana. " Tanyanya asalan.

__ADS_1


" Aku berasal dari jakarta, campuran indo-Jerman."


"Wahhh,,, darah campuran dong, bagaimana dengan keluargamu " Melihat ke arah Aoran.


"Ibuku orang indonesia dan Ayahku orang jerman, aku juga punya adik perempuan."


"Kamu pasti senang dirumah, karena orangtua kamu masih utuh. " Ucap Ardella.


Aoranpun enggan menceritakan tentang keluarganya.


"Sebenarnya kita mau kemana?. " Tanya Aoran.


"Ketempat Ririn. "


Banyak perbincangan antara Ardella dan Aoran tapi sepertinya mereka masih belum terbuka satu-sama lain.


"Tumben kalian datang bersamaan. " Tanya Robin.


"Tadi kami nggak sengaja ketemu di persimpangan." Kata Aoran.


"Kamu ngapain disini Rob?." Tanya Ardella melihat Robin.


"Cuman main-main aja, sebenarnya tadi kami mau kerumah kamu." Ucap Robin.


Didepan rumah Ririn mereka bertiga berbincang-bincang. Ririn yang mendengar suara mereka keluar dari rumah.


"Kalian bertiga lagi cerita apa?." Tanya Ririn yang baru keluar dari rumah.


"Gk ada, Cuman berbincang-bincang doang . " Jawab Robin seadanya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan kemuseum." Saran Ririn.


Mereka bertiga setuju dan akhirnya pergi jalan-jalan ke museum. Di museum barang antik yang dapat dilihat, ada juga pameran lukisan.


Aoran yang sejenak diam melihat sebuah lukisan, menurutnya lukisan itu memberikan sebuah arti tersendiri baginya.


"Kamu suka lukisannya?." Tanya Ardella sambil ikut memperhatikan lukisan.


"Iya."


Lukisan yang mereka lihat berjudul Pulauku, Desaku. Ardella dan Aoran hanyut dalam lukisan. Mereka berdiam dihadapan lukisan.


"Woii,,, kalian ini ngapain dari tadi disini. " Ucap Robin.


"Lihat lukisannya, bagus walau sederhana tapi seperti ada yang ingin disampaikan." Jemari Aoran menyentuh setiap sudut lukisan.


"Memangnya kamu gk pernah lihat lukisan seperti itu."


"Tidak,,,ini yang pertama kali. "


"Bagaimana kalau aku melukismu didepan lukisan ini, sebagai kenang-kenangan."


"Memangnya lu bisa melukis?. " Kata Aoran melihat kearah Robin.


"Aku memang gk pandai dalam hal belajar, tapi kalau masalah gambar aku lumayan bagus kok. " Penuh percaya diri.


"Robin memang paling bisa menggambar, gambarnya bagus." Kata Ardella yang sudah lama mengenal Robin.


Robin membeli sebuah kertas lukis dan pensil diluar museum, Tadinya hanya ingin menggambar Aoran saja. Tapi Aoran meminta Ardella dan Ririn ikut dilukis oleh Robin.


Robin mulai melukis mereka dengan background lukisan dimeseum. Bagi mereka mungkin kenangan ini hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Lukisannya telah selesai dibuat Robin. Robin menunjukkan hasil lukisannya kepada mereka. Aoran yang melihatnya memuji Robin.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2