
Hari demi hari telah berlalu. Hari kemarin bukanlah hari kita lagi melainkan hari ini, setiap hari yang kita jalani selalu berbeda. Berjalannya waktu tidak terasa Ardella harus menjalani magang.
Di perpustakaan.
Ardella yang letih lesuh menuju mendekat pada Anasya dan Nina yang sedang membaca jurnal.
"Aku ditolak lagi." Ucap Ardella lesuh bertelengkuk diatas meja.
"Serius. Ditolak lagi." Ucap Anasya.
"Ardella yang sabar ya." Ucap Nina. "Coba deh cari perusahaan yang lain." Menyemangati Ardella.
"Tapi kok bisa ya, lamaran kamu ditolak terus." Ucap Anasaya. "Aku dan Nina langsung diterima saat pertama kali mengajukan surat lamaran magang, kenapa kamu sampai sekarang masih ditolak, kalau dipikirkan kualifikasi kamu cukup mantap. Salahnya dimana." Ucap Anasya sambil berpikir.
"Gk tahu ne, kepalaku mumet, waktunya tinggal seminggu lagi." Ucap Ardella kembali.
Ardella yang harus menjalani magang melamar ke setiap perusahaan, tapi dari semua lamarannya Ardella ditolak, bahkan tidak sampai sehari Ardella mengajukan lamaran tapi sudah ditolak.
Sebelumnya Anasya, Ardella dan Nina melamar diperusahaan yang sama, tapi hanya Ardella yang ditolak tanpa ada keterangan, karena itulah Ardella masih berusaha mencari perusahaan lain, tapi hasilnya nihil.
Anasya yang melihat Ardella tidak bersemangat. "Kalau Ardella mau, kamu bisa magang diperusahaan kakakku." Ucap Anasya senyum.
Ardella memikirkan Aoran yang telah menciumnya membuatnya tidak ingin bertemu lagi dengan Aoran. "Gk deh, aku cari perusaahaan yang lain, gk enak masuk karena ada orang dalem, aku ingin diterima karena kualifikasiku. " Ucap Ardella menjelaskan.
Aku berhara tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki mesum itu. Ardella membatin.
Doenggg,,,takdir berkata lain.
Ardella yang saat ini berdiri diruangan kerja Aoran. Dilihatnya ruangan yang begitu mewah, dimeja Aoran yang bertuliskan CEO AORAN FRITSCH.
Tap,,, tap,,, tap suara langkah masuk.
Aoran masuk dengan diikuti Parto dari belakang, dilihatnya Ardella berdiri didekat mejanya.
Aoran yang pura-pura tidak mengenal Ardella dan tidak pernah terjadi apa-apa. "Apa dia sekretaris baruku." Tanya Aoran pada Parto.
"Iya Bos." Jawab Parto. "Kamu ngapain masih berdiri disana. Cepat perkenalkan dirimu." Ucap Parto memeloti Ardella.
"Ah. Baik." Ucap Ardella kaku. "Nama saya Ardella." Perkenalan singkat.
Aoran memasang wajah dingin. "Untuk menjadi sekretarisku sangat sulit, untuk itu kamu harus belajar dengan Parto terlebih dulu." Melihat kearah Ardella yang serius mendengarkannya. "Parto sebaiknya kamu ajari dia." Ucap Aoran kembali.
"Siap Bos." Senyum Parto. "Kamu ikut aku." Ucap Parto kembali.
Parto mengajak Ardella ke meja kerjanya. "Ini, sebaiknya kamu baca dan pelajari." Ucap Parto memberikan buku tebal.
__ADS_1
Ardella yang melihat buku itu, dibacanya judul halaman utuma buku. "Sejuta Cara Menyenangkan Hati CEO. Tertanda tangan Aoran Fritsch" Ucap Ardella membaca buku.
"Gila. Buku setebal ini harus dihapal." Ardella mengeluh dan membalik-balikkan buku.
"Apa ada masalah." Tanya Parto memasang waja seram.
"Tidak ada. Saya paham, saya akan mempelajarinya dengan baik." Ucap Ardella.
"Baguslah. Aku akan menyuruh staf lain mengajakmu keliling perusahaan. Setelah itu kamu kembali kesini ." Ucap Parto tegas.
"Baik." Ucap Ardella membungkukkan badannya.
Ardella yang masih keliling perusahaan, sedangkan Parto menyiapkan meja kerja Ardella diruangan yang sama dengan Aoran.
Parto yang berada diruangan Aoran. "Sesuai perintah Bos, semua beres terkendali." Ucap Parto.
Aoran merasa puas dengan rencananya. "Bagus. Selanjutnya bawa Ardella kesini." Ucap Aoran dengan senyum tipis.
Alasan Ardella tidak diterima diperusahaan lain adalah ulah Aoran Fritsch. Dengan menyuruh Parto untuk memberitahukan kepada setiap perusahaan harus menolak lamaran magang Ardella.
"Ini masih awal Ardella, setelah ini kamu tidak akan lepas dari genggamanku." Ucap Aoran berdiri didepan jendela melihat arah langit.
Setelah keliling kantor, Ardella kembali lagi ke Parto.
Ardella melihat arah jalan yang dituju merasa tidak asing lagi. "Bukannya ini ruangan CEO." Tanya Ardella.
"Iya." Ucap Parto sambil membukakan pintu.
Masuk keruangan Parto menunjukkan meja kerjanya. "Mulai besok, ini akan menjadi tempat kerjamu." Ucap Parto.
Ardella yang tidak mau seruangan dengan Aoran protes, wajahnya terlihat tidak suka, melihat ke arah Aoran yang sedang membaca dokumen Ardella memelotinya sambil cemberut.
"Bukankah ini ruangan CEO kita, bagaimana mungkin saya bisa bekerja jika satu ruangan dengan CEO yang terhormat kita. " Ucap Ardella dengan kata-kata sopan menolak.
"Ini perintah dari Bos." Ucap Parto.
Ardella yang masih bersikeras. "Saya akan bekerja keras, tapi bisakah meja kerjaku tidak disini. Dimanapun bisa asal jangan disini." Ardella memohon pada Parto.
"Bicarlah sendiri dengan Bos." Ucap Parto kembali.
Aoran melihat Ardella dengan wajah garangnya, walau mendengar Ardella protes dia tidak berbicara sedikitpun.
Ardella yang melihat Aoran tak berani protes. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. "Saya akan bekerja keras." Ucap Ardella menurut tidak berani membantah Parto.
Saat Parto pergi dari ruangan. Aoran beranjak dari kursinya dan menedekat pada Ardella. Aoran dengan langkah yang semakin dekat dengan Ardella. Saat Aoran berjalan mendekat Ardella perlahan mundur. Ardella tidak dapat mundur lebih jauh dikarenakan meja yang dibelakangnya.
__ADS_1
"Ahh." Suara Ardella.
Aoran melatakkan kedua tangannya di atas meja, sehingga Ardella berada dicelah lengan Aoran. "Tidak suka satu ruangan denganku." Ucap Aoran mendekatkan wajah pada Ardella.
Ardella telah terkunci oleh tubuh Aoran. "Apa yang kamu lakukan." Ucap Ardella dengan wajah merah.
Melihat wajah Ardella memerah, Aoran lebih mendekatkan lagi wajahnya. "Menciummu ." Suara desah Aoran ketelinga Ardella.
Plok,,, Ardella membenturkan kepalanya dengan kepala Aoran.
"Auu." Aoran menyentuh kepalanya yang terasa perih. "Apa kepalamu terbuat dari batu." Ucap Aoran kembali.
Ardella juga merasa sedikit sakit dibagian kepalanya, tapi daripada dicium oleh Aoran, dia lebih memilih membenturkan kepalanya. "Jangan berani menciumku lagi." Ucap Ardella mendorong Aoran menjauh darinya.
Ardella beranjak ketempat duduknya. Aoran yang masih merasa sakit dibagian kepalanya juga kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanya. Suasana didalam ruangan sangat hening, Ardella tidak diberikan pekerjaan, dia hanya harus menghapal buku yang diberikan Parto.
"Banyak banget sih aturannya." Ucap Ardella lelah membolak-balikkan halaman buku.
Aoran yang melirik Ardella yang dari tadi sibuk menggurutu dan cemberut. Tangannya sibuk mengetik tapi perhatiaannya tertuju pada Ardella.
"Kalau saja aku tidak terima tawaran Anasya magang diperusahaan kakaknya, aku tidak akan disini melihat wajahnya." Ucap Ardella mengerutkan dahinya.
Flasback.
Ardella yang telah mengajukan lamaran kerja sebagai karyawan magang di berbagai perusahaan ditolak. Waktu tenggat dari pihak kampus hampir habis, Ardella harus mendaftar untuk mata kuliah magang, karena itu dengan terpaksa dia menerima tawaran Anasya dan melamar keperusahaan Alxworld.
Malam hari.
Diruang tengah semua berkumpul menonton.
"Dek, bagaimana lamaranmu, sudah diterima." Tanya Lisa.
"Sudah kak, besok hari pertamaku kerja." Ucap Ardella.
"Perusahaan mana dek." Tanya Batara kembali.
"Perusahaan Alxworld kak." Ucap Ardella.
"Besok pagi kuantar ya." Ucap Robin.
"Oke." Ucap Ardella tersenyum.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1