Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Hari Yang Tersulit


__ADS_3

"Kakak." Panggil Ardella mendekat.


Melihat Ardella dan Lisa datang. Robin dan Batara berhenti bicara.


"Mas, apa yang harus kita lakukan sekarang." Ucap Lisa memegang tangan Batara, ada pembatas jeruji besi diantara mereka, Lisa menunjukkan wajah cemas, tangannya bergetar dan terasa dingin.


"Kalian jangan cemas, aku akan menyewa pengajara terbaik untuk mengatasi masalah ini." Ucapnya berusaha menenangkan Lisa.


Batara juga melihat Ardella tengah berdiri, sama seperti Lisa, Ardella juga terlihat jelas kesedihan dimatanya.


"Dek, jangan khwatir, kakak pasti bisa keluar dari sini." Dengan lembut, Batara melempar senyum, menunjukkan bahwa ini bukanlah masalah besar. Meski dihati Batara sangat kwatir, disembunyikannya dalam senyumnya agar adiknya Ardella dan istrinya Lisa tidak bersedih.


"Iya kak. Aku akan berusaha membantu kak Batara dan Robin secepatnya keluar dari sini." Terlihat wajah Ardella bertekad, dia juga melihat kearah Robin yang dari tadi berdiam dipojokan sel. Menatap Robin dengan dalam Ardella merasa sedih.


"Tidak Dek." Saut Batara memegang tangan Ardella. " Jangan lakukan apapun, biarkan kakak yang mengurus ini, jangan pernah ikut campur." Katanya dengan suara bergetar. "Berjanji pada kakak, Bahwa kamu tidak akan melakukan apapun." Ucapnya sekali lagi.


Ini kebaikan untukmu Ardella, dengan diam mungkin kamu akan aman. Kakak tidak ingin karena ketidaktahuanmu membuatmu celaka. Pikir Batara melihat Ardella.


Ardella yang tahu bahwa Aoran adalah kakak Anasya, sekilas dia merasa tenang dan berpikir mungkin Anasya dapat membantunya. "Tapi kak, orang yang melakukan ini adalah Aoran, Kakaknya Anasya." Bantah Ardella. "Aku akan minta bantuan Anasya agar bicara dengan kakaknya. " Ucapnya meyakinkan kakakknya.


Dengan meminta bantuan Anasya, mungkin saja Robin dan Batara akan bebas, Tapi Ardella tidak tahu Sama sekali bahwa ini memang dari awal rencana Aoran. Rencana menjadikan Ardella harus datang kepada Aoran. Rencana menjadikan Ardella putus asa, kemudian mencari Aoran dengan memohon belas kasih.


"Jangan pernah bertemu dengan Aoran lagi." Robin langsung menyahut, memastikan Ardella tidak akan menemui Aoran.


Terasa janggal, sungguh ada yang aneh. Ardella melihat Kedua ekspresi yang sama diwajah kakaknya Batara dan Robin sama. Ada apa ini. Apakah ini perasaaku saja, atau memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh Robin dan kak Batara, tapi apakah itu. Sejenak Ardella melamunkan larangan Robin dan Batara.


"Ini demi kebaikanmu, kakak tidak ingin kamu terlibat lebih jauh." Ucap Batara dengan meyakinkan Ardella.


Jika memang ada yang terluka biarkan aku saja, kamu jangan. Gambaran hati Batara untuk Ardella. Dia tidak ingin sekali lagi adiknya masuk kedalam jurang yang curam, dia tidak ingin adiknya berada ditempat yang tersulit.


Sedikit tertegun, Ardella berpikir. Dilihatnya raut kakaknya begitu cemas, bahkan nada suaranya lebih mencemaskan Ardella daripada dirinya yang berada dipenjara. "Baiklah kak." Sautnya ketika melihat kakaknya yang begitu khwatir.


Sekali lagi Ardella melamun, dia terdiam kaku, melihat kearah kakaknya. Dengan senyum Ardella menjawab sekali lagi ucapan kakaknya. "Jangan cemas kak, Ardella tidak akan menemui Aoran." Sautnya kembali.


Seketika raut kecemasan itu hilang saat mendengar ucapan Ardella. Batara kembali melihat istrinya yang saat ini masih berdiri tepat dihadapannya. "Sayang, tolong jaga anak-anak dan adikku." Kata Batara kembali melihat kearah istrinya.


"Iya mas. Kamu juga harus cepat keluar dari sini." Ucapnya menundukkan kepala, menutupi air mata yang terjatuh. Lisa sebagai istri menunjukkan keteguhan dihatinya, dia meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Selesai berkunjung. Ardella dan Lisa kembali kerumah. Disepanjang perjalanan, keduanya melamun didalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


***


Tiba dirumah.


Kekacaun yang terjadi membuat Aldo, Edward dan Erwin syok. Mereka menangis sambil menunggu. Bik Ami dan Dila ikut menunggu. Mereka masih berada di depan pintu.


Saat mulai beranjak mendekat masuk kedalam rumah. Ardella dan Lisa, tidak tahu harus berkata apa. Wajah polos anak-anak membuatnya tidak tega harus berkata apa. Ketiga anaknya juga menangis, mereka berlari dan memeluk Lisa, kemudian mencari Batara ayahnya.


"Ibu. Dimana ayah." Ucap mereka menangis tersedu-sedu.


Sosok Batara yang hangat dan perhatiaan terhadap keluarga. Selalu menjadi ayah yang terbaik. Memberikan perhatiannya hanya pada keluarga tercinta. Ketika melihat ayahnya diborgol dan dibawa dengan paksa, mereka tahu bahwa ayah mereka akan pergi lama.


Lisa juga iku merasakan kepedihan anak-anaknya. Dia membungkuk, kemudian mengusap air mata anak-anaknya dengan lembut. "Apa kalian sudah sarapan." Tanyanya dengan senyum. Mengalihkan perhatian mereka. "Belum ibu." Ucapan polos terlontar dari mereka.


Karena kekacauan yang terjadi, mereka semua bahkan tidak sadar bahwa mereka belum makan sedari tadi. "Ayah." Ucap Aldo pelan. Aldo anak yang paling tua, dia lebih tahu dengan situasi yang terjadi.


"Ayah akan segera pulang, jadi selama ayah tidak ada dirumah kalian harus jadi anak baik." Untuk ketiga anaknya, Lisa harus menjadi ibu kuat.


Ardella yang dari tadi berdiri dan memperhatikan kakak iparnya serta keponakannya ikut sedih. Bukan hanya sedih, hatinya sedikit pilu. Hatinya merasakan bahwa hari ini adalah hari tersulit bagi mereka semua.


***


Mulai dari sekarang kalian semua akan merasakan neraka sebenarnya. Sudah cukup kalian semua tertewa, saatnya kalian menangis, kalian harus merangkak dan memohon padaku, hanya padaku Aoran Fritsch.


Parto datang dan menjelaskan lebih rinci lagi.


"Sesuai rencana Bos, sekarang Batara Dan Robin ada dipenjara." Ucap Parto. Dia menjalankan semua rencana yang memang sudah sejak awal dibuat oleh Aoran.


Pria yang saat ini duduk, dengan menggoyang kakinya, ekspresi jahat dan senyum sinis tak berperasaan adalah Aoran. Atas perintahnya semua terjadi, atas rencananya Robin dan Batara dipenjara. Dan sebagai sekretaris Parto hanya menuruti.


Dia kembali menggoyangkan kakinya, sesekali bibirnya bergerak. "Pastikan tidak ada yang akan bersedia menjadi pengacara mereka." Katanya dengan nada santai.


Kata ini bukannya tidak berarti, jika tidak ada pengacara yang bertanggung jawab atas Robin dan Batara, bagaimana caranya membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.


"Baiklah Bos." Menurut dengan patuh, Parto memikirkan Ardella, apa yang akan terjadi setelah ini. "Bagaimana dengan Ardella, apa yang akan Bos lakukan sekarang. "Tanyanya serius.


"Itu urusanku sendiri, kamu cukup melakukan apa yang kuprintahkan." Tidak suka mengurusi lebih jauh, Aoran bernadakan marah.


"Maaf Bos, aku mengeri." Membungkuk, Parto keluar dari ruangan.

__ADS_1


Jika saja, dan jika saja kamu bertahan lebih sedikit lagi, maka aku tidak aka berbuat seperti ini. Aoran masih dalam suasana hati mendendam.


Kembali ke Ardella yang sedang memikirkan cara untuk membantu kakaknya dan Robin.


Akankah dia menengarkanku dan


membantu kak Batara dan Robin keluar dari penjara. Ardella yang masih memikirkan cara untuk mengeluarkan Kakaknya dan Robin dari penjara.


Ardella yang sedang dikamar mondar-mandir, dia merasa cemas, gelisah. Sesekali dia duduk diatas kasurnya, sambil menggigit ibu jarinya dia berpikir.


Dia meraih tasnya, kemudian mengambil ponselnya. Ponsel telah berada ditanganya, tapi dia masih ragu, Ardella sudah diperingatkan oleh Batara dan Robin agar tidak ikut campur. Tapi pikirnya berdiam diri tak ada gunannya, apa salahnya mencoba. Kemungkinan ada harapan untuk bisa membebaskan Batara dan Robin dari Penjara. Ardella memantapkan hatinya.


Tuttt.


"Angkat, angkat." Gumamnya sambil mengarahkan ponselnya ketelinga kanannya.


Masih tidak mengangkat, Ardella mencoba sekali lagi. "Pliss An, angkat." Kembali berdiri, Ardella berjalan mondar-mandir.


"Hallo, Ar." Saut Anasya dari sebrang telpon.


"An, tolongin aku." Suara panik terdengar.


"Kamu terdengar panik. Apa ada yang terjadi padamu Ar." Anasya sadar dengan suara kepanikan Ardella.


"Saat ini, aku hanya bisa minta tolong padamu An." Saut Ardella.


"Oke, kamu cerita dulu, apa masalahnya. Jika bisa kubantu, maka aku akan membantu." Ucap Anasya menenangkan Ardella yang sedari tadi panik.


Berawal dari kejadian tadi pagi, Ardella menceritakan semuanya, menceritakan kakaknya dan Robin berada dipenjara karena gugatan penggelapan dana, dan proyek yang ditanganinya adalah milik kakaknya.


Singkat cerita Ardella menjelaskan lewat sebrang telpon. "Sungguh Ar, kak Batara dan Robin sekarang dipenjara." Tanyanya terkejut kaget.


"Iya. Tolong An, katakan pada kakakmu untuk menyelidiki sekali lagi, kak Batara dan Robin bukan orang seperti itu." Sautnya.


"Ok Ar, aku akan bicara dengan kak Aoran. Kamu tenang ya." Menenangkan Ardella.


"Makasih An." Saut Ardella.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2