Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Tidak Akan Mudah Untuk Berakhir


__ADS_3

"Ardella." Panggil seorang wanita.


Suara yang memanggil adalah Yanti, teman sejurusan dengan Ardella dulu.


"Kamu betul Ardella." Senyumnya seakan mencibir Ardella.


Ardella berdiri dan mengamati Yanti yang berbicara padanya, disampingnya seorang lelaki bercirikan rambut gondrong, terdapat kumis di sela-sela dagunya.


"Antarkan kami sebotol minuman." Perintah lelaki itu menatap lekat pada Ardella, senyumnya aneh melihat body Ardella dari atas sampai bawah.


"Maaf, aku tidak mengantarkan minuman pada pelanggan lelaki." Saut Ardella acuh. Untung baginya tidak perlu meladeni permintaan pelanggan berjeniskan laki-laki.


"Mana ada peraturan seperti itu." Sautnya lelaki itu bernadakan marah.


"Kamu sekarang belagu ya, kerja di bar tapi gaya lo kayak orang suci." Cibir Yanti menunjukkan permusuhan.


"Eh, maksud lo apa." Labrak teman Ardella. Kebetulan pelayan yang lain sedang lewat mendengar ucapan Yanti pada Ardella. Tidak semua bar menjadi tempat orang-orang yang mabuk, dan melakukan hal-hal yang tidak bermoral. Karena itu mereka tidak suka dengan hinaan dari Yanti.


"Sudahlah, kita pergi aja sekarang." Ucap Ardella menarik temannya tanpa mempedulikan perkataan Yanti.


"Sayang, apa dia wanita yang kamu bicarakan selama ini." Dekap lelaki itu dari belakang. Lelaki memperintahkan Ardella membawakan minuman adalah pacarnya Yanti.


"Iya. Karena wanita rubah itu bisnis ayahku bangkrut. Aku dikeluarkan dari kampus." Sautnya. Yanti masih mendendam terhadap Ardella mengenai postingan dulu.


"Aku akan mengurus wanita itu untukmu." Ucapnya lembut pada Yanti. Mata lelaki itu masih tertuju pada Ardella yang sedang mengantarkan minuman di sisi tempat lain.


***


Malam hari.


Diruang tengah tampak Lisa yang sedang sibuk menyetrika pakaian. Tangannya berbolak-balik tanpa henti. Dari kejahuan Aldo datang mendekati ibunya.


"Ibu." Panggilnya berdiri didekat ibunya.


"Iya nak." Saut Lisa mengarahkan pandangannya pada Aldo.


"Ibu. Sabtu depan akan ada acara disekolah. Dari kelas kami akan ditampilkan drama. Orangtua murid diundang untuk hadir." Ucapnya menjelaskan, kemudiaan memberikan surat undangan dari sekolah untuk orang tua murid.


"Baiklah." Lisa menghentikan kerjaannya, dia menarik colokan setrika. Dengan perlahan dia membuka dan membaca undangan.


Rasa penasaran tentang acara yang akan diadakan, Lisa bertanya aktif pada Aldo. Misalnya peran Aldo dalam drama, apa aja kegiatannya, jam berapa pembukaan dimulai, sedetail mungkin perhatiaan seorang ibu ditunjukkan oleh Lisa.


Aldo menjelaskan drama yang akan dibawakan oleh kelasnya. Perannya di jelaskan lebih detail lagi. Asik dengan bercerita, Edward dan Erwin mendekati mereka.


"Kakak, aku ingin ikut." Ucap Erwin menarik celana Aldo dari bawah. Sama halnya dengan Edward meminta ikut keacara sekolah Aldo.


"Iya, iya Kalian boleh ikut. Tapi acaranya senin depan." Sautnya berjongkok mencubit gemas melihat tingkah kedua adik kecilnya.


Lisa tersenyum melihat ketiga anaknya bermain bersama. Kehadiran mereka menjadi kekuatan bagi seorang ibu. Selelah apapun dia bekerja, tidak pernah sekalipun mengeluh, demi anak-anaknya tercinta seorang ibu sanggup melakukan lebih dari apapun.


***


Hari sabtu.


Hari H acara untuk sekolah Aldo.


Tringgg.


Bunyi ponsel Ardella berdering.


"Hallo kak." Jawabnya lewat sebrang telpon.


"Kamu tidak lupakan dek hari ini." Suara Lisa lewat sebrang telpon.


"Tidak kak, aku baru saja minta izin ke bosku. Sebentar lagi aku menyusul." Saut Ardella merapikan barang-barangnya.

__ADS_1


"Dek, jangan lupa jemput Edward dan Erwin di sekolah ya."


"Oke kak, aku otw sekarang."


Malam setelah Aldo menyerahkan surat undangan padanya. Lisa memberitahukan Ardella untuk datang keacara sekolah Aldo. Karena itulah saat ini Ardella yang masih dibar bergegas untuk pergi menuju sekolah Edward dan Erwin.


***


Hari sudah menanjakkan sinarnya, tapi Aoran masih tertepar dikamarnya. Dalam keadaan tidur dia masih mengenakan celana pendeknya tanpa mengenakan baju.


Hari sabtu, hari santai bagi Aoran, setelah hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan, Aoran menikmati hari sabtunya untuk terbaring lama di kasur empuknya.


"Heii. Bangun. Sekarang sudah jamΒ  9.00 wib." Membangunkan. Budi membuka gorden dikamar Aoran.


"Iyahh Bud. Tutup lagi, silau ne. " Sautnya membalikkan wajah berlawanan dari arah jendela.


"Sudah waktunya bangun. Apa kamu tidak ingin bermain golf hari ini." Tanyannya berdiri disamping Aoran.


Drrrttt.


Bunyi ponsel Aoran berdering di atas meja.


"Angkat Bud, ribut banget." Seru Aoran gusur.


"Oke." Dengan segera Budi mengangkat panggilan.


"Hallo."


"Hallo tuan Fritsch. Anda sekarang dimana? Acara pembukaan sebentar lagi akan dimulai." Dari sebrang telpon suara terdengar panik.


"Ah, maaf saya bukan tuan Fritsch." Ucapnya." Tuan Fritsch masih tidur, akan saya sampaikan."


Menutup ponsel. Budi menggelengkan kepala ketika melihat Aoran masih tidur.


"Katanya acara pembuakaan dari sekolah XX akan segera dimulai, dan mereka masih menunggumu." Kata Budi menyampaikan pesan.


"Gawat, gue telat ne." Bangun, kemudiaan langsung bergegas ke kamar mandi. "Bud, temani gue, sekalian siapkan mobil sekarang." Serunya dari kamar dalam kamar mandi.


"Dasar." Gumamnya pelan.


Secepat kilat Aoran berpakaian rapi, semua sudah terlihat terkena di tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai kaki sudah terlihat keren.


Aoran dengan terburu-buru turun dari anak tangga, melihat Anasya yang duduk diruang tengah diacuhkan dan berjalan melewati begitu saja.


Anasya yang sangat ingin menyapa kakaknya terhenti.


Mobil telah terparkir bersamaan dengan Budi yang sedang menunggu Aoran.


"Kita ngebut Bud, biar gk telat." Ucap Aoran dari kursi belakang melirik jam tangannya.


"Lebih baik pelan yang penting selamat." Saut Budi yang patuh dengan aturan lalu lintas.


"Kenapa aku bisa kelupaan sih. "Aoran yang tidak pernah telat dengan waktu. Dalam hal apapun Aoran selalu mengatur dirinya agar tepat waktu.


Ardella juga berlari dari arah simpang jalan hendak ingin menyebrang jalan. Dipersimpangan jalan sudah terlihat Edward dan Erwin menunggu.


Ardella melambaikan tangannya kearah kedua keponakannya.


Erwin terlalu senang melihat tantenya, dia berlari lebih dulu dan meninggalkan Edward yang berdiri disampingnya.


Ckittt.


Suara rem mobil berhenti secara paksa.


Brakkk.

__ADS_1


Erwin terjatuh ketanah karena kaget melihat mobil dari arah depan yang hampir menabraknya.


Huhuhuhu.


Suara tangisan Erwin keras.


Ardella dari kejahuan melihat menjadi panik, dia berlari menuju kearah Erwin. Sedangkan Edward ikut berlari kearah adiknya. Dia mendiamkan Edward yang sedang menangis dan meniup luka Erwin.


"Astaga." Budi panik dengan tangisan suara anak kecil.


Aoran juga merasa sama halnya dengan Budi, keduanya turun dari mobil mengecek keadaan. Ketika turun mereka melihat seorang anak kecil tersungkur, kakinya terluka karena jatuh.


"Mana yang sakit dek." Ucap Edward mengusap kaki Erwin.


"Anak kecil apa kamu baik saja." Ucap Budi.


Sambil berjongkok mereka memeriksa tubuh Erwin apakah ada luka lainnya. Aoran juga ikut mengusap kaki Erwin dengan lembut.


"Erwin." Seru Ardella panik dari kejahuan.


"Ayo kita bawa kerumah sakit dulu." Aoran mengemati keadaan Erwin yang sedang menangis, dan Edward yang berusaha mendiamkan Erwin. Kedua anak kecil ini menarik perhatiaan Aoran. Kenangan masa kecilnya dikenang bersamaan dengan melihat tingkah lucu dari kedua bocah.


Dua punggung lelaki yang dilihat Ardella masih tidak dikenalnya. "Sayang kamu tidak apa-apa." Ardella menerobos.


"Tante." Saut Erwin memelas sambil menagis kecil.


Ardella ingin memarahi orang yang menyetir mobil. Saat dia berbalik dan mengadah dia melihat Aoran disampingnya.


"Kamu." Teriak Ardella dengan nada tidak senang. "Selalu saja kamu, setiap ada kamu pasti sesuatu buruk pasti akan terjadi. Apa kamu sengaja, apalagi yang kamu rencanakan sekarang? ." Ucap Ardella mengomel panjang lebar.


"Berhentilah mengomel. Sebaiknya kita periksa kerumah sakit dulu." Ucap Aoran menggendong Erwin.


"Sini! Biarkan aku menggendongnya." Ardella menarik Erwin kedalam kepelukannya.


Sedangkan Edward dan Budi berdiri melihat pertengkaran kecil dari Ardella dan Aoran.


"Biarkan kami mengantarkan kalian kerumah sakit." Ucap Budi lembut.


Erwin yang sedang terluka membuat Ardella cemas. Jadi tidak ada penolakan dari Ardella.


Budi kemudian membuka pintu kursi belakang, Ardella menggendong Erwin dan mengusap-usap kepalanya. Sedangkan Edward dan Aoran masih tertinggal diluar.


"Ngapain disitu, cepat masuk." Teriak Budi dari dalam mobil.


Aoran dan Edward saling menatap.


Ah, Edward. Pikir Ardella lupa bahwa Edward juga ada bersamanya. Dia membuka kaca mobil.


"Edward sini." Ucap Ardella.


Edward masih berdiam diri. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Edward, tapi yang jelas kerutan dudahinya menandakan dia sedang kesal.


"Mau kugendong." Senyum Aoran canggung.


Kekesalannya disebabkan oleh Aoran sendiri, Edward tidak peduli dengan perkataan Aoran. Langkah kecilnya masuk kedalam mobil meninggalkan Aoran.


"Edward tidak apa-apa." Tanya Ardella mengelus pipi Edward.


"Tidak tante."


Aoran juga masuk kedalam mobil. Dia memilih duduk dikursi belakang.


"Ayo jalan." Perintah Aoran.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2