
Dengan memainkan gelas yang berisikan wine, Aoran melirik Ardella yang berdiri didepannya.
"Aku merasa bosan, berikan aku hiburan." Ucapnya meneguk minumannya.
"Hiburan. Siapa kamu yang mewajibkan aku menghiburmu. Sungguh menyebalkan. " Kata Ardella dalam hati.
"Maaf tuan, saya tidak bisa menghibur anda." Suara Ardella sungguh ramah dan manis didengar. "Kalau mau dihibur cari saja wanita seksi yang bisa menghiburmu." Gumamnya menyeret suaranya.
Meski mendengar ucapan Ardella, tetap saja Aoran bersikeras mau dihibur. "Ayolah, kamu bisa menari, kalau tidak menyanyi untuk menghiburku." Saut Aoran meminta.
Menari? aku tidak mau menari dihadapan cowok resek ini, sepertinya menyanyi lebih baik. Ardella membatin.
"Baiklah, aku akan menyanyi. Tapi kamu tidak boleh tertawa." Memastikan bahwa Aoran tidak akan tertawa. Bakat Ardella sangat terpanjar jika menari, tapi menyanyi bisa dikatakan kurang memenuhi syarat.
"Ok." Senyum Aoran yakin.
Ardella mengambil mikrofon yang ada di sudut meja, mikrofon memang sudah tersedia di setiap ruang VIP, jadi tidak perlu lagi mencari.
Menarik nafas dengan dalam dan menghempaskan nafas dengan perlahan.
Fyuuuuu.
Ok, Ardella siap bernyanyi.
Kikkkkk, krekkkk, kikkkk.
Suara Ardella terdengar mengkik mengkuse, suara parau dibagian nada tinggi menjadikan suara Ardella terjepit.
Mata Aoran terbuka lebar, sudut bibir mulai mengembang, hidung kembang kempis mendengar suara Ardella.
Bhuwekkk.
Aoran tertawa lepas. Dia memegang dahinya sambil berbolak-balik dan tertawa lantang.
"Hentikan, kamu bisa membuatku mati kerena tertawa." Aoran terkekeh tertawa, dia memegang perutnya. Tidak disangkanya suara Ardella terdengar mengerikan ketika menyanyi.
Ardella berdiri menyeritkan dahinya dia menghentikan nyanyiannya. "Jangan tertawa." Melihat Aoran yang masih tertawa terbahak-bahak.
Aoran sampai memukul bagian sofa karena merasa lucu. "Oh, aku tidak akan tertawa. Lanjutkan." Tawa Aoran sedikit mereda. Menekan mulutnya dengan tangannya agar tidak tertawa.
Kikkkk, kik, kik, kik.
Suara Ardella parau memenuhi ruangan.
Hahaha.
Aoran tertawa lebih keras.
Sudah tidak tahan dengan Aoran yang meledek dirinya. "Kubilang jangan tertawa." Ardella menurunkan mikrofonnya, dengan cemberut dia mendekati Aoran.
"Cukup menertawaiku." Lebih dekat lagi Ardella memukul dada Aoran dengan pelan. Pukulan Ardella tidak memberikan rasa sakit.
Aoran menghalangi tangan Ardella dengan lengannya, suara tawanya berlanjut tanpa henti.
"Ihhh." Dengan merengek Ardella menghentikan Aoran untuk tidak tertawa lagi.
Sesaat Aoran dan Ardella melupakan permusuhan mereka.
Wajah Ardella merah merona karena merasa malu, bukan hanya itu saja, dia menatap Aoran dengan mata juling. Aoran yang sadar mengecilkan tawanya.
Tangan Ardella berhenti memukul Aoran, suasana diantara mereka tiba-tiba hening, mereka saling menatap. Dengan senyum Aoran menarik tangan Ardella. "Ah. " Tergelinjir, Ardella jatuh ke dada Aoran.
"Ok. Aku tertawa karena merasa senang" Aoran mendekap Ardella kedalam pelukannya. "Aku tidak tahu kalau ada yang lebih unik darimu." Sebelah tangan Aoran memeluk pinggang Ardella, dan sebelahnya mengelus kepala Ardella dengan lembut.
Tatapan Ardella melihat Aoran tertawa menjadi kesal, dia mengerutkan bibirnya. "Aku juga ingin mendengarmu bernyanyi." Ucap Ardella melepaskan pelukan Aoran.
Mikrofon yang masih ditangannya diserahkan pada Aoran.
"Baiklah, mendengar suaraku kamu akan jatuh cinta." Aoran mengarahkan wajahnya lebih dekat dengan Ardella.
Saling bertatapan Aoran masih tertawa tipis.
Aoran berdiri dihadapan Ardella, mulai mengetes suara mikrofon.
Sedangkan Ardella sudah tidak sabar menunggu Aoran untuk bernyanyi.
Aoran mulai bernyanyi.
Glaub An Mich (Versi Jerman)
*Glau an mich
Lass mich nicht alleine geh'n
Gib mir deinen segen
Lass mich keine zweifel seh'n
Nur in den gadanken nehme ich dich mit
Die erinnerung begleit et jeden schrift
__ADS_1
*Und wenn ich gehe
Dann bitte glaub an mich
Lass mich ziehen
Bitte halt micht nicht
Trag mein blid in dir, solange es geht
*Glaub an micht
Und wenn ich gehe
Dann bitte glaub an mich
Schileb deine augen
Siecst du men gesicht
Das ist mein weg
Ich kann ihn deutlich seh'n
Glaub an mich
Glaub an mich
Jeder tag kann wie eih neues leben sein
Ich werde meinen weg gehen
Und geh ich auuch allein
Ich trage meine liebe
Wie ein schild und wie ein schwert
Und schon allein die hoffnung
Ist die muhe wert
Dein glaube ist die brucke
Die mich uber washeer fuhrt
Oder wide der wind
Am ende jeder nacht
Bist du fur mich das licht
Glaub an mich*
Glaub an mich**
Percayalah Padaku
*Percayalah padaku
Biarkan aku pergi sendiri
Berilah aku keyakinan
Biarkan aku tidak melihat keraguan
Hanya dalam pikiran aku membawamu ikut bersamku
Memori menyertai setiap langkahku
Dan jika aku pergi
Tolong percayalah padaku
Biarkan aku menggambar sendiri
Tolong jangan pegangi aku
Kenangkan gambarku dalam dirimu, selama mungkin
Percayalah padaku
Dan jika aku pergi
Tolong percaya lah padaku
Tutup matamu
Apakah kamu melihat wajahku
Itu adalah jalanku
__ADS_1
Aku bisa melihatnya dengan jelas
Percayalah padaku
Percayalah padaku
Setiap hari bisa jadi
Seperti hidup baru
Aku akan berjalan dijalanku
Dan aku berjalan sendiri
Aku mengenakan cintaku
Sebagai perisai dan sebagai pedang
Dan harapan
Apakah sepedan dengan upaya?
*Kepercayaan adalah jembatanku
Yang membawaku menyebrabg air
Atau bagaikan angin
Yang menerpa sayapku
Disetiap penghujung malam
Kau adalah cahaya bagiku
Percayalah padaku
Percahalah padaku.
Note. Lagu bisa dicari di youtube*.
Glaub an mich.
By. : Yvonne
Ardella terpukau dengan suara Aoran, mulut tercengang terbuka lebar, meski tidak mengerti apa yang dinyanyikan Aoran, tapi suaranya sungguh merdu. Tidak dapat dipungkiri bahwa Aoran sangat berkarisma.
"Ardella ich liebe itch (Ardella aku mencintaimu."
Kata Aoran diakhir nyanyiannya dia menyatakan perasaannya dalam bahasa jerman.
Deg.
Sesuatu terjadi dihati Ardella.
Aoran yang saat ini berada didepannya berbeda dengan dikenalnya. Aoran yang saat ini bukanlah Aoran yang pemarah, kasar dan bukan Aoran yang telah memenjarakan kakaknya Batara dan Robin.
"Apa aku yang salah menilainya, hari ini dia begitu lembut. Seperti apa sebenarnya laki-laki ini" Pikir Ardella dari dalam hatinya.
Dalam keadaan posisi berdiri, Aoran masih menatap lekat Ardella, ingatan Aoran kembali pada kenangannya saat bersama di pulau. Mengingat hari-hari indahnya, mengingat saat dia mencintai satu sama lain.
Dalam sekejap juga Aoran mengingat ucapan Robin yang menyatakan bahwa Ardella melakukan aborsi. Ditambah dengan ingatan Ardella yang melupakan dirinya.
Aoran masih tidak bisa menerimanya, tiba-tiba rasa sakit di hatinya melenyapkan kenangan indahnya bersama Ardella.
Bukkk.
Aoran melemparkan mikrofon dengan keras.
Terkejut dengan perubahan sikap Aoran. Ardella menunjukkan ekspresi takut, tangannya bahkan sampai gemetar melihat tatapan Aoran, bening di mata Aoran berubah menjadi merah.
Tak, tak, tak.
Berjalan menuju Ardella yang masih duduk disofa. Aoran yang saat ini masih berdiri merogoh kantung jasnya, mengambil uang dari dompetnya, kemudian menjatuhkan dari atas kepala Ardella.
Uang berjatuhan ke hadapan Ardella, dengan ekspresi kosong Ardella bingung dengan situasi yang terjadi.
"Wanita jahat." Ucap Aoran dengan suara tercepit.
Ardella mendengar dengan samar-samar ucapan Aoran. Keduanya kembali menunjukkan permusuhan.
Dengan segera Aoran pergi meninggalkan Ardella tanpa bicara sepatah kata.
Tes, tes, tes.
Air mata Ardella berderai jatuh ke pipinya. Ardella sendiri tidak tahu apa alasan sampai dia harus menangis.
"Aku menarik kata-kataku barusan. Dasar cowok brengsek, cowok iblis, menyebalkan." Teriak Ardella sendiri berada diruangan.
"Kamu pikir karena banyak uang, dengan seenaknya mempermainkan orang." Teriaknya lebih keras sambil Menyeka air matanya.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung