
Hari ketiga Aoran menjadi turis di samosir, seperti biasa dia sedang jogging, kali ini dia jogging lebih jauh dari penginapan hingga sampai ke pelabuhan. Aoran yang sedang jogging melewati pelabuhan dikejutkan dengan suara orang menangis.
Aoran melihat seorang wanita berjongkok, wajahnya ditelengkup, Aoran tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aoran yang berdiri dibelakangnya mendengar suara tangisan terisak sedih.
"Hiks. Sakit."
Aoran mendengarnya merasa kasihan, namun dia juga tidak ingin berurusan dengan orang asing. Aoran mulai beranjak menjauh, diliriknya sekali lagi, kakinya terhenti.
"Huh, sial." Ucapnya pelan. Aoran ingin mengabaikannya tapi ntah kenapa Aoran berbalik arah dan mendekat. "Adik kecil, kamu kenapa menangis." Ucap Aoran mendekat.
Karena melihat tubuhnya kecil Aoran berpikir bahwa mungkin hanya seorang anak kecil. Ternyata suara wanita yang sedang menangis adalah Ardella. Waktu berjalan menuju pelabuhan kaki Ardella terluka karena serpihan kaca, tapi sebenarnya bukan luka itu yang membuat Ardella menangis melainkan pertengkaran antara dia dan ayahnya.
Ardella yang posisinya menunduk membuat wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya. Wajah Ardella masih tidak terlihat oleh Aoran.
Aoran yang sedang mengamati Sedikit demi sedikit mendekati Ardella dan berusaha melihat wajah Ardella. "Apa kamu baik-baik saja." Ucap Aoran dengan suara lembut.
Tangan Ardella yang mulai merapikan rambutnya dan menghapus sisa air matanya, pelan-pelan menoleh kepada Aoran dan dengan sopan Ardella mengatakan dirinya baik-baik saja.
Wajahnya merah, air mata yang masih tersisa dipipi Ardella. "Saya baik-baik saja." Suara Ardella serak.
Ketika Ardella menatapnya. Aoran terdiam, sejenak dia menjadi kaku.
Sumpah manis banget ne cewek, tadi gue pikir cuman anak kecil. Aoran membantin.
Aoran menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandanganya. Secara tidak sengaja Aoran melihat ke kaki Ardella, dilihatnya kaki Ardella terluka kecil.
Sesakit itukah sampai membuatnya menangis dengan keras. Aoran kembali membatin.
"Apa kakimu sedang terluka." Memperhatikan kaki Ardella yang terluka.
Dengan menganggukkan kepala Ardella mengatakan kakinya terluka karena serpihan kaca. "Iya. Kakiku hanya terkena serpihan kaca. Tapi kenapa rasanya sakit sekali" Gumamnya pelan.
"Adik kecil, apa masih sakit, mau ku antar pulang.?" Tanya Aoran dengan membungkuk, Aoran menyentuh kaki Ardella.
"Ouhh." Ardella menarik kakinya
__ADS_1
Sentuhan Aoran membuatnya terkejut. Ketika melihat Aoran, dia merasa tidak mengenalnya. Wajah asing Aoran membuat Ardella berhati-hati berbicara. Ardella juga merasa aneh dengan tingkah dan perkataan Aoran. Bukannya merasa berterima kasih malah membuatnya berpikir Aoran orang aneh yang baru kenal langsung ingin mengantarkan orang asing pulang hanya luka sekecil ini.
Sepertinya dia bukan orang sini. Ardella membatin.
Ardella melihat tubuh Aoran dari ujung kaki sampai rambut. Melihat Aoran perawakannya dewasa dan tubuh Aoran yang begitu tinggi membuatnya berpikir Aoran mungkin seorang bapak-bapak. "Tidak apa paman saya baik-baik saja." Ucap Ardella lembut.
What??? dia manggil gue paman, yang benar aja, baru kali ini gue lihat cewek yang biasa-biasa aja ketika ngelihat ketampananku. Batin Aoran terkejut.
Aoran tidak diterima dengan sebutan paman. "Adik kecil jangan panggil paman, saya bukan paman-paman kok." Dengan senyum meringis kembali keposisi berdiri.
Ardella membungkuk kan kepala dan meminta maaf kepada Aoran, setelah itu Ardella ingin meninggalkannya dan sesegera mungkin pergi dari hadapan Aoran, kemudiaan perlahan-lahan melewati Aoran.
Aoran yang secara refleks memegang tangan Ardella. Tatapan mereka bertemu. Aoran melihat kearah mata Ardella. Bola mata bening kecoklatan membuat Aoran terpana. Didalam pandangan Ardella ada sesuatu yang dirindukan oleh Aoran.
Aoran ingin lebih mengenal gadis yang ada dihadapannya. "Eh, tunggu dulu aku belum tahu nama kamu siapa." Ucapnya menahan Ardella.
Dengan mengulurkan tangan kanan, Aoran memperkenalkan diri. "Namaku Aoran Fritsch, bisa dipanggil Aoran bisa juga dipanggil Fritsch, terserah mana enaknya. Nama kamu siapa." Ucap Aoran ramah melempar senyum.
Dengan hanya menatap tangan Aoran, Ardella masih ragu memperkenalkan diri. "Maaf, saya terburu-buru, bisakah kamu melepaskan tanganmu." Berusaha melepaskan tangan Aoran dari lengannya.
Sekali lagi Ardella mengucapkan kata maaf dan langsung berbalik badan. "Maaf." Ardella pergi dengan terburu-buru.
Langkah Ardella begitu cepat, sedikitpun Ardella tidak menoleh. Aoran yang masih berdiri melihat Ardella pergi meninggalkannya. Apakah karena Ardella tidak menunjukkan ketertarikan terhadapnya membuat Aoran sedikit merasa Ardella gadis menarik.
Kembali ke penginapan Aoran berjalan dan berpikir keras.
Aneh,,, betul-betul aneh baru kali ada cewek yang gk tergila-gila sama gue. Aoran membatin.
Karena sedang berpikir Aoran bahkan tidak merasakan keberadaan Evan.
"Woii,,,kenapa lu Fritsch." Evan yang juga sedang jogging di taman dekat penginapan.
Aoran berhenti saat mendengar suara Evan. "Van,.apa gue jelek?." Berbalik arah dan menuju Evan.
"Apaan sih pertanyaan lu, kalau ada orang yang bilang lu jelek, maka cowok didunia ini pada jelek semua." Sambil menepuk pundak Aoran.
__ADS_1
"Kok,, aneh ya, masa dia nggak tertarik sama gue."
"Maksud lu apa sih."
"Tadi gue ketemu cewek manis bagetttt, tapi pas ngeliat gue dia biasa saja tuh."
"Hahaha,,, cacat mental kali, udah gk usah dipikirin mungkin cuman pura-pura cuek padahal dihati tu cewek pasti ngimpiin lu."
"Menurut gue gk deh, udah banyak cewek yang gue kenal tapi baru kali ini tatapannya biasa saja pas ngeliat gue."
Evan yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Sebaiknya kita balik aja, gue rasanya lapar." Evan yang tidak ingin membahas maksud Aoran.
Didalam kamar Aoran menuju balkon, masih menunggu Evan yang masih mandi. Aoran berdiri, hembusan angin membuat rambutnya berantakan. Terpaan angin menyentuh wajahnya. Seketika ingatan Aoran kembali pada Ardella. Wajah Ardella terngiang jelas dipikirannya, mengingat tatapan Ardella.
Apa sungguh dia tidak tertarik padaku. Aoran membatin.
"Siapa gadis itu. Kenapa aku memikirkannya. " Gumam Aoran.
Evan melihat Aoran termenung sambil berbicara sendiri.
"Masih mikirin cewek yang tadi pagi." Tanya Evan sambil mengibaskan rambutnya dengan handuk.
"Iya." Ucapnya.
"Aoran Fritsch yang terkenal playboy, mikirin gadis desa." Ucap Evan mengecek. " Haha. Udah dong Fritsch serius banget mikirin cewek desa. Sebarapa manis sih hingga membuat seorang Fritsch terpaku." Ucap Evan.
"Cewek yang selama dekat dengan gue gk pernah ada yang beres. Mereka terlihat cantik hanya berlapiskan make up." Kata Aoran berekspresi datar. "Tapi dia beda, Wajahnya memerah karena menahan dingin, suara nafasnya pun terdengar lembut ditelingaku." Wajah Aoran tersenyum tipis.
Aoran menceritakan tentang Ardella dengan senyuman, diwajahnya tertulis ketertarikan terhadap Ardella.
Semenjak pertemuan Aoran dengan Ardella, membuat Aoran penasaran dan memutuskan besok kembali ke pelabuhaan untuk bertemu dengan Ardella lagi.
πππ
Bersambung
__ADS_1