
Mencari pekerjaan dikota metropolitan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berjalan kesana kemari untuk mencari kerja tapi masih saja belum mendapatkan kerjaan. Rasa frustasi sedikit tersirat dibenak Ardella yang sedang mencari pekerjaan.
Sudah beberapa kali Ardella menerima penolakan dari perusahaan lain. Kakinya begitu lelah dan sulit untuk berjalan, dia menghembuskan nafas dengan pelan. "Huh." Gumamnya.
Karena merasa kakinya sedikit pegal, Ardella ingin beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya. Ardella yang sedang berdiri dipinggir jalan melihat kearah sekitarnya, melihat warung kecil didepannya dengan langkah kecil Ardella beranjak kearah warung.
Setibanya di warung Ardella duduk dengan meluruskan kakinya lebih condong kedepan. Melihat pemilik warung yang sedang berjualan Ardella merasa tidak enak hati hanya menumpang duduk, dia pun memebeli beberapa cemilan kecil untuk dimakan.
Sambil duduk Ardella melihat kembali kesekelilingnya, disekitarnya ramai sekali orang yang sedang berjalan, diwajah orang-orang itu tampak sedang sibuk dan tergesa-gesa berjalan. Mengalihkan kembali pandangannya ketempat lain, terlihat disudut persimpangan tukang becak berparkiran sedang menunggu penumpang, disamping parkiran becak terdapat sebuah trotoar. Ramai sekali orang sedang berjualan di trotoar itu.
Ardella kembali mengarahkan pandangannya kecemilan yang ada ditangannya. Keadaannya sekarang bukan hanya dirinya saja yang mengalami, semua orang nampak berjuang dengan pekerjaan masing-masing untuk mencari uang.
Sambil menikmati kerupuk yang ada ditangannya, Ardella membuka ponselnya. Melihat kotak pesan dengan cermat, satu persatu pesan dibukannya, namun tidak ada kabar yang menandakan bahwa dia di panggil untuk wawancara kerja.
"Huh." Ardella menghempaskan nafasnya, dia kembali meletakkan ponselnya ke dalam tasnya.
Sejak mengundurkan diri Ardella telah banyak mengirim lamaran kerja lewat situs online melalui via email sampai sekarang tidak ada satupun panggilan wawancara. Sambil mengigit kerupuk dan mengunyah dengan pelan, Ardella kembali menatap disekitarnya.
Tiba-tiba seorang pengemis datang mendekati Ardella, dengan pakaian compang-camping pengemis itu mengulurkan tangannya kehadapan Ardella untuk meminta sedekah. Ardella mengambil dompetnya, melihat isi didalam dompetnya Ardella memberikan selembaran uang untuk pengemis itu, masih kurang dengan pemberiannya Ardella memberikan cemilan yang tadi dia beli.
"Terima kasih." Ucap pengemis dengan merunduk.
Ardella hanya membalas dengan senyuman.
Pengemis itu menjauh dari hadapan Ardella, kembali tersadar bahwa dirinya masih lebih beruntung daripada pengemis yang tadi.
"Semangat." Ardella kembali bangkit, dia merapikan diri sambil memastikan barang bawaannya tidak tertinggal.
Tringgg.
Sebuah pesan masuk.
"Denger-denger Ardella lagi cari kerja ya." Isi pesan.
"Iya." Balas Ardella.
"Kamu mau gk aku tawarin kerja."
"Kerja apa." Tanya Ardella.
"Biar lebih jelasnya kamu datang dulu deh ke alamat ini."
"Oke, aku datang sekarang." Balas Ardella.
Saat Ardella sedang mencari kerja, dia juga tidak segan bertanya pada teman-teman di kampusnya. Dia juga bertanya kerja paruh waktu yang bisa dia ambil untuk sementara waktu. Dan seorang teman dari jurusannya menawarkan pekerjaan pada Ardella.
__ADS_1
Meski belum tahu pekerjaan apa yang akan ditawarkan oleh teman Ardella, tapi saat ini Ardella bersemangat.
Tiba di alamat yang dikirim oleh temannya, Ardella mulai mencari keberadaan temannya itu.
"Ardella." Panggil temannya dari kejahuan.
"Riri." Saut Ardella tersenyum. Riri adalah teman satu jurusan dengan Ardella. Meski mereka tidak terlalu akrab tapi sering kali tegur sapa.
Melihat kesekeliling Ardella kurang nyaman, ternyata tempat yang dituju Ardella adalah sebuah bar. Dengan ragu dia beranjak mendekati temanya.
Riri kemudiaan memesan minuman untuk Ardella. Meletakkan tasnya diatas meja kemudiaan menarik kursi dengan pelan. Ardella duduk melihat kearah Riri yang tersenyum padanya. Memikirkan tujuannya datang Ardella ingin langsung berbicara ke pokok intinya.
"Soal pekerjaan yang tadi kamu katakan.... " Tanya Ardella belum selesai.
"Ohhh, masalah kerjaan itu, aku mau nawarin kamu kerja di bar ini. " Ucapnya santai.
Bar bukannya tempat orang minum-minuman keras, dan juga orang sering kali mabuk-mabukkan di bar. Ardella terdiam sejenak masih memikirkan tawaran Riri.
"Tenang aja, disini udah ada izinnya kok. " Mengetahui sepertinya Ardella kurang tertarik. "Aku sudah lama kerja disini, jadi jangan kwatir." Meyakinkan Ardella.
"Besok aku kabari ya Ri, soalnya aku tidak terbiasa ditempat ramai seperti ini." Ardella merasa kurang nyaman dengan suasana bar, bagaimana tidak? didalam bar terdengar musik disko keras, ada juga tamu yang hampir mabuk. Susana berisik tidak cocok dengan Ardella.
***
Parto yang saat ini berada didepan rumah tempat kediaman Ardella.
Sebelum datang, Parto sudah mendapat perintah dari Aoran untuk menyelesaikan permasalahan rumah yang saat ini menjadi hak milik Aoran.
15 menit berlalu Parto masih berdiri didepan pintu berusaha mengetuk Pintu. "Permisi." Dengan nada keras Parto berusaha memanggil orang rumah.
Apa tidak ada orang dirumah, pikir Parto sambil beranjak dan melihat kearah keliling rumah.
Lisa yang baru datang dari arah jalan melihat seorang pria dengan pakaian rapi membuat langkahnya terhenti. Dalam hati Lisa bertanya-tanya siapa gerangan laki-laki yang sedang bertingkah aneh didepan rumahnya.
"Maaf, kamu siapa." Tanya Lisa dengan pelan. Dia masih memperhatikan poster tubuh Parto dengan sangat tajam.
Mendengar suara, Parto berbalik badan. Sebenarnya Parto sudah mengenal Lisa, namun dia berpura-pura tidak tahu siapa Lisa. "Apa kamu pemilik rumah ini." Tanya Parto sambil menunjukkan kearah pintu.
"Iya." Saut Lisa.
Berapa kali pun Lisa berpikir, dia tidak mengenal Parto, saat dia menyebutkan kata rumah sepertinya Lisa sudah menebak bahwa dia laki-laki tinggi yang sedang dihadapannya pasti salah satu suruhan Aoran.
"Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan masalah kepemilikan rumah ini." Penjelasan Parto dengan sedikit canggung.
"Ah. Bukankah waktunya masih tersisa dua hari lagi." Saut Lisa dengan menyeritkan wajahnya, penyambutan Lisa sedikit tidak ramah pada Parto.
__ADS_1
Mengingat ancaman preman yang mengacau tempo hari dirumahnya, sepertinya Lisa tidak bisa bersikap ramah dan baik dihadapan Parto. Perasaannya mengatakan bahwa pasti Aoran membuat rencana burukย lagi terhadap keluarganya. Masalah apa lagi yang akan datang belum bisa diperkirakan sekarang.
Sama halnya dengan Parto yang saat ini dapat merasakan sambutan yang tidak ramah dari Lisa. Dia hanya memberikan senyuman tipis ditampangnya. "Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Parto merasa berbicara diluar membuatnya tidak nyaman. "Bisakah kita bicarakan didalam." Ucap Parto pelan.
Sikap Parto yang bicara dengan sopan membuat Lisa sedikit melemah, daripada seorang preman setidaknya kali ini lebih baik.
"Baiklah." Saut Lisa. Merogoh kunci didalam saku celananya. Dia membukakan pintu dan mempersilahkan Parto untuk masuk kedalam.
Saat menanjakkan kaki, Parto melirik sudut rumah dengan mata liar. Pandangannya sama sekali tidak bisa tenang, melirik kesana-kemari Parto mengamati dengan sangat jeli.
"Duduklah sebentar, aku akan membuatkan teh." Ucap Lisa dengan sopan.
"Oke." Suara Lisa membuyarkan perhatiaan Parto.
Sebuah sopan santun ketika seseorang bertamu setidaknya harus menawarkan teh. Itulah yang saat ini dilakukan oleh Lisa.
Dengan membawa secangkir teh, dan menghidangkan diatas meja, Lisa mempersilahkan Parto untuk minum, dia beranjak duduk disisi sofa sebelah kanan. "Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan." Tanya Lisa.
Parto meletakkan kembali gelasnya di atas meja. "Itu. Sebaiknya kamu baca dulu ini." Saut Parto menyerahkan amplop yang dari tadi di pegangnya.
Perlahan Lisa membuka amplopnya, kemudiaan menarik selembaran kertas dari dalam amplop. Membaca isi surat Lisa masih tidak mengerti apa maksudnya.
"Saya tidak mengerti apa maksud isi suratnya. Tertulis bahwa kami tidak perlu meninggalkan rumah." Tanyanya melihat Parto dengan wajah datar.
"Bos mengatakan bahwa rumah ini dikontrakkan pada kalian, dengan begitu kalian tidak perlu pindah dari sini." Mulai menjelaskan dengan perlahan. "Tapi dengan syarat setiap bulan kalian wajib membayar uang sewa rumah ini." Melanjutkan penjelasannya, Parto memperhatikan reaksi Lisa.
Lisa masih terdiam dengan ucapan Parto, rasanya tidak masuk akal hanya sekedar mengizinkan mereka tinggal dengan hanya membayar sewa. Bahkan sewanya juga tidak terlalu tinggi, sedikit rasa was-was dihati Lisa dalam mengambil keputusan, apa tujuan Aoran lebih membuatnya khawatir.
"Beri saya waktu dua hari untuk memikirkannya." Saut Lisa memasukkan kembali kertas kedalam amplop.
"Baiklah." Saut Parto lembut tanpa mempertanyakan keputusan Lisa. "Ini tolong berikan pada Ardella." Parto kembali menyerahkan amplop satunya lagi.
"Apa ini." Tanya Lisa.
"Itu..." Parto tidak dapat menjelaskan isi amplopnya pada Lisa. Suaranya terbukam terdiam.
"Baiklah akan saya berikan pada Ardella." Tidak memaksakan Parto untuk menjelaskan.
"Terima kasih atas tehnya." Ucap Parto terenyum tipis. "Sepertinya saya harus pergi sekarang." Ucap Parto kembali sambil melihat kearah jam tangannya.
Lisa hanya terdiam dan membiarkan Parto pergi dari rumahnya.
๐๐๐
Bersambung
__ADS_1