Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Merahasiakan


__ADS_3

Kampus.


Ardella memulai harinya dikampus dengan mendaftarkan krs untuk semester ini, berjalan keluar dari gedung bagian pendaftaran kampus. Ardella masih sibuk membaca lembaran ditangannya.


Nina dan Anasya yang kebetulan lewat di gedung itu melihat Ardella berjalan sambil memegang kertas krs yang ditangannya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dengan Ardella dikampus. Karena itu dengan segera mereka menyapa Ardella.


"Ardella." Panggil Nina. Dia menarik Anasya untuk menemui Ardella.


Berbeda dengan Ardella, mereka berdua telah menyelesaikan semua mata kuliah, saat ini mereka hanya menunggu jadwal sidang.


"Haii." Senyum Ardella dengan canggung. Lama tidak bertemu membuat Ardella menjadi kaku.


"Ar, kamu kemana aja." Tanya Nina masih dalam suara terbata-bata.


Ardella menjawab dengan senyum, sedangkan Anasya berdiri diantara mereka dengan canggung. Terakhir bertemu dengan Ardella yaitu dikantor polisi.


Duhh, canggung banget sih. Batin Anasya.


"Merayakan kembalinya Ardella kekampus, aku traktir makan bakso dikantin." Ajak Nina menarik kedua sahabatnya itu untuk ikut.


"Aku tidak lapar Nin, tapi kalau kamu mau traktir, belikan aku eskrim aja." Ucap Ardella.


Tumben Ardella meminta sesuatu, biasanya dia selalu berkata terserah. Pikir Nina. "Baiklah, aku belikan. Kamu sama Anasya tunggu disini sebentar." Menuruti keinginan Ardella. Nina pergi mencarikan es krim di minimarket dekat kampus.


Ardella dan Anasya berdiri. Jelas sekali suasana menjadi sangat canggung tanpa Nina.


Suara mereka tiba-tiba saling memanggil nama. Ketika mata mereka bertemu, Ardella dan Anasya tersenyum.


"Kamu dulu." Ucap Ardella.


"Apa kamu masih marah samaku." Tanya Anasya ragu.


"Tidak, waktu itu aku hanya kesal. Maaf An, seharusnya aku tidak melibatkanmu." Saut Ardella.


"Syukurlah, aku sangat takut kamu membenciku. Ardella adalah teman pertamaku diindonesia, aku tidak ingin dibenci olehmu." Anasya tiba-tiba memeluk Ardella dan mengeluarkan air mata.


Ardella mengusap pundak Anasya. "Sudahlah An, semua orang melihat kearah Kita." Menenangkan dengan lembut.


"Aku hanya ingin saat kembali kejerman, aku bisa mengucapkan kata perpisahan denganmu." Anasya mengusap air matanya.


Sebelumnya Aoran telah mengajak Anasya untuk kembali bersamanya kejerman, tetapi karena sebentar lagi kelulusan, keberangkatan Anasya ditunda.


"Kamu akan kembali kejerman? Kenapa begitu tiba-tiba, terus kapan kamu akan pergi." Tanya Ardella bertubi-tubi memastikan.


"Kak Aoran memutuskan untuk kembali kejerman, karena itu aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama akhirnya kakakku mau kembali kejerman." Anasya dengan ceria membritahukan alasan kepergiaannya pada Ardella.


Aoran dijerman? Dia menepati janjinya. Batin Ardella.

__ADS_1


"Kapan keberangkatanmu kejerman." Tanya Ardella sekali lagi.


"Setelah selesai wisuda. Bulan depan aku sudah bisa naik sidang."


Nina dengan membawa sekantung plastik eskrim, kemudian memberikan kepada Ardella dan Anasya. Saat berkumpul bersama, hari-hari selama dikampus menjadi lebih asik.


***


Malam hari.


Edward tidak bisa tidur, sedari tadi matanya tidak bisa terpejam, karena itu dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tantenya.


"Tante." Panggil Edward dari luar kamar Ardella. Tetapi suara Ardella tidak menyahut dari dalam.


Perlahan Edward membuka pintu kamar, berjalan mengendap-endap, dia masuk dengan sangat hati-hati. "Tante." Teriak Edward ketika melihat Ardella terkepar di lantai.


"Mama, Papa, Paman Bin, kak Aldo, Erwin." Teriak Edward memanggil semua orang.


Mendengar teriakan Edward mereka bergegas menuju kekamar Ardella. Robin yang lebih dulu datang mengecek suhu tubuh Ardella.


"Ada apa, apa yang terjadi dengan Ardella." Ucap Batara setelah tiba.


"Tubuh Ardella panas Kak." Ucap Robin masih menyentuh kening Ardella.


"Kita bawa kerumah sakit sekarang. Lis kalian dirumah aja, biar aku dan Robin yang pergi kerumah sakit, kamu jaga anak-anak dirumah." Ucap Batara.


Robin yang menggendong Ardella langsung dilarikan kerumah sakit terdekat.


"Dokter." Panggil Batara dan Robin dengan panik.


Dokter yang ditemani dengan kedua suster membawa Ardella keruang periksa. Batara dan Robin menunggu diluar dengan rasa khawatir. Kegelisahan jelas tampak di wajah mereka berdua.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok. " Tanya Batara langsung ketika melihat dokter keluar.


"Tenang pak, pasien baik-baik saja. Kondisi diawal kehamilan membuat tubuhnya lemah, karena itu pastikan makanannya sehat." Mendeskripsikan kondisi Ardella.


Batara kehilangan keseimbangannya, dia hampir roboh ke lantai saat mendengar perkataan dokter. Robin sama halnya, terkejut dan tidak mengatakan sepatah kata, kesedihan menyelimuti Robin.


Ketika dokter pergi, Robin masih terlihat sangat syok, dia masih dalam keadaan terdiam. Batara mulai mendekati Robin. Dengan ragu sesuatu ingin dikatakan oleh Batara.


"Rob,mungkin ini terdengar egois. Apa Kamu masih mau menerima Ardella." Ucap Batara dengan suara serak parau.


"Ardella satu-satunya wanita yang aku cintai, bagaimanapun keadaanya aku pasti akan menerimanya." Jawab Robin yakin tanpa ragu mengambil keputusan. Selama ini Robin tidak pernah dekat dengan wanita lain, selain Ardella, dia belum pernah merasa jatuh cinta. Sejak didesa Robin selalu berusaha menjaga Ardella, dan kali ini Robin akan tetap melakukan hal yang sama. Baginya Ardella adalah cinta pertamanya yang tidak ingin dia dilepaskan.


"Sebelum kalian menikah, Ardella tidak boleh tahu kalau dia hamil." Batara merencanakan pernikahan Ardella dengan Robin akan dipercepat.


Saat keadaan Ardella telah membaik, Batara dan Robin membawa Ardella pulang. Menceritakan kepada Ardella bahwa penyebab sakitnya hanya karena kelelahan.

__ADS_1


Ardella kembali beristirahat didalam kamarnya, kantung matanya mulai berat, rasa ngantuknya cepat sekali datang, Ardella tertidur.


Disisi lain Batara menceritakan semua hal tentang kondisi Ardella pada Lisa istrinya di ruang tengah bersama Robin. Dan rencana percepatan pernikahan Robin dan Ardella akan dilakukan dalam bulan ini.


Mungkin pernikahan ini adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri semuanya. Semua berpikir demikian layaknya. Meski tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi setidaknya semua orang berusaha untuk menciptakan keadaan terbaik.


Sebelum pernikahan terjadi, kehamilan Ardella hanya diketahui oleh Batara, Robin ditambah Lisa.


Keesokan harinya.


Bammm.


Suara keras berasal dari kamar Ardella.


Robin yang berada disebelah kamar Ardella langsung beranjak melihat keadaan Ardella. Takut bahwa Ardella pingsan lagi, dia langsung membuka pintu dengan cepat.


"Ar, kamu tidak apa-apa." Tanya Robin ketika melihat barang-barang Ardella berantakan.


Suara keras yang didengar Robin berasal dari laci yang terjatuh ke lantai, ditambah kursi yang berbalik. Ardella sibuk mencari-cari sesuatu dikamarnya. Tangannya bergerak kesana kemari.


"Kamu sedang cari apa." Mendekati Ardella. Robin mengamati Ardella disampingnya.


"Flasdisku. Aku taruh dimana sih." Masih sibuk mencari diatas meja, dan tumpukan buku-buku dan sekitarnya. Robin ikut membantu mencari. Tapi hampir semua sudut kamar sudak dicari, namun flasdisknya masih belum ketemu.


"Beli baru aja Ar." Menyerah mencari, Robin memberikan solusi.


"Didalam flasdisku ada bahan skripsiku, hari ini aku kekampus bimbingan judul skripsi." Sautnya masih berusaha mencari dibawah kolong tempat tidur.


"Kamu masih perlu istirahat. Ingat kamu baru keluar dari rumah sakit." Menghentikan Ardella mencari.


"Dosenku sangat susah dijumpai, hari ini kesempatan langka untuk bisa membuat janji pertemuan dengannya." Jawab Ardella dengan nada polos.


Robin menunjukkan wajah cemberut, dahinya mengerut bertanda dia tidak suka dengan keputusan Ardella. "Aku sekarang sudah baikan Rob." Ucap Ardella menunjukkan wajah senyumnya.


"Baiklah." Robin tidak menghalangi lagi niat Ardella kekampus.


Mereka kembali mencari. "Mungkin dipinjam sama teman kamu." Ucap Robin mencari kemungkinan.


Ardella memutar ingatannya. "Ah, aku lupa, kemarin Nina yang pinjam. Kenapa aku bisa lupa sih." Baru teringat, Ardella tersenyum melihat kearah Robin.


Kamar sangat berantakan, sedangkan Ardella harus secepatnya kekampus menemui Nina, rasanya tidak sempat membereskan kamar, belum lagi dia harus mengejar waktu bimbingan dengan dosennya.


"Aku saja yang merapikan kamar, kamu siap-siaplah kekampus." Mengerti pikiran Ardella.


"Makasih Robin." Senyum Ardella.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2