Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Penyembuhan Part 3


__ADS_3

"Ardella bangun lah." Ucap Batara menangis menghentikan darah dileher Ardella.


"Kita bawa kerumah sakit sekarang mas." Lisa mengambil kain untuk membaluti leher Ardella, sambil menekannya untuk menghentikan pendarahan.


Ardella kemudiaan dilarikan kerumah sakit, sesampainya dirumah sakit Ardella langsung ditangani oleh dokter. Selama operasi berlangsung mereka berdoa agar Ardella baik-baik saja, menunggu dokter keluar UGD membuat Batara cemas, langkahnya yang daritadi mondar-mandir didepan pintu UGD.


"Mudahan-mudahan Ardella baik-baik aja mas." Mereka yang tengah berdiri didepan pintu UGD.


"Kenapa Ardella sampai seperti ini." Ucap Robin menahan air matanya yang hampir terjatuh.


"Bagaimana keadaan Ardella." Dokter Andre yang baru tiba setelah mendapat kabar dari Lisa.


"Dokternya belum keluar Ndre." Kata Lisa dengan pelan.


Kreeek,,, dokter keluar dari ruangan UGD, masih mengenakan masker dan pakaian operasi, perlahan dibukanya maskernya dan berusaha untuk menjelaskan kondisi Ardella.


"Untungnya luka dileher pasien tidak terlalu dalam, sekarang pasien dalam kondisi baik-baik saja." Kata dokter menyampaikan kabar baik pada keluarga pasien.


"Syukurlah." Ucap Lisa menyentuh tangan suaminya.


"Terima kasih dokter." Ucap Batara dengan suara lega.


Ardella masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Lisa, Robin dan Aldo berada diruangan inap untuk menjaga Ardella, sedangkan dokter Andre dan Batara berada diluar untuk berbicara sesuatu hal.


"Efek dari terapi sebelumnya membuat Ardella masih didalam suasana kesedihannya sehingga hari ini semua kenangannya sekaligus menyerangnya." Ucap dokter menjelaskan kondisi Ardella.


"Setelah ini apa yang harus kita lakukan Dok." Tanya Batara.


"Menunggu Ardella melahirkan biarkan dia bersamaku dirumah sakit, setelah melahirkan kita akan melakukan pengobatan hipnoterapi, dan memaksa Ardella untuk melupakan segalanya, antara berhasil atau tidak semua tergantung pada Ardella sendiri.


***


Seminggu setelah kejadian.


Dibawah paparan sinar matahari dari cahaya jendela, Ardella tengah duduk dikasur diruangan rumah sakit, setelah kejadiaan pada dirinya yang mencoba bunuh diri, Ardella dirawat oleh dokter Andre dirumah sakit tempatnya bekerja. Ardella kembali termenung, walau tak menangis dia juga tak ceria, dia hanya berada dikasur sepanjang hari, sesekali dokter Andre datang menjenguknya dan mengajaknya bicara, tapi kondisi Ardella kembali lagi ketitik awal.


"Ah sakit." Ucap Ardella menyentuh perutnya.


Ardella yang berteriak menjerit kesakitan didengar oleh suster, suster yang berada diruangan melihat air ketuban Ardella pecah dan mengalir dari kakinya, air ketuban yang pecah menandakan Ardella sebentar lagi akan melahirkan, suster memanggil dokter Andre dengan ponsel genggamnya, setelah itu mereka membawa Ardella keruangan bersalin, dokter Andre mengabari Lisa lewat ponsel genggamnya.


"Tarik nafas terus hembuskan." Ucap dokter pada Ardella dalam ruangan bersalin.


"Ngennnngg,, uh,, uh,,uh. " Suara desahan Ardella menahan rasa sakit.


"Sekali lagi dorong." Ucap dokter melihat tanda-tanda kehadiran bayinya.


Ardella dengan segenap tenaganya berusaha menahan rasa sakit dan melakukan dorongan.


Hoek,,, hoek,,,hoek. Tangisan bayi kecil telah lahir.


Ardella dalam kondisi lemah mendengar suara tangisan bayinya. "Anakku. " Ucap Ardella lembut, beginikah rasanya menjadi seorang ibu, rasa sakit saat melahirkan hilang seketika saat melihat wajah bayi kecil.


Ingin sekali Ardella menggendong bayinya, tangannya ingin menyentuh bayinya, namun karena tubuhnya begitu lemah paska melahirkan penglihatannya tersamar-samar, tangan yang dari tadi berusaha meraih bayinya terjatuh, Ardella mulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


***


Setahun kemudiaan.


"Saya ingin bertemu tuan Aoran, mohon izinkan saya masuk." Ucap seorang laki-laki sekitar umur 40 tahun.


"Bapak harus buat janji dulu dengan pak Aoran." Ucap karyawan perusahaan.


Tak,,, tak,,, tak langkah seorang laki-laki dengan mengenakan setelan jas hitam dengan pandangan tajam dan terlihat gagah, dia tak lain adalah Aoran Fritsch seorang CEO perusahaan ternama di mancanegara.


"Siapa yang berani membuat keributan di kantorku." Ucap Aoran dengan tatapan dingin.


"Tuan Aoran tolong lihat proposal dari perusahaanku." Berlari menghadang jalan Aoran sambil memperlihatkan sebuah map berisikan proposal.


Aoran menyeritkan dahinya, dirinya sama sekali tidak ingin berurusan dengan hal yang dianggapnya tidak berguna. "Bawa dia keluar." Ucap Aoran berjalan melewati.


Laki-laki paruh baya itu kembali mengejar Aoran, dia bersujud dikaki Aoran dengan menangis. "Tolong bantu perusahaan saya tuan Aoran, kasihani saya, jika perusahaan saya bangkrut, maka anak dan istri saya akan kelaparan." Ucap laki-laki itu bersujud dan memohon.


Aoran sedikitpun tidak bergeming, hatinya pun tak merasa kasihan, malah merasa jengkel atas permintaan laki-laki itu. Alasanya tidak peduli dengan keadaan laki-laki itu, pikirnya dia adalah seorang yang pengecut dan tidak becus bekerja sehingga perusahaannya bangkrut, dan sekarang dia honda bisa mengemis meminta pertolongan orang lain.


"Setidaknya kamu masih melihat wajah istri dan anakmu." Menepis tangan laki-laki itu dengan kakinya dan berjalan masuk kedalam ruangan kerjanya.


"Sekarang tuan Aoran terlihat dingin tidak seperti dulu waktu pertama kali pak presedir memperkenalkannya ke perusahaan kita."


"Dia sangat berubah."


"Bahkan saat dia marah dia tidak sungkan memecat."


"Aku semakin takut dengan pak Aoran."


Perbincangan sesama karyawan melihat perubahan Aoran.


"Pak saya antar keluar ya." Seorang karyawan mengantar laki-laki yang dari tadi memohon pada Aoran.


"Dia dari perusahaan kecil. Sepertinya dia butuh investor dari perusahaan lain bos." Ucap sekretaris Aoran setelah berada diruangan kerja.


"Jangan biarkan dia datang lagi, jika dia memaksa masuk, usir saja dia dengan paksa." Ucap Aoran sambil membuka laptopnya yang berada diatas mejanya.


"Baik pak." Ucap sekretarisnya sambil membungkukkan badannya.


Aoran Fritsch selama 2 tahun tak bertemu dengan Ardella, ntah apa yang membuatnya tidak menepatai janjinya pada Ardella.


Aoran Fritsc menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Diperusahaan Aoran dikenal sebagai bos disiplin, dan tak berperasaan, sifatnya dan suasana hatinya tak mudah ditebak.


Kringgggg,,,suara ponsel Aoran yang berdering di sakunya, diambilnya kemudian dilihatnya tertulis nama Anasya.


"Hallo." Mengangkat ponselnya.


"Kakak bulan depan aku akan kembali ke indonesia." Ucap Anasya dengan suara girang.


"Tinggalah dijerman untuk apa ke indonesia." Suara Aoran yang menandakan tidak setuju kedatangan Anasya.


"Tidak, aku sudah bertekad untuk datang ke indonesia, jangan menghalangiku kak." Suaranya kesal dengan larangan Aoran.

__ADS_1


"Baiklah terserahmu saja." Menghela nafas dengan dalam.


"Sekarang kak Aoran sudah tidak peduli lagi denganku, dua tahun tak pernah mengabari kami." Kata Anasya memarahi Aoran lewat sebrang telpon.


"Aku sedang sibuk, lain kali kita bicara." Aoran mematikan ponselnya dan diletakkanya di atas meja.


Seketika Aoran menggoyangkan kursinya, kemudian melangkah kejendela dan membuka tirai jendela, Aoran yang berada di lantai paling atas melihat gedung-gedung dibawahnya, serta persimpangan jalan.


Ardella dimana kamu sekarang bersama dengan anak kita. Aku pasti akan menemukan kalian, dan kita bisa berkumpul bersama.Β  Aoran membatin.


***


Di rumah sakit.


"Ehem." Suara batuk kecil yang dibuat oleh dokter Andre.


"Kak Andre." Terkejut seketika pandangan menoleh melihat kedatangan dokter Andre.


"Sudah siap untuk pulang." Ucap dokter Andre.


"Sudah Kak, aku sangat bosan dengan suasana rumah sakit." Ucap Ardella pada dokter Andre.


"Jadi kamu bosan denganku." Memasang wajah sedih.


"Aku bosan dengan rumah sakit, tapi tidak dengan dokter Andre." Ucap Ardella tersenyum. Selama setahun Ardella sudah menganggap Andre sebagai kakaknya. Menjadi dokter dan sekaligus sebagai kakak membuat Andre senang, dia sangat tulus untuk menyembuhkan Ardella.


"Aku tidak percaya." Pura-pura sedih.


"Percayalah. Dokter Andre paling ganteng dan keren yang pernah aku temui." Menggoda dokter Andre dengan memberikan senyum manja nan imut.


"Hahaha, sekarang kamu sudah pandai menggoda." Tertawa melihat tingkah Ardella.


"Aku belajar dari dokter Andre." Memberikan serangan.


"Baiklah aku menyerah.(Mengangkat Kedua tangannya), apa sudah siap beres-beres, sebentar lagi kakakmu akan datang menjeputmu." Ucapnya kembali sambil melihat barang-barang Ardella.


"Kak Andre tidak mengantarku kembali kerumah." Tanya Ardella sambil merapikan barang-barangnya.


"Hari ini aku ada pasien jadi tak bisa mengantarmu, tapi aku janji akan datang untuk makan malam bersama." Mengusap kepala Ardella.


"Terimakasih kak Andre selama ini merawatku." Ucap Ardella memberikan pelukan perpisahan atas kepergiaannya dari rumah sakit.


"Aku berharap kamu tidak akan pernah berada lagi dirumah sakit ini." Doa seorang dokter untuk Ardella agar tidak sakit lagi.


"Baiklah dokter aku tidak akan sakit lagi." Melepaskan pelukkannya.


Senyum ceria Ardella membuat Andre merasa senang, tak pernah dibayangkannya Ardella yang sedang berada dihadapannya berbeda dengan Ardella yang dulu dia kenal.


"Dek ayo kita pulang." Batara yang baru datang dan masuk kedalam kamar rawat Ardella.


"Ok kak." Senyumnya lembut.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2