Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Dejavu


__ADS_3

Kembali ke Edward yang melihat Ardella menggendong Erwin, dia merasa sedih. Lari meninggalkan Ardella, Edward kemudian mengambek menutup wajahnya dengan bantal yang ada disofa.


Ardella mendekat pada Edward, dilihatnya Edward menangis. "Edward kenapa menangis sayang." Tanya Ardella menurunkan Erwin.


Edward yang tidak mau berbicara, memalingkan wajah kecilnya dan memegang erat bantal yang menutupi wajahnya. Ardella tersenyum melihat tingkah Edward mengambek dengan lucu. Ardella mengangkat Edward kepelukannnya, begitu juga dengan Erwin. Sama-sama dipelukannya Ardella memeluk keduanya.


"Keponakan tante udah besar rupanya." Elus Ardella dengan lembut.


Sering kali Edward selalu membuat Erwin menangis, misalnya bertengkar karena memperebutkan mainan, bahkan untuk memperebutkan perhatian Ardella juga sering dilakukan Edward.


Ardella melihat wajah Edward menatap Erwin dengan dingin. " Sebagai kakak Edward harus mengalah pada Erwin." Ucap Ardella lembut melihat kearah mata Edward.


Anak kecil yang patuh. "Iya tante." Ucap Edward pelan menunduk.


"Janji sama tante." Membuat janji kelingking.


"Janji." Mengaitkan kelingking kecilnya.


Edward dan Erwin tumbuh bersama. Sifat kedua bocah ini sedikit berlawanan. Erwin sifat lebih sedikit pendiam dan menurut. Sedangkan Edward sedikit lebih aktif, cara berbicaranya sangat tinggi. Walau masih berusia 5 tahun Edward terlihat lebih pintar dari usia anak lain pada umumnya.


Begitulah kedua sifat keponakan Ardella. Meski begitu, keduanya masih saling menyayangi, jika salah satu diantara mereka sakit, maka salah satunya lagi akan menangis. Hanya saja memperebutkan mainan mereka selalu bertengkar.


***


Malam hari.


Edward dengan membukakan pintu, beranjak naik keatas tempat tidur. Menarik selimut, Edward dengan polosnya menepuk bantal disampingnya. Menyuruh Ardella menemaninya tidur dan membacakannya dongeng sebelum tidur. Keimutan anak kecil bertingkah lucu membuat Ardella meninggalkan urusannya dan beranjak menemani Edward tidur serta membacakan dongeng.


Keesokan hari.


Pagi indah, embun malam hari bahkan belum beranjak naik, namun mereka dengan siap siaga telah berdiri didepan perusahaan. Sisa-sisa kelelahan masih terpanjar diwajah mereka, sesekali melihat kearah jalan menunggu kedatangan sang bos.


Ardella dengan usaha keras telah menghapal buku panduannya sebagai sekretaris, Ardella yang juga berdiri ditengah para karyawan dengan mengenakan kemeja, rambut terikat setengah, ikut menunggu kedatangan Aoran.


Ckittt.


Mobil Aoran tiba.


Seperti biasanya, Aoran turun dari mobilnya. Dengan menyeritkan dahinya, Aoran melihat mereka yang menyambutnya menunduk dengan wajah takut. Sama halnya dengan Ardella pandangannya melihat kearah lantai.


"Selamat pagi Bos."


Mengacuhkan sapaan mereka, Aoran melirik kearah Ardella. Tidak suka dengan Ardella yang memperlakukannya sama seperti karyawan lain.


"Kamu berjalanlah sekitar jarak 1 meter dibelakangku." Ucap Aoran berdiri didepan Ardella.


"Baik Bos." Melihat kearah Aoran.


Mereka mulai berjalan masuk kedalam perusahaan. Parto yang berdiri disamping Aoran memberitahukan jadwal Aoran.


Kaki panjang Aoran membuat langkahnya cepat. Ardella yang mengikuti langkah Aoran hampir tertinggal dibelakang, dengan berjalan terbiri-birit Ardella menambah kecepatan kakinya.


"Bos hari ini kita ada meeting sekitar jam 10." Ucap Parto melihat tabletnya.


"Baiklah. Selanjutnya."


"Selanjutnya sekitar jam 14.00 siang ada pertemuan dengan klien, membahas kerja sama kita bulan lalu. "


Aoran dan Parto sibuk membahas kerjaan. Tiba didepan lift langkah cepat Aoran terhenti.


Dukk,,, Ardella menabrak punggung Aoran dari belakang.

__ADS_1


"Auuu." Ucap Ardella.


Aoran merasakan punggungnya ditabrak oleh Ardella berbalik kebelakang.


Ardella yang masih menyentuh bagian kepalanya. "Kalau berjalan jangan tiba-tiba berhenti." Teriak Ardella mengerutkan dahinya menatap Aoran dengan cemberut.


"Jadi maksudmu aku harus berjalan terus dan menabrak pintu lift yang belum terbuka. " Saut Aoran.


"Meski begitu kamu kan bisa memperlambat jalanmu. Bagaimana kalau tadi aku terjatuh." Ucap Ardella merasa kesal.


Aoran menatap Ardella, tubuh mungil yang ada didepannya masih sama seperti dulu, suara nyaring yang didengarnya tidak berubah. Seketika itu ingatan kembali saat dia meninggalkan Ardella. Muncul dalam hatinya bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya.


Aoran merasa dejavu dengan omelan Ardella dan ekspresinya. "Maaf." Ucap Aoran tanpa sadar.


Susana hening, banyak mata yang melihat kearah Ardella, Parto juga melihat kearah Aoran. Kata maaf yang diucapkan Aoran membuat mereka tercengang.


"Eh, Bos kita mengucapkan kata maaf pada sekretaris barunya." Perbincangan sesema karyawan.


"Dari tadi aku sudah kesal melihat langkahmu yang begitu cepat. Membuatku lelah mengikutimu dari belakang." Ardella kembali mengomel.


Hati dan logika Aoran bermain dalam pikirannya. Hati Aoran yang berkata bahwa dirinya yang bersalah, tapi saat logika bermain dibenaknya, kembali Aoran mengingat bahwa Ardella gadis yang tidak punya hati.


"Siapa kamu berani menyalahkanku, Jika kamu memiliki kaki pendek, Maka berlarilah lebih cepat." Ucap Aoran.


"Apa kaki panjang sesuatu yang harus dibanggakan, terus apa kaitannya dengan status posisi, aku hanya memintamu sedikit lebih memperhatikan orang sekelilingmu. " Saut Ardella


"Sudahlah Bos orang-orang melihat." Bisik Parto.


"Diamlah ini urusanku." Saut Aoran menatap Parto mematikan.


Ardella masih mengelus kepalanya, dan melihat kearah Aoran, wajahnya cemberut sambil menggerutu kesal. Diliriknya wajah Ardella sedari tadi kesal, Aoran menarik nafasnya dan menyudahi perdebatannya dengan Ardella.


"Sedikit." Ucap Ardella.


Berpikir jernih, Aoran kembali ke sifat awalnya. "Sepertinya ada yang salah, kenapa harus kamu yang marah. Aku dimarahi oleh seorang sekretaris." Ucap Aoran dengan tatapan dingin seketika berubah.


Mampuslah aku. Kenapa aku bisa berkata seperti itu. Ardella membatin.


Ardella kembali sadar dengan posisinya. "Ups. Maaf Bos. " Ardella membungkuk pada Aoran.


"Perhatikan caramu bicara pada Bos. " Saut Parto.


"Baik."


Didalam lift suasana canggung, Ardella juga merasa bahwa dirinya terlalu berani berbicara kasar pada Aoran.


Beranjak masuk kedalam ruang kerja, Aoran dan Ardella sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sibuk dengan dokumen yang menumpuk diatas meja, Ardella merasa lelah.


"Kenapa aku merasa lelah, belumpun menyelesaikan satu dokumen. " Ucap Ardella menutup dokumennya dan bertelengkup keatas dokumen. "Istirahat sebentar, setelah itu baru dilanjutkan." Gumam Ardella mulai mengantuk.


"Bos, waktunya meeting." Parto masuk kedalam ruang kerja Aoran.


"Oke." Aoran menutup laptopnya.


Parto terlebih dahulu memeriksa ruang meeting keluar.


Jas hitam yang tergantung diraih oleh Aoran, merapikan jasnya dia bersiap untuk menghadiri meeting. Ardella tertidur diatas meja dilihat oleh Aoran. Melihat Ardella tidur Aoran menatapnya. Wajah polos Ardella yang selama ini dirindukannya membuat Aoran mengingat sakit hatinya.


Jika saja kamu Ardella yang kukenal mungkin aku akan merasa senang. Setelah kupastikan semua aku akan memutuskan apa yang harus kuperbuat denganmu. Aoran membatin.


Diruang meeting.

__ADS_1


Meeting dimulai, para karyawan mulai mempresentasikan perkembangan perusahaan. Meeting telah bejalan sedikit lama.


Situasi Ardella ketika bangun.


Ardella mulai terbangun melihat sekeliling, dilihatnya ruangan kosong. "Gawat, Aku ketiduran." Melihat jam tangannya mengingat ada meeting.


Ardella beranjak pergi menuju ruang meeting. "Gimana nih aku telat satu jam." Gumam Ardella merasa bingung antara masuk atau tidak kedalam ruang meeting.


"Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali." Ucapnya sambil menarik nafas dengan dalam.


Ceklekk,,,. Pintu terbuka Ardella mulai mengendap-ngendap masuk.


Deg,,, Ardella merasa sedikit gugup, dengan langkah kecil dan pelan Ardella menuju kursi yang masih kosong. mengeluarkan alat tulisnya dan berusaha mencatat apa saja yang didengarnya.


Duduk dikursi Ardella menghela nafas. "Huft." Suara nafas Ardella sedikit keras hingga terdengar oleh mereka yang ada didalam ruangan.


Mereka yang didalam ruang meeting melihat kearah Ardella.


"Maaf." Ucap Ardella menunduk.


Sibuk dengan pembicaraan didalam ruang meeting. Ardella malah gelisah menggoyang-goyangkan kakinya.


Ardella merasa perutnya sedikit keram. "Auu." Suara kecil Ardella menyentuh perutnya.


Hanya Aoran yang sedari tadi memperhatikan tingkah Ardella selama meeting berlangsung.


Apa dia lapar. Aoran membatin.


"Untuk hari ini meetingnya selesai. Kalian boleh keluar lebih dulu" Ucap Aoran membubarkan meeting.


Dengan ucapan Aoran para karyawan mulai meninggalkan ruangan. Hanya tinggal Ardella dan Aoran yang berada diruangan.


Melihat Aoran menatapnya dengan tajam. "Bos maaf. Saya terlambat." Ardella berpikikir Aoran akan memarahinya.


Tap,,,Aoran menuju kearah Ardella.


"Jika kamu merasa bersalah maka tunjukkan rasa penyesalanmu." Ucap Aoran.


"Bagaimana kalau aku traktir Bos makan siang." Saut Ardella dengan cepat.


"Tidak perlu, aku tidak ingin makanan jalanan. Tapi hari ini kamu harus menemaniku makan, setelah itu temani aku bertemu dengan klien." Ucap Aoran.


"Terserah kalau tidak mau terima." Responya ketika mendengar penolakan Aoran atas tawaran traktirannya. "Aku bawa bekal, apa boleh kubawa sekalian" Tanya Ardella.


"Baiklah."


Ardella mulai membereskan alat tulisnya, saat hendak berjalan, Ardella merasa ada yang tidak nyaman dengan dirinya. Ardella tahu apa yang membuatnya tidak nyaman melihat kearah kursinya.


"Iss." Keluh Ardella.


"Ada apa." Tanya Aoran.


"Tidak ada, sebaiknya bos pergi duluan aku menyusul." Ucap Ardella kembali duduk.


Aoran merasa sedikit aneh melihat ekspresi Ardella. " Kamu kenapa masih duduk. Apa ada yang salah." Aoran mendekat ke arah Ardella.


"Jangan mendekat." Teriak Ardella keras melarang Aoran mendekati dirinya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2