Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Hati yang Dilema


__ADS_3

Sore hari di balkon.


Aoran yang sedang menikmati secangkir kopi sedang termenung, pikirannya masih berada pada pertemuaannya bersama Ardella tadi pagi. Hatinya ntah kenapa bingung saat Ardella mengatakan bahwa dia hanya pekerja upahan. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, selama ini wanita yang dekat dengannya adalah wanita glamor, walaupun seperti itu Aoran tidak pernah tertarik pada mereka, sedangkan Ardella yang seorang pekerja upahan yang berpenampilan polos malah membuat dirinya tertarik.


Memperhatikan Aoran sedikit bertingkah aneh. "Fritsch, sebenarnya lu kenapa sih?." Ucap Evan Ikut duduk.


Aoran sedikit menceritakan sesuatu yang ada dipikirannya. "Saat diperkebunan tadi pagi, aku bertemu dengan Ardella. " Ucap Aoran pelan.


"Ardella? apa itu nama cewek yang lu ceritaain. " Saut Evan.


"Iya. "


"Terus, emang apa masalahnya. " Tanya Evan masih belum jelas masalahnya.


"Gue sebenarnya juga gk tahu."


"Udahlah, gk usah ngurusin cewek itu, ingat waktu lu cuman 3 bulan Fritsch. " Mengambil kopi Aoran.


"Gue juga tahu. Beberapa hari ini bertemu dengannya membuatku sedikit senang." Wajah serius Aoran.


Bayangan Aoran seketika mengingat pertemuannya dengan Ardella, saat pertemuannya pertama Ardella terlihat sedih, kedua kalinya Ardella terlihat bahagia, dan yang ketiga kalinya dia hanya sorang pekerja upahan.


Ardella sebenarnya wanita seperti apa kamu? mengapa aku begitu memikirkanmu, padahal tidak ada yang terlalu spesial denganmu. Jika karena kamu cantik, selama ini aku juga sering bertemu wanita yang lebih cantik daripada dirimu. Apa yang membuatku begitu tertarik denganmu sehingga bayanganmu selalu ada dipikiranku. Aoran membatin.


" Van, , gue dah putusin kalau gue akan ngejar Ardella. "


Evan terkejut dengan ucpan Aoran. "Eh,,, lu gila,,!! ingat seteleh 3 bulan lu gk akan sebebas sekarang ini." Teriak Evan tidak setuju.


Melihat ekspresi Evan, sudah jelas Aoran tahu apa yang dipikirkan Evan. "Sssstttt,. Lagian gue juga belum tentu benar-benar suka dengannya. " Menutup mulut Evan dengan jarinya.


" Gue gk masalah kalau lu main-mainin hati cewek selama ini, tapi ingat Fritsch jangan pernah mainin hati cewek polos, lagian lu mungkin tertarik dengan cewek ltu karena dari awal cewek itu gk ngejar-ngejar lu, jadi secara almiah lu merasa tertantang Fritsch. "


"Berisik lu,,, kalau memang hanya sebatas itu urusannya kan cepat selesai, satu lagi gue ingatkan selama ini gue gk pernah mainin cewek, mereka aja yang datang ke gue dengan alasan cinta sama gue. " Kata Aoran tidak terima.


"Tapi lu tetap ninggalin mereka. " Saut Evan lantang.


"Dari awal gue memang gk tertarik dengan mereka, itu hanya semata-mata menghargai mereka aja. " Ucap Aoran dengan nada kekesalan


" Tapi tetap aja sama, lebih baik jangan memberi harapan palsu pada mereka, coba dipikirin lagi Fritsch, lagian besok kita harus balik ke jakarta. "

__ADS_1


"Gue gk bakal balik selama tiga bulan, kedepan gue mau tinggal disini, kalau lu mau pergi balik ke jakarta silahkan." Menunjukkan wajah kesal pada Evan.


"Gk, gue akan tetap tinggal disini dan terus mengingatkan lu."


"Terserah, tapi ingat jangan kasih tau orangtua gue kalau gue masih disini. " Memperingatkan dengan tegas.


"Ok,,, gue rahasiain, tapi ingat Fritsch kalau memang lu benar-benar gk tertarik lagi sama cewek itu sebaiknya cepat-cepat lu tinggalin, sebelum cewek itu terlanjur cinta mati sama lu. "


"Ok,,, gue janji. "


"Seandainya pun lu sama tu cewek betul-betul saling suka, apa lu bisa pertahanin dia. "


"Lu banyak mikir deh, capek ah dengarin ocehan lu." Berjalan menuju kamar.


Aoran meninggalkan Evan dibalkon percakapan mereka terhenti, Evan yang tau betul sifat Aoran membuatnya khwatir. Dia juga mencemaskan Ardella yang bahkan belum pernah dilihatnya. Dari cerita Aoran yang selama ini didengarnya tentang Ardella, membuat Evan khwatir kepada Aoran. Takut Aoran akan mencintai Ardella lebih dulu, takut Aoran tidak akan sanggup meninggalkan Ardella.


Sedangkan disisi lain Aoran mulai merencanakan cara mendekati Ardella. Antara cinta atau hanya semata Aoran mendekati Ardella karena penasaran belum bisa dipastikan, ketika banyak wanita selama ini mengejar-ngejarnya tapi tak ada satupun membuatnya tertarik.


Keesokan harinya.


Aoran kembali mencari keberadaan Ardella. Mulai dari pelabuhan dia mencari Ardella sampai ke perkebunan. Aoran tidak menemukan Ardella setelah hampir sehariaan mencarinya, ingin pergi kerumah Ardella, Aoran tidak tahu Ardella tinggal dimana.


Sibuk melihat sekeliling perkebunan, Aoranelihat seorang bapak-bapak. Aoran beranjak mendekat.


"Permisi pak." Sapa Aoran.


"Iya. Ada perlu apa." Ucap bapak.


"Saya ingin tanya, dua gadis yang kemarin dimana ya pak." Ucap Aoran.


"Dua gadis yang mana?. "Tanyanya masih kurang jelas maksud Aoran. "Disini banyak anak gadis." Ucapnya kembali.


"Gadis yang bernama Ardella dan Ririn pak." Ucap Aoran memperbaiki pertanyaannya.


"Ooo, Ardella dan Ririn." Sautnya. "Hari ini mereka tidak masuk kerja, kembalilah besok, kemungkinan mereka besok akan datang. " Ucapnya.


"Ooo. Terima kasih Pak." Jawab Aoran dengan suara pelan.


Kembali berpikir, Aoran memutuskan untuk ikut bekerja diperkebunan.

__ADS_1


"Permisi pak, sekali lagi aku mau tanya. Apa boleh aku ikut bekerja disini." Ucap Aoran.


"Serius. Memangnya kamu bisa bekerka, dilihat dari tampangmu, sepertinya kamu anak orang kaya." Pandangannya melihat Aoran tampan, kulit bersih dan aura orang kaya.


"Saya bisa pak. Kalau memang gk bisa. Gk dikasih gaji juga tidak masalah. " Ucap Aoran memohon.


"Baiklah. Besok kamu boleh datang."


"Terima kasih pak."


Aoran kembali ke penginapan, hari ini mungkin dia tidak bisa bertemu dengan Ardella tapi besok mereka pasti bertemu kembali.


"Van. Besok gue kerja diperkebunan. Jadi jangan mencariku." Ucap Aoran.


"Bekerja. Untuk apa." Saut Evan terkejut. "Jangan bilang karena cewek yang bernama. Ardella."


"Betul. Karena Ardella." Dengan santai mengiyakan perkataan Evan.


"Sebaiknya lu pikir-pikir lebih matang lagi." Nada serius.


"Sudah kupikirkan." Saut Aoran.


"Gimana kalau lu sampe betulan jatuh cinta sama Ardella." Tanya Evan.


Aoran yang belum jelas dengan perasaannya sendiri terhadap Ardella. Selama ini Aoran banyak menjalin asrama dengan gadis dijerman. Mungkin mantan Aoran tidak terhitung dengan jari-jari tangan. Sekian banyak gadis didekatnya hanya bertahan satu bulan.


"Gk bakal. Ini cuman masa percobaan. " Ucap Aoran yakin.


"Jadi untuk apa deketin dia kalau lu gk berniat jatuh cinta dengannya. Buang-buang waktu aja. " Evan mulai kesal.


Aoran kembali bertanya pada dirinya, alasan untuk mendekati Ardella. Namun tidak ada jawaban yang pasti. Dia menyentuh dahinya, memikirkan ucapan Evan.


"Betulkan yang gue bilang. Lu aja bingung. " Ucap Evan.


"Masa bodo. Setidaknya dengan dekat dengannya, gue bakal tahu kenapa gue tertarik padanya. " Jawab Aoran.


Kepastiaan Aoran mencari tahu alasannya tertarik pada Ardella dimulai.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2