
Dikantor kepala desa telah ramai orang-orang untuk membicarakan kehamilan Ardella. Didesa diyakini bahwa wanita hamil diluar nikah membuat para leluhur marah, dan paling ironisnya mereka takut terjadi bencana yang akan melanda desa.
"Anak itu tidak boleh dilahirkan."
"Anak haram membawa kesialan bagi desa kita."
"Anak gadis yang belum menikah sudah hamil diluar nikah, terus mencari uang dengan menjual diri."
Ucapan para warga menunjuk-nunjuk kewajah Ardella.
"Tenang para warga sekalian, kita dengarkan dulu penjelasan Ardella. " Ucap kepala desa.
"Ardella apa betul kamu sedang hamil, terus siapa laki-laki itu. " Tanya kepala desa baik-baik.
"Untuk apa ditanya lagi, semua sudah jelas bahkan kami sudah memeriksanya kerumah sakit." Salah satu warga.
"Gugurkan anak itu, atau kamu pergi dari desa ini." Ucap warga lain.
Mendengar itu Ardella tidak sanggup, membayangkan membunuh anaknya yang belum lahir membuatnya merasa tak punya hati nurani, dia menentang dan menolak para warga.
"Tidak, aku tidak mau menggugurkanya." Ucap Ardella berdiri dari kursi.
Ardella yang melihat ayahnya diluar pergi menemui ayahnya. Berharap ayahnya akan menolongnya.
"Ayah, tolong Ardella, suruh mereka untuk tidak melakukannya, aku janji setelah ini aku akan memanggil wanita itu sebagai ibuku, kumohon ayah. Kumohon." Ardella sujud didepan kaki ayahnya sambil menangis.
"Apa yang mereka katakan benar, anak haram menandakan kesialan. Lebih baik digugurkan saja." Ucap ayahnya.
Ayah Ardella memilih untuk mengikuti permintaan warga semata-mata agar Ardella tidak diusir dari desa.
Mendengar ayahnya tidak mendukungnya, Ardella merasa kecewa dan sedih. "Tidak, aku tidak mau menggugurkannya." Menggelengkan kepalanya kemudian berdiri kembali sambil berjalan mundur.
"Jika dia tidak mau menggugurkannya dia harus dihukum terlebih dahulu sampai dia setuju." Ucap warga.
Warga mulai mendekati Ardella, dengan tatapan hina dan rasa jijik para warga berusaha membawa Ardella kerumah sakit. "Apa yang kalian lakukan, jangan menyentuhku dan anakku." Perlahan Ardella berjalan mundur dan memegang perutnya.
Ardella yang masih bersikeras menolak, membuat para warga merasa geram, karena itu warga siap menghukum Ardella, ditangan mereka terdapat kerikil dan batu, sebagian dari mereka melempari Ardella dengan batu kecil. Batu terlempar keseluruh tubuh Ardella.
Meski berusaha melindungi diri dengan kedua tangannya, tetap saja Ardella terkena batu yang dilempari oleh warga. "Sakit,,,.!(Teriaknya) ayah tolong Ardella." Dengan menangis Ardella memohon meminta pertolongan.
Ardella berlari dari kerumunan orang, kakinya yang lemah membuatnya terjatuh, dan tidak sanggup berdiri. Dia masih berusaha untuk melarikan diri, menyeret kakinya menjauh dari warga.
Mereka mengejar Ardella tanpa henti. "Cepat katakan bahwa kamu akan setuju melakukan aborsi." Warga yang masih tetap melempari Ardella dengan batu dan kerikil.
Ardella masih bersikeras tidak mau melakukannya, dia masih melindungi perutnya dengan kedua tanganya, dahinya mulai berdarah, tubuhnya memar karena dilempari batu. Sekujur tubuhnya gemetar menahan rasa sakit dan ketakutan.
"Huhuhuhu,,, kumohon ampuni aku, ini salahku jangan menghukum anakku yang belum lahir." Ucap Ardella menangis tersedu-sedu.
"Tidak bisa, kami tidak mau desa ini terkena sial karena wanita sepertimu."
"Iya,,, iya,, betul,,,betul."
Warga juga tidak merasa kasihan oleh keadaan Ardella, mereka terus melempari tubuh Ardella sampai dia setuju mengugurkannya.
Tap,,,tap,,, tap.
__ADS_1
Ririn dan Robin yang baru mendengar kabar tentang Ardella baru datang. Seketika mereka melihat Ardella telah dilempari dengan batu, mereka ikut menangis melihat kondisi Ardella.
"Lempar,,,lempar,,, lempar sampai dia setuju." Ucap warga melempari Ardella.
"Huhuhu,,, hiks,,, hiks,, ini salahku,,, ini salahku kumohon hentikan." Menahan rasa sakit dan suara yang merintih kesakitan.
Ardella bertekuk dan menutupi seluruh perutnya dengan badanya, batu yang terkena tubuhnya sangat sakit rasanya, sejenak Ardella tidak lagi merasakan sakit, pikirnya mereka sudah berhenti, tapi saat melihat tubuh seseorang melindunginya. Dia tak lain adalah Robin.
Robin meraih tubuh Ardella kemudiaan dipeluknya dengan erat, Robin juga ikut menangis bersama Ardella. "Ardella maaf aku terlambat." Ucap Robin menangis.
Huhuhu,,, Ardella memeluk balik tubuh Robin.
"Hiks,,, hiks,,, hiks Robin sakit,,, aku takut." Tangisan Ardella dipelukan Robin.
"Apa yang kamu lakukakan lepaskan dia." Kata warga sambil menarik-narik Robin.
"Jangan sakiti dia, aku yang melakukannya, hukum saja aku." Ucap Robin berteriak pada warga.
"Kamu jangan berbohong, kami tau Ardella selama ini pergi ke penginapan dan menjadi simpanan orang kaya." Penjelasan warga.
Penjelasan warga bukannya tidak beralasan, Leli dan ibu tirinya telah menyebarkan gosip bahwa Ardella menjadi simpanan para pengunjung.
"Darimana kalian mendapat kabar itu, Ardella bukan gadis seperti itu. " Teriak Robin marah.
"Leli sendiri yang menyaksikannya selama bertengkar dengan ayahnya dia mencari uang dengan cara menjual diri." Ucap warga.
Leli dan ibu tirinya pucat dan takut karena berbohong pada warga. Tapi tetap saja walau mereka berbohong kenyataannya masih tetap sama bahwa Ardella hamil diluar nikah tanpa suami.
Warga memisahkan Ardella dengan Robin, tapi mereka berdua juga semakin erat pelukanya, sekitar enam orang laki-laki bertubuh besar memisahkan mereka berdua. Mereka menarik tubuh Ardella dari belakang begitu juga Robin.
"Tenang Ardella aku akan melindungimu, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri." Ucap Robin mengeratkan pelukannya.
Lama kelamaan pelukan Robin dan Ardella semakin longgar, perlahan mereka menarik tangan Ardella.
"Tidak, lepaskan,,,lepaskan." Ucap Robin menepis tangan warga yang menarik Ardella.
"Ahhhhhh." Teriak Ardella menangis.
Mereka berhasil memisahkan Robin dengan Ardella. Warga menahan Robin dengan sekuat tenaga, kemudiaan menyeret Ardella dari belakang, kaki Ardella ikut terseret dan tubuhnya tergores oleh tanah.
Ardella meronta-ronta berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku." Menepis tangan orang yang menyeretnya.
Ardella membalikkan tubuhnya dan memeluk tanah, tanganya mencekram tanah higga kukunya bahkan penuh dengan tanah, ketika mereka mengangkat Ardella, mereka sedikit kesusahan. Seluruh tenaga Ardella dikerahkannya terbaring memeluk tanah, air mata Ardella terjatuh ketanah rasa sakit tubuhnya tidak dirasakannya lagi, tapi rasa sakit hatinya membuatnya kesakitan yang paling dalam. Dia melihat wajah-wajah yang tega memperlakukannya seperti hewan.
Mama, apa Ardella lebih baik mati. Dengan begitu Ardella tidak akan kesakitan, Ardella sakit ma, tolong Ardella, rasanya Ardella sudah tidak sanggup lagi. Hiks,,, hikss.
Ardella menangis dalam hati.
Ardella hampir kehilangan kesadarannya, tenaganya juga semakin lemah. Warga juga sudah tidak melempari Ardella, tapi masih tetap berusaha untuk membuat Ardella bersedia melakukan aborsi.
"Angkat dia, kita bawa kerumah sakit." Ucap warga.
Tap,,, tap,,, tap,,, suara langkah mendekat ke arah Ardella.
Seseorang dengan tatapan kemarahan, mengepalkan tangannya dan mulai berjalan mendekati Ardella. "Hentikan jangan menyetuhnya. Berani menyentuh akan kubunuh kalian satu persatu" Teriaknya keras.
__ADS_1
Warga terkejut mendengar teriakan dan ancamannya, mereka melepaskan tangan Ardella, warga menoleh ke arah suara berasal.
Ardella yang masih terbaring ditanah, wajahnya yang mengadah ketanah dan tangan serta tubuhnya gemetaran bahkan suara tangisannya masih terdengar walau samar-samar.
Tidak sanggup melihat keadaan Ardella, dia ikut menangis. "Ardella,,, Adikku." Ucapnya sambil mengangkat tubuh Ardella kedalam pelukannya.
Ardella dengan hampir kehilangan kesadaran, berpikir bahwa sentuhan itu dari warga. "Kumohon lepaskan aku, tolong kasihani aku." Ucapnya menangis tersedu-sedu berusaha melepaskan diri dari pelukan orang itu.
Menyadarkan Ardella, dia berusaha menunjukkan wajahnya. "Tenanglah Dek, Ini kakak. kak Batara." Ucapnya lembut.
Ardella perlahan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Batara, wajah yang selama ia rindukan, suara yang selama di rindukan. Ardella masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Apakah sekarang aku sudah tiada, sehingga aku mendengar dan melihat wajah kak Batara. Ardella membatin.
Tatapan kosong, air matanya yang masih bercucuran diwajahnya. "Sungguh ini kak Batara." Suara Ardella terbata-bata menyentuh wajah Batara.
Batara meraih tangan Ardella, meletakkan kewajahnya, dia memastikan pada Ardella bahwa dia benar-benar kakaknya. "Iya ini kakak." Ucapnya serak tidak tahan melihat adik kesayangannya terluka, dengan hangat dia kembali mendekap Ardella didalam pelukannya.
Huhuhuhu,,, Ardella memeluk kakaknya itu.
"Kak Batara,,hiks,, kakak." Ucapnya menangis dengan keras berada dipelukan kakaknya. "Kakak kemana saja, kenapa baru datang sekarang, aku sudah lama menunggu kakak pulang." Ucapnya dalam keadaan menangis.
"Maaf kan kakak,,, maafkan kakak. " Batara yang ikut menangis.
Warga yang melihat bertanya siap dia, ada sebagian yang tahu kalau dia adalah putra sulung pak Parsaulian.
"Dia Batara, anak sulung pak Parsaulian." Ucap warga yang tahu.
"Batara apa kamu tahu, adikmu ini wanita berdosa hamil diluar nikah tanpa suami." Ucap warga.
"Kami hanya Menyuruhnya membunuh janin diperutnya agar desa kita tidak terjadi mala petaka."
"Iya betul, kalau dari tadi dia setuju kami juga tidak akan melemparinya."
Ucap warga.
Menatap mereka yang berbicara padanya, Batara berdiri, dia beranjak meraih tubuh salah satu warga, dia mengangkat kerah bajunya, ditangan warga itu masih memegang batu dan kerikil. "Jika kalian masih menyentuh adikku, aku akan melaporkan kalian ke polisi atas tuduhan penganiyayan. Bukan hanya itu akan kupatahkan tanganmu menjadi dua" Ucap Batara dengan tegas menunjukkan kemarahan.
Batara mendorong jauh warga itu, dia beranjak mendekati ayahnya, tatapan jijik Batara sama seperti dulu.
"Dan kamu membiarkan adikku diperlakukan seperti ini." Ucap Batara melihat kearah ayahnya.
Ayahnya yang dari tadi berdiri dan hanya menyaksikan tanpa berbuat apa-apa, walaupun sedih melihat Ardella diperlakukan seperti itu tapi dia tetap memilihnya, agar Ardella tidak diusir dari desa, ayahnya juga tidak berdaya atas tradisi desa.
Warga terdiam mendengar perkataan batara.
"Besok pagi aku akan membawa adikku pergi dari sini, sebaiknya kalian hentikan semua ini." Ucap Batara mulai merendah.
Warga mulai reda dan tidak melanjutkannya lagi.
Batara kembali pada Ardella, dia memeluk tubuh adikknya yang sedari tadi gemetar. Ardella kembali menangis dipelukan kakaknya.
"Ayo kita pulang. Jangan takut. Sekarang kakak sudah disini." Menenangkan Ardella dan mengelus kepalanya dengan lembut.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung