Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Rencana Kedepannya


__ADS_3

Aoran sendiri tertegun dengan ucapan Ardella. Memperhatikan Ardella yang saat ini berdiri dihadapannya, Aoran masih merasa hatinya bergetar untuk Ardella. Tetapi sekarang dia berusaha menolak hatinya untuk menerima Ardella kembali.


Disisi lain, Ardella merasa dirinya bagaikan sebuah bayangan untuk Aoran. Mungkin kah bayangan wanita itu menjadikan alasan semua perbuatan Aoran terhadapnya.


Keduanya berbicara didalam hati masing-masing. Diruangan sunyi tanpa suara, detak jantung terdengar ditelinga mereka sendiri. Aoran dan Ardella kini saling menatap, sesama melihat kearah mata masing-masing. Keduanya hanya membentuk pola pikiran rumit.


"Jika saja aku wanita itu, maka sekarang aku akan melihatmu dengan rasa jijik." Ucap Ardella dingin. Dirinya masih dalam keadaan tidak terima Aoran menganggapnya sebagai wanita mainan.


"Mungkinkah kamu sendiri yang meninggalkan wanita itu, atau sebenarnya dari awal kamu memang tidak mencintainya. " Ucap Ardella sembarangan menebak. Mungkin diantara mereka ada cinta, tapi mungkin saja itu bukan cinta. Ardella ingin sekali mengatakan bahwa dia tidak benar-benar mencintai seseorang.


"Apa yang kamu bicarakan, aku sama sekali tidak mengerti." Saut Aoran mengalihkan pandanganya. Betul bahwa aku yang meninggalkannya, tapi kenapa cintaku juga harus dipertanyakan. Dan kamu benar, Pasti Ardella yang kukenal akan menatapku seperti itu, seperti kamu memandangku sekarang ini, karena dirimu dan dirinya masih sama. Ardella kenapa semua masih tetap sama. Caramu marah, caramu berbicara dan bahkan kepribadianmu masih sama. Sekarang yang hanya berbeda adalah cinta dimatamu tidak ada untukku, dan aku sudah sadar sejak lama.


"Masalah rumah itu, aku tidak peduli lagi, jika kamu mau, ambil saja." Ucap Ardella. Dia beranjak pergi dari ruangan Aoran. Ucapan itu menjadi kata penutup untuk Aoran.


Ardella pergi meninggalkan gedung Alxworld. Berada diluar gedung, Ardella kembali menatap gedung yang saat ini dihadapannya. "Aku berharap ini terakhir kalinya aku akan datang kesini, selanjutnya aku tidak ingin bertemu denganmu. " Dalam suasana hati kesal, menggerutu, Ardella melangkah dengan keyakinan, bahwa dirinya sanggup bertahan.


***


Siang hari.


Hari semakin terik, Lisa yang sejak tadi mencari Ardella disekitar perkarangan rumah. Ardella tidak biasanya pergi tanpa pamit, kerena itu Lisa mencari dan berusaha menghubungi Ardella lewat ponselnya, tapi dia masih tidak menemukan Ardella, ponsel Ardella sendiri tertinggal dikamar.


Sembari menunggu kepulangan Ardella, dia menyibukkan diri didapur. Lisa menyiapkan bekal siang untuk dibawanya berkunjung ke kantor polisi. Tadinya Lisa ingin menunggu Ardella pulang, dan pergi bersamanya, tapi karena hari semakin siang, dia pergi sendiri. Dan untuk Edward dan Erwin dia menitipkan pada Dila pengasuhnya. Sedangkan Aldo masih disekolah.


Dalam perjalanan Lisa sudah mengarang cerita. Bahkan saat diperjalanan, Lisa mengatur raut wajahnya tampak bahagia, mengambil cermin kecil ditasnya, Lisa memoles wajahnya dengan bedak. Lisa sudah siap untuk bertemu dengan Batara suaminya.


Peraturan untuk berkunjung yaitu harus melapor pada petugas polisi. Lisa kemudiaan beranjak melapor dan meminta izin pada petugas polisi untuk berkunjung. Sehari para tahanan hanya bisa dikunjungi sekali. Atas izin petugas polisi, Lisa beranjak kearah sel Batara dan Robin.


Ketika melihat suaminya, Lisa langsung mengangkat bekal makanan, menunjukkan senyum kecil di bibirnya. "Mas, aku datang bawa bekal siang." Ucap Lisa tersenyum ketika melihat Batara dan Robin.


Didalam penjara, Batara dan Robin hanya duduk, melakukan aktifitas kecil. Wajah mereka tampak kusam, lelah dan tidak bersemangat. Sama seperti Lisa, mereka juga berusaha menunjukkan wajah ceria. Lisa menyerahkan bekal siang. Mereka saling melontarkan senyuman. Tidak membahas masalah apapun. Tetapi ketika melihat wajah suaminya sedikit memar, tak kuasa hatinya tidak bertanya.


"Wajah kamu kenapa memar begitu mas." Tanya Lisa menyentuh pipi Batara.


Batara menceritakan pertengkarannya dengan Aoran. Semua telah diceritakan oleh Batara pada Lisa. Apa yang terjadi pada suaminya adalah perbuatan Aoran, begitu juga dengan apa yang menimpanya saat ini adalah perbuatan Aoran juga, Lisa tidak menceritakan apa yang menimpanya selama Batara dipenjara. Dia menyimpan semua masalah sendiri, tidak ingin menambah pikiran suaminya. Cukup memikirkan cara untuk keluar dari sini.

__ADS_1


"Laki-laki bernama Aoran itu, seperti apa rupanya mas." Tanya Lisa. Selama ini Lisa belum pernah bertemu dengan Aoran. Ditambah lagi dengan Aoran lah penyebab kekacauan yang terjadi.


"Selain wajahnya yang tampan, tidak ada yang baik dalam dirinya. Sifatnya sangat buruk." Saut Batara dengan ekspresi datar. Mengingat Aoran membuat hatinya kembali membara.


"Kak, apa Aoran pernah datang kerumah atau Ardella pernah cerita tentang Aoran." Tanya Robin. Dari tadi Robin sudah mencari celah untuk menanyakan itu. Dia sangat cemas bahwa Aoran akan mengganggu Ardella.


Lisa tidak pernah mendengar Ardella membahas Aoran dengannya. "Tidak, Aoran tidak pernah datang kerumah. Dan Ardella juga tidak pernah cerita tentang Aoran padaku." Sautnya. Setelah dipikirkan beberapa hari ini, Ardella sedikit terasa aneh. Sesuatu yang disembunyikan oleh Ardella, disadari oleh Lisa, tapi saat ini Lisa masih ragu untuk bertanya, dia berharap Ardella sendiri yang akan menceritakannya padanya.


Mendengar jawaban Lisa, sedikit lega dihati Robin, apakah karena berada didalam penjara Robin merasa dirinya terlalu cemas dan memikirkan hal-hal buruk. Mengetahui sifat Aoran sendiri, Baginya tidak mungkin Aoran tidak menemui Ardella. Seandainya Aoran menyakiti Ardella kembali, apa yang akan diperbuat oleh Robin, dirinya saat ini tidak berdaya untuk melindungi Ardella.


***


Setelah Berada dirumah, Ardella berjalan dalam suasana hati kesal menuju kamarnya. Mengingat perkataan Aoran. "Dasar tidak tahu malu." Gumamnya kecil. Ardella kembali menggelengkan kepalanya, berusaha membuyarkan ingatannya.


Dia merebahkan dirinya diatas kasur, berguling kesana-kemari, Ardella merasa suntuk. Tangannya menyentuh kepalanya, kemudian memutar arah pandangannya. Ingatan kejadian dikantor masih terulang dalam benaknya.


"Uh. Sudah lupakan saja, tidak ada waktu bagiku untuk memikirkannya." Ardella kembali berdiri. Dia beranjak dari kamar pergi keluar. Langkahnya turun menuju dapur. Rasa lapar mulai terasa diperutnya.


Saat menyendokkan nasi kepiringnya, Ardella berpikir mungkin saja Edward dan Erwin juga belum makan. Diletakkannya sendok nasi ketempatnya. Ardella kembali melangkah menuju kamar keponakannya.


Melihat kotak bekal, Ardella menebak bahwa kemungkinan kakak iparnya bertemu dengan kakaknya Batara. "Apa kakak ipar dari kantor polisi." Saut Ardella.


"Iya Dek." Tampak biasa diwajah Lisa, senyum tipisnya masih melekat dibirnya.


"Bagaimana kabar kak Batara di penjara." Tanya Ardella lembut. Dan melihat kearah Lisa.


"Kakak kamu dan Robin baik-baik saja dek. Jangan khwatir." Saut Lisa. "Kamu belum jawab pertanyaan kakak yang tadi." Ucap Lisa mengingatkan kembali pertanyaannya.


"Menemui Aoran." Saut Ardella tanpa berjeda, tapi setelah sadar dengan ucapannya sendiri, Ardella harus membicarakan masalah rumah yang disita oleh Aoran. "O ya kak. Ada yang ingin kubicarakan." Ucap Ardella serius.


Lisa terdiam sejenak. Setelah mendengar nama Aoran, ntah kenapa Lisa merasa khwatir. Tidak bisa dipungkiri dari rautnya wajahnya berubah memucat, tangannya ikut bergetar. Ditambah dengan melihat ekspresi Ardella sepertinya bukan kabar baik. "Kita bicara sambil duduk aja dek. Aku sedikit capek berdiri." Semyum Lisa.


"Baiklah kak." Mengikuti dari belakang.


Lisa dan Ardella berjalan menuju sofa ruang tengah. Setelah duduk Ardella ingin mengutarakan masalah rumah.

__ADS_1


"Kak, sepertinya kita tidak akan bisa bertahan dirumah ini kak." Ucap Ardella pelan. Tatapannya tidak berpaling dari wajah kakak iparnya. Menunggu respon dari kakak iparnya.


Lisa kakak iparnya itu sangat lembut dan penyayang, sisi keibuan terpanjar dari Lisa. Kasih sayang Lisa sama halnya seperti kasih sayang seorang ibu bagi Ardella. Selama ini Lisa selalu berusaha menciptakan susana bahagia di tengah-tengah keluarga. Dan hari ini Ardella harus melihat wajah sedih kakak iparnya.


"Kakak juga selama beberapa hari ini sudah memikirkannya." Saut Lisa dengan lesu. "Kalau begitu kita cari rumah kost aja dek, muat untuk kita semua tinggal." Kembali dengan kata semangat, Lisa masih berusaha untuk menghibur Ardella.


"Aku juga rencananya begitu kak. Tapi masalahnya bagaimana menjelaskannya pada kak Batara." Takut dengan pikiran kakaknya cemas. Ardella bingung harus berbuat apa.


"Untuk sementara, kita rahasiakan aja dulu dek." Saut Lisa. Jalan terbaik untuk saat ini tidak memberitahukan suaminya. Sudah cukup suaminyan memikirkan cara keluar dari penjara, dia tidak ingin menambah pikiran suaminya.


"Baiklah kak."


"Tapi sepertinya beberapa hari ini kamu pulang cepat dek. Apa kamu tidak akan kena marah pulang kerja cepat." Tanya Lisa. Seperti yang telah dipikirkan Lisa, bahwa Ardella sedikit bertingkah aneh.


"Aku mengundurkan diri. Sebenarnya selama ini aku bekerja di perusahaan Aoran kak." Saut Ardella menjelaskan situasinya sendiri.


"Apa. Kenapa kamu gk pernah cerita dek." Sangat terkejut dengan ucapan Ardella. Bagaimana mungkin hal sepenting ini mereka tidak menyadarinya dari dulu.


"Kupikir tidak terlalu penting kak." Selama ini Ardella memang merasa tidak terlalu penting dengan tempatnya bekerja. Beda halnya dengan Lisa, ini semua sangat penting bagi mereka untuk diketahui.


"Tapi tetap aja kamu harus cerita." Menegaskan pada Ardella, bahwasanya apapun yang menyangkut dengan Ardella, harus tetap diceritakan padanya ataupun kakaknya Batara.


Ekspresi Lisa menjadikan Ardella tertegun, mungkinkah sebenarnya dirinya pernah bertemu dengan Aoran sebelumnya, Ardella sangat ingin bertanya. "Kak, apa sebelum aku mengalami kecelakaan, aku pernah bertemu dengan Aoran." Tanya Ardella penasaran.


"Tidak pernah dek. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan Aoran sama sekali." Dengan menggelengkan kepala, Lisa langsung menyahut pertanyaan Ardella.


"Jadi sepertinya memang tidak pernah bertemu." Gumam Ardella.


"Apa dek." Mendengar Ardella bergumam dengan samar-samar.


"Tidak ada kak. Mulai besok Ardella akan cari kerja." Ardella memberikan senyuman lebar, mencairkan suasana canggung.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2