
Saat ini diruangan yang bernuansa seperti perpustakaan di tempat ruang kerja papa Aoran. Disetiap sudut maupun setengah ruangan dipenuhi dengan rak buku-buku.
Aoran dan papanya kini duduk disofa, keduanya saling berhadapan. Ekspresi wajah antara seorang papa dan anaknya sama persis. Keduanya betul-betul menunjukkan sikap yang sama, dingin tanpa ekspresi.
"Wanita itu, kenapa kamu tidak membawanya? " Ucap papa Aoran mengawali pembicaraan. Dulu sekali Aoran pernah mengatakan bahwa dia akan membawa Ardella kedalam keluarganya. Jika bukan dengan Ardella maka tidak akan ada wanita lain disisinya. Itulah yang pernah diucapkan Aoran.
"Jika hanya ingin membicarakan itu sebaiknya kita sudahi saja." Saut Aoran.
"Menikahlah dengan Rara jika kamu dan wanita itu sudah berakhir." Papa Aoran kembali mengingatkan pernikahan yang pernah tertunda antara Aoran dan Rara.
"Aku tidak akan menikah dengan Rara." Saut Aoran.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk membawa wanita itu kekeluarga kita, tapi sepertinya tidak berjalan sesuai rencanamu." Papa Aoran berbicara dengan dingin. Memang betul, bahwa papa Aoran tidak lagi melarang Aoran untuk mengejar Ardella. Papa Aoran juga sudah berpikir untuk menerima Ardella jika itu keinginan Aoran.
"Kalau bukan karenamu, aku tidak akan kehilangan dia." Saut Aoran.
"Kamu selalu menyalahkan orang disekitarmu, begitu juga dengan kepergian Alex, kamu menyalahkanku. " Tidak terima bahwa dia menjadi penyebab putusnya hubungan Aoran dengan wanita yang bahkan belum dikenalnya.
"Semua terjadi memang kesalahanmu, andaikan kamu sedikit mengerti perasaan anak-anakmu, maka kami tidak harus menderita punya papa sepertimu." Jawab Aoran.
"Cukup." Bentaknya dengan keras. Sungguh papa Aoran tidak terima dengan segala perkataan Aoran.
Mama Aoran yang dari tadi menguping dari balik pintu langsung menerjang masuk ketika mendengar suara bentakan dari dalam. Saat berada diantara suami dan anaknya ada perasaan tidak tenang. Keduanya saling menunjukkan kemarahan.
"Aku membesarkanmu, setidaknya tunjukkan rasa terima kasihmu." Papa Aoran menujukkan jarinya kepada Aoran.
"Pak tua, kamu membesarkanku dengan buruk." Sautnya tanpa berterima kasih.
"Kurang ajar, anak berandalan ini harus diberi pelajaran." Papa Aoran mencari tongkatnya. Tongkat yang dicari hampir berumur 25 tahun berada diruangannya. Dulu dengan tongkat itu papa Aoran biasa menghukum anak-anaknya.
__ADS_1
"Dimana tongkatku." Mencari-cari sebuah tongkat. Menemukan tongkatnya. Papa Aoran mendekat dan berusaha melayangkan tongkatnya ke arah tubuh Aoran.
"Pa, jangan." Mama Aoran menghentikan agar tidak mengenai Aoran. Dia menghadang dengan merentangkan kedua tangannya.
"Sini kamu." Dipegangi oleh istirnya, Papa Aoran meronta-ronta ingin mendekati Aoran.
"Ma, biarkan saja, dia sudah cukup tua untuk memukulku." Saut Aoran tidak beranjak.
"Kamu dengar apa katanya, anak berandalan ini sedang mengejekku." Ucapnya melihat kearah istrinya.
"Pa, sudahlah, betul kata Aoran, papa sudah terlalu tua untuk memukul Aoran dengan cara kekanakan seperti ini." Meraih tongkat yang ditangan suaminya, dia menenangkan dan menyuruh suaminya untuk duduk kembali.
"Aku sudah putuskan, kali ini kamu harus menikah dengan Rara." Ketika mulai tenang, papa Aoran menegaskan kembali.
"Sayang, kalau kamu dan wanita itu memang sudah tidak bersama lagi. Apa salahnya kamu menerima kembali pernikahan ini." Dengan suara lembut, mama Aoran mengusap punggung Aoran.
"Ma, aku dan Rara tidak saling mencintai." Ucapnya.
Aoran mulai merenungkan ucapan mamanya, Dia tahu alasan dibalik Rara bersikeras untuk menikah dengannya.
"Apa orang tua Rara masih menginginkan pernikahan ini." Tanyanya.
"Iya. Jika kamu setuju, orangtua Rara masih bersedia untuk melanjutkan pernikahan ini." Saut mama Aoran dengan lembut.
"Pikirkanlah, anggap ini semua demi Alex." Ucap papa Aoran.
"Demi Alex, sejak kapan kamu peduli dengannya." Aoran tiba-tiba marah ketika menyinggung nama Alex.
"Aoran! Papa diam atas tingkahmu selama ini. Tapi kalau kamu tetap seperti ini Papa akan benar-benar marah." Nada lebih keras menyahut Aoran.
__ADS_1
"Mama mohon, kalian jangan bertengkar lagi." Mama Aoran Tiba-tiba menangis." Sampai kapan kalian berdua terus bertengkar." Menangis tersedu-sedu. "Ini semua salahku." Gumam mama Aoran dalam keadaan menangis, sebanyak tiga kali dia menyalahkan diri sendiri.
"Ma, apa menikah dengan Rara bisa membuat mama bahagia." Ucap Aoran pelan.
"Iyah, mama sangat ingin kamu menikah dengan Rara. Melihat kamu bersama Rara, mama seperti melihat Alex. Rara satu-satunya yang ingin dilindungi oleh Alex." Memegang tangan Aoran dengan erat.
"Baiklah Ma, Aoran akan menikah dengan Rara." Aoran juga yang tidak memiliki tujuan atau keinginan lagi menyerah atas segalanya. Pernikahan ini memang tidak diinginkan, tapi Rara juga bukan wanita yang bisa dia abaikan.
"Kalau saja kamu tidak memgacau dihari pernikahan, pasti papa sudah menimang cucu." Papa Aoran kembali menyelip pembicaraan. Bukannya membantu meluluhkan hati Aoran, malah menambah kekeruhan di hati Aoran yang sedang kacau.
Aoran menatap lekat wajah papanya, perlahan emosinya muncul. "Kalau saja kamu tidak menahanku dulu, pasti kamu sudah menjadi seorang kakek." Sautnya dengan tatapan dingin.
Papa dan mama Aoran terdiam sejenak dengan perkataan Aoran. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. "Apa maksudmu nak, apa kamu dan wanita itu sudah punya anak." Tanya mama Aoran dengan hati-hati.
"Aku tidak ingin membahasnya, Aoran lelah Ma." Sautnya bersedih.
"Dimana cucuku." Tanya papa Aoran kembali. Meski dikatakan kejam papa Aoran tidak akan mengabaikan garis keturunannya sendiri.
"Kamu bahkan tidak peduli dengan anakmu sendiri, apa pedulinya jika kamu punya cucu atau tidak." Jawab Aoran.
Aoran pergi tanpa menjawab perkataan papanya. Tinggallah kedua orangtua Aoran. Tampak keduanya bersedih. "Pa, apa yang terjadi dengan Aoran selama di indonesia. " Ucapnya kepada suaminya.
"Aku akan menyelidiki siapa wanita itu, kalau cucu kita memang bersamanya maka kita akan mengambilnya." Serius akan ucapannya. Papa Aoran ingin tahu tentang Ardella. Sedangkan mama Aoran mulai cemas, meski Aoran setuju dengan pernikahan ini, tetapi hati kecilnya berkata bahwa anaknya sekarang sedang mengalami keadaan tersulit.
"Sebaiknya sekarang kita hubungi keluarga Rara, katakan bahwa pernikahan kali ini akan berlangsung dijerman."
Rencana pernikahan Rara denga Aoran kembali dibahas oleh kedua belah pihak. Rara yang masih diingris sudah menerima kabar dari keluarga Aoran bahwa pernikahan akan dilanjutkan. Tidak ada masalah dengan rencana pernikahan, segalanya sudah diatur dengan baik.
Aoran sendiri sudah menerima dengan lapang dada, harapan untuk bersama Ardella tidak pernah lagi terpikirkan. Mengingat Ardella dalam pikirannya dianggap sebagai racun yang harus dimusnakahkan. Kehidupan baru Aoran di jerman bersama Rara dianggap Aoran sebagai takdirnya.
__ADS_1
💔💔💔
Bersambung