
Orang akan berpikir bahwa Ardella bernasib buruk, menghasiani keadaan Ardella sekarang, namun tidak dengan Batara. Hari ini didalam lubuk hatinya dia berkata bahwa ini kesempatannya untuk menebus kesalahannya dimasa lalu. Setidaknya saat ini hatinya merasa lebih lega melihat adiknya bersikap polos dan lugu.
Mengingat kenangannya bagaimana dulu Batara merawat Ardella sewaktu kecil, terbersik senyuman disudut sisi bibirnya, senyumnya hangat memandangi tingkah Ardella.
Dengan perlahan Batara mendekat. Ardella terlihat sedang mencabik-cabik selimutnya, matanya memerah tertunduk takut dimarahi.
Duduk disamping Ardella, tangan kanan Batara menjamah lembut rambut Ardella. "Kakak tidak marah, tapi Ardella tidak boleh begitu." Ucap Batara mengelus rambut kepang Ardella. Sudah lama Batara tidak melihat mata polos itu di diri Ardella. Persis sewaktu kecil, tidak berubah, dia masih tetap adik kecilku.
Disisi lain, Lisa juga masih berusaha mendiamkan Edward dan Erwin. Perlahan Lisa memberikan pengertian bahwa Ardella tantenya sedang sakit, menjelaskan bahwa tante mereka mungkin tidak akan sama seperti hari biasanya. Edward dan Erwin mulai mengerti, mereka menghentikan tangisannya, melihat kearah tantenya, infus yang tergantung dibagian lengan Ardella membuktikan bahwa tante mereka memang benar-benar sakit.
"Kalau gitu katakan maaf pada tante Ardella, dia sedang sakit. Anak ibu bisakan melakukan itu. " Bisik Lisa pelan ketika keduanya mulai mengerti.
Edward dan Erwin menganggukkan kepala, kaki kecil mereka mendekati Ardella yang sedang duduk diatas tempat tidur. Setelah berada disamping Ardella, mereka memanggil Ardella dengan sebutan tante.
"Edward minta maaf." Polosnya Edward mengulurkan tangan kanannya, begitu juga dengan Erwin mengikuti kakaknya Edward.
"Iya teman." Saut Ardella bernadakan suara gembira menerima jabatan tangan Edward dan Erwin. Ardella belum mengerti kata tante, atau sebutan yang lainnya. Diotaknya hanya ada sebutan Mama, Ayah, Kakak dan teman. Selain mama, ayah, kakak. Mereka yang dilihatnya bertubuh kecil disebut teman, sedangkan bertubuh besar disebut paman. Kata tante termasuk kata yang jarang didengarnya.
Aoran yang sedari tadi sudah berada diruangan masih belum mengerti atas situasi yang terjadi. Robin yang berdiri mengamati tingkah itu terlihat tersenyum. Mendekati Robin tanpa menimbulkan suara, perlahan Aoran bertanya.
Robin yang tidak tahu bahwa Aoran telah berada diruangan tersadar. Malas baginya untuk bercerita, tetapi daripada Aoran nantinya bertingkah aneh pada Ardella, maka dia memutuskan untuk memberitahu kondisi Ardella. Penjelasan singkat dan pelan, Robin menyampaikan apa yang telah disampaikan Andre mengenai kondisi Ardella.
Tanggapan Aoran atas apa didengarnya menjadi bingung, saat ini matanya terfokus pada Ardella yang sedang berbicara dengan Batara.
"Ini teman sekolah kakak." Kata Batara menunjukkan semua orang yang berdiri didalam ruangan.
Satu persatu Batara menyebutkan nama mereka. Lisa sendiri yang istrinya dikatakan sebagai teman sekolah oleh Batara.
Andre yang lebih dekat diposisi Ardella menyapa dengan ramah, seperti yang dilakukan oleh Edward dan Erwin, dia melakukan hal yang sama, diikuti dengan Lisa dan Robin mereka memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ardella.
Aoran yang tanpa diminta langsung maju beberapa langkah, sedikit menundukkan punggungnya agar bisa bertatap muka lebih dekat, Aoran melihat kearah mata Ardella. "Haiii, cantik." Sapanya tersenyum lebar. "Panggil aku kak Aoran." Katanya menyalam Ardella. Betapa terkejutnya mereka yang ada diruangan itu ketika Aoran menunjukkan ekspresi itu. Mata dingin, sikap arogan dan bicaranya yang kasar seketika berubah menjadi lucu. Aoran bertingkah selayaknya seperti anak kecil.
Ardella tampak ragu, tapi dia juga terlihat senang karena Aoran begitu akrab menyapanya. "Ardella." Sautnya membuat intonasi kecil disuaranya sambil mengayunkan tangan Aoran. Suara nyaring terdengar imut ditelinga Aoran.
Perasaan Aoran tiba-tiba tersentuh, dia bingung atas apa yang dipikirannya, seperti rasa senang menghantam hatinya. Seharusnya dikondisi Ardella seperti ini setidaknya dia bersedih, tapi itu tidak terjadi dipikiran atau dihati Aoran.
__ADS_1
Hoammm, Ardella membuka lebar mulutnya, kemudian mengatupkan kembali dengan rapat.
"Fyuu, ngantuk." Mata Ardella mulai sanyu, sambil mengucek matanya. "Kak. Ardella ngantuk." Tariknya jari kakaknya yang sedari tadi berdiri disisi kirinya.
"Ardella ngantuk? Kalau gitu waktunya tidur." Batara membaringkan Ardella dengan pelan, kemudiaan menarik selimut yang berada dibawah kaki Ardella.
"Kakak sini, tidur sama Ardella." Bergerak kesamping, Ardella menyeret tubuhnya dengan bergusar, kemudian menepuk kasur diabagian kosong memberi tempat bagi Batara untuk ikut tidur disampingnya.
Batara tentunya tidak menolak, Ardella memang selalu ditemani tidur sewaktu kecil. Karena itu sampai Ardella belum tidur, dia juga tidak beranjak. Lagu tidur mengiringi Ardella, tidak butuh waktu lama Ardella tertidur pulas.
Tidak ada satupun yang pergi, semua seperti masih menunggu.
Batara mengangkat tangan Ardella yang ada diperutnya, perlahan meletakkan dengan pelan, kemudian secara hati-hati Batara melepaskan pelukannya dan menurunkan kakinya. Kembali menyelimuti Ardella. "Selamat tidur adik kecilku." Usapnya dikening Ardella.
Kelembutan Batara pada Ardella membuat semua orang yakin bahwa kedekatan seorang kakak beradik seperti ini sangat hangat.
Alasan Ardella menunggu Batara selama sepuluh tahun lebih memang patut untuk dipahami. Aoran sendiri merasa bersalah pada dirinya karena sempat beradu hantam dengan Batara yang selembut itu.
"Sebaiknya kita keluar dari sini." Ucap Andre. Mendahului untuk melangkah Andre membuka pintu.
Berada diluar, Andre memulai pembicaraan atas apa yang harus dilakukan untuk kedepannya ketika menghadapi Ardella.
"Kita harus tetap waspada. Dengan kondisi Ardella sewaktu-waktu bisa saja ingatan kembali tanpa kita duga." Ucap Andre.
"Jadi maksudnya kemungkinan Ardella bisa pulih secepatnya? Kapan itu? Apa yang akan terjadi pada Ardella ketika ingatannya sepenuhnya kembali, dia akan baik-baik sajakan? Tolong jelaskan semua." Tanya Aoran bertubi-tubi tanpa mendengar jawabannya terlebih dulu.
Andre masih enggan untuk berbicara dengan Aoran, dirinya belum terbiasa untuk bersikap ramah. "Sekarang yang penting kamu tidak menggangu Ardella." Ketusnya.
"Aku tidak tahu apa aku harus menanyakan ini." Kata Batara sejenak berdiam. "Apa yang akan terjadi setelah ini, mungkinkah Ardella akan lebih memburuk lagi." Ucap Batara melanjutkan berbicara.
"Aku belum bisa pastikan. Tapi sebagai dokter aku pastikan akan merawat Ardella sampai sembuh." Saut Andre.
"Kalau itu terjadi lebih buruk lagi, ntah kenapa aku lebih memilih Ardella seperti ini." Gumam Batara lesuh.
Andre mendengar gumaman Batara, tetapi dia tidak bisa memberi solusi ataupun kepastian.
__ADS_1
"Untuk saat ini biarkan Ardella dirawat dirumah sakit, apalagi dengan kondisi kehamilannya, lebih aman jika terus dipantau dirumah sakit." Ucap Andre mengalihkan pembicaraan.
Serentak mereka yang berdiri melihat kearah Aoran. Bagaimana tidak, sebentar lagi Ardella akan melahirkan anak kedua untuk Aoran. Tatapan kesal, makian yang ingin terlontar jelas sekali terpasang diwajah mereka.
Aoran sendiri merasakan aura kebencian itu. "Aku akan merawat Ardella disisa hidupku." Terlontar cepat dari mulut Aoran.
Larangan untuk tidak menemui Ardella sudah tidak mampan untuk Aoran. Kerena itu semua orang berusaha menerima kehadiran Aoran.
Akhir dari percakapan itu, Andre kembali bekerja. Sedangkan mereka masih berdiri diluar dekat pintu.
"Lis, pulanglah bawa anak-anak kerumah, untuk sementara aku disini dulu. Takutnya pas Ardella bangun dia akan menangis karena tidak melihatku." Ucap Batara menatap istrinya dan anak-anaknya.
"Apa khusus hari ini kita semua berjaga disini aja mas." Saran Lisa belum ingin pergi meninggalkan rumah sakit.
"Tidak perlu, Ardella sangat sensitif. Biarkan aku menjaganya disini. Kamu dan anak-anak istirahat dirumah aja, Robin akan mengantar kalian pulang." Saat ini hanya Batara yang diperlukan oleh Ardella. Semakin ramai orang dilihat oleh Ardella belum tentu membuat Ardella cepat pulih, pikir Batara.
"Baiklah mas, kalau begitu kami pulang dulu. Kalau ada apa-apa segera kabari kami." Saut Lisa.
Lisa mulai beranjak. Aldo menggandeng tangan Edward untuk berjalan dibelakang ibunya. Edward menoleh kebelakang, tersisa Aoran dan ayahnya yang dilihatnya berdiri, melihat kearah ayahnya, Edward melepaskan tangannya dari gandengan Aldo, kemudian berlari kearah ayahnya.
"Ayah, aku ingin disini menemani tante. Edward janji tidak akan nakal." Katanya memegang celana bagian lutut Batara sambil mengadahkan pandangannya keatas.
Batara yakin bahwa batin Edward sangat terhubung dengan Ardella. Karena itu dia mengizinkan Edward untuk tinggal.
Aoran melihat Edward. Matanya mulai berkaca-kaca.
Anakku. Batin Aoran.
Posisi berjongkok Aoran memeluk Edward dengan eret tanpa mengucapkan sepatah kata, tangannya melingkar ditubuh Edward. Seminggu ini Aoran belum sempat untuk melepaskan kerinduannya. Batara pun masih melarang Aoran untuk berdekatan dengan Edwrad.
Aoran belum terlalu dekat untuk memeluk Edward, karena itu rasa risih sangat bergejolak ditubuh Edward. "Paman lepaskan Edward." Tangannya berusaha mendorong Aoran.
"Maafkan paman." Saut Aoran mendesah dan melepaskan pelukannya.
Belum waktunya Aoran mengatakan bahwa dia adalah papa kandungnya Edward. Dan belum tentu juga Edward akan menerima dirinya sebagai papa. Melihat pertumbuhan Edward, dia yakin bahwa Edward tidak sama sekali kekurangan kasih sayang, karena itu Aoran tidak percaya diri untuk mengatakan bahwa dia papanya Edward. Meski begitu Aoran berteked untuk menunjukkan sosok papa yang baik untuk Edward, agar suatu hari Edward akan memanggil dia papa.
__ADS_1
πππ
Bersambung