
Sebulan telah berlalu.
Kehidupan Ardella, kakak iparnya serta ketiga keponakannya hampa, kekosongan keseharian mereka terasa, semuanya menjadi lebih sulit untuk dijalani tanpa kehadiran Batara ditengah-tengah mereka, senyum membeku, cahaya keceriaan mulai redup. Dan Ardella juga merindukan Robin yang selalu ada disisinya.
Perubahan itu, menjadikan mereka sedih. Di dalam rumah yang dulu hangat penuh dengan keceriaan menjadi keheningan. Semua orang membisu dan bergemelut dengan pikiran sendiri. Dikarenakan kakak ipar Ardella juga tidak lagi bekerja, membuat keungan sudah menipis. Belanja sehari-hari hampir tidak terpenuhi.
Lisa juga sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan, banyak lamaran yang dimasukkan kesekolah, tapi sampai sekarang tidak ada panggilan.
Belum lagi dikantor Ardella mendapatkan perlakuan buruk dari Aoran. Setiap hari Aoran memperlakukannya dengan tidak adil, memberikan pekerjaan yang banyak, dimarahi dengan kasar, bahkan ketidakpuasan Aoran dengan hasil kerja Ardella menjadikan alasan untuk Ardella dipecat menjadi sekretaris Aoran.
Sekarang Ardella tidak lagi menjadi sekretaris Aoran. Dia ditempatkan ke dapertemen lain. Disana dia diperlakukan lebih buruk oleh sesama karyawan.
Para karyawan lain sudah lama memperhatikan Ardella. Mereka tahu bahwa Ardella diperlakukan spesial oleh Aoran. Karena itulah selama ini mereka segan terhadap Ardella. Tapi sekarang mereka sudah tidak takut lagi dengan Ardella, mereka semua sudah bertindak semena-mena.
"Eh, anak baru sini." Seorang wanita memanggil Ardella, dengan cepat Ardella beranjak dan menghadap. "Belikan kami kopi." Ucapnya memberikan kertas post pada Ardella.
Ardella hanya bisa patuh, setiap hari Ardella dijadikan sebagai kuli pengantar makanan. Selesai menuruti perintah mereka semua, Ardella kembali kerja. Dia harus menjadi lebih kuat dan tangguh, karena saat ini hanya Ardella lah harapan terakhir. Harapan untuk menghidupi biaya keluarganya dengan gajinya.
"Eh, gaji udah masuk kerekening, hari ini ayo kita pesta." Ucapan dari para karyawan. Ruangan Ardella bekerja saat ini sangat ricuh, mereka semua bahagia karena baru menerima gaji.
Ardella melihat ponselnya, tidak ada masuk sms banking. Dia bingung, kenapa hanya dia yang tidak terima gaji. Dia bertanya dalam hatinya. "Mungkin ada kesalahan sistemnya." Ardella beranjak dan pergi mencari tahu sendiri kebagian yang bersangkutan.
"Maaf Bu. Gaji saya sampai sekarang belum masuk kerekening saya." Tanya Ardella ketika berada diruang hrd.
Bagian hrd menanggapi keluhan Ardella. "Siapa namamu." Tanya hrd memastikan nama Ardella.
"Ardella Dyandy Putri, karyawan magang." Saut Ardella.
Hrd mencari nama urutan Ardella, saat dilihat Ardella memang tidak mendapatkan gaji di bulan ini, bahkan ada sejumlah uang tunai tertera sebagai hutang Ardella diperusahaan. Hutang itu berasal dari biaya Ardella ketika pergi kepesta. Baju, sepatu, tas, tata rias dan perhiasan yang diberikan Aoran, masuk kebagiaan pengeluaran perusahan. Semua itu menjadi tanggung jawab Ardella untuk melunasinya.
__ADS_1
Hrd menjelaskan dengan rinci, mengapa Ardella tidak menerima gaji bulan ini, hutang Ardella keperusahaan ditagih.
Ardella terkejut mendengar penjelasan hrd. "Hutang." Gumam Ardella. Tidak menunda lagi, dia ingin menemui Aoran. Meminta penjelasan. "Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku, aku tidak pernah meminta semua barang-barang itu." Gumam Ardella beranjak pergi, menuju ruangan Aoran.
***
Ruangan Aoran.
Tampaknya Aoran dan Parto sedang bicara didalam ruangan.
"Bagaimana perkembangan Batara dan Robin didalam penjara." Tanya Aoran serius pada Parto.
"Mereka kesulitan untuk mencari pengajara. Karena sudah diancam oleh kita, pengacara tidak ada yang berani mengambil kasus ini." Penjelasan Parto matang, jelas dan padat.
"Kerja bagus. Senyum Aoran meringis. "Bagaimana dengan istri Batara." Tanyanya kembali. Tanpa terkeculi, Aoran membelaskan dendamnya pada siapun yang bersangkutan dengan Ardella. Dengan matang dia telah merencanakan semua ini. Aoran tidak ingin melewatkan siapun.
"Kerja Bagus. Pastikan mereka semua hidup menderita." Saut Aoran puas atas hasil kerja Parto.
Oh, tidak. Ardella saat ini yang berada diluar mendengar semua percakapan Aoran dan Parto. Saat hendak mengetuk pintu, tanpa sengaja Ardella mendengar nama kakaknya disebut, karena itu dia mendengarkan lebih cermat arah pembicaraan mereka.
"Jadi semuanya sudah disengaja." Gumamnya. Ardella masuk tanpa mengetuk pintu. Dia berdiri dengan tegap, sembari melihat kearah Aoran dan Parto.
Parto terkejut besar. "Aduh bagaimana ini." Pikirnya, bisa-bisa akan ada peperangan disini. Parto melirik ke arah Aoran, kemudian melirik lagi Ardella. Mereka masih diam, tapi yang jelas diam mereka pertanda buruk.
Parto sudah lama menyadari, sebenci apapun Aoran pada Ardella, tetap saja Aoran yang akan kalah ketika berhadapan langsung dengan Ardella.
"Sebaiknya aku segera keluar Bos." Kata Parto bergegas keluar. Parto melewati Ardella. Wahh, sepertinya akan ada keributan besar. Dia berjalan keluar dengan hati-hati.
Tinggallah Ardella dan Aoran berada diruangan.
__ADS_1
"Katakan padaku apa maksudnya semua ini." Tanya Ardella dengan menggerekkan giginya. Dia menunggu penjelasan Aoran.
"Tidak ada yang perlu kujelaskan." Pura-pura tidak mengerti, Aoran mengacuhkan Ardella. Dia membuka kembali laptopnya, dan mulai mengetik. "Keluarlah dari ruanganku." Ucap Aoran.
Menahan emosi, Ardella masih sabar, tapi saat melihat Aoran mengacuhkan pertanyaannya, Ardella kesal setengah mati, rasanya umpatan terhadap Aoran keluar dari pikirannya. "Dasar ********, pengecut, sampah." Maki Ardella keras tanpa henti.
"Aduh, bisa gawat kalau Bos marah." Parto masih berada diluar, dia menguping pembicaraan Ardella dan Aoran. Takut mereka berdua tidak bisa mengendalikan diri, apalagi kalau sampai Ardella mencambak rambut Aoran, pastinya Ardella yang akan menang. karena pikiran itu, Parto masih diluar menunggu. Kemungkinan saja nanti dia dibutuhkan saat keadaan genting.
Deg,,.
Aoran berhenti, matanya tertuju pada Ardella. Kali ini sepertinya tidak akan ada ampun bagi Ardella. "Apa. Kamu bilang apa." Aoran berdiri dari kursinya, melangkah maju kehadapan Ardella. Posisi mereka sangat dekat, mereka berdiri dan saling menatap dengan kemarahan.
Tidak ada rasa takut dihati Ardella, sekarang Ardella bahkan belum merasa puas untuk meneriaki Aoran. "Kamu iblis." Teriak Ardella sekali lagi.
Emosi meluap, Aoran langsung mengarahkan tangannya kebagian leher Ardella. "Katakan sekali lagi." Aoran mencekik leher Ardella, bisiknya ketelinga Ardella. "Kalianlah iblis." Dengan meronta, Ardella berusaha melepaskan tangan Aoran.
Ardella kesulitan bernapas, dia mengadah keatas dan melihat raut Aoran menyeramkan, pupil matanya mengerit menatap padanya. "Lepaskan." Ardella kesulitan untuk berbicara, dia memukul lengan Aoran.
Aoran menghempaskan tubuh Ardella, dengan tenaga Aoran, Ardella terbanting ke lantai.
"Uhuk. Apa salah kami, bahkan sebelumnya aku tidak mengenalmu. Tapi mengapa kamu mengusik kehidupanku." Kata Ardella dengan suara tercepit, Ardella menyentuh tenggorokannya, rasa sakit karena dicekik oleh Aoran membuat Ardella terbatuk.
"Huh." Aoran menunjukkan ekspresi itu lagi. Ekspresi yang bahkan tidak dimengerti Ardella. Aoran berjongkok, tangannya mencekram wajah Ardella. "Pembunuh, kalian pembunuh berdarah dingin." Alis Aoran terangkat, matanya membesar melihat Ardella, suara berat bergetar dari mulut Aoran.
Mengapa setiap ucapannya tidak dapat kumengerti. Ardella ingin tahu siapa yang dimaksud pembunuh, dan siapa yang mati. "Siapa. Siapa yang kami bunuh. "Saut Ardella, suaranya tercekik oleh cengkeraman Aoran.
πππ
Bersambung
__ADS_1