Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Lamaran


__ADS_3

Brukk.


Ardella terjatuh ketika hendak mencari lilin. "Sepertinya aku menabrak orang" Pikir Ardella terkejut.


Ruangan penuh dengan kegelapan, Ardella menjadi gelagap. "Siapa disana." Tanyanya dengan suara getar.


Teng,,, tengggg.


"Happy birthday to you." Nyanyian selamat ulang tahun, terdengar serentak, ditambah dengan bunyi peluit.


Lampu kembali nyala, Ardella melihat hiasan ulang tahun diruang tengah, semua tampak berkumpul, ekspresi mereka mengejutkankan Ardella, mereka semua tampak konyol dengan topi kerucut dikepala, ditambah ada gundulan bola pingpong diwajah, seperti badut di taman bermain.


"Hah lucunya", dengan kejutan seperti itu rasanya Ardella tidak sanggup marah karena manakutinya, dan orang dia tabrak tidak lain adalah Robin. Sama dengan yang lain dia tampak lebih konyol.


Tangan Robin yang masih memegang peluit, dipindahkan kesebelah tangan kiri, kemudian tangan kanannya diulurkan kearah Ardella yang masih duduk di lantai. "Huh, kalian menakutiku." Ucap Ardella memukul kecil Robin, sambil menarik nafas lega. Dia kembali memperhatikan kesekeliling, sepertinya sudah sejak awal mereka merencanakannya. Yah,, pikir Ardella tersenyum.


Perencanaan ini begitu singkat, semua orang betul-betul sangat bekerja keras atas kejutan yang spesial. Waktunya pun sangat tergantung pada Ardella, menunggu dia tertidur, kerena itu hanya butuh dua jam untuk memasang lentere, serta hiasan happy birthday. Sampai menunjukkan pukul 12.00 Wib, teng malam hari.


Semua lengkap dengan topi kerucut, Batara memaikaikann adiknya topi kerucutnya, "Sekarang kita tiup dulu lilinnya. " Ucapnya menggandeng tangan Ardella menuju kue tar yang berada diatas meja.


Ketiga keponakannya berjejer mengelilingi kue, menunggu Ardella memotong dan menyuapi mereka. Senyum manis dan bahagia terpanjar di wajah Ardella, ketika meniup lilin ada tradisi, yaitu nyanyian.


Nyayian lagu mengiringi Ardella ketika meniup lilin. "Sekarang waktunya Make wish." Ucap Lisa kakak ipar Ardella.


Kakak ipar Ardella yang berada disampingnya, memberikan aba-aba agar ikut membuat make wish bersama Ardella, mendoakan Ardella panjang umur.


Ardella dengan wajah senyum menuruti perkataan kakak iparnya.Β  Dia mulai memejamkan matanya, mengucapkan keinginan dihatinya. Mulut berkomat-kamit akhir make wish terlaksanakan dengan baik.


Rasa penasaran Robin atas make wish Ardella, adakah dia didalam doa Ardella, sebatas ingin tahu atas make wish Ardella. " Apa yang kamu minta." Tanyanya ketika Ardella mmbuka mata.


"Rahasia." Meledek Robin, Ardelle sedikit menjulurkan lidahnya. Jangan pernah membritahukan make wish, cukup Ardella saja yang tahu.


"Non, ini hadiah dari Bik Ami." Ucap bik Ami memberikan kotak kado.


"Makasih bik Ami." Dengan senyum dia menerima dan memeluk bik Ami.


Aldo, Edward, Erwin tidak mau ketinggalan, merekapun telah menyediakan kado untuk Ardella tantenya, kadonya cukup besar berpitakan merah muda, warna kesukaan Ardella. "Tante, kami juga punya hadiah yang bagus bangettt ." Ucap ketiga keponakannya. Ardella dengan gaya imutnya mengucapkan kata. "Maaciii."


Diikuti dengan Batara dan Lisa memberikan hadiah untuk Ardella. Ketika semua orang sudah memberikan hadiah tinggallah Robin yang dari tadi ragu memberikan hadiahnya.


Melirik kearah Robin, bagaimana mungkin dihari ulang tahun Ardella, pacarnya tidak memberikan hadiah, rasanya kurang etis baget. "Hadiahku mana." Ucap Ardella mengulurkan tangan kanannya.


"Itu." Masih dalam keadaan ragu.


"Jangan bilang kamu tidak punya hadiah untukku." Kata Ardella sedikit mendekatkan diri pada Robin.


"Jadilah laki-laki jantan." Ucap Batara. Apa hubungannya coba, laki-laki jantan sama memberikan kado, setidaknya itu yang dipikirkan Ardella, ketika mendengar ucapan kakaknya.


"Iya dek, jangan ragu." Ucap Lisa kembali.


Syuuu.


Robin berlutut dihadapan Ardella.Β  "Jadilah istriku." Kata Robin mengeluarkan kotak cincin dari sakunya, Dia dengan menatap Ardella perlahan membuka kotak cincim.

__ADS_1


Tekk. Kotak cincin terbuka, ada dua cincin sepasang didalamnya.


Wajah Robin sedikit mengerutkan dahinya, tidak sanggup menatap Ardella, takut terjadi penolakan dari Ardella, tangannya sedikit bergetar saat menunjukkan kotak cincin.


Dengan mata tercengang Ardella masih perlu pencernaan atas ucapan Robin. "Jadilah istriku." Jika menjadi istri berarti nikah dulu dong.


"Terima,,,,terima,,, terima." Ucap mereka sambil bertepuk tangan.


Suasana riuh diruang tengah, menunggu jawaban Ardella.


Robin atas lamarannya telah meminta izin pada Batara. Sebelum Batara memberi izin, Robin mendapat ujian yaitu sebuah pertanyaan. Tidak sulit kok, tidak sampai harus menghapal rumus phitagoras. Batara hanya bertanya satu hal pada Robin. "Mampukah kamu menerima masa lalu Ardella." Batara hanya ingin tahu sebesar apa cinta Robin untuk Ardella. Dan bisakah dia kelak akan mempercayakan masa depan Ardella kepada Robin.


"Sudah lama aku menerima masa lalu Ardella." Jawabnya. "Sepertinya cintaku tidak bisa diukur hanya dengan masa lalu, apapun Ardella aku mecintainya cukup dia yang kucintai." Ucapnya tulus.


Batara juga tidak punya alasan untuk tidak menyetujui rencana Robin.


"Ardella aku mencintaimu." Ucapnya menambahi kata lamaran agar terlihat perfect.


"Aku masih kuliah, dan lagi aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Robin." Jawabnya masih bingung mengambil keputusan.


"Masalah kuliah, aku bisa menunggu sampai kamu tamat. Ardella sudah cukup baik untuk menjadi istriku." Sautnya dengan lembut.


Ardella memberi senyum lebar. "Iyah, aku bersedia jadi istri Robin." Jawab Ardella mengulurkan tangannya.


Plok,,, plok,,,plok. Tepuk tangan meriah.


Semua orang memberi selamat dengan gembira. Ardella dan Robin saling menatap, mereka juga terlihat senang.


"Jarak dua meter tidak lebih, kalian belum sah jadi suami istri." Ucap Batara memisahkan pelukan Ardella dan Robin.


"Maaf kak." Ucapnya Robin menunduk kepala.


"Ayo,,, kita lanjutkan potong kuenya." Nada tinggi dari Lisa.


Kue berlapiskan cherees habis dimakan. Perut terasa kenyang. Mata mulai mengantuk, berjalan pun sudah terasa berat, akhirnya semua tergeletak di lantai beralaskan tikar.


***


Keesokan harinya.


Masa cuti berakhir Ardella kembali bekerja.


Pagi sekali Ardella sudah bersama karyawan dan pengawal untuk menyambut kedatangan Aoran. Wajah bahagia masih tersisa diwajah Ardella. Mengingat lamaran Robin, tanpa sadar Ardella senyum cengar-cengir.


Ketika turun dari mobil, Aoran melirik Ardella. Kekesalannya selama seminggu membuatnya menatap Ardella dengan tajam. Selama seminggu dia tidak ada kabar. Ditambah ekspresi yang saat ini dia lihat, sudah tidak perlu lagi diragukan bahwa Aoran betul-betul kesal.


Melihat sekujur tubuh Ardella, Aoran menyadari cincin dijari manis Ardella, tadinya kesal sekarang naik menjadi kemarahan.


"Selamat pagi Bos." Seperti biasa, karyawan menyambut Aoran.


Aoran langsung berjalan lurus, wajah masam terlihat diwajahnya. Tidak ingin berlama-lama melihat Ardella, takut dia tidak akan dapat menahan emosi yang sedang tertahan dihatinya.


Ardella yang masih dalam suasana hati senang, tidak terlalu peduli dengan wajah Aoran, dia hanya tetap berjalan dibelakang seperti biasanya.

__ADS_1


***


Didalam ruangan kerja.


Ketika bekerja diruangan, Ardella tampak asik menyanyikan lagu, suaranya nyanyian samar-samar terdengar.


Lagu by. Afgan. Judul Jodohku.


Lagu yang saat ini dinyanyikan oleh Ardella.


Tingkah Ardella sungguh tidak dapat lagi menahan Aoran.


Prank.


Aoran membanting setumpukan dokumen kemeja Ardella. Dengan melongo Ardella menatap tumpukan dokumen. "Bos ini apa." Tanyanya.


"Pekerjaanmu selama seminggu tidak masuk, kamu pikir siapa yang akan mengerjakannya selama kamu cuti" Ucapnya memasang wajah dingin.


Cara yang paling ampuh mengubah suasana hati Ardella yaitu setumpukan dokumen. Dengan begitu Aoran mulai senang, ketika melihat wajah Ardella berubah dari yang senyum menjadi cemberut.


"Kapan deadlinenya Bos." Ucapnya menghitung jumlah dokumen.


"Tiga hari." Jawabnya.


"Apa." Sedikit kaget, namun tidak bisa membantah lebih jauh. "Kupikir dia tulus memberiku izin, ternyata ini maksud dari kebaikannya." Ucapnya sedikit keras agar Aoran mendengarnya. "Jika tahu seperti ini aku tidak akan cuti."


Menatap tajam mematikan, Aoran melebarkan matanya, Ardella mengikuti ekspresi wajah Aoran. Mereka berdua saling bertatapan. Siapa kalah dia pengecut. Pikir mereka berdua.


"Bos. Pestanya diadakan jam 4.00 sore." Ucap Parto merinding.


Kehadiran Parto mencairkan suasana ruangan, Ardella meraih dokumen dari depannya. Membaca dengan serius. Sedangkan Aoran dan Parto membahas pesta.


Pesta ini dikhususkan bagi para kalangan atas, pesta yang dihadiri oleh berbagai pengusaha terhebat. Dalam pesta ini bisanya orang dari kalangan terendah memanfaatkan mencari rekan bisnis yang dapat membantu perusahaannya.


Bagi Aoran pesta ini bukanlah hal penting, setiap tahun dia tidak pernah menghadiri pesta. Tapi hari ini dia akan datang kepesta.


"Aku akan menghadiri pesta, dan sekretarisku akan menemaniku." Melihat kearah Ardella.


"Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan Bos." Tanya Parto melihat Ardella yang tidak merespon.


"Apa." Tanyanya tidak mendengar percakapan Parto dan Aoran.


"Sore ini temani Bos menghadiri pesta." Ucapnya.


Atas dasar pekerjaan Ardella tidak bisa menolak, dia mengabari orang rumah, bahwa dia tidak akan pulang untuk makan malam.


Pesta ini sedikit khusus. Aoran tidak ingin Ardella terlihat buruk.


Saatnya untuk mengandalkan kekuatan uang.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2