
Walau kini hariku tidak sama lagi namun kuyakini cintamu masih tetap bersamaku, walau kutak dapat melihatmu namun dihatiku engkau masih ada. Mama kurindu kehadiranmu.
"Kakak ibu mana." Tanya Ardella kecil pada Batara.
"Ibu sekarang sudah pergi jauh, Ardella harus jadi anak yang baik biar bisa ketemu ibu." Ucap Batara tak tahu menjelaskan kepergiaan ibunya pada adiknya.
"Hiks,,, hiks,,,hiks mau ibu,,, ibu." Menangis mencari ibunya.
"Jangan nangis kalau nangis Ardella akan jadi anak jahat dan gk bisa ketemu ibu." Menenangkan Ardella.
Semenjak kematian ibunya Batara menggantikan sosok seorang ibu bagi Ardella. Terkadang karena Ardella rewel bahkan dia tidak masuk sekolah atau membawa Ardella bersamanya.
Ayah Batara hanya sebentar mengenang kematiaan istrinya, setelah istrinya meninggal ayahnya teterangan membuka hubungannya dengan Sherlin. 3 tahun kepergiaan ibu kandung Batara dan Ardella. Ayahnya memutuskan untuk menikah lagi.
"Ayah akan menikah lagi." Membawa Sherlin kedalam rumah.
"Aku tidak setuju, kalau ayah mau menikah jangan wanita ini." Ucap Batara.
"Sayang." Sherlin memeluk ayah Batara dengan wajah sedih.
"Jika kamu tidak setuju pergi dari rumah ini." Teriaknya marah mengusir Batara dari rumah.
"Baik aku akan pergi, kupastikan suatu hari kalian akan menerima ganjarannya atas perbuatan kalian." Ucap Batara menyumpahi mereka.
Sherlin begitu bahagia melihat Batara diusir dari rumah.
***
Tok,, tok,,, tok. Suara ketukan pintu dari Batara.
Batara masuk kekamar Ardella. Sebelum kepergiaannya, Batara ingin berpamitan pada adiknya.
"Kakak." Ucap Ardella saat ini usinya 8 tahun.
"Kakak ada sesuatu untuk Ardella. " Masuk mendekati Ardella, dia membunyikan sebuah hadiah dibelakangnya.
"Apa kak." Tanya Ardella.
Tadaa,,,sebuah buku diary ditunjukkannya pada Ardella.
"Buku." Ucap Ardella sedikit kecewa.
"Bukannya Ardella ingin bicara dengan ibu." Tanya Batara.
"Mmm iya kak."
Batara menggendong adiknya dan membuka jendela kamar Ardella. Dilangit terlihat banyak bintang.
"Coba Ardella lihat keatas, sekarang ibu udah disana, jadi kita tidak bisa bicara secara langsung seperti dulu." Batara menunjuk keatas dan mengarahkan Ardella untuk melihat bintang.
"Jadi ibu sekarang jadi bintang kak." Ucapnya polos melihat kakaknya.
"Iya. Kalau Ardella rindu dan ingin bicara dengan ibu tuliskan disini." Menunjuk buku diary.
"Ardella belum pintar nulis kak." Ucapnya.
"Makanya Ardella harus rajin belajar.biar bisa nulis dan baca. " Senyumnya lebar melihat adiknya polos.
__ADS_1
"Ardella akan belajar dan bicara dengan ibu kak." Memeluk kakaknya.
"Sebentar lagi Ardella juga tidak akan melihat kakak lagi, jadi selama kakak gk ada Ardella harus jadi anak baik." Memeluk Adiknya.
"Kakak mau kemana." Ucap Ardella murung.
"Kakak cuman pergi sebentar setelah itu kakak akan kembali menjemput Ardella." Janji Batara.
"Janji kelingking. Kakak gk boleh lama-lama pergi." Ucap Ardella tersenyum tipis.
Batara yang tidak tahu berapa lama dia akan pergi. "Janji kelingking" Saling Mengaitkan kelingking.
Didalam buku diary yang ditinggal batara terdapat tulisan Batara yang mengatakan kepergiaanya, Ardella yang belum pandai membaca belum mengerti maksud dari kepergiaan kakaknya.
***
Diperantauan.
Batara pergi kekota untuk merantau, segala pekerjaan dilakukanya, baik jadi tukang cuci piring, bekerja dibengkel, dan bekerja sebagai kuli bangunan. Walaupun semua rasanya lelah Batara tetap semangat supaya dia bisa menjemput Ardella.
"Batara cepat kerjakan ini." Ucap mandor bangunan pada batara.
"Baik bos." Tanpa mengeluh dan semangat bekerja.
Beberapa tahun bekerja sebagai kuli bangunan Batara sudah wemiliki pengalaman. Pernah sekali terjadi bahwa arsitek untuk bangunan belum selesai pada tenggat waktu, sedangkan proyek harus dikerjakan. Batara yang tanpa sengaja mendengar perbincangan mandor dan arsitektur mendengarkan dengan sangat serius.
"Batara kesini." Ucap mandor.
"Iya bos."
"Kenapa bos."
Mandor Batara menjelaskan kendala dan kesusahan terhadap proyek. Batara yang mendengar itu mencoba memberikan solusi pada mandornya. Mendengar semua penjelasan dari Batara mandornya setuju.
Batara mengerjakan denah untuk proyek yang akan dilakukan, pada dasarnya Batara memang anak pintar, tak butuh lama denah proyek untuk pembangunan telah selesai. Batara dan mandornya menunjukkan pada orang arsitektur yang mengerjakan proyek tersebut. Melihat hasil kinerja Batara seorang arsitektur sangat terkesan melihat denah yang dibuat Batara.
Dari kuli bangunan Batara beralih menjadi asisten arsitektur pembangunan. Dari saat itu Batara mulai bisa menabung.
Ketika waktu berjalan Batara bertemu dengan dambaan hatinya yaitu Lisa seorang guru yang memang sudah dikenalnya semenjak dia merantau. Mereka memutuskan untuk menikah walau orang tua Lisa tidak setuju. Batara tetap tidak menyerah meyakinkan kedua orang tua Lisa. Hingga kedua orangtua Lisa setuju.
Meski kini Batara sudah berkeluarga dia masih belum ingin menjemput Ardella karena Batara ingin memberikan sebuah rumah yang hangat untuk Ardella.
"Mas bukankah kamu ingin menjemput adikmu." Ucap istri Batara saat menyajikan makan malam.
"Belum Lis, belum saatnya, kita masih belum punya rumah, setelah aku memiliki rumah aku akan menjemput adikku Ardella, aku sangat merindukannya." Penjelasan Batara.
Tempo beberapa tahun Batara berhasil mempunyai rumah sendiri, dan saatnya Batara menjemput Ardella bersamanya.
***
"Lis tolong siapkan barang-barangku, besok aku ingin menjemput adikku." Terlihat senang.
"Mas begitu sangat senang ya kembali ke desa." Merapikan baju-baju untuk suaminya.
"Kalau saja kamu bisa ikut dan melihat adikku didesa aku pasti akan sangat senang." Mencium istrinya dengan lembut.
"Tidak apa mas, aku juga sedang hamil dan harus menjaga Aldo." Ucap istrinya.
__ADS_1
Batara sekarang memiliki satu anak laki-laki dan sebentar lagi memiliki anak kedua.
"Oya dek,,, sekarang Ardella sudah pasti tumbuh jadi gadis yang cantik, hadiah apa yang harus kubawakan padanya." Tanyanya serius.
"Bawakan aja baju, anting-anting, sama alat make up, biasanya wanita suka mas."
"Ok baiklah."
Lisa menyiapkan hadiah yang akan dibawa suaminya. Batara mulai berangkat menuju ke kampung halamannya.
***
Kaki batara saat ini telah menanjakkan kembali ke kampung halamannya yaitu dipulau samosir. Melihat danau mengingatkannya kenangan terhadap ibu dan adiknya.
Ibu Batara pulang. Ucapnya dalam hati.
Saat Batara melangkahkan kakinya rasanya masih ada yang kurang baginya, Batara masih ingin memberikan hadiah yang lain buat Ardella. Mengingat kembali makanan kesukaan Ardella dia langsung pergi membelikan kue.
"Sebaiknya aku mampir dulu beli roti kesukaan Ardella." Berbicara sendiri.
Seketika itu hati Batara yang senang kembali pulang kekampung halamannya dan sebentar lagi akan bertemu dengan adiknya.
***
Sekitar pukul 16.00 wib
Batara berjalan kerumahnya
Didalam benaknya.
Bagaimana ya ekspresi Ardella melihatku, apa dia masih mengingat wajahku, sudah lama aku tak melihat adik kecilku.
Langkah Batara yang semakin dekat kerumahnya.
Deg,,,.
Jantungnya berdebar gugup karena telah lama tidak kembali kerumah, Batara mulai melihat sekeliling rumah saat semakin dekat dengan rumah dilihatnya pintu rumah yang terbuka.
Berjalan masuk kerumah, dilihatnya tak ada satupun orang didalam rumah, Batara berjalan keluar rumah dan bertanya pada tetangganya.
"Namboru." Panggil batara ke tetangganya.
"Siapa." Ucap tetangga.
"Batara anak pak Parsauliaan." Ucapnya. Namboru tahu Ardella dimana." Tanya Batara kembali.
Tetangga menceritakan apa yang terjadi pada Ardella saat ini. Kue yang dari tadi dipegangnya terjatuh ketanah mendengar cerita tetangganya. Kakinya melangkah cepat kekantor kepala desa, hari semakin gelap Batara berjalan dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran, hatinya sedih memikirkan Ardella.
Di tengah kerumunan Batara mendengar suara tangisan dan teriakan Ardella. Dia menyelip ke tengah kerumunan dan berusaha menuju ke arah suara Ardella.
Deg,,,hatinya seketika hancur melihat adiknya yang malang sedang didapatinya terbaring ditanah dengan banyak luka ditubuhnya.
Saat itu lah Batara berjalan mendekati Ardella dan menghentikan perbuatan warga terhadap adiknya.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1