Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Perubahan


__ADS_3

Flashback.


Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, Aoran merasa tidak tenang, dia memastikan sendiri Ardella aman bekerja di bar.


"Apa ini barnya." Tanya Aoran pada Parto.


"Iya Bos." Saut Parto yakin.


Pupil mata Aoran mengerut ketika melihat kearah bar. Alis matanya terangkat tajam menandakan hatinya dalam suasana suram.


Parto yang berdiri disamping Aoran merasa merinding. Mungkin sebentar lagi akan ada kejadian buruk. Mengenal sifat Aoran dengan tempramental buruk, tanpa sadar dia menggelengkan kepalanya.


"Parto." Tatapan mematikan. "Apa maksudnya kamu menggelengkan kepala." Tanya Aoran dengan suara bergetar.


"Aku yakin Bos, sebentar lagi akan ada kekacauan disini." Sautnya tanpa menyaring perkataanya. Parto tertawa menunjukkan giginya.


Raut muka Aoran berubah menjadi mengkerut. "Berhentilah bercanda denganku, sebelum kurontokkan semua gigimu." Nada datar tapi bermakna dari suara berat Aoran.


"Maaf Bos." Secepatnya Parto merapatkan bibirnya.


Pertama kali menanjakkan kaki di bar, Aoran mencari Ardella dengan sepasang matanya. Diikuti dengan Parto dan beberapa pengawal. Mereka berdiri ditengah bar, sama-sama mencari keberadaan Ardella.


Mengenal suara Ardella dengan baik, Aoran mengalihkan pandangannya dan melihat Ardella tengah berdiri, dan melihat seorang laki-laki menyentuh tangan Ardella.


"Maaf tuan ....." Suara Ardella terdengar oleh Aoran ketika Ardella digoda oleh laki-laki.


Penampilan Ardella yang terbuka menjadikan amarah Aoran bangkit. "Urus laki-laki itu, sekalian patahkan tangannya." Perintah Aoran langsung kepada Parto. "Beraninya menyentuh milikku." Ucapnya sekali lagi, Aoran masih melihat Ardella.


Malangnya nasib laki-laki yang menggoda Ardella.


"Baik, Bos." Ucap mereka menyahut.


Setelah Ardella menjauh dari laki-laki itu, barulah Aoran memerintahkan Parto untuk mencari pemilik bar. Ketika bertemu dengan pemilik bar, Aoran langsung mengeluarkan uang dengan jumlah banyak.


Pemilik bar masih bingung dengan tindakan Aoran. Berpikir keras apa yang diingankan oleh Aoran dari bar nya.


"Aku ingin wanita itu melayaniku setiap kali aku datang." Ucap Aoran menunjukkan Ardella yang sedang mengantar minuman di tempat lain.


Tergiur melihat uang, pemilik bar langsung mengiyakan dengan senang. "Baik,Β  baik tuan." Sautnya dengan cepat. Dia bahkan tidak bertanya maksud melayani seperti apa.


"Satu lagi, Aku tidak ingin dia mengantarkan minuman pada pelanggan laki-laki." Tangannya menunjuk-nunjuk memperingatkan. "Ganti seragamnya lebih tertutup, besok aku tidak ingin melihat dia mengenakan seragam itu" Ucap Aoran dengan tatapan dinginnya.


"Khusus untuk wanita itu aku akan melakukannya tuan dan mulai hari ini aku akan menjamin bahwa wanita itu hanya akan mengantarkan minuman pada pelanggan wanita." Pemilik bar tidak masalah dengan ucapan Aoran.


Selesai bernegosiasi dengan pemilik bar, Aoran membeli ruangan khusus VIP untuknya di dalam bar, hak paten baginya untuk menggunakan ruangan VIP itu, tidak ada lagi yang bisa menggunakan ruangan itu selain Aoran sendiri.


"Suruh dia mengantarkan minuman ke ruanganku. Sekalian bawakan aku tiga wanita seksi." Perintah pertama Aoran untuk pemilik bar.


"Ok, ok." Pemilik bar merasa dirinya mendapatkan rezeki yang melimpah.

__ADS_1


Tidak menunggu lama lagi pemilik bar itu menemui Ardella, memerintahkannya untuk mengantarkan minuman ke ruangan VIP milik Aoran. Dan saat itu lah Ardella bertemu dengan Aoran didalam ruangan VIP dengan tiga orang wanita seksi.


***


Penjara.


Robin dan Batara yang saat ini masih terkurung di jeruji besi.


Diruangan sempit dan pengap membuat Batara dan Robin dalam keadaan kacau, di setiap sudut raut wajah mereka menandakan ada kerisauan. Sudah lama sekali mereka tidak tersenyum.


"Apa yang kamu pikirkan." Batara melihat kearah Robin yang sedang bersandar di dinding. "Dari kemarin kamu terlihat lesu." Tanyanya kembali pada Robin.


Mengadah melihat langit-langit Robin hampir meneteskan air mata. "Aku merindukan Ardella kak. " Sautnya menghela nafas.


Batara terdiam mendengar jawaban Robin. Sesungguhnya hatinya pun merindukan Istrinya, anak-anaknya dan Ardella.


Kelihatan dari luar Batara orang yang tegas dan kuat, tapi sejujurnya dia sekarang terpuruk dengan dirinya sendiri. Memperlihatkan keterpurukannya tidak akan mengubah keadaan.


"Kak, gimana kalau kita minta bantuan pada dokter Andre." Tanya Robin ketika mengingat bahwa Andre dapat membantu mereka.


"Tidak. Andre tidak boleh terlibat dengan masalah ini. Aku tidak ingin Andre terkena imbasnya." Saut Batara menolak keras ide Robin.


"Tapi kak, ...."


"Rob, jangan membawa masalah kita pada orang lain." Ucapnya tegas. "Lagian Andre juga sedang diluar negeri, jadi tidak perlu mencari dia." Tetap tidak menerima saran Robin.


"Sebulan lebih kita disini." Robin seakan memberitahukan bahwa mereka tidak akan baik-baik saja. "Dan akhir-akhir ini Ardella tidak mengunjungi kita." Suara lemah dari Robin.


"Kita tunggu aja dulu, sebelum pengadilan memutuskan hukuman, kita masih punya harapan untuk keluar dari sini secepatnya. " Ucap Batara.


Sudah lama juga mereka didalam penjara, tapi sampai sekarang kasus Batara dan Robin belum sampai ke pengadilan. Jika kasusnya belum sampai pengadilan kemungkinan Batara dan Robin bisa keluar jika terbukti mereka tidak bersalah atau Aoran mencabut kembali tuntutannya.


"Aoran juga tidak terlalu terburu-buru menjerat kita dengan hukuman." Ucap Batara sambil mengelus keningnya.


"Baiklah kak." Saut Robin.


Tiba-tiba seseorang datang mendekati Batara dan Robin. "Apa anak laki-laki itu betulan mati." Tanya salah satu narapidana yang berada di sel yang sama.


Didalam sel terdapat empat orang narapidana, dua orang Batara dan Robin, dua orang lagi laki-laki asing yang tidak tahu identitasnya.


Waktu perkelahiaan antara Batara dan Aoran mereka berdua melihatnya. Ditambah lagi didalam sel Batara dan Robin sering membahas masalah Aoran. Timbullah dihati laki-laki itu rasa kepo dengan masalah mereka.


"Paman, itu bukan urusanmu." Saut Robin dengan kesal. Robin tidak ingin membahas masalah itu. Semua berawal dari kebohongannya pada Aoran.


"Maaf, aku hanya penasaran." Ucapnya tidak ikut campur dan mulai menyeret tubuhnya mundur. "Ngomong-ngomong sepertinya laki-laki yang kemarin datang terlihat sangat sedih." Mengulangi perkataanya.


Batara malah menatap lekat, menunjukkan rasa tidak nyaman.


"Tutup mulutmu, kau tidak lihat sekarang ini dia sedang kesal. Berhentilah mengurusi urusan orang lain." Bisik narapidana yang satunya lagi.

__ADS_1


"Kenapa harus kesal aku hanya bertanya." Gumamnya kecil.


Batara dan Robin kembali terdiam. Apalagi yang bisa mereka lakukan ketika mereka masih dipenjara.


***


Keesokan hari.


Ardella memulai harinya dengan bekerja di bar, saat ini ada yang beda dengan Ardella yaitu, pakaiannya yang dulu mengenakan rok mini, baju berlengan pendek, serta rambut terurai indah berubah menjadi rok panjang yang hampir terseret di lantai, serta baju kemeja putih berlengan panjang dan tidak lupa dengan gundulan rambut terikat keatas. Penampilan Ardella yang dulunya menawan berubah berpenampilan ibu-ibu.


Seragam itu diberikan oleh bos Ardella, yaitu pemilik bar sendiri.


Ketika Ardella bertanya alasan apa dia harus mengganti seragamnya, jawaban bosnya hanya sederhana yaitu Ardella terlalu mencolok dengan penampilannya.


Menegaskan pada Ardella bahwa bar tidak ingin mendapatkan kritikan buruk jika ada pelanggan yang berniat tidak sesenonoh karena melihat pelayan berpakaian seksi.


Ardella sendiri tidak keberatan dengan perubahan penampilannya. Bahkan rasanya lebih nyaman dan santai dengan pakaian lebih tertutup.


"Ar, sepertinya perlakuan bos sedikit aneh." Ucap sesama pelayan bar.


"Masa sih." Saut Ardella bingung. Ardella yang sedang sibuk merapikan meja dan kursi.


"Buktinya, hanya kamu yang diperbolehkan mengenakan seragam itu. Aku juga merasa risih dengan seragam ini." Ucapnya memperhatikan seragam Ardella dan seragam yang dikenakannya.


"Kamu tahu sendiri kan, dari kemarin aku digoda sama pelanggan mesum, mungkin saja bos menjaga keamanan karyawannya sendiri." Saut Ardella.


"Baiklah Ar, jika alasannya hanya itu." Ucapnya ikut membantu Ardella merapikan bar. Kira-kira berselang lima menit, teman sesema pelayan Ardella kembali berbicara. "Kira-kira cowok tampan itu hari ini datang, gak ya?."


"Cowok tampan? Siapa." Tanya Ardella.


"Cowok yang ada diruangan VIP." Menunjukkan ruang VIP milik Aoran.


"Aoran! "


Ardella sama sekali tidak menantikan kehadiran Aoran, jika boleh berharap Ardella tidak ingin bertemu dengan Aoran untuk hari ini dan hari selanjutnya.


Takdir berkata lain, ketika menjelang malam Aoran sudah menunggu Ardella didalam ruangan VIP.


Tugas khusus untuk Ardella dari bosnya yaitu pengantar minuman untuk Aoran. Bukan hanya itu Ardella juga ditugaskan untuk menemani Aoran ketika diminta oleh Aoran sendiri.


Tok, tok, tok.


"Masuk. " Saut Aoran dari dalam.


Tap, tap, tap.


Ardella berjalan dengan menyeret rok panjangnya. "Minumannya tuan." Melelakkan sebotol wine dihadapan Aoran. Memaksakan senyum dengan bibir terangkat mencibir Aoran dengan suara kecil.


Aoran dengan pose santai duduk diatas sofa, terpampang senyum simpul di sudut bibirnya.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2