
Srassss,,,.
Suara hujan dan suara tangisan Ardella bersatu padu, dijalan gelap tanpa cahaya, Ardella melangkahkan kakinya tanpa tujuan, tanpa sadar Ardella sudah berada di depan penginapan tempat Aoran tinggal.
Ardella masuk kedalam penginapan. "Permisi, bisakah kakak membantu saya." Ucap Ardella pada resepsionis.
"Iya, ada yang bisa saya bantu." Ucap resepsionis memperhatikan keadaan Ardella.
"Tolong katakan kepada tamu atas nama Aoran Fritsch bahwa Ardella ingin bertemu." Ucapnya kepada resepsionis dengan suara gemetar menahan kedinginan.
"Baiklah, tunggu sebentar ya mbak." Ucapnya sopan.
Tringg,,, tring,,tring.
"Hallo, saya dari bagian resepsionis ingin memberitahukan bahwa ada wanita bernama Ardella ingin bertemu dengan tuan Aoran fritsch." Ucap resepsionis di sebrang telpon.
"Baiklah. Suruh dia menungguku datang." Ucap Aoran.
"Nona saya sudah beritahukan, tunggulah tuan itu datang sebentar lagi." Menunjukkan tempat Ardella untuk menunggu.
"Terima kasih." Ucapnya dengan membungkukkan badannya.
Aoran yang dari kamarnya datang dengan tergesa-gesa, biasanya Ardella tidak pernah datang ke penginapan kalau bukan dibawa oleh Aoran sendiri. Ditambah lagi dengan cuaca hujan. Aoran sungguh merasa khawatir.
Setelah turun dari lift, mata Aoran langsung mencari keberadaan Ardella, Aoran menemukan Ardella tengah duduk dikursi tunggu, sungguh hati Aoran rasanya sedih ketika melihat penampilan Ardella berantakan, tubuhnya basah kuyup menggigil kedinginan, rambutnya berantakan, ditambah lagi wajahnya yang memar, bahkan kakinya yang terluka tanpa alas kaki.
Apa yang terjadi denganmu Ardella. Aoran membatin.
"Ardella." Panggilnya dengan suara cemas. Menuju ke Arah Ardella, dia memeluk tubuh Ardella yang kedinginan, rasa khawatirnya juga membuat Aoran semakin erat memeluk Ardella. "Apa yang terjadi." Ucapnya kembali dengan lembut.
Ardella memeluk kembali Aoran dan hanya menangis tersedu-sedu tanpa menceritakan apapun.
"Hiks,,,hiks,,, hiks." Ardella menangis tanpa henti, hatinya sungguh terluka dan tidak berdaya.
"Jangan menangis." Ucap Aoran dengan suara lembut, pelukannya terasa lebih erat.
Aoran melepaskan pelukannya dari Ardella, tangannya menyeka air mata yang masih mengalir dipipi Ardella. "Tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali" Ucapnya.
__ADS_1
Aoran menuju resepsionis, dia memesan kamar untuk Ardella. Setelah mendapatkan nomor dan kunci kamar, Aoran segera kembali menemui Ardella. Seketika dia terdiam melihat tubuh kecil Ardella, melihat luka yang ada di sekujur tubuhnya.
Tega sekali mereka menyiksa gadis selemah ini. Aoran membatin.
Aoran meraih tubuh Ardella, dia menggendong Ardella menuju kamar, wajah Aoran terlihat marah untuk mereka yang menyakiti Ardella, kalau saja saat ini ada di daerah kekuasaanya, sudah pasti mereka tidak akan lepas dari amukkanya.
Tiba dikamar, Aoran menurunkan Ardella dengan pelan dan hat-hati. Aoran menyuruh Ardella untuk membersihkan diri. Sedangkan dia menuju kamarnya mencarikan baju ganti untuk Ardella.
Karena hari sudah gelap, Aoran tidak bisa membeli pakaian untuk Ardella. Pikirnya daripada Ardella kedinginan akan lebih baik dia membawakan bajunya sendiri, Aoran juga tidak lupa membawakan beberapa makanan dan es batu untuk mengobati memar diwajah Ardella serta kotak P3K ke dalam kamar Ardella.
Ardella yang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk, tubuhnya yang hanya ditutupi oleh sehelai handuk membuat setengah kulit putihnya yang lembut terlihat.
Saat keluar dari kamar mandi, Ardella melihat Aoran sedang memecahkan batu es keukuran kecil. "Kak Aoran." Panggil Ardella dengan suara kecil.
Aoran menoleh, kulit Ardella yang terlihat membuat Aoran sedikit canggung. "Iya." Sautnya dengan kaku. "Ah, aku sudah membawakan baju ganti untukmu." Ucap Aoran kembali dan memberikan baju kepada Ardella.
Ardella mengerti, dia mengambil baju dari tangan Aoran, tetapi Aoran masih tidak beranjak keluar, sedangkan bagi Ardella tidak mungkin dia mengganti bajunya jika Aoran masih ada didalam kamar.
Dengan nada pelan, Ardella meminta Aoran menunggu diluar sebentar. "Aku ingin ganti baju, bolehkah kak Aoran tunggu diluar sebentar." Memegangi handuk dengan erat.
"Maaf aku tidak peka, aku tunggu diluar." Ucapnya memberi senyum ketika melihat Ardella gugup.
Ardella didalam kamar tampak sedang bingung. "Sudah kak, masuklah." Saut Ardella dalam kamar.
Kreeek,,,,.
Aoran masuk kedalam kamar.
Ardella berdiri dan hanya memakai baju setelan atas tanpa celana.
Ardella yang memakai bajunya terlihat lucu karena baju Aoran yang kebesaran seperti memakan tubuh Ardella. Aoran menunjukkan tawa kecil dari bibirnya, tidak sanggup untuk tidak tertawa.
Melirik Aoran, dia sadar penampilannya aneh. "Baju nya terlalu besar, terus celananya dari tadi jatuh saat kupakai, karena itu aku tidak memakainya." Ucap Ardella sedikit malu.
Dengan senyum tipis Aoran mendekati Ardella dan menyuruhnya duduk di sofa. "Bagus kok, kamu terlihat lucu bagiku. " Ucapnya dengan tersenyum. "Sekarang biar kuobati dulu lukanya." Ucapnya kembali melihat luka Ardella dengan dekat.
Aoran mulai mengobati wajah Ardella dengan batu es. "Ah sakit." Ucap Ardella menyentuh tangan Aoran.
__ADS_1
Aoran melirik Ardella, ekspresi Ardella sungguh membuatnya terganggu. "Tahan lah sebentar supaya tidak memar lagi." Sambil memegang batu es.
"Ok." Suaranya pelan memelas.
Setelah mengobati memar diwajah Ardella, dia beralih ke kaki Ardella. "Angkat kakimu dan letakkan ke pangkuanku." Ucap Aoran.
Ardella tidak enak hati jika Aoran harus menyentuh kakinya. "Tidak usah kak, Ardella bisa sendiri." Sautnya mengambil batu es dari tangan Aoran.
Aoran menarik kembali batu esnya. Tanpa berkata lagi Aoran meraih kaki Ardella dan meletakkan ke pengkuaanya, perlahan dia mengobati dan menempelkan perban kekakinya.
Selesai mengobati kaki Ardella, tidak mau Ardella terkena flu atau demam, Aoran mengambil pengering rambut, kemudian dia mengeringkan Rambut Ardella. "Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi." Kata Aoran sambil mengeringkan rambut Ardella dengan hair dryer.
"Ibu tiriku dan Leli mencuri uangku, ketika kuminta mereka pura-pura tidak tahu, karena itu aku sempat bertengkar dengan mereka, saat ayah pulang bukan bertanya apa yang sebenarnya terjadi, malah memarahiku dan menamparku." Penjelasan Ardella.
Mendengar cerita Ardella, Aoran sangat sedih melihat kekasihnya dilukai oleh orang lain. "Apa kamu butuh uang." Tanya Aoran.
Ardella sedikit kesal atas respon Aoran, bukan itu jawaban yang diinginkan Ardella. "Kak, sekarang bukan masalah aku butuh uang atau tidak, tapi itukan uangku, hasilku selama bekerja, dan lagi tadinya aku juga ingin memberikan hadiah untuk kak Aoran." Ucap Ardella sedikit kesal.
Aoran yang mendengar alasan Ardella membuatnya semakin mencintainya, perlahan dia memutarkan tubuh Ardella dan menghadap padanya.
"Ardella aku tidak butuh hadiah darimu, bagiku kamu adalah hadiah terindah dalam hidupku." Mengecup kening Ardella dengan lembut.
Kata-kata manis dari mulut Aoran membuat Ardella merasa hangat, dia tersenyum bahagia didekat Aoran.
"Sekarang waktunya makan, aku sudah membawakanmu beberapa makanan enak." Kata Aoran.
Aoran menyuapi Ardella, dengan lembut Aoran merawat Ardella, kehangatan Aoran seperti obat penghilang rasa sedih Ardella. "Makanannya betul enak kak." Senyum Ardella saat makan dari tangan Aoran.
Setelah selesai makan Aoran membawa Ardella ketempat tidur dengan cara digendong, dan membaringkannya dengan pelan, ditariknya selimut kemudiaan menyelimuti tubuh Ardella.
"Good night honey, i love you." Mengelus wajah Ardella dan mengecup keningnya.
Ardella menatap dan tak berkomentar. Aoran mulai melangkahkan kakinya dari tempat tidur Ardella, belumpun jauh melangkah, kaki Aoran berbalik kembali ketempat tidur Ardella dan naik ke atas kasur Ardella.
Dia menyelipkan tubuhnya ke dalam selimut Ardella. "Bisakah malam ini aku menemanimu tidur." Tanya Aoran.
Jatung Ardella merasa gugup, dia mengiyakan permintaan Aoran.
__ADS_1
πππ
Bersambung