Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Jangan Menggangu Milikku


__ADS_3

Air wine yang ada digelas wanita itu tersiram kewajah Ardella.


Bagi wanita itu, Ardella tidak terlihat seperti gadis kelas atas, tingkah Ardella ketika meminta maaf menunjukkan ada rasa takut, ditambah dengan tubuhnya yang gemetar ketika wanita itu menyerangnya, dengan percaya diri wanita itu ingin menindas Ardella lebih tajam.


Dengan mengangkat tangannya wanita itu hendak menampar Ardella. Isss, tidak semudah itu dia menindas Ardella. Tangannya tiba-tiba ditahan oleh Aoran.


Ketika mendengar suara Ardella, Aoran sudah beranjak mendekati Ardella, dia ingin tahu siapa yang berani menggangu Ardella, hampir saja wanita itu menyentuh wajah Ardella, jika sampai terjadi, kemungkinan tangan wanita itu akan terpisah dari tubuhnya. Aoran dengan gesit menghempaskan wanita itu. "Berani menyentuh wanita ku." Ucapnya dengan tatapan mematikan.


Nyali yang tadi membara tiba-tiba menciut. Ketika melihat kearah mata Aoran, ada sesuatu yang sangat menyeramkan. "Maafkan saya tuan Fritsch." Saut wanita itu memohon. Semua orang dipesta mengenal siapa Aoran Fritsch, termasuk wanita ini, dia bahkan tidak sadar dia bermain dengan api.


Gaun indah kini terlihat ternoda oleh warna wine, wajah Ardella ikut berubah menjadi pucat, ditambah dengan kekacauan yang disebabkan olehnya, membuatnya menjadi takut. Ardella menarik dengan pelan lengan Aoran dan sentuhan kecil, dia berusaha menghentikan keributan, agar tidak menjadi pusat perhatiaan banyak orang.


Saat ini tatapan Aoran tertuju pada Ardella yang sedang berada disampingnya, Ardella berpikir Aoran akan memarahinya, diapun sudah menerima risiko yang akan diterimanya. Sekilas hati Ardella mengatakan bahwa dia merasakan aman saat kedatangan Aoran.


Dengan jasnya Aoran menutupi tubuh Ardella, dengan tangan lembut mengelus kepala Ardella. "Jangan takut, aku disini." Senyumnya hangat hanya untuk Ardella.


Pesta menjadi heboh atas kejadian itu, semua orang merasa lega bahwa mereka bukan diposisi wanita itu.


"Tamatlah riwayat wanita itu." Ucap orang yang masih tertinggal digedung.


Kembali dengan Aoran dan Ardella yang berada dimobil.


Didalam mobil ada kebisuan diantara mereka, Ardella yang sedari tadi melihat, tidak berani mengawali pembicaraan.


Apakah dia marah, dia sudah mengatakan untuk tidak membuat masalah. Ardella membatin.


Tangan Aoran yang memegang setir mobil tampak tegang, wajahnya datar, bola mata yang sedari tadi meriliknya tertulis kemarahan, dengan gugup Ardella duduk disamping Aoran. Tangan Ardella mengeratkan pegangannya ke sabuk pengaman.


"Apa kamu terluka." Tanya Aoran dengan menatap Ardella. Ketika bertanya wajah Aoran tetap sama, yaitu menakutkan.


"Maaf Bos." Saut Ardella langsung menundukkan kepala, tidak berani melihat kearah Aoran.


Pesta ini sangat penting bagi mereka yang dibidang profesi pengusaha. Mendapatkan klien yang menguntungkan salah satu trik memajukan perusahaan, tapi hari ini Ardella merasa dirinya merusak segalanya.


"Seharusnya kamu melawan balik jika ditindas orang." Ucap Aoran, dia kembali memfokuskan pandangannya kedepan. "Besok tidak usah datang kekantor." Ucapnya kembali.


Dengan segera Ardella bertanya, maksud tidak datang kekantor. "Apa aku dipecat Bos. " Ucapnya bergetar dan serak.


"Tidak, aku memberimu libur sehari. " Ucapnya kembali.


"Aku baru kembali bekerja hari ini, dan juga masih banyak dokumen yang harus kukerjakan ." Ardella tidak ingin menjadi karyawan pemalas, dan memanfaatkan kemurahan hati Aoran. Kemurahan hati, sepertinya tidak juga, Ardella hanya tidak ingin menambah pekerjaannya.

__ADS_1


"Parto akan membantumu." Ucapnya dengan tegas, masih fokus menyetir, sesekali Aoran merapikan rambutnya dengan sebelah tangan, menyisir rambutnya keatas, bahkan rambutnya terasa menyebalkan dan menggangunya.


Haruskah aku menolaknya lagi, pikir Ardella keras. Tapi sudahlah aku tidak ingin membuatnya kesal lagi.


***


Tiba didepan rumah Ardella.


Dengan beranjak dari mobil, Ardella menuju masuk kedalam rumah, untuk bicara pun membuat Ardella takut, jas Aoran yang masih ada dibahunya dibawa bersamanya tanpa sadar.


Begitu juga dengan Aoran, mengucap Selamat malam saja tidak tertera dibenaknya, hanya tatapan kosong, melihat rumah Ardella, memperhatikan dengan tajam, menyeritkan dahinya.


Ardella, besok kamu akan menerima hadiah spesial ulang tahun dariku, Aoran Fritsch. Aoran membatin.


***


Didalam rumah.


"Sudah pulang." Tanya Robin melihat Ardella dari arah pintu. Robin memperhatikan Ardella, sesuatu pasti terjadi hingga membuat raut Ardella terlihat sedih, pikir Robin menatap Ardella.


Catur diatas meja tampak sedang asik dimainkan oleh kakaknya Batara dan Robin. "Bajunya kenapa kotor Dek." Batara yang selalu peka melihat keadaan adiknya, melihat ekspresi Ardella, dia tahu adiknya sedang memikirkan sesuatu.


"Apa yang membuat adikku kesayanganku terlihat sedih." Tanyanya dengan lembut.


Robin ikut memperhatikan, sekalipun tidak bertanya Batara telah mewakilinya untuk bertanya.


"Kak, aku membuat kekacauan, membuat Bosku kesal, sepertinya aku tidak menjalankan tugasku dengan baik ditempat kerjaku." Rupanya masih memikirkan kejadian dipesta, kata Aoran untuk tidak datang besok menjadi inti dari pikiran Ardella.


"Kamu masih karyawan baru, jadi wajar melakukan kesalahan." Ucapnya menghibur hati adiknya yang terlihat sedih. "Sebaiknya nggak usah terlalu dipikirkan, jadikan itu membutmu lebih semangat bekerja." Ucapnya kembali. Batara dalam hal bekerja sangat tekun, sekalipun dia tidak pernah melalaikan tugasnya, dia selalu berusaha untuk menjalankan yang terbaik saat bekerja.


Batara menyemangati Ardella, memberi beberapa kata bijak, agar Ardella bisa kembali bersemangat. Kata Batara memang selalu menyejukkan hati. Ardella mulai kembali tersenyum, mengucapkan terima kasih pada kakaknya dan beranjak kekamarnya.


Sekarang permainan catur terasa tidak menyenangkan, perhatiaan Robin berpusat pada langkah Ardella.


"Kita selesaikan saja permainannya, anggap aku menang." Ucap Batara melihat ke Robin. "Jika kamu ingin menyusul Ardella maka pe,,,." Belumpun selesai berkata, Robin berdiri dan beranjak pergi. "Eh, aku belum selesai bicara." Ucap Batara ditinggal sendirian.


Tok,,,.


"Ar, aku masuk ya." Ucap Robin.


"Oke. Masuklah." Sautnya setelah selesai berganti.

__ADS_1


Atas izin Ardella menyuruh Robin masuk, dia berjalan mendekati Ardella dan tanpa merasa enggan memeluk Ardella. " Kamu boleh cerita padaku, apapun masalahmu aku siap menjadi pendengar yang baik." Ucapnya lembut.


Pelukan Robin dibalas dengan erat, inikah namanya jika seseorang ada disamping kita, tidak merasa kesepian dan senang diperhatikan. "Hanya masalah kecil, aku juga sudah tidak kepikiran lagi." Sautnya sedikit memberi senyum.


Robin tidak akan bisa tidur jika Ardella tidak menceritakannya. Ardella juga ingin berbagi pada Robin, bagaimanapun Robin dan dia akan segera menjadi sepasang suami istri, apa salahnya dimulai dari hari ini. Kedepannya dia akan selalu bercerita segala keluhnya pada Robin.


Sedetail mungkin Ardella menceritakannya, hanya saja nama Aoran tidak tersebut, dengan kata Bos, Aoran tergambar dicerita.


Robin dan Ardella yang telah duduk bersama dikasur, sedikit lebih intim, Robin yang memperhatikan Ardella saat berbicara membuatnya ingin sekali menghibur diri. Selesai berbicara selesailah sudah perbincangan, dengan sedikit canggung suasana terasa berbeda. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan.


Tatapan Robin tidak biasa, tanganย  Robin melunjur kebibir Ardella, sedikit mengusap dengan lembut. "Aku tidak ingin melihatmu sedih." Ucapnya memainkan jarinya menulusuri wajah Ardella.


Apa ini, kenapa rasanya berbeda, pikir Ardella melihat tatapan Aoran. Akankan kah Robin melakukannya. Bergumul dengan pikirannya. Tapi aku belum siap. Teriak Ardella dari dalam hati.


Perlahan Robin mengangkat pelan dagu Ardella, mendekatkatkan bibirnya kearah bibir Ardella.


Uh, sungguh membuatku frustasi, apa yang harus kulakukan dengan situasi ini. Ardella sedikit bergerak, dia mulai mundur. Dirinya seakan masih belum bisa menerima ciuman Robin. "Maaf." Ucapnya mulai memalingkan wajah dan menunduk.


Robin juga mulai menurunkan tangannya. "Mungkin ini terlalu cepat, seharusnya aku yang minta maaf." Sautnya dengan sedikit kecewa.


Ardella menunjukkan cintanya dengan cara berbeda dari Robin. "Muach." Ciuman dipipi Robin. "Aku hanya belum siap." Ucap Ardella mendekatkan diri pada Robin.


"Tidak apa, aku ngerti sekarang belum saatnya." Saut Robin lembut.


Ciuman dipipi sudah cukup bagi Robin, saat ini Ardella belum seutuhnya menjadi miliknya.


***


Keesokan hari.


Terdengar sekali suara ribut dari arah luar.


Sepertinya mereka kedatangan tamu yang tidak terduga, tamu yang tidak diharapkan sama sekali.


"Apa yang terjadi disini." Tanya Ardella ketika melihat situasi yang begitu kacau, sekitar empat orang berwajah asing sedang berdebat dengan Kakaknya Batara dan Robin. Kakak iparnya terlihat panik.


Sungguh pagi hari yang kacau balau, sungguh sesuatu akan terjadi, situasi apakah saat ini yang sedang terjadi.


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2