
Keesokan harinya.
Ardella terbangun, berusaha membuka kelopak matanya. "Auh." Kepalanya terasa pusing, dalam posisi duduk, terlintas ingatan kejadian dimana dia disekap oleh pacarnya Yanti, setelah itu dia tidak ingat kejadiaan selanjutnya.
"Apa yang terjadi padaku. Semalam..." Gumamnya, dia tidak sanggup memikirkan lagi.
Ardella menggelengkan kepalanya, mengatakan pada dirinya bahwa tidak ada yang terjadi padanya.
Aaaaaa.
Betapa terkejutnya dia melihat tubuhnya tanpa busana. Dia menutupi dirinya dengan kain selimut, menjambak rambut panjangnya, Ardella berusaha mengingat.
"Kamu sudah bangun." Ucap Aoran melihat kearah Ardella, matanya bahkan belum terbuka sepenuhnya.
"Aoran, kenapa dia ada disini." Pikirnya dalam hati, tapi saat tersadar kembali. "Dasar pria iblis." Ardella menendang Aoran dengan kakinya.
Brukkk.
Aoran terjatuh kelantai. "Apa yang kamu lakukan." Ucapnya berdiri dihadapan Ardella.
Aaaaaa.
Teriak Ardella lebih keras ketika melihat keperkasaan Aoran dengan jelas.
"Pergi, mesum." Lemparnya dengan bantal sambil memejamkan mata.
Aoran sadar dengan tubuh bugilnya, tanpa rasa malu dia naik kembali keatas kasur. "Semalam kamu begitu agresif terhadap barang kecilku." Ucapnya menyelipkan diri bersamaan dengan selimut yang dari tadi dipegang erat oleh Ardella.
"Menjauhlah dariku, kamu sungguh menjijikkan." Ardella mendorong Aoran.
Perkataan Ardella membuat Aoran menjadi kesal. "Ulangi yang barusan kamu katakan. " Menekan Ardella hingga kembali terbaring. Ciumannya melayang kasar kebibir Ardella. "Aku menyelamatkanmu, dan kamu mengucapkan kata menjijikkan terhadapku." Ucap Aoran marah.
"Menyelamatkanku, yang ada kamu melecehkanku." Bola mata Ardella mulai memerah. "Hiks, apa yang harus kulakukan sekarang, aku menghianati Robin." Tangisnya.
Aoran merasa kembali dipusingkan dengan tingkah Ardella, jelas-jelas dia mendengar bahwa Ardella menyebutnya dengan ucapan yang sangat familiar.
"Apa kamu sedang mempermainkanku, semalam kamu sendiri mengatakan bahwa kamu mencintaiku." Eksperesi marah ditunjukkan oleh Aoran ketika Ardella menyebut nama Robin.
"Aku tidak mungkin mencintai laki-laki bren*gsek sepertimu." Balik meneriaki Aoran sekeras mungkin.
"Kamu." Tangannya mencekik leher Ardella. Cekikannya tidak sampai menyakiti Ardella, melepaskan cekikannya, Aoran menarik selimut yang menutupi kedua tubuh mereka.
Syuuu.
Ardella terkejut, dia menatap jelas dirinya dan Aoran dalam keadaan memalukan, ditambah dengan posisi aneh.
Kedua tangannya melindungi bagian atas tubuhnya. Dia perlahan menyeret tubuhnya mundur. "Apa yang kamu lakukan. Menjauh dariku" Ardella merasa dirinya akan dimangsa oleh Aoran.
"Aku sangat tidak suka ketika wanita yang ada diatas ranjangku menyebut nama pria lain." Bisiknya ketelinga Ardella. Senyum yang terlontar dari wajah Aoran tiba-tiba memudar.
Aoran meraih kedua kaki Ardella, menarik lebih dekat ke bagian dirinya.
Deg.
Ketakutan Ardella terasa sampai keujung tulangnya.
__ADS_1
"Aoran kumohon jangan lakukan itu." Ardella membujuk Aoran dengan suara gemetar.
"Sudah terlambat." Senyumnya tipis memberikan maksud lain.
Aoran menyatukan dirinya dengan Ardella. Membuat tubuh Ardella kembali tegang, keperkasaan Aoran yang telah menyatu dengan Ardella meninmbulkan suara mengerang akibat menahan tekanan kuat.
Aaargggkkk.
Ardella mengeratkan pegangannya pada seperai kasur, tangannya meremas dengan erat, menahan rasa sakit.
Gerakan kuat ditunjukkan oleh Aoran, matanya tanpa berkedip menatap Ardella.
"Ingat, bahwa aku satu-satunya laki-laki yang boleh menyentuhmu." Ucapnya mengecup kedua belahan yang kenyal itu. Tubuh Ardella habis dimakan oleh Aoran. Bekas ****** malam hari masih belum memudar, dan dipagi hari Aoran masih menambah dengan kecupan-kecupan agresif.
Ardella tidak punya kekuatan untuk melepaskan diri dari Aoran, dia hanya bisa menunggu sampai Aoran merasa puas. Air matanya berlinang terjatuh dipipi, tetapi semua itu tidak membuat Aoran menghentikan aktifitasnya.
Merasa kelelahan, Ardella kembali tertidur, matanya terpejam. Sedangkan Aoran yang masih dalam keadaan menyatu mulai menghentikan gerakannya.
Dia mulai beranjak, kemudiaan menyelimuti Ardella. "Kamu mempermainkanku lagi Ardella." Gumamnya kesal ketika menyelimuti Ardella.
Aoran pergi meninggalkan Ardella yang masih tertidur di dalam kamar hotel. Aoran memberikan perintah pada pelayan hotel agar mengantarkan sepasang baju khusus wanita, dan sarapan ketika Ardella sudah bangun.
Aoran pergi menuju kantor polisi.
Sampai dikantor polisi, Aoran menemui Batara dan Robin langsung kedalam selnya, tanpa mengikuti aturan.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kakinya mendekati sel.
Berdiri didepan sel, Batara dan Robin telah menyadari kedatangan Aoran.
"Wah, kamu sungguh hebat, tidak memohon padaku untuk mengeluarkanmu dari sini." Ucap Aoran tersenyum tipis.
Robin berdiam, tidak ikut campur dengan percakapan Aoran dan Batara.
"Jika kamu datang kesini hanya untuk membuat keributan sebaiknya kamu pergi dari sini." Ucap Batara.
"Ahhh, aku ingin mengatakan sesuatu, anak-anakmu sangat imut dan mengemaskan." Ucap Aoran memainkan alisnya.
Terkejut mendengar perkataan Aoran, terlintas wajah yang tadi tenang berubah menjadi marah. "Bren*sek, apa lagi yang kamu rencanakan." Tidak dapat lagi menahan, Batara mengamuk dan membanting sel besi.
Hahahaha.
Aoran tertawa terbahak-bahak melihat kemarahan Batara.
"Aoran jangan sentuh mereka." Ucap Batara kembali.
"Aku akan mengambil salah satu dari mereka untuk menjadi teman anakku, yang mana harus kupilih Edward atau Erwin." Aoran memainkan perasaan Batara yang tidak berdaya.
"Aoran kamu gila, mereka tidak bersalah." Ucap Robin.
"Anakku juga tidak bersalah, aku hanya ingin tahu kejadiaan lima tahun lalu, tapi kalian tidak mau bekerjasama denganku."
"Aku akan membunuhmu jika kamu berani menyentuh anak-anakku." Ancam Batara mengerutkan dahinya, tangannya menggenggam erat besi itu.
__ADS_1
"Kita akhiri saja permusuhan ini, aku akan mengambil salah satunya.Β Rasakan apa yang kurasakan. Aku sudah tidak akan segan-segan lagi, tunggu dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya." Aoran mulai beranjak pergi, saat sedikit lebih menjauh dari sel itu, dia membalikkan badan.
"Aku sampai lupa dengan hal pentingnya lagi. Aku dan Ardella sudah berhubungan intim." Akhir dari ucapannya Aoran pergi tanpa menoleh lagi.
Robin seakan tertimpa bendungan batu besar mendengar ucapan Aoran. Melihat kearah Aoran yang pergi, dia tidak bisa berkata-kata.
Sedangakan Batara syok atas apa yang terjadi dengan keluarganya, dia tidak bisa menahan lagi rasa keingintahuannya. Batara meminta izin untuk menelpon istrinya.
Polisi mengizinkan Batara membuat panggilan dalam batas waktu 15 menit.
Tringgg.
"Hallo." Jawab Lisa lewat sebrang telpon.
"Lis, ini aku suamimu." Ucap Batara dengan suara gemetar.
"Mas Batara, apa terjadi sesuatu dipenjara." Tanyanya panik ketika mendengar suara Batara.
"Anak-anak baik-baik sajakan Lis, aku ingin bicara dengan mereka."
"Iya mas mereka baik-baik saja, tapi Erwin sedang sakit."
"Sakit kenapa."
"Kemarin dia tidak sengaja terjatuh."
"Apa."
"Tenanglah mas. Sekarang sudah baik-baik saja."
"Ardella mana Lis."
"Ardella." Tersadar bahwa kemarin malam Ardella tidak pulang. "Dia." Bingung memberikan sebuah alasan.
Ceklek.
Pintu terbuka, Ardella yang baru datang berjalan terus tanpa menyapa.
"Dek. " Panggil Lisa ketika melihat Ardella melewatinya. "Kakakmu ingin bicara." Menyerahkan ponsel.
"Maaf kak, aku sedang tidak ingin bicara dengan kak Batara." Ucap Ardella bergegas berjalan kearah kamarnya.
Batara yang mendengar ucapan Ardella lewat sebrang telpon merasa terpuruk sendiri, tidak bisa membayangkan kejadian yang menimpa Ardella.
Batara menangis, jika kejadian lima tahun itu terulang, apa lagi yang harus dilakukannya, sudah cukup Ardella menderita tapi mengapa kejadiaan itu terulang lagi.
"Mas, apa sesuatu terjadi? Kenapa kamu menangis." Tanyannya kebingungan dengan situasi yang saat ini terjadi.
"Tidak ada, aku hanya merindukan kalian." Jawabnya menahan suara tangisannya.
"Sudah lewat 15 menit, waktunya sudah habis." Ucap penjaga polisi pada Batara.
Panggilan terputus, Batara yang ada didalam sel membenturkan kepalanya kedinding sel.
"Kak tenanglah, mungkin Aoran hanya main-main dengan ucapannya." Robin menghentikan tindakan Batara.
__ADS_1
πππ
Bersambung