
Pukul 14.25 di rumah sakit.
Ardella dilarikan kerumah sakit oleh ibu tirinya dan Leli.
"Ardella kenapa." Tanya ayah Ardella.
"Dia,,,. ibu gk sanggup bilangnya Pak." Ucap ibu tiri Ardella.
"Memangnya Ardella kenapa." Tanya ayah Ardella kembali.
Dokter yang masuk dan membawa hasil pemeriksaan Ardella.
"Dokter, anak saya kenapa." Tanyanya panik.
"Dia baik-baik saja tubuhnya lemah karena sekarang dia sedang hamil 4 minggu." Ucap dokter.
Ayah Ardella yang mendengar kehamilan Ardella jatuh dan syok. Tidak pernah terpikirkan bahwa anaknya bisa terjerumus kesalahan seperti itu.
Ardella perlahan sadar dan tubuhnya merasa sedikit lemah, saat terbangun ayahnya berada disampingnya dengan wajah suram, Ardella bengun dan duduk.
"Siapa yang melakukannya." Tanya ayah Ardella dengan nada marah.
"Maksud ayah apa." Tanya Ardella masih bingung.
"Kamu sedang hamil 4 minggu." Ucap ibu tiri Ardella.
Percaya dan tidak percaya itulah perasaan Ardella. Tubuhnya gemetar mendengar kabar kehamilannya, wajahnya terlihat lebih pucat.
"Siapa laki-laki itu." Tanya ayahnya kembali.
"Maaf ayah." Meneteskan air mata.
Ardella diam tidak memberitahu tentang Aoran, air matanya seketika terjatuh mengingat Aoran yang bahkan meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Ardella memegang perutnya seakan tidak percaya.
"Pak apa yang harus kita lakukan, Ardella bahkan belum menikah." Tanya ibu tiri Ardella pura-pura cemas.
"Sebaiknya kita bawa pulang dulu Ardella, aku akan cari jalan keluarnya." Ucap ayah Ardella.
Ayah Ardella menemui dokter dan memohon untuk tidak membocorkan tentang kehamilan Ardella. Ibu tirinya dan Leli memapah Ardella turun dari tempat tidur, wajah mereka seakan sedih melihat keadaan Ardella, walau Ardella tahu bahwa mereka bersandiwara dia tidak sanggup berbuat apa-apa.
Sekembalinya mereka dari rumah sakit.
"Hari ini kamu tidak boleh keluar dari rumah, pergilah kekamar dan istirahatlah dulu." Ucap ayah Ardella tegas.
"Ayah, maafkan Ardella, sungguh Ardella yang salah." Memegang lengan ayahnya.
"Pergilah dari hadapanku, sekarang ini aku tidak ingin melihatmu."
Tangannya perlahan dilepaskan dari lengan ayahnya, kakinya beranjak sangat lambat dan sesekali menoleh ke wajah ayahnya.
"Leli bawakan makanan untuk Ardella." Ucap ayahnya.
"Baik ayah."
Uhh... Kalau bukan karena pura-pura ikutan perhiatin aku tidak sudi membawakannya makanan. Leli dalam batinnya kesal.
Seperti yang dikatakan ayah Ardella, Leli membawakan makanan untuk Ardella.
Tok,,, tok,,, tok.
__ADS_1
Leli yang mengetuk pintu kamar Ardella bersungut-sungut didalam hati.
"Lama banget sih bukain pintunya, Ardella sialan." Gumam Leli pelan.
Cekreeek, Ardella yang membukakan pintu.
Leli menyenggol Ardella, Brakk,,, dengan kasar meletakkan makanan di atas meja.
"Gk nyangka ya lo yang terlihat polos ternyata wanita ja**ng juga." Ucap Leli pelan.
"Kalau kamu gk ada urusan lagi keluarlah dari kamarku sekarang." Menunjukkan kearah pintu.
"Sebaiknya lo siap-siap aja kalau sampai warga tahu lo hamil diluar nikah bisa ****** lo." Dengan mata melotot, Leli beranjak keluar.
Sedangkan disisi lain ayah Ardella yang mencari solusi masalah kehamilan Ardella. Ayahnya yang duduk dikursi terlihat sangat berpikir keras mencari jalan keluarnya.
"Pak apa yang harus kita lakukan, kalau sampai warga desa tahu, bisa-bisa Ardella diusir dari desa secara paksa." Ucap ibu tiri Ardella pura-pura khawatir.
"Besok pagi aku akan membawa Ardella kekota dan menyuruhnya melakukan aborsi."
"Aborsi, apa Ardella setuju."
"Mau tidak mau dia harus melakukanya, tidak akan kubiarkan anak itu lahir." Berjalan meninggalkan ibu tiri Ardella.
Leli mendekati ibunya yang tinggal sendirian.
"Ibu, kenapa ayah tidak memarahi Ardella atau memukulinya." Tanya Leli.
"Seharusnya memang seperti itu, tapi sepertinya ayahmu itu masih sayang kepada anak sialan itu."
"Terus apa yang direncanakan Ayah masalah kehamilan Ardella." Tanya Leli kembali.
"Berarti masalahnya hanya sampai disini Bu. Ah, gk seru banget sih, maunya Ardella itu diusir oleh warga dari desa."
"Ibu punya ide, bagaimana kalau kamu sebarin ke warga masalah kehamilan Ardella, dengan begini Ardella pasti akan kena amukkan warga."
"Ok Bu, pertama aku akan kasih tau ke teman-teman Leli supaya mereka juga ikut sebarin."
"Biar lebih heboh, katakan Ardella bekerja sebagai simpanan orang kaya dan melayani para pendatang baru untuk menghasilkan uang." Bisik-bisiknya kepada Leli.
"Baik ibu, sepertinya bakal seru. " Senyum Leli pada ibunya.
Tidak menunggu lama Leli keluar dan menyebarkannya pada warga, Leli tidak melakukan dengan terang-terangan. Pertama dia menyuruh teman-temannya untuk memberitahukan kepada orangtuanya. Kemudian dia pura-pura membeli keperluan ibu hamil di puskesmas terdekat, plastik kantungan yang digunakannya sedikit tipis hingga merek setiap belanjaanya terlihat.
Banyak kerumunan orang dipinggir jalan yang sedang membeli sayur keliling, dengan pelan Leli berjalan, dia menghentakka kakinya dan menimbulkan suara langkah kakinya, sehingga orang-orang mengalihkan perhatiaannya pada Leli.
"Nak Leli udah pulang dari kota makin cantik ya." Salah satu ibu-ibu.
"Iya bu. Makasih udah puji Leli." Berhenti berjalan dan sengaja memegang belanjaanya berada didepan.
"Itu bukannya susu untuk ibu hamil." Tanya ibu-ibu yang lain.
"Jangan-jangan ibu sherlin hamil lagi, sebentar lagi kamu punya adik lagi Leli." Tanya Ibu-ibu itu.
"Tidak ini bukan untuk ibu, ini untuk Ardella." Ucap Leli.
"Ardella,,,,maksud kamu Ardella hamil." Tanya ibu-ibu itu.
"Mmm,,, sebaiknya aku pulang dulu." Ucap Leli dengan ragu-ragu.
__ADS_1
Ibu-ibu itu mulai menggosipkan Ardella, sedangkan Leli tersenyum sambil berjalan pulang.
***
Pukul 17.30 wib.
Berita kehamilan Ardella tersebar diantara warga. Didesa wanita yang hamil diluar nikah diyakini membawa mala peteka untuk desa. Warga tidak menerima wanita yang hamil diluar nikah atau anak haram tinggal didesa. Karena tidak ingin desa terkena mala petaka warga berkumpul dan pergi kekantor kepala desa untuk membicarakannya.
Para warga memutuskan untuk mendatangi rumah kediaman ayah Ardella dan memastikan kehamilan Ardella.
Ardella yang tengah berbaring dikamarnya terlihat sedih, dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa, makananya pun tak disentuhnya sama sekali.
Aoran kenapa kamu melakukan itu padaku, aku membencimu. Sekarang apa yang harus kulakukan dengan anak ini. Ardella membatin.
Ardella mengelus-elus perutnya dengan lembut, pikirannya kosong, dibalikkannya tubuhnya kemudiaan menarik selimut ke wajahnya dan menangis.
"Hiks,,,, hiks,,, hiks." Ardella menangis tersedu-sedu. "Mama, Ardella takut, kak Batara. Ardella sangat takut." Gumamnya dibawah selimut.
Suara tangisannya terhambat oleh kain selimut.
Tok,,, tok,,, tok.
Pak Parsaulian. Suara warga yang berbondong-bondong datang kerumah ayah Ardella.
Pintu dibukakan oleh ayah Ardella sendiri. "Ada apa ini." Tanya ayah Ardella kaget, dia melihat warga berbondong-bondong.
"Kami dengar-dengar anak gadis pak Parsauliaan sedang hamil dan tidak tahu siapa yang melakukanya." Ucap seorang bapak-bapak salah satu warga.
Darimana para warga tahu. Pikiran Ayah Ardella.
"Darimana kalian dengar gosip seperti itu, anak saya tidak hamil." Sautnya membantah.
"Kami sudah memeriksanya sendiri ke rumah sakit, bukankah tadi siang kalian kerumah sakit." Warga mendapat infornasi dari teman Leli.
"Pak parsauliaan tau kan akibatnya berbohong."
"Dimana putrimu itu. Suruh dia keluar sekarang."
Ucapan seluruh warga.
"Mari kita bicarakan baik-baik dulu." Ucap ayah Ardella.
Warga tidak mendengar perkataan ayah Ardella dan langsung menerobos kedalam rumah, satu persatu warga masuk dan mencari Ardella.
Brakkk,,,.
Membuka pintu dengan paksa dan masuk kedalam kamar Ardella. Suara keras membuat Ardella terbangun. Ketika membuka selimutnya dari wajahnya, banyak warga yang berkumpul dikamarnya. Sebagian warga menunggu diluar.
"Kenapa banyak sekali orang." Suara Ardella yang serak akibat menangis.
"Ikut kami sekarang." Kata warga.
Tubuh Ardella diseret keluar oleh warga, tanpa alas kaki mereka membawa Ardella ke kantor kepala desa. Ayah Ardella, ibu tirinya dan Leli mengikuti dari belakang.
Penampilan Ardella begitu acak-acakkan. Sebagian warga yang belum tahu melihat kearah Ardella dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Ardella.
💔💔💔
Bersambung
__ADS_1