
Pagi hari.
Terdengar suara langkah ribut dari kejahuan.
Srekk.
Edward naik keatas kasur Ardella. Menatap tantenya masih tidur dia menggelengkan kepala.
"Tante bangun." Ucap Edward membangunkan Ardella, dengan tangan kecilnya di mengoyang-goyang tubuh Ardella yang masih tidur dibawah selimut.
Akibat lembur dari semalaman kelopak mata Ardella masih berat, dia menarik tubuh Edward kepelukannya. "10 menit lagi. Tante masih mengantuk." Ucap Ardella masih memejamkan matanya dengan rapat.
Edward membalas pelukan Ardella, dengan tenang dia menunggu tantenya untuk bangun. "Ok. Waktunya bangun." Ardella menendang selimutnya, ketika membuka matanya terbuka lebar dia melihat tatapan Edward yang sangat menggemaskan.
"Aduhh, keponakan tante yang satu ini." Ardella mencium pipi Edward dengan gemes. "Ayo, bangun." Ucap Ardella ketika masih melihat Edward terbaring dengan santai diatas kasurnya.
"Huh, beratnya. " Menggendong Edward di pangkuannya.
"Aku tidak suka tante pulang malam." Kata Edward menunjukkan rasa khawatir.
Bermain bersama, makan malam bersama dan membacakan dongeng sudah jarang dilakukan oleh Ardella untuk Edward dan Erwin.
Ardella terdiam sejenak memikirkan cara untuk membuat Edward senang.
"Tante janji, nanti bakal bawa Edward jalan-jalan ke taman bermain." Dengan suara lembut Ardella mengelus kepala Edward.
Wajah kecil Edward tersenyum lebar, dia mencium pipi sebalah kanan tantenya. "Janji." Usai mencium pipi Ardella, dia mengangkat jari kelingking tanda perjanjian antara dia dan tantenya.
"Ok. Tante janji." Mengaitkan jari kelingkingnya.
Setiap kali Edward bertingkah, Ardella selalu merasa senang, perasaanya tenang terasa damai, masalahnya hampir terlupakan hanya dengan senyuman kecil dari bibir Edward.
***
Bar.
Pagi indah dan cuaca cerah membuat Ardella bersemangat. Tamu belum berdatangan, kerena itu para pelayan masih terlihat santai. Pelayan lain merapikan kursi dan meja sedangkan Ardella mengambil kain lap dan segera membersihkan debu di atas meja.
Sebelum malam tiba Ardella menjadi pelayan mengantarkan makanan, sesekali Ardella juga bekerja didapur menjadi tukang cuci piring.
Hari sepertinya sebentar lagi akan sore, mereka yang sebagai pelayan merapikan kembali dekorasi restoran dan merubahnya menjadi bar. Pemain DJ untuk pesta bar juga telah datang, minuman di rak tersusun rapi.
Semuanya berjalan seperti biasa, Ardella mengantarkan minuman kepada setiap pelanggan yang memesan.
"Hei nona cantik, bisakah rekomendasikan minuman palik enak." Salah satu pelanggan laki-laki memegang tangan Ardella sesekali jari-jarinya itu mengelus pergelangan tangan Ardella, tatapan mesum telihat sekali diwajah laki-laki itu.
"Maaf tuan, saya tidak tahu jenis minuman paling enak." Ardella menarik tangannya dengan cepat, dia langsung pergi dan menghindari laki-laki itu.
"Kamu tidak apa." Tanya pelayan wanita pada Ardella. Di bar ini bukan hanya Ardella saja yang sebagai pelayan, banyak juga pelayan wanita yang terlihat cantik, meski begitu tetap saja diantara semua pelayan wanita Ardella lah yang paling cantik.
"Tidak apa." Saut Ardella.
Sekitar jam 7.30.
Pemilik bar menemui Ardella secara pribadi, dengan perintah khusus pemilik bar itu menyuruh Ardella untuk mengantarkan minuman ke ruang VIP. untuk pertama kalinya Ardella masuk kedalam ruang VIP biasanya dia hanya mengantarkan minuman keatas meja pelanggan.
Berada didepan pintu ruangan VIP, Ardella menarik nafas dengan sangat panjang, berusaha untuk terlihat tenang, dia juga mengatur wajah ramah.
__ADS_1
Tok, tok, tok.
Ardella mengetuk pintu, menunggu perintah untuk diizinkan masuk oleh orang yang ada didalam ruangan.
"Masuk." Suara wanita.
"Fyuu." Ardella lega mendengar suara wanita menyahut. Sedari tadi dia khawatir kalau orang didalam ruangan lali-laki hidung belang, tapi sekarang rasa cemasnya hilang. Dengan segera dia meraih gagang pintu.
Ceklek.
Saat membuka pintu Ardella tercengang, dia menundukkan kepalanya tidak ingin melihat aksi mereka yang ada didalam ruangan.
Bagaimana tidak terkejut, Ardella melihat tiga wanita berpakaian seksi mengelilingi satu pria. Wanita-wanita itu menyentuh dada kekar pria itu.
"Taruh disitu." Ucap salah satu wanita itu.
Ardella melangkah lebih mendekat, dengan membawa sebotol anggur dan secangkir gelas dengan perlahan dia meletakkan diatas meja. Karena ditutupi oleh ketiga wanita itu Ardella tidak dapat melihat wajah pria yang dianggap Ardella mesum.
Tiga wanita sekaligus, aku yakin pria ini sangat mesum. Ardella membatin.
Langkahnya mulai menjauh, hendak membuka pintu.
"Tunggu." Suara pria itu akhirnya terdengar ditelinga Ardella.
Deg.
"Suara ini." Gumamnya.
"Kemari, tuangkan minumannya untuk kami." Sekali lagi pria itu berbicara.
Tidak salah lagi, suara ini milik Aoran, laki-laki bren*sek itu. Ardella membalikkan badan, memeloti Aoran, bibirnya berkomat-kamit mengutuki Aoran.
"Maaf tuan, saya hanya sebagai pelayan pengantar minuman." Saut Ardella memberikan tekanan kasar pada nada bicaranya.
Aoran menyingkirkan ketiga wanita itu. "Aku sudah membayarmu untuk menuangkan minuman ke dalam gelasku." Aoran yang kini telah berada dihadapan Ardella, dia mengangkat dagu Ardella membisikkan kata-kata yang tidak jelas. Ntah bisikan apa yang dikatakan Aoran hingga membuat Ardella menyerah dan setuju.
"Baiklah." Ardella menepis tangan Aoran, berjalan melewatinya. Tersenyum jahat, Aoran kembali duduk bersama ketiga wanita itu lagi.
Byurrr.
Menuangkan minuman kedalam gelas Ardella melirik tingkah Aoran dengan wanita seksi yang ada disampingnya.
Aoran menunjukkan kemesraan yang lebih mendalam saat menyadari Ardella meliriknya.
"Tuan nakal sekali." Ucap wanita itu dengan manja dan memeluk tubuh kekar Aoran.
"Kamu sangat cantik sayang." Ucap Aoran mendesah.
Dengan senyum genit Aoran memainkan peran sebagai laki-laki tidak bermoral. Sejujurnya dihati Aoran yang dalam dia sudah muak dengan wanita-wanita disampingnya tapi demi membuat Ardella jengkel dan kesal dia masih bertahan.
Huekk.
Ardella merasa mual dengan ucapan dan tingkah Aoran bersama wanita itu. Dengan tatapan tajam Aoran melihat kearah Ardella. Sedangkan Ardella menatapnya dengan acuh tak peduli sama sekali. Memalingkan wajah, Ardella menatap kearah lain, tidak ingin melihat Aoran sama sekali.
Sejam menunggu, Ardella merasa jenuh, suara hentakan kakinya menandakan bahwa dirinya sudah bosan.
"Pergilah." Ucap Aoran mengusir Ardella dari hadapannya.
__ADS_1
Yes, kata hati Ardella gembira mendengar ucapan Aoran.
Ardella tanpa ragu langsung berjalan dengan cepat. "Tunggu." Sekali lagi Aoran menghentikan langkah Ardella.
"Apa lagi." Saut Ardella kesal berbalik badan.
Aoran berdiri berjalan mendekati Ardella, membuka dompetnya kemudiaan menarik uang dari dalam dompetnya.
Syuuu.
Tangan Aoran melemparkan uang kewajah Ardella. "Bayaranmu karena telah menuangkan minuman untuk kami." Ucap Aoran dengan penuh senyuman jahat.
"Wow, uangnya banyak sekali." Ketiga wanita itu berharap dirinyalah diposisi Ardella. "Cepat ambil dan pergilah dari sini." Ucap mereka mengusir Ardella.
"Sial." Ardella menggrutu. "Orang ini sungguh menyebalkan." Ucap Ardella pelan.
"Terima kasih atas kemurahan hatinya tuan." Ardella membalas Aoran dengan senyum meringis.
Hal yang membuat Aoran lebih kesal adalah Ardella yang bersikap manis, pikirnya Ardella akan mengamuk atas sikapnya, tapi ternyata Ardella tidak peduli dan menunjukkan sikap ramah.
Uang yang bertebaran dilantai dipungut satu persatu, tangannya meraih uang yang ada di dekat sepatu Aoran.
"Auhh." Seru Ardella mengadah melihat keatas, kaki Aoran menginjak tangan Ardella. Menyeritkan dahinya dengan tatapan mengerikan melihat Ardella.
Saat ini Aoran sangat kesal dengan gaya Ardella yang santai berbicara, tanpa ada perlawanan. Ardella yang tidak marah karena diganggu olehnya menjadi alasan kekesalan Aoran. Berharap Ardella akan berteriak kasar padanya, akan lebih baik melihat tingkah Ardella yang kasar daripada sekarang dengan tunduk mengikuti perintahnya.
Ardella tidak ingin bertengkar dengan Aoran, jika pertengkaran mulai, dia sendiri yang akan rugi dan memberatkan dirinya. Karena itu dia menerima sikap Aoran dengan lembut.
***
Sekitar 4 orang pria bertubuh besar berdiri diluar bar. "Bisakah anda ikut dengan kami sebentar." Ucap salah satu dari mereka.
"Ada apa ini, kenapa kalian menyeretku seperti ini." Teriak seorang pria dengan kerasa kebingungan.
Keempat pria itu menyeretnya ketempat paling sepi.
Brukkk.
Sekitar 4 orang memukuli seorang pria.
"Tangan sebelah mana tadi menyentuh wanita Bos."
"Tangan kanan."
"Cepatlah patahkan sekarang, sebelum Bos menelpon."
"Oke. "
"Siapa kalian. Apa yang kalian lakukan." Teriak pria itu dengan keras
"Akhirnya beres juga." Ucap mereka meninggalkan pria itu.
Merintih kesakitan pria itu tidak tahu kesalahannya yang pantas membuatnya mendapatkan pukulan, bukan hanya pukulan, tangan kananya patah akibat pukulan dari ke empat pria itu.
Sebenarnya pria yang sedang teraniyaya adalah pria yang menggoda Ardella didalam bar.
💔💔💔
__ADS_1
Bersambung