
Keesokan hari.
Aoran yang telah menunggu dua jam dipelabuhan berjalan bolak-balik melihat ke arah jalan. Aoran dengan setelan rapi dengan jaket abu-abu, terlihat sangat tampan dan menjadi pusat perhatiaan orang lewat. Ardella bahkan belum muncul, dengan gelisah dan resah Aoran kembali mondar-mandir menatap sekeliling tetapi Ardella belum juga terlihat.
Situasi Ardella.
Ardella yang masih bertengkar dengan ayahnya membuatnya tidak terlalu betah dirumah, karena hari ini Ardella tidak pergi bekerja, dia ingin jalan-jalan kerumah Ririn.
Tiba dirumah Ririn. Dilihatnya tidak ada seorangpun dirumah. Akhirnya Ardella memutuskan kepelabuhan lagi.
Menuju pelabuhan Ardella berjalan dengan santai, diperjalanan Ardella yang sedang melihat seorang nelayan mengangkat jaringnya, Ardella tertarik dan memperhatikan nelayan tersebut. Nelayan itu adalah asli penduduk setempat. Ardella memangil nelayan dengan sebutan tulang (paman).
Nelayan yang melihat Ardella asyik memperhatikannya kemudiaan memutar balik kapal kearah daratan tepi danau.
"Nak Ardella, mau coba menebarkan jaringnya." Ucapnya.
Ardella yang dari tadi memperhatikan ingin melakukannya sendiri. "Mau tulang, apa boleh Ardella coba." Ucap Ardella senyum.
"Boleh. Sini naik ke perahu."
"Iya tulang."
Ardella pelan-pelan naik ke perahu nelayan, Ardella dan nelayan mulai mendayung kapal kearah tengah danau sedikit lebih dalam. Ardella mulai mengangkat jaring dan menebarkannya.
Selang beberapa menit menunggu."Pak, apa boleh jaringnya diangkat." Menggoyang-goyangkan jaring.
"Coba bapak lihat, ouh sepertinya udah ada ikannya yang nyangkut, coba ditarik pelan-pelan."
"Wahhhh,,,ikannya banyak ya pak, yang ini ikannya besar." Menarik jaring sambil menunjuk-nunjuk ikan-ikan yang tersangkut di jaring.
Aoran yang menunggu lama tidak sabar lagi. Dia mengingat arah Ardella ketika pergi. Dia berjalan mengikuti arah jalan berharap bisa bertemu dengan Ardella.
Mana tau ketemu dijalan. Pikir Aoran.
Saat berjalan ada suara ribut dari arah danau. Aoran menatap dan melihat Ardella tertawa lepas. Wajah Ardella hari ini berbeda dengan wajah kemarin. Rasanya Aoran gemes melihat imutnya wajah Ardella.
"Padahal kemarin dia terlihat sedih, tapi sekarang tertawa. Cewek aneh." Ucap Aoran bergumam melihat tingkah Ardella yang lucu.
Aoran hanya berdiri di tepian mengamati Ardella sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah selesai menangkap ikan. Perahu nelayan itu berbalik ketepian.
"Pak,,, hasil tangkapan ikannya banyak juga. " Sambil memasukkan ikan kedalam keranjang.
"Nak Ardella bawa sebagiaan pulang, nanti diarsik pasti enak. "
"Terima kasih tulang. Ardella ambil 2 ekor aja ya tulang. " Memasukkan kedalam kantungan plastik.
__ADS_1
Perahu berhenti, Ardella mulai beranjak dari perahu. Saat mulai berjalan tiba-tiba dia menabrak Aoran.
"Aduh,,,. " Sambil memegang kepala, Ardella melihat kedepan, kepalanya masih berada didada Aoran. Dilihat sekilas mereka seperti sedang berpelukan. Dia mengadah kan arah kepalanya ke atas, dilihatnya wajah Aoran.
"Hai. Kita ketemu lagi. " Mengangangkat tangannya sejajar dengan kepala.
Masih dalam keadaan memegang kepala. "Eh,,,Paman yang kemarin." Mundur secepat kilat.
"Sudah kubilang aku bukan seorang paman. Kamu susah banget sih dibilangin." Aoran mencubit manis pipi Ardella.
"Au. Apa yang kamu lakukan lepaskan tanganmu dariku." Sehentak Ardella menepis tangan Aoran.
Aoran tidak peduli dengan wajah kesal Ardella. "Manisnya." Ucap Aoran menarik pelan hidung Ardella.
"Lepaskan." Teriak Ardella.
"Upss. Maaf." Ucap Aoran dengan nada suara menggoda.
Ardella mengomel kepada Aoran yang berdiri dijalan sembarangan. "Kalau mau berdiri jangan disini. Kamu bisa membuat orang terganggu karena berdiri dijalan." Ucap Ardella mengerutkan dahi.
Padahal dirinya juga salah karena tidak memperhatikan jalan.
"Dimana seharusnya aku berdiri." Tanyanya.
Ardella yang menunjuk-nunjuk tempat yang cocok untuk berdiri agar tidak menggangu orang yang sedang lewat. "Disana. Kalau tidak disana juga boleh." Ucapnya sibuk. "Untung aku tidak terjatuh." Ucap Ardella kembali.
Ardella mengomel mendengar perkataan Aoran, sambil mengibas-ngibas kan tangannya. Bau ikan yang ada ditangannya jadi lebih menyengat. Aoran yang merasa risih dengan bau ikan, dengan sentak tangan kiri Aoran memegang lengan Ardella sedangkan tangan kanan membungkam Ardella berbicara.
"Ok. Aku mengerti. Tolong diam sebentar." Ucap Aoran lembut dan tangannya menutup mulut Ardella agar tidak melanjutkan omelannya.
Karena terkejut Ardella terdiam, matanya melotot pada Aoran.
Aoran yang melihat Ardella tenang, perlahan menurunkan tangannya. Aoran mulai berbicara, hal yang pertama Aoran katakan adalah menekankan namanya.
"Aoran Fritsch. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Kata orang bertemu dua kali berarti jodoh, sepertinya kita berjodoh."
Ardella mengacuhkan Aoran yang sedang berbicara, perhatiaannya sibuk pada ikan yang dari tadi tidak bergerak.
Eh kok ikannya gk bergerak lagi, jangan-jangan udah mati. Harus cepat-cepat dimasak ne ikannya, kalau gk rasanya pasti udah gk enak lagi. Ardella membatin.
"Hallo,,,kamu dengar gk yang tadi aku bilang. " Sambil melambai-lambaikan tangannya kewajah Ardella.
"Ouhhh,,, maaf aku harus cepat pulang." Menepis tangan Aoran.
"Tunggu sebentar. " Aoran menghadang Ardella.
"Apa lagi sih. Minggir sana." Ardella berusaha melewati Aoran.
__ADS_1
"Kamu membuatku memikirkanmu. Coba lihat aku, apa aku tidak menarik dimatamu." Aoran menegaskan bahwa dirinya menarik karena ketampanannya.
"Apa yang harus kulihat. Menurutku biasa saja. " Ucapnya polos tidak tahu maksud dari kata menarik.
Doenggg,,, Pertama kalinya Aoran merasa malu. "Lihatlah aku. Tampan dan menarik." Aoran menunjuk wajahnya sendiri.
"Terus." Ucap Ardella.
Aoran kehabisan kata-kata. "Aku memikirkanmu." Ucap Aoran mendekatkan wajahnya.
Ardella yang merasa Aoran cowok aneh langsung pergi meninggalkan Aoran. Ardella berjalan terus sambil mengangkat ikan kearah matanya, memastikan ikan itu masih hidup.
Sekali lagi Ardella meninggalkan Aoran. Dengan berteriak Aoran menanyakan nama Ardella, tapi sedikitpun Ardella tidak membalikkan badan.
"Apa salahnya sih cuman menyebut nama." Bergumam.
Ketika ingin bertanya pada sang nelayan, tapi nelayan sudah berada hampir ditengah danau.
Sepertinya gadis itu tidak tertarik padaku. Aoran membatin.
Aoran kini mulai menyerah untuk mencari tahu tentang Ardella. Dia tidak lagi berencana menunggu Ardella. Rasanya Aoran sedikit kecewa, karena untuk pertama kalinya dia ingin mengenal seorang gadis.
***
Setelah sampai di kamar Aoran langsung berbaring. Sektika itu ingatanya kembali pada saat Ardella menabrak dadanya, Aoran menyentuh dadanya.
Aneh kok sepertinya ada sesuatu yang terjadi padaku. Suara hati Aoran.
"Darimana aja Fritsch, pagi-pagi buta lu udah gk ada dikamar." Masuk ke kamar Sambil makan snack.
"Dari danau. " Masih memegang dadanya.
"Masih nyari tuh cewek. " Evan yang masih Mengunyah.
"Ngehhh. "
Mendengar jawaban Aoran, Evan malas membahasnya kembali.
"Fritsch, besok kita ke perkebunan yok, tadi aku berbincang-bincang sama orang-orang disini, katanya pemandangan perkebunannya juga lumayan menarik."
"Terserah. "
Aoran masih memikirkan pertemuannya dengan Ardella. bayangan wajah Ardella masih terlintas dibenaknya.
πππ
Bersambung
__ADS_1