Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Pertengkaran


__ADS_3

Matahari tampak remang langit mulai gelap menelusuri jalan tapak menjadi sebuah langkah, perjalanan sepi dan suara langkah kaki mengiringi perjalanan Ardella.


"Kakak." Suara Anak kecil.


Sambil melambaikan tangan Niko berlari dan memeluk Ardella. Niko adalah saudara seayah beda ibu, meski beda ibu, Ardella sangat menyayangi adiknya, sebaliknya Niko juga sayang terhadap Ardella.


"Kak, ayah sudah pulang. Ayah bawa oleh-oleh makanan yang banyak, Niko udah sisihkan punya kakak" Ucap Niko tersenyum.


Ardella ikut tersenyum melihat tingkah adiknya, dia mengelus kepala Niko. "Makasih Niko." Mencubit gemas.


Mereka kini pulang bersama dengan menggandeng tangan Niko. Ardella begitu gembira mendengar ayahnya sudah pulang.


Sesampainya di rumah Ardella memberi senyum pada ayahnya, tetapi ekspresi ayahnya menunjukkan kemarahan, bukannya membalas senyuman Ardella malah ayahnya langsung berteriak pada Ardella.


"Kamu sekarang sudah jadi anak pembangkang!. Membuat ibumu menangis." Bentak Ayahnya.


Dengan wajah kebingungan Ardella bertanya apa yang dimaksud ayahnya, dia membuat ibu tirinya menangis.


"Minta maaflah pada ibumu." Ucap ayah Ardella dengan keras.


"Apa maksud ayah, dimana salahku hingga aku harus meminta maaf pada wanita itu. Ardella merasa tidak salah." Bantah Ardella.


Ayah Ardella mulai mengangkat rotannya dan menyuruh Ardella berdiri tegap.


"Ayah sudah dengar tingkahmu selama aku pergi, bahkan para tetangga juga melihat perlakuanmu yang tidak sopan pada ibumu." kata ayah Ardella yang telah terpengaruh dengan ucapan Sherlin dan perkataan tetangga yang tidak tahu sama sekali kejadian sesungguhnya.


"Kenapa ayah tidak mendengarkan penjelasan Ardella, kenapa hanya wanita itu dan para tetangga yang ayah dengar. Sekali saja ayah bertanya pada Ardella apa yang terjadi." Ucap Ardella mulai berkaca-kaca.


"Ayah tidak perlu penjelasanmu, apapun yang dilakukan ibumu, kamu pasti akan menjelek-jelekkan ibumu." Ayah Ardella yang sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Ardella.


"Sekali lagi ayah suruh kamu meminta maaf pada ibumu. Kalau tidak ayah akan memukulmu sampai kamu setuju meminta maaf." Ucap ayah Ardella.


"Pukul saja, lebih baik aku dipukul daripada meminta maaf pada wanita jahat itu." Ardella yang tidak sama sekali takut dipukul oleh ayahnya.


Ardella diam dan hanya menatap ibu tirinya itu dengan wajah biasa saja, ayahnya mulai memukul kakinya.

__ADS_1


Plakk,,. Satu pukulan dikaki Ardella. "Tetap tidak mau minta maaf." Ucap ayah Ardella.


Ayah Ardella semakin kesal melihat Ardella yang keras kepala. Mengangkat kembali rotannya tak henti dia memukul kaki Ardella, hingga kaki Ardella terlihat merah membiru, sedikit mengeluarkan darah.


Ardella berdiri dengan gemetar, rasa sakit hampir ketulangnya, dia menutup matanya agar tidak menangis.


Sherlin dengan pura-pura mengasiahani Ardella. "Sudah Pak, sudah cukup. Pukul saja aku sebagai gantinya." Ucapnya menahan tangan ayah Ardella.


Tidak mendengarkan Sherlin, ayah Ardella masih memukul kaki Ardella, sampai Ardella menyerah dan mengucapkan kata maaf.


"Pak sudahlah ini salahku karna tidak bisa menjadi ibu yang baik buat Ardella." Ucap ibu tiri Ardella menangis menghadang ayah Ardella.


"Kasihan Ardella ayah, pasti dia merasa sakit." Ucap Leli.


"Lihatlah. Bagaimana ibu dan saudaramu membelamu. Tapi kamu masih saja membenci mereka tanpa alasan." Ayah Ardella manarik dan menyuruh Ardella untuk melihat kerah ibu tirinya.


Ardella memalingkan wajahnya, tidak berbicara sama sekali.


Kata manis dari ibu tirinya dan Leli tidaklah nyata. Dihati mereka sebenarnya senang melihat Ardella dipukuli.


Tapi tidak dengan Niko adik tiri Ardella. Dia menangis melihat kakaknya dipukuli. "Jangan pukul kakak." Ucap Niko menangis dan menarik-narik tangan ayahnya.


Saat dipukuli Ardella tidak bergerak sedikit pun. Sudah tidak tahan merasa sakit air mata Ardella terjatuh, tetap saja dia tidak mengucapkan sepatah katapun.


Ayahnya yang melihat Ardella keras kepala berhenti memukulnya. "Sebelum kamu minta maaf kamu tidak boleh makan." Ucap ayah Ardella marah melempar rotan ke hadapan Ardella sambil beranjak meninggalkan Ardella sendiri.


Kaki Ardella yang begitu memar akibat dipukuli ayahnya membuat dia berjalan pinjang. Berjalan masuk dengan kaki pinjang. Ardella melewati Leli yang sedang berdiri didepannya.


"Haha." Tawa kecil Leli. "******, lo. kasihan sekali, pasti rasanya sakit." Leli Menjulurkan lidahnya dan meninggalkan Ardella sendirian.


Dengan menangis Ardella mencari salep untuk mengobati kakinya. Dioleskan salep dengan perlahan keatas lukanya, rasanya terasa perih, Ardella menangis dengan tersedu-sedu, suara tangisnya ditahan agar tidak menimbulkan suara.


"Hiks. Sakit." Ucap Ardella pada dirinya sendiri.


Sampai kapan aku harus menanggung ini. Kenapa tidak ada orang yang sayang padaku. Kenapa setiap orang yang kusayangi pergi meninggalkanku. Apa salahku. Ardella membatin.

__ADS_1


Sepanjang hari Ardella tidak makan, dia mulai merasa pusing, kepalanya mulai terasa sakit hingga langkah kakinya terhoyong-hoyong.


Brukkk,,, Ardella terjatuh diruang tengah, Niko yang melihat keadaan Ardella terkejut melihat kakaknya jatuh, seketika itu Niko menangis dan memanggil ayahnya.


Niko berlari mencari ayahnya. "Ayah, kakak jatuh." Niko menangis keras.


Ayah Ardella bergegas pergi melihat keadaanya, diangkatnya tubuh putrinya itu dengan panik dan dibawa ke puskesmas terdekat, dokter mengatakan Ardella pingsan karna dehidrasi dan kurang asupan makan. Ayah Ardella terdiam dan menyesal telah menghukumnya, setelah Ardella terbangun, dilihatnya ayahnya berdiri disampingnya dengan membawakan beberapa makanan.


Memberikan beberapa makanan untuk Ardella. "Makanlah dulu. Setelah makan baru kita pulang." Ucap ayah Ardella.


"Baik ayah." Suara Ardella pelan.


Ardella tersenyum saat menyantap makanan yang diberikan ayahnya. Perhatian sekecil itu membuat Ardella lupa bahwa ayahnya telah memukulnya.


Ayah mengkhawatirkanku, dia masih sayang padaku. Ardella membatin.


Ardella yang melihat ayahnya menunggunya makan. "Ayah, Aku sudah selesai makan." Ucap Ardella lembut.


Dimata ayahnya terlihat ada kesedihan saat melihat Ardella sakit. "Aku akan mengambil obatmu dan membayar tagihan rumah sakit. Tunggu disini sebentar, ayah akan segara kembali. " Ucap ayah Ardella dengan lembut.


Sepulangnya Ardella dari puskesmas, ibu tirinya langsung menghampiri Ardella dan memeluknya.


"Maaf kan ibu nak." Ucap ibu tirinya sedih.


Ardella membiarkan sikap ibu tirinya itu, dia tidak ingin menambah pikiran ayahnya dan juga tidak mau berdebat lagi.


Hidangan makan malam telah tersedia di meja makan. Suasana makan malam tenang, mereka memulai menyantap makanan.


Ayah Ardella mulai menasehati Ardella untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi dan bersikap baik kepada ibu tirinya, mendengar itu Ardella tidak melawan ataupun mengiyakan perkataan ayahnya.


Catatan dan puisi yang Ardella tuliskan di diarynya adalah ungkapan dari perasaannya dan tempat untuk mencurahkan isi hatinya.


Kukalahkan kesedihanku dengan harapan setitik cahaya duka laraku menyelimuti kehidupan ini, siang malam kesendirian, dunia luas membuatku tidak terlihat, walau semua dunia menjadi musuhku tetap tidak akan membuatku lemah


By : Ardella.

__ADS_1


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Bersambung


__ADS_2