Separuh Cinderella

Separuh Cinderella
Awal Baru


__ADS_3

Lelaki yang duduk disamping Ardella, dan menyuruh ketiga preman itu untuk membawa Ardella kedalam mobil adalah pacar Yanti. Sejak pertemuannya lelaki itu sudah tertarik dengan Ardella. Karena itu dia merencanakan hal licik.


"Cantik, pertama kali bertemu denganmu, aku begitu tertarik." Ucapnya mendekatkan diri dengan Ardella.


Ardella mulai gemetar, perasaanya mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan bahaya. "Keluarkan aku dari sini sebelum aku teriak." Suara keras menyembur telinga lelaki itu.


Hahaha.


Lelaki itu tidak terkecoh dengan teriakan Ardella, tatapannya semakin terlihat mesum dan menjijikan.


"Baiklah, akan aku keluarkan setelah kita melakukannya." Menekan Ardella dengan kuat kebagian sandaran bangku.


"Ahhh, bre**sek. Kamu akan menyesal kalau menyentuhku." Ancamnya berteriak keras.


Tubuhnya semakin terpojok, ancamannya tidak ada gunanya pada lelaki bermata mesum yang ada dihadapannya, Ardella berteriak meminta pertolongan, dia meronta sekeras mungkin. Lelaki itu sangat kusulitan meraih tubuh Ardella. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Kemudiaan menyuruh Ardella untuk menelan. Dengan paksaan lelaki itu berhasil memasukkan pil kedalam mulut Ardella.


Uhuk, uhuk, uhuk.


Ardella tersedak, terbatuk. Dia berusaha mengeluarkan pil yang ada ditenggorokannya.


"Setelah ini kamu tidak akan bisa menolakku cantik." Lelaki itu membelai wajah Ardella.


Ardella merasa tubuhnya panas, sesuatu aneh dibagian intimnya. Ardella mulai mendesah, penglihatannya mulai samar-samar. Ternyata pil yang diberikan lelaki itu adalah obat perangsang yang kuat untuk Ardella.


Agar tidak kesusahan untuk berhubungan, dia sudah merencanakan dari awal agar Ardella tenang tanpa berontak, Tubuh Ardella mulai lemas.


"Hari ini aku mendapatkan makanan lezat." Ucapnya sendiri, dia menidurkan Ardella di bangku belakang. Membuat tubuh Ardella terlentang, satu-persatu dia membuka kancing baju Ardella. Mata mesum sangat jelas tampak, sesekali dia memutar lidahnya ke bagian kiri bibirnya.


Brukkk.


Suara ribut dari mobil, lelaki itu terhenti dan menoleh kebagian luar mobil. Dilihatnya sekitar empat orang lelaki bertubuh besar dan berpakaian kasual, jelas-jelas mereka tidak terlihat seperti premen. Siapakah mereka, pikirnya.


"Keluar." Suara keras menarik lelaki itu dari mobil, menyeretnya menjauh dari area mobil.


Dua orang yang tersisa memeriksa keadaan Ardella. "Nona baik-baik saja, kita harus lapor pada bos."


Mereka yang menolong Ardella sebenarnya mata-mata yang dikirimkan Aoran untuk mengawasi Ardella. Penyamaran mereka tidak terlalu mencolok, mereka juga sering berada di bar tanpa disadari oleh Aoran.


Ardella berada didalam mobil sendiri, dengan pakaian hampir terlepas dia terbaring, nafasnya tidak teratur, dia bergerak-gerak menghapit kedua kakinya, rasa tidak nyamannya sungguh tidak tertahankan lagi.


Tringgg.


Diruang kerja Aoran masih menyusun file pekerjaanya, bunyi ponselnya berdering dan tertera dengan nama spy. Dengan segera dia mengangakat.

__ADS_1


"Hallo." Saut Aoran dari sebrang telpon.


"Lapor bos, nona dalam bahaya."


Aoran terkejut mendengar kabar dari spy itu, dia meminta penjelasan kejadian yang menimpa Ardella. Akhirnya mereka menjelaskan dengan rinci.


Tanpa menunggu lama, Aoran berangkat menuju ketempat Ardella. Tiba disana Aoran langsung turun dari mobilnya, beranjak mendekati mobil dan memeriksa langsung keadaan Ardella.


Ceklekk.


Aoran melihat Ardella dalam keadaan kacau.


"Sial, siapa pelakunya." Ucap Aoran marah melihat para spy yang berdiri diluar.


"Itu, itu Bos." Gugup karena melihat kemarahan diraut wajah Aoran.


"Siapun dia, potong punyanya." Tidak melanjutkan lagi, Aoran fokus kembali pada Ardella. Dengan lembut Aoran mengangkat tubuh Ardella dan membawanya masuk kedalam mobilnya.


Ardella yang secara tidak sadar, samar-samar melihat Aoran.


"Ah, tolong aku." Desah Ardella. Suhu tubuhnya semakin meningkat, Ardella menyentuh pergelangan Aoran. "Aku sudah tidak tahan." Lanjutnya mendesah.


Aoran dalam keadaan menyetir berusaha menenangkan Ardella. "Diam sebentar, aku sedang menyetir." Ucapnya fokus menyetir.


Ardella tidak bisa diam, dia menyentuh-nyentuh tubuh Aoran. "Berapa hari tidak bertemu kamu membuat masalah. Merepotkan." Ucap Aoran melihat tingkah Ardella.


Aoran menggendong Ardella masuk kedalam hotel, memesan kamar, mereka mendapatkan kunci. Dengan pelan dia membaringkan Ardella.


"Sebaiknya mandi dulu." Pikir Aoran melihat Ardella berantakan.


Aoran kembali mengangkat tubuh Ardella. Menyuruhnya berdiri agar dia bisa melepaskan pakaian Ardella. "Berdiri yang benar." Ucap Aoran ketika Ardella merengek memeluknya di dalam kamar mandi.


Tubuhnya sedikit panas, mungkin dengan mandi dia akan kembali pulih. Batin Aoran.


Melepaskan semua pakaian Ardella, kemudian menyiapkan air mandi. "Ayo mandi sekarang." Berusaha menarik Ardella.


"Tidak mau." Suara manja kembali dilontarkan oleh Ardella kemudiaan menyandarkan kepalanya di dada Aoran.


"Ardella jangan memancingku, kalau tidak aku akan memakanmu." Dekapnya kedalam pelukan dan menceburkan Ardella kedalam bak mandi.


Byurrr.


Dengan lembut, Aoran membersihkan tubuh Ardella. Kehilangan setengah kesadaran membuat Ardella bertingkah aneh, dia menarik Aoran masuk kedalam bak mandi, memanjakan diri, Ardella menyentuh-nyentuh bagian perut Aoran.

__ADS_1


"Kamu harus bertanggung jawab karena membuatku kehilangan akal." Cium Aoran dengan agresif.


Um, um, um.


Adegan panas berlangsung diantara Ardella dan Aoran.


Selesai mandi, Aoran langsung menggendong Ardella menuju kasur. Saatnya baginya untuk melakukan sesuatu yang lebih menarik.


Sebagai lelaki normal, Aoran tidak bisa menahan lagi alam birahinya, tubuhnya yang hanya ditutupi sehelai handuk kecil dilepaskan. Begitu juga dengan Ardella. Keduanya kini dalam keaadan tidak berbusana.


Sentuh-sentuhan Aoran membuat Ardella mengeluarkan desahan, dibawah pengaruh obat perangsang Ardella seakan menikmati sentuhan dibagian tubuhnya.


Pada puncaknya, Aoran menyatukan diri dengan Ardella.


Arggkkk.


"Ah, ah, ah." Desahan yang tidak ada hentinya ketika Aoran menggerakkan keperkasaannya didalam tubuh Ardella.


"Sakit." Desah kecil dari bibir Ardella.


Aoran melanjutkan, tapi kali ini gerakannya sedikit pelan. Melihat ekspresi Ardella yang berada dibawah tubuhnya, Aoran dengan lembut mengelus kening Ardella, sesekali dia mencium kening itu hingga turun kebibir Ardella.


"Ayo kita mulai dari awal, dan lahirkan anak yang banyak untukku. Mungkin aku akan memaafkanmu." Ucap Aoran berbisik ketelinga Ardella.


Sekujur tubuh Ardella mulai normal, pengobatan alami itu membuat Ardella ikut menikmati penyatuaanya dengan Aoran. Kedua tangan Ardella melingkar dileher Aoran.


Aargkkk.


"Jangan tinggalkan aku." Ucap Ardella terdengar samar-samar oleh Aoran.


"Ardella apa sekarang kamu mengingatku." Terkejut dengan ucapan yang didengarnya, Aoran memastikan ingatan Ardella.


"Kak Aoran, aku mencintaimu." Suara Ardella yang diiringi dengan desahan sama persis dengan malam itu.


"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Aoran mendekap Ardella dengan erat, tubuhnya sedikit mengangkat Ardella ke posisi lebih tinggi.


Wajah kerinduan ditunjukkan oleh Aoran, betapa bahagianya rasanya dia mendengar ucapan itu lagi dari Ardella.


Aoran menarik diri dari tubuh Ardella. Rasa lelah berhubungan ditunjukkan oleh keduanya. Selimut yang terletak diatas kasur ditarik dengan lembut oleh tangan Aoran. Mengucapkan selamat malam, dia mengecup dan mengelus kening Ardella dengan lembut.


Dalam keadaan tidur Aoran tidak melepaskan pelukannya dari Ardella, kedua lengan yang berotot itu mendekap Ardella dengan hangat. Dia mulai memajamkan mata dengan wajah berseri-seri.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2